Tertaphobia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 January 2016

Aku Ellyane Rushton, umurku 15 tahun. Aku sekolah di Media Global School (MGS). Aku tinggal bersama dua sahabat aku lainnya yaitu Cassie, dan Agnes di asrama sekolah. Aku mengidap Tertaphobia atau sebutan buat orang yang mengidap ketakutan dalam menghadapi ujian. Aneh? Memang sangat aneh, phobiaku ini sangat menyusahkan bagiku. Setiap saat aku mau ujian pasti aku selalu kayak misalnya kaki dan tangan aku bergetar hebat, bahkan keringat yang bercucuran.

Saat pulang sekolah.
“Wohoo, ujian!!” Agnea memecahkan keheningan.
“Memang kapan?” tanyaku santai.
“Iya memang kapan? Perasaan Ms. Ratna gak bilang deh” sambung Cassie melanjutkan memakan cikinya.
“Hee, dasar masa suara Ms. Ratna yang cemprengnya gak karuan kayak gitu gak kedengeran. Makannya jangan ngobrol aja” jawab Agnes sewot.

“What! Besok?” kataku berteriak.
“Emang kenapa? Kok mukamu merah?” tanya Agnes kembali sambil memperhatikan wajahku.
“Emang besok ulangan harian apa?” kata Cassie sambil membuka pintu kamar asrama.
“Matematika” jawab Agnes. “Ellyane! Diem aja dari tadi.” Dan aku menjawabnya hanya dengan senyuman terpaksa.

“Eh! Guys, kok susah sih?” kata Cassie memutar-mutar kunci yang sudah berada dalam gagang pintu. Aku buru-buru membantu Cassie yang kesusahan membuka pintu kamar.
“Cas, Cas, Cassie, Ellyane” bisik Agnes.
“Emm Cassie, Ellyane maaf kalian lagi apa ya?” tanya seseorang.
“Ah! Lo Nes bukannya bantuin malah kayak gitu” jawab Cassie asal dan masih tetap fokus pada gagang pintu.

“Cassie, kita salah kamar” bisikku kepada Cassie dan mundur untuk mendekati Agnes yang sudah terlihat pasrah.
“Cassie maaf, kamu salah kamar. Kamar kamu di sebelah nomer 1812, ini 1811” seru Angel sang pemilik kamar, sementara temennya Ellyzabeth (Lyza) hanya menatapku, Agnes, dan Cassie aneh. “Kalian tuh ya bukannya bantuin buka nih pintu, malahan akting ka… Eh, Ellyane, Agnes kita salah kamar, kamar kita di samping bukan di sini. Maaf ya, mereka nih emang” jawab Cassie cengengesan kaget melihat Angel dan Lyza. Dan kami langsung cepat-cepat pergi ke kamar kami.

Di kamar.
Kami cepat-cepat masuk ke kamar dan menutup pintu kamar dengan tergesa-gesa setelah itu aku dan Agnes tertawa puas sesampainya di kamar.
“Waa parah, waa. Kalian kenapa gak bilang kalau si Angel sama Lyza dateng. Malu tahu gue” seru Cassie dengan muka merah padam.
“Habisnya lo udah dikasih tahu juga, masih aja utak-atik tuh pintu” jawab Agnes tertawa puas. Aku duduk di kasur tempat biasaku tidur.
“Seandainya aku bukan Tertaphobia” gumamku pelan.
“Tertaphobia? Apaan tuh?” tanya Agnes dan Cassie tiba-tiba nongol.

“Eh, ngak kok aku bilang terjangkau” aku mengelak.
“Oh, terjangkau… emang terjangkau apa?” tanya Cassie kembali.
“Emm, udah ayo kita belajar” ajakku. “Oh..”
Kami belajar bersama dengan gembira, saat kami sedang bersama seperti ini rasanya semua beban hilang begitu saja. Hingga sudah waktunya kami untuk tidur.

Di sekolah. Sekarang aku merasa sangat gugup untuk mengerjakan ulangan. Sedangkan kertas ulanganku sudah tepat berada di depan mataku. Aku mengambil alat tulisku dengan tangan yang bergetar hebat. “Lah kok gemeteran sih Ell? Kan kamu pinter?” bisik Cassie yang duduk tepat di sampingku.
“Masih takut sama Angel” canda Agnes yang duduk di belakangku. Aku mengerjakan ulanganku dengan rasa takut yang hebat, ditambah dengan Cassie, dan Agnes yang selalu mengusiliku. Akhirnya ulanganku selesai.

Pembagian ulangan.
“Cassie Casandra” panggil Ms.Ratna. Cassie maju dengan percayanya.
“Berapa Cass?” bisikku dan Agnes.
“84” sombong Cassie.
“Agnes Clarkmore” panggil Ms.Ratna kembali.
“Berapa Nes?” tanyaku.
“92” jawab Agnes.
“Ellyane Rushton” panggil Ms.Ratna. Aku maju menghampiri Ms.Ratna dengan gugup.
“Wohoo! 100 Cass, Nes” sorakku gembira dan disambut oleh tawaan Cassie, dan Agnes yang melihat tingkahku seperti anak kecil.

Cerpen Karangan: Riska Safira
Facebook: Riska Safira

Cerpen Tertaphobia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Yang Ingin Jadi Bagian Mereka

Oleh:
Saat jam istirahat tiba, aku lebih memilih duduk sendirian di taman belakang sekolah. Aku duduk di bawah pohon sambil menatap siswa siswa lain yang sedang asyik bergembira bersama sohib-sohibnya.

Aku Bukan Pilihan

Oleh:
Tak ada lagi yang mampu menjadikan kau alasan untuk aku kembali kepadamu, ingatkah engkau atas semua luka yang pernah kau beri kepadaku, walau kini aku bukanlah kekasihmu, lantas apa,

I Love Him

Oleh:
Wajahku langsung memanas ketika namaku dipanggil ke depan. bagaimana tidak? Aku dipanggil ke depan untuk membaca puisi cinta yang kutulis beberapa menit yang lalu. Memang Aku yang menulis suratnya

Love Hour (Part 3)

Oleh:
“Tiga, dua, satu!” Agung memberi aba-aba dan tepat setelah jingle radio ini berakhir, suaraku pun mengudara. “Selamat malam, best pals! Kembali lagi di gelarannya Love Hour dan kali ini

Pacaran Sama Seleb

Oleh:
Jakarta di situ tempat aku dan kakakku tinggal bersama hanya berdua untuk mencari pendidikan yang lebih baik. Orangtua kami tinggal di amerika untuk satu tahun karena ada pekerjaan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *