Titipkan Salamku Pada Pelangi (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 October 2016

“Udah lama datang?” suara kecil yang lembut terdengar di telingaku.

Kenalin namaku Lisa, sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 3 SMA. Sekolahku merupakan salah satu sekolah favorit di kotaku. Tidak semua siswa bisa masuk ke sekolah itu, hanya orang-orang beruntunglah yang bisa masuk ke SMA terfavorit itu. Mungkin aku termasuk salah satu siswa yang beruntung. Hehehe…

Pagi ini sengaja aku datang lebih awal karena dapat giliran piket kebersihan di kelas. Aku pun langsung mengambil sapu dan menyapu lantai kelas, tak lama kemudian tiba-tiba saja terdengar suara kecil yang tak asing di telingaku. Aku terdiam sejenak, “Ahh, mungkin hanya perasaanku saja”, gumamku mengingat temanku yang satu itu mustahil datang sepagi ini. Aku pun melanjutkan kegiatan menyapuku.

“Kok malah diem?” suara itu terdengar lagi. Terlihat bayangan seseorang yang ada di depan pintu karena hari masih sangat pagi dan lampu kelas yang mati membuat keadaan di dalam kelas terlihat sedikit gelap. Kulihat lebih jelas ke arah munculnya bayangan ternyata itu adalah temanku Ryan, dia adalah salah satu vokalis band di sekolahku.

“Ouh.. Kamu Yan, iya lumayan siih” kataku sambil menyapu di belakang. “Kubantu yah”, katanya sambil membuka semua penutup jendela yang ada di kelasku. “Ouhh boleh boleh” ujarku sambil tersenyum ke arahnya. Sinar matahari masuk menyinari meja dan bangku yang sudah kususun rapi. Kelas yang sudah bersih tapi yang lain masih belum datang.

“Mana yang lain nih?” ujar Ryan menanyakan siswa lain yang mendapat giliran piket hari ini selain aku, seraya meletakan tasnya di meja. “Tau tuh paling masih di jalan” jawabku sambil cemberut karena hampir seruangan kelas ini aku yang menyapu.
“Laporin aja Lis sama Pak Agus”, katanya menyuruhku untuk melapor ke walikelas kami.

“Ga ah, gak papa kok lagian kan udah dibantu sama kamu” candaku. “Ah kamu bisa aja”, katanya membalas candaanku dengan tersenyum. Terlintas dalam pikiranku melihat senyumnya yang manis dengan wajah yang tampan itu tak salah banyak cewek yang suka padanya. Seiring berjalannya waktu siswa di kelas mulai berdatangan dan suara gaduh yang khas dari kelas ini membuat kelas menjadi hidup. Obrolan canda dan tawa membuat kelas ini menjadi ramai, sedangkan aku lebih memilih untuk mengistirahatkan tubuh yang sedang penat ini di tempat dudukku.

“Tadi kamu udah nyapu Lis?” kata sahabatku Dewi yang duduk di sebelahku. “Iya sudah”, kataku sambil mengambil buku matematika dan pulpen yang berada di dalam tasku dan kutaruh di atas meja. “Ouhh emangnya datang pukul berapa kamu Lis?” tanya Dewi. “Kalau nggak salah pukul 7 kurang 20 menit udah datang, tapi kan kamu padahal piket juga Dew”, kataku karena Dewi memang dapat giliran piket hari ini. “Hehe iya siih tadi tuh kesiangan Lis”, dengan gaya ngelesnya yang kuingat.

“Hmm ya udah gak papa” kataku sambil mengipaskan tubuhku dengan buku latihan “Sendirian aja?” tanya Dewi ingin tau mungkin heran kelas bersih tapi yang ngerjakan hanya aku. “Awalnya sih sendiri tapi ketika ada Ryan dia malah ikut bantuin” kataku sambil tersenyum. Ketika Dewi mau bicara tiba-tiba Ibu Tia, guru matematika kami sudah datang. “Selamat Pagi Semuanya”, ucap Bu Tia. Kamipun berdiri dan membalas salam Bu Tia.

Dengan muka garang yang khas, membuat kelas menjadi selalu hening saat pelajarannya. “Hari ini siapa aja yang dapat giliran nyapu angkat tangan!” kata beliau dengan nada yang agak tinggi. Spontan kuangkat tanganku termasuk juga sahabatku Dewi dan teman lain yang juga dapat giliran hari ini.

“Kenapa sampah kelas yang di depan masih belum dibuang”, kata Ibu Tia yang membuatku terkejut, baru kuingat kalau sampah yang di depan kelas belum kubuang karena asyik mengobrol dengan Ryan tadi. “Emang sampah belum kamu buang?” kata Dewi bertanya padaku. “Belum dew”, kataku sambil kebingungan karena memang baru kali ini aku kelupaan.

“Aduhh.. kena hukum pasti kita Lis”, sambil menggelengkan kepala yang sedikit menunduk dengan tangan kiri di dahinya. Dengan lantang Ibu Tia mengucapkan lagi untuk cepat membuang sampah ke TPS di belakang sekolah yang tidak jauh dari kantin.

Sehabis Ibu Tia bicara, tiba-tiba saja Ryan berdiri dari tempat duduknya “Biar saya dan Lisa aja Bu yang membuangnya” katanya dengan berani.
Sontak aku pun terkejut dan heran “kok dia mau bukannya hari ini bukan gilirannya” gumamku terheran-heran. Ibu Tia mengiyakan dan tak lupa nasihat beliau untuk cepat membuangnya karena Pak Dayat sekolahku biasanya mengambil sampah di TPS pada jam pertama.

“Ayo cepat lis”, katanya sambil mengambil sepatunya yang ada di rak sepatu depan kelas. Bergegas aku dan Ryan memasang sepatu untuk cepat-cepat membuang sampah.
Kuraih ganggang bak sampah yang di sebelah kanan lalu Ryan juga sudah memegang yang sebelah kiri kami pun mulai berjalan menuju TPS itu.

Kami berjalan agak sedikit cepat karena tak ingin kena omel Bu Tia, tak lama kami sudah sampai di sana dan segera membuangnya. Di sela-sela waktu aku langsung bertanya dengan wajah heran padanya “Kok kamu mau buang sampah sama aku? Sedangkan hari ini bukan giliran kamu”, Ryan hanya menanggapinya dengan tersenyum.
“Kok malah senyum sih?” ucapku karena bukan jawaban itu yang kuharapkan darinya.

Cerpen Karangan: Mahdian
Facebook: facebook.com/mahdian.c.paris
Pemindai Aksara dan Penasehat: Erlina Haliza H.

Cerpen Titipkan Salamku Pada Pelangi (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


100% IQ Love

Oleh:
“Siapa yang memilih dan pada siapa ia dipilih. Siapa yang tahu menahu. Hanya hak logika dan perasaan beradu padu pada tiga kata: I Love You” Pintar, jenius, super cerdas,

Jomblo! No Way!!

Oleh:
Nayla melangkahkah kakinya di sepanjang koridor sekolah, pagi itu suasana tampak gelap dan hujan turun dengan derasnya. Ia mulai merapatkan kembali jaketnya untuk mengusir dingin yang menusuk tulang. Langkahnya

Our Friendship (Part 3)

Oleh:
Bel istirahat pun tiba. Diva dan Rieta berjalan menuju kantin. Alvin lagi berlatih basket dengan teman temannya sedang Rey lagi dipanggil sama Mrs. Mira ke ruangannya. Sesampainya di kantin,

Hilang Harapan

Oleh:
Cerita ini berawal dari seorang pelajar yang bernama Arand yang baru saja masuk di SMA kelas 10. Awalnya Arand adalah orang yang biasa-biasa saja masalah pacaran, masa sekolahnya hanyalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *