That’s Funny

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 October 2015

Hari itu hari jumat. Seperti biasa aku berangkat dari rumah ke sekolah tepat jam 7 pagi, dan seperti biasa aku selalu bersenandung atau bernyanyi-nyanyi kecil ketika di perjalanan. Saking asyiknya aku hampir saja menabrak orang yang sedang memperbaiki sepedanya. Karena orang itu memperbaiki sepedanya di tengah jalan, secara aku marah dan segera turun dari sepedaku dan menghampirinya.
“hey! kalau memperbaiki sepeda jangan ngalangin jalan dong!” ucapku sebal. Dan dia hanya diam dan menatapku dengan wajah datar.

Aku tersadar sekaligus terkejut, ternyata orang itu Kak Tama, orang yang tidak asing bagiku. Dengan wajah gugup karena sudah memarahinya aku pun beranjak pergi. Dalam hati aku memarahi diriku sendiri.
“kenapa aku ini? bodoh, bodoh kamu!” tapi entah kenapa semakin aku berjalan semakin terasa berat, ternyata tali sepatuku tersangkut di rantai sepedanya.
“duh! malunya!” ucapku dalam hati.

Perlahan-lahan aku menarik tali sepatuku yang tersangkut, sampai akhirnya aku menyerah dan Kak Tama memperhatikanku. Spontan Kak Tama tertawa terbahak-bahak. Aku langsung memasang wajah cemberut sambil menyeletuk.
“Bukannya ditolongin ehh malah diketawain!”
“nggak gitu, cuma lucu aja” ucap Kak Tama mengejek.
“sial! kenapa sih aku ketemu nih orang” ucapku dalam hati.
“sini pegang pundak Kakak! biar nggak jatuh” ucapnya.

Aku menurut aja seperti anak kecil, entah kenapa aku juga bingung, emang sih saat itu aku sedikit ragu-ragu, tapi sudahlah! ucapku dalam hati. Kak Tama sangat lembut saat membantuku melepaskan tali sepatuku yang tersangkut di rantai sepedanya.
“Ahh akhirnya lepas juga” ucap Kak Tama sambil menghela napas panjang.
“Makasih kak” ucapku.
“oh iya, sama-sama. Umm, kalau boleh tahu nama kamu siapa ya?” Ucap Kak Tama.
“panggil aja Ranti atau Ryn kak” ucapku.
“kalau namaku Dimas Pratama, panggil aja Tama”

Aku merasa bingung, “kenapa Kak Tama tanya nama aku? dan dia juga mamperkenalkan dirinya sama aku? memperkenalkan diri? aneh, apa dia hilang ingatan? entahlah,” ucapku dalam hati.
“Ranti, kamu bisa bantu aku gak?” ucap Kak Tama.
“Oh iya, bisa kak!” ucapku.
Aku pun membantunya memperbaiki sepedanya, malahan bisa dibilang aku sendirian yang memperbaiki sepedanya, kalau ditanya kenapa aku bisa? Ya itu sih karena desain sepedanya sama dengan sepedaku.
“yap! Udah kak” ucapku.

Saat itu wajahku kotor aku pun mengelap dengan tisu.
“sini tisunya, wajahmu masih kotor” ucap Kak Tama. Sambil mengelap wajahku yang kotor dan keringat yang bercucuran, sesekali dia senyum kepadaku, dan seakan waktu berhenti saat itu. Aku pun segera meninggalkan tempat itu, ketika aku pergi Kak Tama berkata.
“oh iya kamu anak MAN 3 kan?”
“iya,” ucapku.
“kamu anak kelas berapa?”
“kelas sepuluh E kak” ucapku berbohong.
“eh, Ranti makasih ya tadi udah bantu!”
“iya kak! terima kasih kembali, maaf ya kak tadi Ranti sempat marah tadi” ucapku seraya meninggalkan pergi.

Seperti biasa aku menjalani rutinitasku belajar di sekolah dan setiap jam istirahat tiba aku mengisi waktu kosongku untuk membaca buku di perpustakaan sekolah. Saat itu aku sedang asik membaca, tiba-tiba ada seseorang yang memintaku untuk mengambilkan buku di rak buku yang berada di sampingku, aku pun mengambilkan buku yang ia tunjuk tanpa melihat wajahnya terlebih dahulu dan menyerahkan buku itu.

Aku pun meneruskan membaca buku, ternyata orang itu masih duduk di hadapanku.
“makasih Ranti,” ucap orang itu, aku pun memutuskan untuk berhenti membaca dan langsung memandang orang itu dan ternyata yang sekarang ada di hadapanku itu Kak Tama, orang yang aku benci di masa lalu dan orang yang sangat baik di masa depan, dia juga adalah orang yang aku bantu memperbaiki sepedanya jumat lalu.

Ya ampun, aku langsung panas dingin, gak bisa gerak, mati gaya, dan gak tahu harus ngomong apa?
“ya Tuhan, tolong aku!” ucapku dalam hati. Ingin rasanya aku berteriak tapi cuma bisa dalam hati pokoknya saat itu dag-dig-dug banget.

“Kamu kenapa?” ucapnya dangan senyumnya yang manis.
“Ya ampun! Senyumnya itu lo imut banget,” ucapku dalam hati. Dan senyumnya itu membuatku gugup dan salah tingkah dibuatnya.
“Ga ga apa-apa.” ucapku gagap.
“kok mukanya pucat?” sambungnya bertanya.
“Ah masa sih kak? gak kok. Orang cuma kelelahan aja tadi” jawabku dengan nada yang dipaksa-paksakan.
Dan anehnya setelah aku ketemu dengannya, bukannya membaca buku eh malah asyik ngobrol sama dia dan ternyata orangnya asyik juga yah! gak nyebelin dan cuek seperti yang aku kira sebelumnya.

Teng!! Teng!! lonceng berbunyi menandakan waktu istirahat sudah habis, aku pun beranjak pergi tapi Kak Tama menahanku dan meminta nomor handphone-ku. Kami pun saling bertukar nomor handphone, dan tanpa kami sadari ternyata ada seseorang yang memperhatikan kami sejak kami berbincang-bincang tadi. Orang itu adalah mantan pacarnya Kak Tama, dan itu membuatku sedikit kecewa.
“jangan-jangan Kak Tama ngobrol sama aku tadi cuma alasan biar pacarnya cemburu? Arghh! Sudahlah!” ucapku dalam hati, dan aku segera masuk ke kelas.

Sesampainya aku di rumah, handphone-ku berdering menandakan sms masuk yang isinya adalah: “salam kenal,” dari Kak Tama. Aku pun segera membalasnya.
“salam kenal juga kak,” dari Ranti. Dan sejak saat itu kami saling bertukar sms sampai sekarang.

Cerpen Karangan: Rhena Amalia
Facebook: rhenaa[-at-]rocketmail.com

Cerpen That’s Funny merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau Hanya Butuh Motivasi

Oleh:
Waahh… Kelas lantai tiga memang yang terbaik. Kau bisa memandang seisi kota dari sini. Angin yang menerobos masuk ruang kelas melalui jendela pun serasa lebih sejuk. Jadi begini rasanya

Dream Card

Oleh:
“Aw!” kata seseorang yang aku kagumi selama beberapa bulan ini. Tak sengaja aku menyinggung pinggangnya dengan sikuku saat hendak mengeluarkan tangan dari tas. Dia hanya memasang wajah datar dan

Aku Hanya Malu Itu Saja

Oleh:
Gadis itu masih tetap fokus pada buku pelajaran yang dipegangnya, belasan rumus matematika ia pelajari dan pahami sambil sesekali tersenyum dan membayangkan bagaimana bisa mencari jawaban atas soal matematika

Mega Mendung (Part 2)

Oleh:
Setelah bercengkrama bersama Hilal, ia duduk di atas kasur rumah sakit. “Ternyata dia nggak buruk-buruk amat.” fikir Mega. Mega sendirian, mamanya belum kembali. Dalam kesendiriannya dia berimajinasi, tiba-tiba bayangan

Sahabat 16

Oleh:
Aku tak pernah tahu mengapa dia masih sama seperti dulu. Terkadang aku hanya berfikir dia hanya mengagumi diriku ataupun senang bercanda denganku. Adel, sapaan itu yang dimiliki aku. aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *