Titik Buta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 December 2019

Asap tipis mengepul di teras kantin sekolah. Asalnya dari sebatang rok*k yang Sidiq sulut belum lama ini. Dirinya adalah satu-satunya yang berada di kantin, mendengarkan sayup-sayup suara upacara dari kejauhan. Wajahnya akan benar-benar memerah jika ia berlama-lama berdiri di tempat yang disebut-sebut sebagai lapangan upacara. Disana tak henti-hentinya ia dan teman-teman satu jurusan IPS disiksa, dibanding-bandingkan dengan anak IPA yang katanya penurut, katanya pintar, katanya teladan dan segala omong kosong lainnya. Tidak peduli sesopan apapun atau berapa banyak basa-basi yang dipakai, hinaan, tetaplah hinaan. Karena itu, dari sekian banyaknya orang, hanya Sidiq lah yang berani kabur dan mengendap keluar dari neraka itu.

Tak terasa tersisa puntungnya saja, Sidiq membuangnya asal, lalu mengelus tangannya yang kepanasan. Kemudian, Sidiq beranjak pergi ke dalam kantin yang sepi. Disana berdiri seorang lelaki tua yang tidak dikenalnya, merapikan gorengan dan dagangan lainnya. Sidiq bertanya-bertanya kemana ibu kantin yang biasanya menerima hutang-hutangnya ketika uangnya terbakar jadi asap rok*k? masa bodoh, selama ada yang jaga ia bisa makan dengan tenang, sekalipun ngutang.

“Pak, nasi goreng satu, pake telor dadar dua”
“Iya”, lelaki itu menjawab singkat pesanan sidiq.

Sambil menunggu, Sidiq mengambil tempat duduk dan mulai mengunyah gorengan yang ia ambil tanpa ragu-ragu di depannya. Terlihat lelaki itu menenggelamkan gumpalan telur ke wajan penuh minyak. Tapi, karena ia menuangnya terlalu tinggi, kubangan minyak di wajan bercipratan keluar setelah dihantam oleh gumpalan telur tadi. Tidak biasanya, pikir Sidiq.

“Kok, gak ikut upacara mas?”, tanya lelaki sambil membuat pesanan Sidiq.
“Males, ah”, sahut Sidiq
“Kenapa?”
“Males ya males”, Sidiq melempar gorengan ke mulutnya.
“Lho, bukannya sudah jadi kewajiban kalau jadi siswa? mau tidak mau, harus dijalani, kan?”, desak si lelaki. Sebelum menjawab, Sidiq menuang sendiri air dari teko kecil ke gelasnya hingga penuh, meminum separuhnya dan menghela napas.
“Biarpun dibilang kewajiban, aku harus apa? berdiri bak patung, ditimbun oleh panasnya mentari, ditambah dengan panasnya telinga kami mendengar cemooh mereka.”
“Dicemooh gimana mas?”, sela lelaki tua itu.
“Mereka bilang kami tak disiplin, mereka bilang kami memberontak, mereka bilang kami tidak bisa diatur, bahkan mereka menganggap kami tak berguna!”, seru Sidiq.
“Mereka benar-benar bilang gitu, mas?”, tanya si lelaki sambil menyerok telur yang hampir matang.
“Aku bahkan sampai lupa menghitungnya. Yang langsung, yang tidak, yang di depan, yang di belakang, yang teguran, yang bisikan aku sudah dengar semuanya! kewajiban yang dipikul bersama beban itu, bukan kewajiban, tapi kutukan! Cuma orang gila saja yang mau melakukannya!”, Sidiq menenggak sisa air di gelas dengan kasar, kemudian menghela napas berusaha menenangkan emosinya. Si lelaki terdiam sesaat, kemudian menatap Sidiq lagi.

“Apa salahnya? itu sudah biasa. Bekerja sambil menggendong bangkai itu wajar, kan. Mungkin mas belum tahu, tapi waktu kerja itu lumrah sekali, tahu? jadi, kenapa tidak tahan saja bau busuknya?”
“Bapak ini seperti guru saja. Ceramah sana sini, tapi akhir-akhirnya hanya karena gaji, kan?”, tukas Sidiq mendengus. Lelaki tua itu cuma menyunggingkan senyum simpul.
“Mas bilang gitu, tapi mas sendiri menyimpang sendirian ke sini, kan?” balas lelaki. Sidiq tak bicara, hanya diam, lalu mengambil gorengan lagi dan memakannya.

Tak lama kemudian, nasi goreng beserta dua telur dadar sudah tersaji di depan Sidiq
“Sudah jadi”
“Iya”, Sidiq langsung menyantapnya seperti pengemis yang belum makan berhari-hari. Banyak butir nasi berserakan di dekat piring, tapi ini bukan rumahnya, tak ada yang memarahinya, jadi ia tak perlu membersihkannya seperti saat di rumah.

Sidiq mendengar sayup-sayup suara tegas pemimpin upacara, kemudian melalui speaker sekolah ia mendengar suara pria yang tak asing, meskipun jauh, tapi Sidiq tahu pemilik suara itu adalah wakil kepala sekolah.
heh, pemimpinnya anak IPA itu, ya? Tapi, bukannya ada kepala sekolah yang baru hari ini? Dasar pemalas, hari pertama kerja sudah molor, pikir Sidiq. Ceramah upacara atau apa yang disebut dengan amanat Pembina upacara dimulai. Namun, Sidiq asyik dengan santapannya jadi ia mengabaikannya.

Tanpa sadar seporsi nasi goreng telah lenyap. Setelah Sidiq meminum segelas air yang kedua, perutnya benar puas adanya. Ia pun lagi-lagi menghela napas.
“Negara bobrok, karena rakyatnya bodoh, rakyatnya bodoh karena gurunya pilih kasih”.
“Yakin? bicara jelek ke guru seperti itu?”
“Bodo amat, yang penting mereka tidak tahu. Lagian, mereka selalu memanjakan murid-murid penurut, seperti boneka, atau mesin penjawab soal. Oh ya semuanya berapa?”
“… Semuanya jadi tujuh ribu rupiah”, Sidiq asal menarik selembar uang dan meletakkannya di atas meja, kemudian dengan cepat berbalik ke pintu keluar, begitu saja.
“Lho, mas! upacara belum selesai mau kemana?”
“Pulang”
“Terus mana tasnya?”
“Anak sekolah hanya pake kepala, kan? buat apa tas dan buku?”, Sidiq berlari keluar kantin dan lenyap, meninggalkan suara langkah kaki yang kian memudar. Walaupun tak lama kemudian, jeritan terdengar. Menggema, seperti paduan suara.
Sidiq yang harusnya bolos sekolah, tertangkap basah tepat tak lama setelah ia keluar dari kantin. Guru-guru BK dan kesiswaan yang garang itu menyeretnya sepanjang jalan menuju sarang mereka. Anehnya, mereka melewati ruang BK- kandang singa-, tapi lurus menuju ruang kepala sekolah.
Kenapa ke sini? bukannya Kepala Sekolah gak berangkat?, Sidiq merasa was-was untuk alasan yang tidak jelas, ia merasa apa yang menunggu di balik pintu itu adalah akhir baginya.

“Masuklah”, perintah guru BK pada Sidiq. Ia mengikuti instruksi, tapi guru yang membawanya tak ikut masuk. Saat ia berpikir mengapa, pintu sudah tertutup. Singkatnya ia terkurung disini.
Apa ini hukuman model terbaru? Dikurung di ruang Kepsek? Serius?, Sidiq benar-benar bingung sekarang. Untuk saat ini, Sidiq memilih duduk di sebuah kursi tamu yang disediakan.

Sekitar lima menit kemudian, pintu terbuka, sontak Sidiq menoleh ke belakang.
Deg
Sidiq merasa jantungnya berhenti, darah turun mengalir menyisakan wajah pucat pasinya. Seolah Sidiq lupa caranya bernapas, mulutnya ternganga sama lebar dengan matanya. Orang yang masuk adalah seorang guru dilihat dari pakaian dinasnya. Tetapi, apa yang mengejutkan bukanlah itu.

“Selamat pagi Sidiq”, sapa guru itu. Namun Sidiq tak menjawab.
“Ataukah harus bapak panggil mas? Dan apa nasi goreng buatan bapak enak? Tapi yang paling penting … kamu lupa kembaliannya”, uang lembaran tiga ribu rupiah tergeletak rapi, hampir tanpa kerutan.

Pernapasan Sidiq menjadi kacau, ia ingin mengaturnya, tapi ia tak bisa. Ada segudang pertanyaan yang ingin ia mutahkan segera. Namun, tenggorokkannya terasa sesak seolah kawanan lebah bersarang di dalamnya. Tapi, yang paling penting kenapa “dia” ada disini?

Guru itu duduk perlahan dengan tenang dan melipat kedua jarinya bersama-sama di depan mulutnya. “Sekarang mari ke topik utama”, Senyuman lelaki di depannya sangatlah ramah seperti di kantin tadi, tapi Sidiq merasa bulu kuduknya berdiri kaku.

“Sidiq”, katanya perlahan. Guru itu adalah Kepala Sekolah tidak salah lagi, tapi, kepala sekolah itu adalah …
“Kamu dikeluarkan dari sekolah”
Penjaga kantin yang tadi!

Cerpen Karangan: MGal
Blog / Facebook: MGal (The Fool)

Cerpen Titik Buta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ternyata Kau Adalah Tipeku (Part 1)

Oleh:
“Sera, ayo selfie bareng.?!” ajak salah satu temannya yang bernama Nabila. “Gak mau, ah. Kalian aja.” jawab gadis aneh yang bernama Sera tadi. “Kamu emang cowok kok, Ser?. Disamping

Cinta Setelah Hujan

Oleh:
Hujan deras sepulang sekolah, Dini berteduh di bawah pohon beringin yang besar dan rimbun. Tubuh mungilnya menggigil, perlahan seragam yang ia kenakan mulai basah. “Hachih…” Dini pun mulai bersin-bersin

10 Tahun Lalu (Part 1)

Oleh:
Hari itu senin, hari pertamaku memakai seragam putih biru, aku berdiri cukup lama di depan cermin, aku tersenyum bangga setelah 6 tahun memakai seragam merah putih akhirnya berganti juga.

Kesetiaan Bekaskan Luka

Oleh:
Anastasya Adila Putri, gadis manis dan santun itu tengah berada antara hati 2 laki-laki, Dista Anggara dan Aldi Tifano. Walaupun dulu, cinta Dila hanya untuk Dista, tapi kali ini

Bukan Cinderella

Oleh:
Namaku Cinderella. Ya, Cinderella. Seperti nama tokoh dongeng yang sangat terkenal. Dan kebetulan atau memang takdirnya, ibuku meninggal saat aku kecil dan ayahku menikah lagi dengan janda beranak dua.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Titik Buta”

  1. Jinjin says:

    Woaaa bagusnya. Adakah karyamu yg lainnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *