Trequartista

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 July 2016

Danar terengah-engah. Pakaiannya basah karena keringat. Ia kelelahan setelah berlari dari halte bis sejauh 5 km. Hanya berlari dan berlari, tanpa henti. Sepanjang jalan ia selalu diperhatikan oleh orang-orang yang ia lewati, tapi Danar tetap berlari tanpa memedulikan mereka.

‘Sedikit lagi’ batinnya.

Danar mengambil langkah-langkah panjang menyusuri trotoar. Ia cukup gesit saat menghindari beberapa pekerja toko yang sibuk mengangkat barang. Ia lalu berbelok memasuki jalan tikus yang berliku-liku. Ia berlari sangat cepat, hingga kadang ia hampir menabrak seseorang karena tak bisa mengendalikan badannya. Ia hanya meminta maaf sebentar, setelah itu kembali berlari lagi.

Setelah puluhan belokan, ia akhirnya tiba di sebuah lapangan. Lapangan sepakbola. Ia sudah sampai. Walau sedikit terlambat.

Anak-anak lainnya sudah berkumpul di sisi lapangan. Dengan beberapa orang dewasa, sepertinya orangtua mereka, berkumpul di belakang gawang menyaksikan.

Danar tiba saat salah seorang pelatih, terlihat dari penampilannya, baru saja selesai memberikan instruksi. Anak-anak kisaran umur Lima belas itu lalu bubar serempak. Saat melihat Danar, sang pelatih menatapnya tajam.

“Kamu siapa? Yang tidak ikut seleksi bisa menunggu di belakang gawang sana.” Kata pelatih menunjuk tempat para orang tua berkumpul.

Dengan terbata Danar menjawab, “Saya juga ikut, Pak.”

Si pelatih tampak tak memedulikannya. Tapi ia tetap menyahut. “Kalau begitu kau dinyatakan tidak lolos. Kami tidak butuh pemain yang sejak awal tidak memiliki kedisiplinan.”

Seraya mengatakan itu, si pelatih mengambil sebuah papan taktik dari bangku pendek di belakangnya Dan melangkah pergi. Danar hendak menjelaskan, memberikan alasan mengapa ia terlambat, tapi terpotong oleh kehadiran seseorang yang menyelanya.

“Andanar Ali?” Danar mengingatnya. Ia pemimpin seleksi tahap pertama yang diadakan minggu lalu di desanya. Danar mengiyakan, dan orang itu lalu merekahkan senyumnya yang begitu ramah. “Saya kira kamu nggak akan datang ke sini. Kapan tiba?”

“Baru saja, Pak Bagus. Saya berangkat kemaren pagi, dan jadinya terlambat. Saya sudah tidak lolos, kata pelatih yang itu.” Danar menjawab dengan muram saat menunjuk pelatih yang tadi.

“Pelatih-yang-itu namanya Darma, Joko Darma. Pelatih utama tim ini. Beliau memang tegas orangnya, tapi dia nggak seburuk yang kau sangka, Danar. Ia bersikap seperti itu untuk membentuk kalian agar lebih disiplin. Agar bisa menjadi generasi yang membanggakan suatu hari nanti.” Pak Bagus berhenti sejenak. “Kamu bilang kamu tidak lolos?!” Raut mukanya tiba-tiba timpang. Danar mengangguk. Pak Bagus tiba-tiba berlari ke arah Pelatih Darma. Danar hanya diam di tempatnya sambil memperhatikan mereka berdua yang bercakap-cakap. Sesekali menaruh pandangannya pada Danar.

Setelah pembicaraan ketat keduanya selesai, Pelatih Darma tiba-tiba memanggilnya. Danar segera bergegas menghadapnya.

“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu Andanar Ali?!” Kata pelatih Darma saat ia tiba. Danar hanya mengatakan kalau si pelatih keburu pergi sebelum ia sempat menyebutkan namanya. “Walah, ya sudahlah. Ganti bajumu dan cepat gabung sama yang lain.”

Danar tersenyum simpul saat berlari ke pinggir lapangan mengganti bajunya. Ia lalu memakai sepatu bolanya yang sudah kumal, dan segera bergabung bersama yang lainnya.

Saat ia sampai, pelatih Darma tiba-tiba merangkul pundaknya dan berkata bangga pada seluruh peserta seleksi. “Anak-anak, ini Andanar Ali, saya ingin kalian perhatikan dia dengan seksama.” Semua tatapan lalu seketika mendarat ke dirinya.

Cerpen Karangan: Ritho Faharian

Cerpen Trequartista merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Photo Bareng Yuk

Oleh:
“Tepuk kanan.. Tepuk kiri.. IIIPPPAAA DDUUAA!!!”. Oh My God, buusyeet dah temen-temen gue ini, seru gue dalam hati. Oke, gue juga nggak mau kalah sama mereka. “Ayoo Iiipaaa duuaaa

Loe Itu Pelanginya

Oleh:
Malam sudah larut tapi Clarisa masih disibukkan dengan Cucian piringnya, Walaupun sebenarnya Pembantu di Keluarga Clarisa ada kurang lebih 10 orang tapi dia tetap aja kekeuh buat bisa nyuci

Judge

Oleh:
Ini bukan hutan, tetapi mengapa menggunakan hukum rimba? Ya! mungkin bisa dibilang seperti itu, siapa yang kuat, dia yang berkuasa. “Ve!” Tegur seseorang. “Sudahlah jangan dipikirkan, apa kata mereka”

Antara Ada dan Tiada

Oleh:
Hay nama ku Afrinda Celia Afriza Aku sekarang sekolah di salah satu sekolah menengah kejurusan di Solo sekarang, tapi cerita indah ku ada di putih biru, yaps masa SMP

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *