The Bad Day

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 March 2016

Kring.. kring.. kring.. Jam weker gue berbunyi dengan keras di samping gue, menarik gue keluar dari petualangan di dunia fantasi. Segera gue matikan jam weker peribut itu dan melompat dari tempat tidur, untuk membuka pembatas dari dunia luar yang mengerikan, agar udara di dalam kamar dapat berganti. Setelah menikmati mengerikannya pemandangan dunia luar, gue berbalik. Tiba-tiba brak… gue terjatuh karena menginjak sebuah kulit pisang yang entah dari mana datangnya. “Ahh.. kulit pisang sialan, dari mana datangnya sih? Padahal tadi tidak ada.” Batin gue kesal. “Buset dah, pagi-pagi udah sial kayak gini.” Protes gue. Tapi gue tahan emosi itu, karena belum tentu sial di awal, bakalan sial sampai akhir hari.

Saat gue masuk ke kamar mandi, tiba-tiba kaki gue menginjak sebuah sabun, tak ayal lagi, gue terjatuh untuk yang kedua kalinya. Kali ini tulang punggung gue terasa sangat sakit karena langsung menghantam lantai kamar mandi yang kerasnya seperti baja. “Set.. sial lagi.” Ucap gue sambil berusaha berdiri. “Walaupun begini, gue harus kuat, mungkin ini ujian buat gue, dan siapa tahu kalau gue sabar dan lulus dari ujian ini mungkin gue bisa dapat gadget baru, hehe…” Khayal gue sambil berbicara sendiri, walau rasa sakit di punggung ini masih sangat luar biasa. Ketika sampai di sekolah, gue merasa awan hitam yang menyelubungi gue sejak tadi mulai berkurang. Tapi apa yang terjadi, bukk.. sebuah bola kaki mendarat di wajah gue.

“Woi.. bola siapa nih, pagi udah bikin masalah?” Teriak gue marah-marah.
“Sorry Ka tadi kaki gue tergelincir, jadi salah tendang deh.” Ucap pelakunya, yaitu Rendi teman akrab gue di kelas. “Mata lo dipakai gak tadi? Hancur nih muka polos gue.” Nada bicara gue semakin meninggi.
“Iya-iya deh, lain kali gue bakal hati-hati, maaf ya ka. Tapi bolanya balikin dong.” Ujar Rendi memelas pada gue.
“Kampret lo, muka gue gimana?” Gue bersiap-siap menendang bola ke arah Rendi.
“Nanti gue cari tukang salon deh buat lo, oke.” Jawab Rendi santai seperti orang tak berdosa.

“Kampret dua kali lo.” gue pun menendang bola sekeras mungkin sampai memecahkan jendela perpustakaan.
“Set..mampus gue.” Gue benar-benar dibuat panik oleh keadaan ini.
“Oii Ka gimana tuh, gawat nih.” Rendi pun juga panik.
“Udah-udah jangan cemas.” Gue berlagak sok keren biar kepanikan gue tidak ketahuan oleh Rendi.

30 menit kemudian…
“Asem.. ceramahnya ibu kepala sekolah emang bikin pusing kepala, untungnya jendela yang pecah itu memang mau di ganti baru karena sudah usang.” Ujar Rendi karena merasa lega tidak terkena masalah yang berat.
“Udah ah, gue ke kelas dulu, gara-gara lo gue tambah apes tahu.” Ucap gue kesal, lalu pergi berlalu meninggalkan Rendi yang masih kebingungan.

Di kelas kesialan masih saja menghampiri gue. Dimulai dari masuk kelas ditimpa pengahapus papan tulis yang merupakan keisengan teman gue. Dituduh guru mencuri buku teman, sampai kena hukum berdiri di depan kelas, karena ketahuan ngobrol dengan Rendi. Sungguh hari yang penuh kesialan. Ketika pulang sekolah gue masih juga sial, ketika melewati gang sempit menginjak ekor anjing yang lagi tidur sehingga kena kejar sampai ke rumah. Sesampainya di rumah, gue sudah merasa lebih baik. Gue hanya merasa lega saja, karena bisa lepas dari kesialangan dunia luar.

Kemudian gue masuk ke kamar, ganti baju lalu naik ke ranjang empuk gue. Perlahan-lahan gue tertidur hingga sampai ke dunia fantasi. Di sana keadaan sangat berbanding terbalik dengan apa yang gue rasakan hari ini. Gue merasakan bahwa diri gue jauh lebih beruntung di dunia fantasi buatan gue ini. Tapi saat sedang enak-enaknya berlari-lari di padang rumput luas gue terjatuh ke dalam sebuah lubang. Gue terbangun, ternyata gue jatuh dari atas kasur.

“Bah.. lagi enak-enaknya kok bisa jatuh sih.” Gue berbicara sendiri seperti orang gila stres. Gue pun memutuskan untuk ke luar kamar, gue lirik arloji gue, ternyata sekarang sudah jam setengah enam. Gue perhatikan sore ini rumah gue terlalu sepi, padahal biasanya kalau bukan adik gue, ayah gue yang biasanya menonton televisi sore ini, sedangkan ibu biasanya berada di dapur. Tapi hari ini gue tidak melihat mereka.

Karena tidak ada orang, gue memutuskan untuk kembali ke kamar, ketika akan pergi ke kamar gue melihat sebuah kertas di atas meja makan. “Happy Birthday Raka.” Isi kertas tersebut. Saat itu gue ingat bahwa hari ini gue ulang tahun. “Happy birthday Raka.” Ucap mama dan papa ke gue. Ternyata dari tadi mereka sembunyi menyiapkan kejutan untuk gue. “Selamat ulang tahun Kak Raka.” Disusul dengan adik gue sambil memberikan sebuah topi pesta pada gue.

“Hari ini pasti salah satu dari hari terbaik dalam hidupmu kan Raka?” Tanya mama pada gue.
“Iya Ma, hari ini aku sangat senang Ma.” Jawab gue bohong.
“Kalau begitu kita langsung saja, pertama ini kuenya, silahkan kamu tiup lilinnya Raka dan jangan lupa keinginanmu.” Mama memberikan kue pada gue. Sebelum gue meniup lilinnya gue ucapin dulu keinginan gue. Setelah itu baru gue meniup lilinnya. Kemudian dilanjutkan dengan acara pemotongan kue.

“Kak Raka, ayo Kak cepat potong kuenya.” Adik gue sudah kelihatan tidak sabar nampaknya.
“Dasar lo dek, kalau ulang tahun yang ada di pikirannya cuma kue doang.” Gue kemudian memberikan potongan pertama untuk adik gue, sebagai kakak gue tentunya tidak boleh egois.
“Biarin, soalnya dapat makan kue brownies kayak gini kan cuma pas ulang tahun.” Sebuah jawaban yang simple dan penuh makna yang dilontarkan olehnya menurut gue.

Ketika ayah gue mengangkat kue tersebut untuk dipindahkan ke atas meja, kakinya menginjak krim kue, sehingga ayah gue terjatuh. Malangnya kue yang diangkatnya juga terjatuh tepat mengenai wajah gue. “Buset.. pas perayaan ulang tahun, kesialan gue belum juga berakhir. Salah apa gue kemarin Tuhan kenapa bisa sesial ini. Keluarin gue dari kesialan ini..” Gue berteriak sekeras mungkin sehingga membuat ayah, ibu, dan adik gue menjadi heran.

Cerpen Karangan: Fauzi Prima
Facebook: Bekadeh

Cerpen The Bad Day merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Memandang Laut

Oleh:
Inilah aku, panggil saja Fadli, seorang anak kuliahan yang sedang memandang laut pada malam hari tetapi tidak tau apa yang dipandang, oh ya sekarang aku sedang di kapal yang

Satria Belajar Bermain Gitar

Oleh:
Ngiiiingg!!! Suara nyamuk terbang dan hinggap di lengan Satria yang sedang tertidur pulas. Satria sempat mendengarnya, ah ini pasti suara peri yang lagi terbang.. pikirnya. Nyiiittt!!! Nyamuk itu menggigit

Senyum

Oleh:
Pagi itu cuaca cukup dingin di daerah kota Bandug timur, matahari masih terlihat samar-samar, burung-burung masih banyak yang berkicau, terlihat di depan rumah Fadil orang-orang sudah banyak yang bergegas

Rindu Dipanggil Ade

Oleh:
Gerimis baru saja turun di malam kamis itu. Malam dimana Ani sedang mengalunkan lagu kesukaannya yang terpasang di telinganya. “I Promise”, ya itulah lagu kesukaan Ani. Lagunya mengartikan sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *