The Enemy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 March 2019

“Oh syukurlah kau membebaskanku segera, brother. Aku tak bisa menunggu semalam lagi di sini. Tempat ini pengap, kotor dan… bau,” Anya keluar dari sel tahanan itu segera ketika seorang petugas polisi membukakan pintu dan menghambur ke pelukan Olivander, sang kakak.

Anya Strom dimasukan ke dalam penjara di kantor kepolisian daerah Burningham dekat stasiun kereta api Burning, London selatan kemarin malam karena telah membuat anak gadis tetangganya masuk rumah sakit.

“Aku juga tidak suka melihatmu berlama-lama di dalam tempat ini adikku, nasib baik bagi kita Ben bersedia membantuku,” Olivander menatap adiknya sambil tersenyum, kemudian sepasang mata hijau zamrudnya beralih kepada sosok pria tinggi, kurus, berkulit putih dan memakai setelan baju musim dingin berwarna coklat yang sejak tadi berdiri agak jauh dari dua bersaudara Strom ini, memperhatikan.

Anya berbalik, ikut menatap pria yang kini tengah tersenyum kikuk karena tiba-tiba saja gugup diperhatikan oleh dua pasang mata hijau zamrud itu. Anya melotot, mata indahnya terlihat semakin membesar. Tatapannya sangat tak bersahabat. “Kenapa orang ini ada di sini?”

“Jaga bicaramu Anya, Ben di sini karena untuk membebaskanmu. Seharusnya kau berterima kasih padanya bukan malah mengajukan pertanyaan tidak sopan seperti tadi,” Olivander menatap adik perempuannya, memperingatkan.

Terkadang adiknya ini tidak bisa mengontrol mulutnya sendiri.

“Dengar Anya, Benyamin datang ke sini untuk mencabut gugatan atas nama adiknya Lucy, yang kau buat bocor kepalanya kemarin, kau masih ingat, kan?”

Oh, ya tentu saja ia masih ingat betul.

Kemarin gadis berusia enam belas tahun ini melempar teman sekolahnya dengan batu dan tepat mengenai kepala bagian belakangnya.

“Jangan berlebihan Olivan, tidak parah, kok. Hanya perlu beberapa jahitan. Hmm… lima atau sepuluh kurasa, ah aku tak pandai mengingat,” Ben tersenyum jenaka, matanya melengkung membentuk bulan sabit saat dia tersenyum.

Iris mata cokelat pria itu kemudian beralih menatap Anya yang masih menatapnya tidak suka. “Kurasa memenjarakan Anya juga bukan hal yang patut dibenarkan.”

Cih, penjilat, mulut ular, pria ini benar-benar sedang membuat dirinya terlihat sebagai pahlawan di depan kakakku. Anya menggerutu dalam hati.

“Kenapa kau terima bantuan darinya?” Anya memelankan suaranya, menarik kakaknya menjauh dari Ben. “Seharusnya kau tidak boleh menerima bantuan dari si Berk itu.”

“Apa maksudmu? Kenapa aku tidak boleh menerima bantuan darinya? Ingat Anya dia kakak dari sang korban dan aku kakak dari sang tersangka, bagaimana bisa aku mengabaikan bantuan dari orang terdekat korban yang sudah pasti akan sangat membantu proses pembebasanmu,” Olivander memutar bola matanya, merasa adiknya ini benar-benar bodoh saat ini.
Mungkin efek seharian mendekam di sel tahanan membuat adiknya ini agak sedikit dungu, pikirnya heran.

“Hei! Ingat juga kalau dia adalah kakak dari Lucy Berk, musuhku di sekolah. Anak perempuan menyebalkan yang selalu mencari gara-gara denganku. Dan jangan lupakan juga fakta bahwa gadis itu yang memulai duluan, kalau dia tidak menggangguku aku juga tak akan sudi menyentuhnya.” Anya mengerucutkan bibirnya, kebiasaannya saat sedang kesal.

Kedua tangannya ia lipat di depan dadanya, masih menatap kakaknya. Ia tengah memprotes ketidakadilan ini.

“Dan yang berakhir di rumah sakit bukan kau tapi Lucy,” ucap Olivander enteng.

“Bukan berarti aku mengharapkan kau yang masuk rumah sakit Anya,” Olivander menambahkan dengan cepat ketika ia mendapati Anya tengah memelototinya. “Maksudku, tetap saja dalam kasusmu kau yang bersalah. Seharusnya kau bisa lebih besabar, kau tahukan keluarga Berk punya pengaruh yang kuat di Burningham.”

Laki-laki yang umurnya terpaut tiga tahun dengan Anya itu mengakhiri kalimatnya dengan senyum yang mengatakan mau-bagaimana-lagi, meminta agar adiknya dapat mengerti di mana posisinya sekarang.

“Uh, menyebalkan. Aku benci orang kaya baru,” umpat Anya. “Tapi dia tetap saja saudara dari musuh besarku, aku tak sudi beramah-tamah dengannya.” Tandasnya final.

“Ingat kalimat yang diucapkan Machiavelli kepada Billy the Kid saat mereka ada di Alcatraz?” tanya Olivander.

“Oh, jangan mulai. Apapun boleh kau katakan tapi jangan yang itu. Aku tidak mau mendengarkan dongeng sekarang Olivan, ini bukan jam tidurku,” Anya menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.

“Musuh dari musuhku adalah temanku. Machiavelli mengatakan itu saat Billy tidak mempercayai sekutu baru mereka, Hel, Mars Ultor, dan Odin. Musuh yang tadinya harus mereka lawan berbalik menjadi orang yang berpihak pada mereka. Dan karena Machiavelli tahu ketiga sekutu baru mereka adalah orang-orang yang sulit dikalahkan, ia berpikir untuk apa mempermasalahkan kepercayaan lebih baik memanfaatkan kekuatan mereka. Daripada susah payah melawan lebih baik bergabung sebagai sekutu.” Olivander dengan bijak menceritakan ulang novel yang sedang ia gandrungi saat ini.

“Oke, nasihat dari sebuah fiksi lagi. Kau tahu brother, aku lebih memihak pada Billy the Kid. Kita juga mesti menaruh curiga pada mantan musuh kita. Musuh dari musuhku masih bisa jadi musuhku.”

“Kau benar-benar paranoid sejati seperti Billy the Kid kalau begitu.”

“Ya, aku memang paranoid dan aku bangga untuk itu.”

Olivander mendecak sebal, adik perempuannya ini memang tipikal orang yang sangat bebal. Tidak mudah dipengaruhi.

“Kau benar-benar keras kepala,” Olivander mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah.

“Aku bukan keras kepala tapi aku berprinsip. Tidak sepertimu, orang yang tak berprinsip, plin-plan.” Anya mencibir.

“Hei, aku bukannya tak berprinsip tapi aku ini orang yang fleksibel,” Olivander membela diri, merasa tersinggung karena disebut plin-plan oleh adiknya sendiri. “Lagi pula anak kecil sepertimu tahu apa sih soal prinsip.” Olivander balik mencibir.

“Aku tahu segalanya tentang prinsip seperti kau hafal ketujuh buku Harry Potter -mu itu.”

Benyamin, orang yang sejak tadi hanya mengamati dari kejauhan perdebatan antara kedua bersaudara Strom itu mulai merasa bosan dan kesemutan. Ia tidak bisa terlalu lama berdiri, kakinya akan kesemutan dan pegal-pegal keesokan harinya. Sepertinya ia harus mengganggu waktu tidur bibi Marry -asisten rumah tangga di rumahnya- lagi malam ini untuk memijat kakinya, wanita paruh baya itu jagonya menghilangkan pegal dan kesemutan.

Saat pemuda sembilan belas tahun itu akan menyuarakan kebosanannya, Strom bersaudara menyudahi rapat dadakan mereka dan berbalik menghampirinya.

“Maaf telah meninggalkanmu terlalu lama Ben, adikku ternyata mempunyai banyak sekali cerita selama ia di penjara dan sangat tidak sabar ingin menyampaikannya padaku,” Olivander tersenyum ramah.

“Oh tidak masalah, tapi aku hanya ingin mengingatkan kalian bahwa kita masih berada di kantor polisi. Bukankah akan lebih baik berceritanya dilanjutkan di rumah saja.”

“Cih, sarkasme,” cibir Anya pelan tapi masih bisa didengar oleh Olivander dan Ben.

“Anya…”

“Tidak apa-apa Olivan, aku maklum adikmu bersikap seperti itu padaku. Lucy memang keterlaluan melaporkan teman sekolahnya ke polisi hanya karena masalah sepele. Aku sudah menjelaskan kepada pihak sekolah tentang masalah ini dan mereka mengerti, jadi kau tidak perlu khawatir dengan masalah akademikmu Anya. Tidak akan ada yang berubah dengan kehidupan sekolahmu. Pandangan orang-orang padamu pun tidak akan ada yang berubah. Aku jamin itu.”

Uh, pamer kekuasaan lagi. Dia pikir aku peduli dengan pandangan orang-orang padaku. Anya menyumpah dalam hati.

“Tidak, tidak, seharusnya Anya yang minta maaf bukan kau. Jangan merendahkan dirimu sampai seperti itu Ben. Ayo, Anya katakan maaf, ayo cepat..” desak Olivander.

“Tidak mau, jangan paksa aku Olivan.”

“Sudah, sudah, jangan memaksanya Olivan. Memang seharusnya aku yang meminta maaf. Sekarang bisakah kita pulang?” Ben melerai perdebatan kecil yang baru saja terjadi diantara mereka, lagi. Ia benar-benar ingin segera pulang.

“Oh iya, sebaiknya kita pulang sekarang.” seru Olivander.

Akhirnya mereka bertiga keluar dari kantor polisi itu. Di parkiran, terlihat Christoper -supir pribadi Ben- berdiri di samping mobil Mercedes hitam miliknya, menunggu majikannya itu dengan sabar.

“Mari aku antar kalian sampai rumah.” Ben menawarkan diri memberi tumpangan.

“Tidak usah,” tukas Anya cepat ketika melihat gelagat kakaknya yang hendak meraih handle pintu mobil. “Kami tidak mau merepotkan anda lagi tuan Benyamin Berk. Kami bisa naik kereta saja.” Anya menyikut perut Olivander ketika kakaknya itu mengacuhkannya dan malah menggerutu tak jelas.

“Hmm, baiklah, hati-hati di jalan kalau begitu.” Tentu saja nona muda Strom ini berbeda dengan saudara laki-lakinya yang bertabiat lebih bersahabat.

Anya Strom bukan gadis yang gampang ditaklukan dengan pesonanya seperti gadis-gadis lain. Ia bahkan terlihat tidak terpengaruh oleh kekuasaannya. Sejenak batin Ben berkecamuk.

“Sampai jumpa lagi, nona Strom…” Iris mata cokelat terang milik Benyamin Berk bertemu dengan sepasang mata hijau zamrud milik Anya Strom.

Pandangan mereka bertahan sampai lima detik -yang terasa begitu lama bagi Anya- sebelum Anya terlebih dahulu mengalihkan pandangannya pada papan reklame iklan pasta gigi yang terpampang jelas dengan huruf besar-besar bertuliskan “Berapa kali kamu menggosok gigi sehari?” yang ada di sisi lain jalan tepat di depan kantor polisi ini. Dan anya bersumpah demi bapak di surga, tadi dia sempat melihat Ben tersenyum padanya -lebih tepatnya menyeringai- dan Anya merasa sangat bodoh karena sempat terpesona dengan seringaian yang menurut Anya paling keren yang pernah gadis itu lihat disepanjang hidupnya. Dan pikiran bodoh itu masih tidak berhenti sampai Ben masuk ke dalam mobil setelah mengucapkan salam perpisahan.
Mobil Mercedes hitam itu melaju dengan cepat di jalan raya Burningham yang cukup lengang. Satu malam bersalju di tengah bulan November itu akhirnya memisahkan perjumpaan ketiga anak manusia tadi.

“Seharusnya kita tidak perlu menolak ajakannya tadi,”

Olivander masih menggerutu kesal karena ide bodoh adiknya yang menolak tumpangan gratis dari si anak pemilik kebun anggur terluas di Burningham dan membuat mereka berdua kini terdampar di peron lima stasiun Burningham yang sepi, hanya ada beberapa orang yang juga menunggu kereta yang sama.

“Aku harus mempertahankan harga diriku -yang masih tersisa- di depan lelaki kaya itu.”

“Sepertinya Ben menyukaimu,” seloroh Olivander kalem. “Dan sepertinya kau juga begitu.”

Anya menatap kakaknya kaget sekaligus tak percaya. Mata hijau zamrudnya kembali membesar. “Jangan mengada-ada Olivan.”

“Kenapa? Bukankah dia cukup tampan, huh?” Olivander menatap Anya, menyeringai saat dia menangkap basah adiknya tengah berusaha keras menutupi semburat merah di pipi putihnya -yang gagal total ia sembunyikan, Olivander sudah melihatnya.

Ya, Ben memang tampan, Anya mengakui itu dalam hatinya.

“Dia saudara dari Lucy Berk kau ingat, gadis kampung yang berlagak menjadi nona besar dan menggangguku setiap hari di sekolah, juga yang membuatku menginap di penjara selama sehari semalam. Tidakkah fakta itu cukup untuk membuatmu berhenti memujanya?”

Ya, jika fakta bahwa Ben adalah saudara laki-laki dari musuhnya itu hanya sebuah bualan, mungkin Anya akan mempertimbangkannya. Atau ia akan mengejar cinta si pria kaya nan menawan itu.

“Hhhhh…” Olivander menghela nafasnya perlahan. Ia mendorong punggungnya menempel pada senderan kursi kayu yang ia tempati. “Musuh dari musuhku adalah temanku. Dan dia saudara dari musuhmu, kenapa dia tidak bisa menjadi temanmu?”

“Aku pengikut Billy the Kid, Olivan. Bukan Machiavelli-mu itu. Jadi saudara dari musuhku adalah musuhku juga. The end.”

“Tidakkah Ben menarik di matamu, sis. Tampan, kaya, baik hati pula. Kau benar-benar bodoh menjadikan dia sebagai musuhmu. Kalau aku jadi kau, sudah aku ajak berkencan tuan muda Berk yang tampan itu sejak dulu.”

“Kalau begitu lakukanlah, pacari dia.”

“Apa dia suka tipe pria romantis seperti aku?”

END.

Cerpen Karangan: Warnengsih
Blog / Facebook: Warnengsih

Cerpen The Enemy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pahit Manisnya Perjalanan Hidup

Oleh:
Namaku Ayu, aku lahir di tanah Jawa. Tapi, sekarang aku menetap di Bali bersama kedua orangtuaku. Kartika Sari dan I Wayan Durma mereka adalah orang yang telah membesarkanku selama

Sorry Ya Mblo

Oleh:
Setiap pulang kampus Caca memilih jalan memutar. Dia paling males ketemu sama 3 cowok nyebelin itu! Ketika Caca melintas di hadapan mereka, 3 cowok itu pasti bilang “penjaga gawang

Cupid Tetaplah Cupid

Oleh:
Jika harus memilih, siapa yang kau pilih antara orang yang kau suka, dan orang yang membuatmu nyaman? Mungkin, kau akan memilih orang yang membuatmu nyaman kan? Tetapi, bagaimana jika

Pada Akhirnya

Oleh:
Awal kelas 9. Hari itu, pertama kali aku bertemu dengan Deni. Aku melihat dia duduk sendiri. Lalu seseorang memanggilnya, “Deni… ayo gabung sama kami.” Deni pun duduk di salah

Yang Ada Menjadi Tiada

Oleh:
Gadis berambut ikal itu mendekapkan kedua tangannya tepat di depan dada sembari memejamkan kedua matanya. Terdengar kata aamiin dengan lirih dari bibir mungilnya. Tak lama ia membuka kedua matanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *