Titania’s Life (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 April 2016

Sesuatu yang indah tak selamanya akan indah seperti hidup Titania Alvira. Titan adalah gadis cupu yang sering dianggap aneh oleh teman-teman sekelasnya. Pagi itu Titan pergi ke sekolah setelah liburan kenaikan kelas. Sekarang ia duduk di kelas XII di SMA Empire Class. Itu merupakan sekolah yang sangat terkenal di Inggris. Titan merupakan anak dari orang kaya namun dia sangat sederhana, sehingga dia kurang dalam pergaulan di sekolah.

Ayahnya merupakan pengusaha yang sukses, sedangkan ibunya seorang dokter di International Hospital. Tapi kehidupan Titan berubah setelah orangtuanya bercerai. Ia ikut ibunya, sedangkan kakak laki-lakinya yang bernama Vino ikut ayahnya. Dengan kacamata yang telah terpasang di hidung mancungnya, rok panjang sampai mata kaki, lalu rambut dikuncir dua, dia siap berangkat ke sekolah. Dengan penampilan Titan yang seperti ini membuat ia dicap aneh oleh teman-temannya, meskipun begitu tidak ada yang berani mengejek Titan karena ayahnya merupakan donatur empire class dan kakaknya merupakan alumni dari empire class yang sekarang menjadi mahasiswa di empire university, memegang kekuasaan dengan kepopulerannya di kalangan siswa.

Namun dengan status sosial yang berada, Titan tidak merasa tinggi hati dan menonjolkan kekuasaannya. Dia selalu naik mobil yang menurut kalangan pelajar di empire sangat biasa. Titan segera mencari kelas barunya. Dia berasa di XII A, yang berarti dia di kelas utama, ia sekelas dengan kedua sahabatnya dari kelas 1, yaitu Viona dan Sarah. Mereka siswa yang populer di sekolahan, karena Vio merupakan ketua jurnalistik sekolah, yang selalu mengurus tentang peliputan saat ada acara penting sekolah. Sedangkan Sarah merupakan gadis yang agak tomboi, dan dia merupakan ketua karate putri di Club karate Empire Class. Dan Titan hanya anggota kepustakaan sekolah yang mengurus buku-buku di perpustakaan.

Hari pertama masuk sekolah adalah hari yang paling membuatnya bermalas-malasan, dia segera bergegas menuju sekolah. Yang membuatnya senang adalah bisa satu kelas dengan sahabat-sahabatnya.

“Titan, kamu duduk di depanku aja!” kata Sarah, yang sudah duduk sebangku dengan Vio.
“Jangan! Kamu di di depanku aja!” kata Vio, mereka seperti anak kecil yang tidak mau mengalah. Setiap hari pasti ada masalah yang diributkan.
Mendengar mereka ribut membuat Titan ingin duduk di bangku paling belakang, pojok sendiri.
“Kok kamu duduk di situ sih!” Kata Sarah dengan nada kesal.
“Aku mau di belakang aja bisa senderan tembok.” Kata Titan santai.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 itu artinya kelas akan dimulai. Tiba-tiba Titan dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang duduk di sampingnya. “Kok kamu duduk di sini? Kamu pindah aja ya.” Kata Titan dengan perasaan ragu, sambil mencoba melihat siapa orang itu. Namun wajahnya tak bisa Titan lihat karena disembunyikan di balik kedua lengannya yang tertekuk di atas meja. Baru datang udah tidur, batin Titan.
“Kamu pindah aja ya, aku mau sendiri.” Kata Titan, mengulang kalimat sebelumnya. Namun dia tidak menghiraukan Titan. Titan putuskan untuk tidak menghiraukannya lagi, daripada dikacangin kayak begini.

Tak lama kemudian Mrs. Nina datang. Dia adalah guru biologi sekaligus wali kelas Titan. Acara hari ini hanya perkenalan dengan wali kelas, dan ada pemberian jadwal pelajaran. Setelah itu diizinkan pulang. Titan masih penasaran dengan orang yang duduk di sampingnya, dia bisa menebak kalau dia adalah seorang laki-laki, dari rambut pendek dan celananya. Titan belum berani untuk mengajaknya bicara yah mungkin sekedar basa-basi. Dan Titan yakin di kelas sebelumnya dia belum pernah sekelas. Titan segera memasukkan bukunya lalu pergi ke luar kelas, karena Sarah dan Viona sudah terlebih dahulu meninggalkan dia karena harus ke perpustakaan, jadi mereka duluan.

Setelah kembali dari perpustakaan untuk mengurus pendataan buku yang akan digunakan pada semester ini Titan sempat berhenti di depan kelasnya. “Mungkinkah dia masih ada di kelas?” Titan bertanya pada diri sendiri. Karena terakhir dia meninggalkan kelas laki-laki itu masih berada di sana, masih dalam keheningan tanpa suara. Titan mengintip ke dalam kelas, dengan keraguan. Dia sudah tidak ada, mungkin dia sudah pulang. Jam tangan Titan menunjukkan pukul 11, ia segera menuju halte karena hari pertama ini dia belum bawa mobil sendiri. Dia mengirim pesan untuk Kak Vino. “Kak jemput aku sekarang, di halte.” Isi pesan Titan.

Di halte Titan melihat laki-laki itu, dia sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita. Titan berusaha menjauhi mereka, karena merasa mereka sedang bertengkar. Titan lihat wanita itu menampar teman sebangkunya dengan keras, dia sangat terkejut. Secara spontan mata Titan membelalak lebar, mulutnya terbuka, namun segera dia tutup dengan kedua tangannya. Titan melihat sorot mata wanita itu penuh kemarahan, tapi yang membuat Titan terhenyak adalah darah di sudut bibir laki-laki itu. Setelah wanita itu pergi Titan segera menuju ke tempat laki-laki itu, kebetulan saat itu sepi sekali. Karena halte bagi siswa empire class mungkin tidak ada manfaatnya, karena semua membawa kendaraan pribadi sendiri, tanpa dijemput.

“Ku rasa kamu perlu ini.” Kata Titan pada dia. Titan lihat dia kebingungan karena Titan mengulurkan sapu tangan.
“Untuk?” katanya dengan singkat. “Aku tadi nggak sengaja melihat kejadian itu, dan ku lihat di sudut bibirmu ada darahnya.” Kata Titan dengan santai.
“Seharusnya kamu gak boleh menguping pembicaraan orang lain.” Katanya menusuk hati. Niat Titan mau membantu malah dibalas dengan kalimat dingin.
“Ini kan tempat umum. Makanya kalau mau bertengkar cari dulu tempat private.” Kata Titan, menjawab pernyataannya.
“Jangan bikin aku emosi deh.” Katanya ketus.

“Aku dari tadi santai-santai aja, mungkin kamu yang kelewat bawa perasaan.” Kata Titan, diimbuhi dengan lelucon.
“Mending balik aja, daripada bikin ribut.” Katanya.
“Aku juga mau pulang, tapi nunggu jemputan.” Kata Titan tampak biasa-biasa saja, dan tak menghiraukan kalau laki-laki itu sudah emosi menghadapi Titan.
“Kamu tuh siapa sih? Dari tadi reseh kuadrat.” Katanya, tapi sekarang dia tampak lebih santai dari sebelumnya.
“Kamu bakal tahu kok besok, teman sebangku.” Kata Titan padanya, Titan melihat dari kejauhan mobil kak Vino sudah terlihat. Titan segera pergi untuk pulang.

“Hidup adalah kejutan yang tak terduga.”

Hari pertama masuk sekolah sudah penuh dengan masalah bagi Daffa. Berstatus menjadi siswa Empire Class sudah menumbuhkan rasa bangga, namun belum tentu bahagia. Kehidupan yang dia jalani perlahan terasa kosong semenjak datangnya seorang perempuan yang membuat hatinya jatuh terlalu dalam tapi pergi begitu saja meninggalkan Daffa. Ditinggalkan oleh seorang kekasih membuat Daffa semakin tak peduli dengan perasaan wanita, seperti halnya dengan Cerry, pacar Daffa yang baru saja menampar Daffa di halte sekolah. Karena Daffa mengatakan bahwa dia tak menarik lagi. Daffa rasa perkataannya begitu menohok hati Cerry hingga tamparan yang sudah mampir ke pipinya terasa perih kali ini.

Padahal Daffa tahu kalau Cerry selingkuh di belakangnya. Namun peristiwa yang tidak patut dilihat itu dilihat oleh seorang perempuan berkacamata hipster, yang mendekati Daffa sambil mengulurkan sapu tangan. Daffa pernah melihat gadis ini sekilas, Daffa berusaha untuk mengacuhkannya namun dia menjawabnya dengan santai. Ketika ada sebuah mobil datang dan Daffa lihat siapa yang menyetir segera menyadari kalau gadis itu adalah “Titania Alvira Smith”. Daffa tahu sekilas tentangnya, tahu tentang ceritanya, dan yang Daffa thau dia adalah gadis yang sering dicap aneh, namun menurut Daffa tidak, dia memiliki style pakaiannya sendiri, dan cara-cara yang unik yang hanya dia yang bisa. Daffa dan Titan adalah teman sebangku, walaupun di hari pertama Daffa benar-benar mengacuhkannya. Karena ada masalah yang bersemayam di benaknya.

“O … Kamu ya yang namanya teman sebangku.” Balas Daffa akan pernyataan Titan tempo hari.
“Baru sadar, kamu tidur aja sih.” Balas Titan sambil tersenyum.
“Maklum banyak pikiran.” Kata Daffa sambil terkekeh.
“Kamu masih duduk di sini aja. Pindah gih, aku mau duduk sendiri aja.” Kata Titan, menandakan Titan masih belum menerima Daffa menjadi teman sebangkunya.

“Ya ampun, enak ada temennya kali, lagian ke mana temen-temen kamu yang lain?” Kata Daffa. Dia masih ingin mengobrol dengan gadis ini.
“Enak sendiri, Vio sama Sarah ada keperluan dulu.” kata Titan sambil membuka buku.
“Oiya kita belum kenalan dari kemarin, aku Daffa. Kamu?” Kata Daffa basa-basi.
“Aku Titan, kayaknya kita nggak pernah sekelas ya?” tanya Titan, sambil membuka kacamatanya untuk membersihkan lensanya. “Kayaknya kita emang nggak pernah sekelas.” Kata Daffa mengiyakan ucapan Titan.

Kemudian dia hendak memakai kacamatanya lagi, “Kamu cantik kalau kamu nggak pake kacamata.” Kata Daffa jujur.
Mata Titan memang indah, warnanya cokelat dan bulat, dan bulu matanya lentik.
“Kalau nggak pake kacamata aku nggak bisa lihat.” Kata Titan bohong.
“Masa sih?” kata Daffa. Dia tahu kalau itu bukan kacamata minus.
“Iya, emang aku bohong.” Kata Titan dengan sorot mata yang menutupi sesuatu.
“Kenapa sih harus dandan ala cupu kayak begini?” Tanya Daffa penasaran.

Daffa tahu keluarga Titan adalah keluarga orang kaya, kakaknya saja memiliki famor di kalangan Empire Class. Tapi ini berbanding terbalik dengan adiknya.
“Perasaan kamu dari tadi kepoin aku mulu.” Kata Titan.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi. “Kita lanjutin nanti ya.” Kata Daffa.
“Iya kalau aku mau.” Kata Titan sambil menjulurkan lidah.

Perasaan Titan tak karuan, kenapa laki-laki yang sekarang duduk di sampingnya sepertinya mempedulikannya saat ini. Apa karena pertemuan singkat di halte kemarin. Titan tak kunjung berhenti bermain di alam imajinasi. Sampai Bu Naomi, guru Matematikanya memanggilnya, “Titania.” Panggilnya, Titan masih melamun. Lalu Daffa menyenggol lengannya.

“Hemm. Apaan?” Kata Titan belum sadar kalau Bu Naomi memanggilnya.
“Titania.” Ulang Bu Naomi.
“Iya Bu.” Jawab Titan
“Kamu sedang melamun?” Tanya Bu Naomi.
“Ehm… Iya Bu. Maafkan saya.” Kata Titan jujur.
“Baik kali ini saya maafkan, tapi lain kali kamu pasti dapat hukuman.” Kata Bu Naomi.
Titan hanya bisa menghela napas lega, dia tidak mendapat masalah.

“Ngelamun?” Tanya Daffa.
“Biasa banyak pikiran.”
“Plagiat kata-kata.” Kata Daffa.
“Biarkan, yang penting nggak ngerugiin.” Kata Titan santai.
“Aku tuntut, pelanggaran hak cipta loh.” Balas Daffa.
“Apaan sih. Aneh-aneh aja.” Kata Titan mendengar percakapan tak jelasnya dengan Daffa.
Saat istirahat Titan, Vio, dan Sarah pergi ke kantin.

“Tadi kalian ke mana sih?” Tanya Titan.
“Tadi pagi aku sama Sarah ngurus tentang kegiatan besok, kan ada bazar yang bakal sekolah adain. Ya aku mau ngeliput dan Sarah juga bakal bantu. Secara Sarah kan mau ketemu sama Hito, anggota jurnalistik juga.” Jelas Vio.
“O, mau ada bazar. Aku juga mau ikut ngeramein acaranya ah. Sejak kapan Sarah deket sama Hito?” kata Titan, Titan ini memang kudet, masalah asmara temennya aja sampe nggak tahu. Temen macem apa itu (hahaha).

“Titan, Sarah itu udah pacaran sama Hito dua hari yang lalu. Kita udah bahas ini kemarin.” Kata Vio.
“Biasa Vi, dia emang agak lemot.” Kata Sarah.
“Aku masih gak percaya aja, Sarah yang tomboi bisa dapet pacar.” Kata Titan lebay.
Tiba-tiba ada seseorang yang datang. “Aku lebih nggak percaya kalau seorang Titania yang punya pacar.” Kata Daffa. Mendengar ucapan Daffa tawa temen-temen Titan pun pecah.

“Dih, ngapain ke sini?” Tanya Titan tidak suka.
“Ya mau gabung.” kata Daffa.
“Nggak boleh, ini khusus kita bertiga. Kamu sama temen kamu aja sana.” Kata Titan sensi.
“Kita kan juga temen. Bukannya bener kan?” Kata Daffa, menyulut emosi Titan.
“Udah sih Tan, dia juga temen kita. Kamu Daffa kan? Anggota jurnalistik juga.” Kata Sarah.
“Iya. Ini Daffa, Tan. Dia temenku di jurnalistik. Kita beda kelas dulu sama dia. Tapi kamu kan temen sebangkunya kan?” kata Vio.
“Jadi kalian udah pada kenal.” Kata Titan, dia merasa kalau dirinya adalah orang terkuper di sekolahan.

“Sorry ya, aku udah ditungguin Ghani nih.” Kata Vio. Ghani Adzar adalah pacar Vio, mereka udah jadian 1 tahun yang lalu. “Iya, iya, sono kamu samperin. Aku juga mau ketemu Hito nih.” Kata Sarah.
“Terus aku sendirian nih?” Kata Titan sambil mengerucutkan bibirnya.
“Gak usah sedih, aku temenin.” Kata Daffa.
“Siapa yang mau ditemenin sama kamu. Males.” Kata Titan.
“Udah sih Tan. Daf, kamu temeni Titan ya. Jagain dia, aku denger habis ini ada free class.” Kata Sarah.
“Iya-iya, aku jagain.” Kata Daffa, sambil merangkul bahu Titan.

Setelah Sarah dan Vio pergi Titan segera menepis tangan Daffa.
“Jangan deket-deket. Bisa alergi entar.” Kata Titan.
“Huh, kata-katanya sungguh menyakitkan.” Kata Daffa sok tersakiti.
“Aku mau ke perpustakaan aja deh, barangkali ada buku yang harus diberesin.” Kata Titan seraya berdiri.
“Aku temenin, siapa tahu aku bisa bantu.” Kata Daffa.
“Bisa-bisa, siapa tahu aku butuh dibantuin. Beneran nih?” Kata Titan.
“Iya.”

Di perpustakaan, Titan segera mengecek lemari buku satu per satu. Dia mau membetulkan letak buku di bagian atas.
“Ini tinggi banget sih.” Keluh Titan.
“Biar aku bantu.” Kata Daffa.
“Makasih ya.” ucap Titan.

Berdua dengan Daffa membuat Titan gugup, sebelumnya dia tidak pernah berdua doang dengan laki-laki kecuali kakaknya, Vino.
“Tan, kamu mau ngapain lagi habis ini?” Tanya Daffa.
“Nggak tahu, aku lagi males.” Ucap Titan acuh.
“Gimana kalau kita ke taman belakang sekolah, yang deket air mancurnya.” Kata Daffa.
“Di situkan sepi, katanya angker tahu, Daf.” Kata Titan.
“Siapa bilang angker, aku juga sering ke sana. Bagus tahu, lagian ini lagi musim semi, pasti bagus banget. Udah ayo ke sana.” Kata Daffa.

Tanpa mempedulikan jawaban Titania, Daffa terus menarik tangan Titan untuk ke taman belakang sekolah. “Tuh kan bagus.” Kata Daffa.
“Oh iya ya. Kenapa baru nyadar aku, kalau ternyata di sini bagus.” Kata Titan, menyetujui ucapan Daffa. Taman ini jarang dikunjungi karena tempat ini jarang terawat, karena itu ada cerita kalau tempat ini angker. Daffa dan Titan duduk di bangku taman, yang besinya sudah berkarat dan catnya sudah mengelupas.

“Di sini suasananya tenang, anginnya sepoi-sepoi.” Kata Titan sambil memejamkan matanya.
“Tan, kamu jangan sampe tidur di sini ya. Awas kalau tidur.” Kata Daffa.
Tak lama pun, kepala Titan sudah bersandar manis di pundak Daffa.
“Yee, ini anak udah dibilang jangan tidur malah tidur.” Kata Daffa.
Daffa melihat wajah manis Titan, dia tampak cantik dengan kesederhanaan yang ia tampilkan. Tanpa make up yang tebal dan terlihat natural membuat Daffa terpesona.

“Daf, aku cape. Izinin aku pinjem pundak kamu sebentar aja.” Kata Titan matanya masih tertutup.
“Iya, kamu boleh kali ini. Bisa dibilang aku lagi berbaik hati hari ini. Tapi lain kali nggak akan.” Ucap Daffa.
“Daf, kamu tahu kan kalau sebenernya ini bukan kacamata minus?” Kata Titan, masih memejamkan mata.
“Iya, udah tahu.” Balas Daffa singkat.
“Aku punya alesan buat dandan cupu kayak begini, aku nggak mau kamu salah sangka.” Kata Titan.
“Bukannya aku mau berpura-pura untuk jadi orang lain, tapi aku cuma mau tahu siapa yang bakal bisa nerima aku atau yang hanya memanfaatkan aku. Dan aku temuin Vio sama Sarah, yang nerima aku. Daf, aku nggak salah kan?” Kata Titan.

“Nggak, menurutku itu bagus. Karena kamu mau cari temen yang bener temen dan mana yang bukan. Oh iya saat kita di halte waktu itu, kamu lupain aja.” Kata Daffa.
“Daf, kalau kamu mau tahu gimana perasaanku saat lihat itu, aku takut setengah mati. Aku kirain cuma di film dan drama ada adegan tampar menampar. Kamu abis ngapain sampe digituin?” Celoteh Titan, yang kini sudah membuka matanya dan menatap Daffa secara intens.
“Biasa, anak keren banyak yang suka.” Kata Daffa.
“Siapa yang keren? Kamu? Ngimpi.” Kata Titan.
“Nggak mau ngaku ya.” Kata Daffa.

“Kamu pasti waktu itu abis selingkuh ya?” Kata Titan.
“Kok tahu sih jangan-jangan kamu mata-matain aku ya?” Kata Daffa.
“Males banget jadi mata-mata kamu, mending di rumah tidur.” Ucap Titan.
“Biasa Tan, aku kan banyak yang ngefans jadi ya gitulah.” Kata Daffa.
“Iya, iya yang banyak fansnya. Apa yang banyak pacarnya alias playboy.” Kata Titan.
“Berarti kan aku pria idaman Tan, buktinya banyak yang suka.” Ucap Daffa pede.

“Pria idaman dari mananya? Nggak ada yang bagus untuk diidam-idamkan.” Kata Titan sengit.
“Kata-katamu pedas Tan, bikin hatiku hancur.” Ucap Daffa lebay.
“Kalau hancur tinggal dilem, gampang mudah dan praktis.” Kata Titan sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
“Emangnya hatiku apaan? barang pecah belah yang bisa dipecahin dan dilem begitu?” Kata Daffa.
“Kalau ngerasa hati kamu seperti itu ya entah.” Kata Titan sambil mengedikkan bahunya.
“Hatiku cuma Titania seorang yang punya.” Kata Daffa untuk menggoda Titan.
“Nggak bakal bisa ngerayu aku pake yang begituan, nggak ngaruh.” Kata Titan.

“Terus pake apa?” Ucap Daffa.
“Emang ya kalau playboy, di mana-mana sama aja, kerjaannya ya begitu.” Omel Titan.
“Aku nggak pernah ngerayu orang ya biasanya dirayu.” Kata Daffa.
“Oh jadi kamu maunya aku yang ngerayu?” Kata Titan.
“Kalau bisa, coba aja.” Kata Daffa.
“Daf.” Kata Titan lembut.
“Iya.” Balas Daffa.

“Kamu orang yang paling nyebelin di muka bumi yang nggak mau aku temuin, dan aku nggak tahu harus bilang apa. Aku kesel banget sama kamu.” Pekik Titan keras sekali.
“Ya ampun, kurang keras, Tan. Mau bikin telinga aku bisu ya?” Kata Daffa.
“Daf, kamu pinter apa bodoh sih, di mana-mana telinga itu tuli bukan bisu.” Kata Titan.
“Kan aku udah tuli dan bisu akan cinta kamu.” Kata Daffa. Kali ini pipi Titania bersemu merah.
“Terserah kamu Daf.” Kata Titan seraya menuju kelasnya.
“Tungguin, Titaniaku.” Kata Daffa, dia senang bisa menjahili Titania, apalagi melihat ekspresi Titania yang salah tingkah di depannya. Baginya Titan itu wanita yang unik dan menarik.

Bersambung

Cerpen Karangan: Almira Zahra
Facebook: Almira Zahra
My name Almira Zahra, i like imagination and write a story.

Cerpen Titania’s Life (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Trouble

Oleh:
“hi” sapa teman gua. Oh iya perkenalkan nama gua mutiara gua sekolah di salah satu sma favorit di bandung. gua keturunan orang california soalnya seluruh keluarga gua disana cuma

Add Me, Please

Oleh:
“Ini hari yang cukup cerah untuk aku berjalan-jalan,” pikirku sambil melihat ke langit-langit. “tunggu dulu, aku seharusnya ke luar untuk melihat cuacanya,” kataku yang baru sadar dari khayalan ternyata

Cintaku Berawal Dari Gramedia

Oleh:
Namaku dewi, aku duduk di kelas 1 SMK disalah satu kota Cirebon. Awal cerita… Hari ini hari minggu, waktunya aku untuk bermalas-malasan. Tiba-tiba saja handphone ku berdering, kulihat hani

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *