Traitor

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 April 2016

Ini kisahku saat aku merasa dikhianati oleh temanku. Sebut saja Seryna dan panggil aku Bella. Seryna itu baik sekali sikapnya di depanku, tapi di belakangku Seryna membicarakanku. Entah apa yang ia mau dariku. Berawal dari sikapnya yang berubah drastis.

“Anak-anak tidak boleh iri ya kalau tugas sekolahnya Bella dijadikan PR. Bella tidak bisa menulis,” Semua anak mengangguk paham, tapi hanya satu anak yang memandangku sinis. Ya, itu Seryna, ia tampak tidak suka aku diperlakukan secara istimewa. Ya, sudahlah biarkan saja, mungkin ia sedang berpikir tentang jawaban dari soal yang diberikan oleh miss Emil. Tapi pandangannya itu ada maknanya. Makna yang tak bisa diungkap.

Aku memasuki kelas dengan perasaan senang karena aku akan memberikan cerpenku yang bertemakan paskah untuk mading kelasku. Aku menyerahkannya pada Aven temanku tapi Aven bilang aku harus memberikan pada Kimby. Baiklah nanti ku serahkan. Saat aku kembali meletakkan cerpenku di bawah buku pelajaran, Seryna mengambilnya.

“Gue pinjem ya,” Izinnya, aku hanya mengiyakannya. Ku lihat ia membacanya dengan teliti dan cermat. Setelah selesai membaca ia mengomentarinya.
“Emang ini ya makna paskah? Setahu gue paskah itu kebangkitan Kristus,” Katanya sambil menunjuk tulisan ‘Paskah adalah hari dimana Kristus mengalahkan alam maut dan membebaskan kita dari belenggu dosa.’ Ya ampun apa bedanya? Kristus bangkit berarti ia telah mengalahkan alam maut dan membebaskan kita dari belenggu dosa.

“Apa bedanya Seryna? Kristus itu bangkit berarti telah mengalahkan alam maut!” jelasku padanya.
“Ih tapi kata gereja gue kebangkitan Kristus,” Katanya. Oh ya ampun, aku lelah, ya sudahlah aku iyakan saja.
“Ya udah iya,” Ia pun tersenyum dan menaruh lagi kertasnya di mejaku.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat sekarang sudah hari selasa saja. Aku yakin sekali hari ini akan berlalu dengan indah. “Seryna Bapak lo udah balik?” tanyaku saat istirahat tiba. Ia hanya menjawabku dengan anggukan malas dan tatapan aneh. Di sini mulai ku rasakan perubahan yang semakin hari semakin membuatku bingung. Aku tahu aku dan Seryna hanya teman biasa, tapi sikapnya itu membuatku seperti bukan temannya melainkan pengganggu hidupnya. “Oh oke!”

Sekarang pelajaran IPA dimulai. Kami diberi soal sebanyak 30 nomor. Aku nggak mungkin bisa mengerjakan 30 nomor dengan tangan kiriku. Oh ya, tangan kananku sedang cedera otot berat dan butuh istirahat 3 bulan dan dokter bilang harus digendong. Aku mulai mengerjakan soal semampuku. Aku berusaha untuk sabar karena aku tidak terbiasa menulis tangan kiri jadi hasilnya jelek dan berantakan. Ya aku lanjutkan saja menulisnya, lebih baik ada daripada tidak ada sama sekali. 2 jam pelajaran aku hanya mampu menulis 9 nomor saja. Saat semuanya mengumpulkan aku tidak. Aku cukup lelah menulis dengan tangan kiri akhirnya ku letakkan pulpen dan ku tutup bukuku untuk melepaskan kelelahan. “Bella aku ganti baju OR dulu ya,” Kata Aven sambil menggandeng Jennifer, aku hanya mengangguk. Hari ini aku tidak ikut olah raga lagi karena tanganku ini. Saat Aven, Jennifer, dan sahabat-sahabatku yang lain sedang berganti baju Seryna memandangiku sambil melipat jaketnya.

“Bella kok nggak dilanjutin?” tanyanya memandangiku sinis. Aku maklumi, akhir-akhir ini ia memang sering memandangku sinis. “Cape nulis tangan kiri,” jawabku santai.
“Ya udah lepaslah gendongannya. Pake tangan kanannya!”
Memangnya dia tidak melihat tanganku? Sedang sakit disuruh menulis! Bagaimana dia ini?
“Tangan gue sakit,” Kataku menegakkan dudukku.
“Lah perasaan pas UTS lo nulis santai-santai aja,” Katanya sambil menyangkut-pautkan ini dengan UTS.
“Apaan? Pas UTS aja gue terpaksa nulisnya. Tanya Dava gue ngeluh sakit terus,” Ucapku membela diri. Ia hanya memasang tampang jengkel.
“Katanya cuma tiga minggu digendongnya ini lebih dari 1 bulan. Retak doang kan? Lagian kata emak gue, lo tuh terlalu ngerepotin orang,” Kata-kata itu sangat menusuk hatiku. Jadi selama ini aku merepotkan orang? “Nggak gue tadi nulis sendiri kok,” Aku membela diriku, ia mengacuhkanku dan langsung pergi ke kantin.

“Aven. Kata Seryna aku ngerepotin orang. Bener?” tanyaku pada Aven. Aven terlihat marah mendengarnya. “Ih! Awas ya!” aku langsung saja menahannya. Menurutku masalah seperti ini tak perlu dibesar-besarkan.
“Iya.. aku jajan!” katanya akhirnya, Aven ke luar dan kembali sambil membawa piscok.
“Bella, aku udah bilang Melca. Sekarang Melca lagi nasihatin.” Ku lihat kedepan, ya benar, Melca dan Agatha sedang menasihati Seryna. Eh, tunggu. Sepertinya bukan menasihati tapi melabrak. Ku lihat Aven ikut melabrak Seryna. Aku hanya bisa diam melihatnya. Salah ya aku beritahu Aven? Aku kasihan Seryna dimarahi habis-habisan saat itu. Tapi lama-kelamaan aku jadi biasa saja karena SMS darinya setelah 2 hari berlalu. SMS darinya membuatku semakin paham Seryna hanya seorang teman pengkhianat yang bisanya cuma omong kosong.

Cerpen Karangan: Beby Evangelica Christy
Facebook: Christy Evangelica
Thanks for your comming of treason my friend. I’m waiting you made amends to me.

Cerpen Traitor merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Do You Know My Name

Oleh:
Aku Arga Liana, aku biasa dipanggil Arga, tapi sahabatku memanggilku Lana. Umurku 13 tahun, lahir di Jakarta 28 Maret. Memang terlalu muda untuk menuliskan cerita ini, tapi ya sudahlah.

Penantian Cinta Tak Terbalas

Oleh:
“Ar aku suka kamu..” ucapku padanya “Aku juga suka kamu Win” jawabnya “Apa berarti kita bisa pacaran?” tanyaku “Maaf Win tapi aku tak bisa, aku baru aja jadian sama

Bersama Dalam Persahabatan

Oleh:
Hari ini ku langkahkan kakiku dengan bersepatu dan berseragam menenteng tas. Ya, tas yang berisi buku-buku sumberku menggali ilmu. Mulai dari buku paket yang tebalnya sekian sehingga membuat tasku

Masihkah Kita Teman?

Oleh:
“Wah, luar biasa ya penampilan tadi, Souma!” kataku. “Yah, betul juga. Gak sia-sia latihan kita” balas Souma. Aku dan Souma adalah teman masa kecil, sejak kecil kami sering bersama,

Cinta Putih Abu Abu

Oleh:
Aku pertama kali melihatnya saat Masa Orientasi Siswa di sekolahku. Ya, aku baru saja akan memulai masa putih abu-abuku. Kata orang, masa-masa ini adalah masa paling indah selama bersekolah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *