Trio Kompak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 April 2016

Satria mengangkat tongkat pancingnya, Hap! Dia mendapatkan seekor ikan kecil. Lalu dia lemparkan ke belakang tubuhnya yang sedang duduk di atas rumput hijau. Hap! Dia mendapatkan seekor ikan lagi dan dia lemparkan ke belakang agar terkumpul, nanti tinggal membawa pulang. Hap! Hap! Banyak sekali ikan yang didapat oleh Satria hari ini di sungai ujung kampung. Edo dan Hasan terlihat dari seberang sungai.

“Satria!! Ayo pulang, aku sudah cape. Aku dapat ikan banyak nih!” kata Edo kepada Satria sambil mengangkat ke udara ikan-ikan hasil tangkapannya yang berada di dalam ember kecil. “Satria! Mana ikan yang kau dapat?” kata Hasan yang juga memamerkan ikan-ikannya ke udara.
“Aku juga dapat banyak! Nih…” jawab Satria lalu meraih ke belakang, tak sengaja tangannya tepat berada di leher seekor kucing yang berwarna abu-abu, dia genggam leher itu dan dia angkat ke udara kucing yang sedang menggigit ikan di mulutnya itu. Kucing itu mengedipkan matanya. Meoongg!! Kriuk kriukk, ternyata ikan di belakang Satria telah habis berpindah ke mulutnya.

Hari minggu ini Satria, Edo dan Hasan berkumpul di depan rumah Edo. Mereka sedang membicarakan bola, pelajaran, baju yang lagi trend, film, musik, dan lain-lain. Termasuk ngomongin cewek loh! (Siapa tahu saja itu kamu!)… Kayak ibu-ibu yang lagi ngerumpi aja ya! Haha.. Pluk! Sebuah rambutan kering jatuh dari pohonnya dan menimpa kepala Satria. Aduh! Satria mengelus-elus kepalanya, lalu mendongak ke atas.. Hah! Rambutan merah merekah saling bergantungan dengan manja pada tangkainya, musim rambutan! Yess! Satria berusaha memanjat pohon rambutan milik Edo tersebut yang sedang berbuah lebat. Edo merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi, mirip kiper Real Madrid. Hasan bersekutu dengan Satria, dia menutupi tubuh Edo dengan tubuh gendutnya.

“Eit eit, buruan naik Satria! Edo bagianku, tenang saja. Buruan naik!” kata Hasan lalu mencengkeram lengan kurus Edo. “Eh, teman-teman, my friend, kawan, sobat, sahabat! Itu rambutan sudah dibeli sama tukang buah! Sudah diborong! Jangan diambil!” teriak Edo sambil berusaha berontak dari Hasan. “Ah, dasar pelit!” Tap, tap, Satria memanjat pohon rambutan milik Edo, dengan gesit dia memetik rambutan-rambutan itu dan dijatuhkan ke bawah. Syutt syutt. “Hasan!! Cari karung yang gede!” perintah Satria pada Hasan.
“Siap komandan!” jawab Hasan sambil terkekeh-kekeh.

Edo bebas dari cengkeraman, dia langsung memanjat pohon rambutan itu, untuk mencegah Satria agar tidak memetik lebih banyak lagi. Hasan pulang mengambil karung. Di atas pohon Satria dan Edo berjibaku. Edo menghadang tangan kanan Satria, dengan tangkas Satria memetik menggunakan tangan kiri. Edo menghadang tangan kirinya, Satria memetik menggunakan kaki. Edo menghadang kakinya, Satria menggunakan gigi! (Masuk akal apa tidak ya? Ah, sudahlah). Tak lama kemudian muncul Bapak Edo bersama tukang buah dengan membawa mobil pick up terbuka.

“Wah anak-anak! Kalian pintar sekali… Mau bantuin Bapak. Oh iya, kalian petik semua ya! Ini tukang buahnya sudah datang! Hati-hati jatuh!” kata Bapak Edo pada mereka dari bawah pohon. Lalu Hasan datang sambil membawa sebuah karung besar. “Hasan! Pintar sekali kamu! Itu rambutan yang sudah dipetik Edo dan Satria kamu kumpulkan, masukkan karungmu, bawa ke mobil pick up itu lalu taruh rambutannya di sana! Jangan lupa semua yang ada di bawah kamu pindahkan ke mobil!” kata Bapaknya Edo.
“Edo, Satria!! Petik saja semuanya dan jatuhin ke bawah! Yang beli sudah datang!” Teriak Bapaknya Edo lantang. (Pak! saya minta dong Pak!)

Sore harinya Satria, Edo dan Hasan pergi ke toko parfum. Namanya juga toko parfum, yang jaga ya mbak yang cantik-cantik. Di dalam toko mereka bertiga berpencar.
“Mbak! Parfum buat cowok yang merek (Sensor) ada apa tidak Mbak?” tanya Satria kepada penjaga toko.
“Jangankan parfum cowok, hati Mbak juga ada kok!” jawab Mbak penjaga toko itu manja. Aisshh.

Lalu penjaga toko itu menunjukkan parfum yang dimaksud Satria, yang berada di pojok. Sedangkan Edo sibuk mencari-cari sendiri parfum yang akan dia beli, dia lihat ada satu kemasan yang undah. Dia tertarik membelinya meskipun harganya mahal. Tanpa menyadari bahwa sebenarnya itu parfum untuk cewek. Lain Satria, lain Edo, lain pula nasib Hasan. Dia sedang bingung memilih parfum apa yang akan dia beli, maklum saja sebab Hasan tidak pernah membeli parfum. Dia selalu memakai parfum alami, yaitu keringat. Pernah juga dia memakai parfum balsem, sebab habis dikerokin ibunya karena masuk angin. Hasan tengak-tengok mirip orang desa yang baru saja sampai di kota. Setengah kesasar. Dia pilih salah satu botol parfum.

“Mbak, ini boleh dicoba dulu baunya?” tanya Hasan pada penjaga di sebelahnya.
“Iya, boleh!” jawab penjaganya. Hasan mendekatkan botol parfum itu ke lubang hidungnya, dia cium-cium tutup botolnya tapi tidak ada aromanya. Lalu dia tekan tutup botol itu, cuuussss!!! Semburan air yang harum memasuki hidung dan mulutnya yang menganga lebar. Napasnya terasa sesak. Ahhk! Uhuk uhuk! Penjaga toko itu tertawa terpingkal-pingkal. “Begini Mas, cara mencoba aromanya parfum. Semprot ke tangan dulu, baru dicium tangannya. Nah kan kelihatan aromanya!” kata pejaga toko itu sambil mempraktekkan cara mengenal aroma parfum.

“Iya! Aku beli yang ini saja Mbak. Tidak usah yang lain. Yang ini sudah cukup harum!” kata Hasan sambil menahan rasa sesak di dadanya, uhuk! Ke luar dari toko, Satria dan Edo keheranan di saat ngobrol dengan Hasan. “Tumben, baru satu kali kamu masuk toko parfum, bau mulut dan hidungmu jadi wangi?” tanya Satria pada Hasan. Edo pun keheranan mengetahui Hasan jadi wangi lahir dan batin. (Coba deh!)

Malam ini Satria, Edo dan Hasan sama-sama tidak bisa tidur di kamarnya. Mereka sama-sama baru saja menerima pesan di ponsel mereka, dari tiga cewek yang berbeda. Yang pasti gebetannya. Satria membuka pesan itu, “Malam, Satria! Maaf aku belum bisa menerima cinta kamu. Aku ingin konsentrasi dulu untuk sekolah. Kita berteman saja dulu ya, bla bla bla dan bla bla bla… Dari Rin Hee Yeon!” Satria termenung, jantungnya enggan berdetak, dia masih tergeletak di atas tempat tidurnya sambil memandangi langit-langit kamarnya. Diiringi lagu soft jazz yang mengalun lembut di samping telinganya.

Edo masih duduk menangis tersedu-sedu di pinggir tempat tidurnya, matanya sembab setelah membaca pesan di ponselnya, “Malam, Edo! Maaf ya, aku tidak bisa menerima cinta kamu. Karena aku suka sama cowok lain, nanti pasti kamu akan mengetahuinya orangnya. Dari Vania!” Edo membanting ponselnya di tempat tidur. Dia meneteskan air mata buaya, meskipun dia sangat takut dengan yang namanya buaya.

Hasan malah terkekeh-kekeh tapi setengah dongkol setelah menerima pesan di ponselnya, “Kalau mau baca pesanku harus sambil ngaca di depan cermin, sebelum ngaca kamu coret-coret dulu wajah kamu pakai arang, jangan lupa sesekali melet (Menjulurkan lidah) saat membaca pesanku ini. Cepat laksanakan! Ini pesanku untukmu: Uku hurus tuhu duru! Uku hurus sudur duru! Uku unu gundut dun dutuluk cuntunyu. Sukulu lugu DUTULUK! Dari Zahra. (Artinya: Aku harus tahu diri! Aku harus sadar diri! Aku ini gendut dan ditolak cintanya.. Sekali lagi DITOLAK!). Jangan lupa wajahnya dicoret-coret arang sambil sesekali melet (menjulurkan lidah) dan bacanya sambil ngaca di depan cermin!” Hasan pun melaksanakannya. (Cobain dong! Plis)

Pagi harinya ketiga cowok yang pura-pura gaul tapi tidak gaul itu sakit secara bersamaan. Mereka bertiga kompak tidak masuk sekolah. Sakitnya pun mirip, yaitu ‘Sakitnya Tuh Di sini!’. Mereka sebelumnya nembak bareng lewat pesan di ponsel, dan mereka dapat balasan bareng pula juga lewat pesan ponsel. Mereka nembaknya rapat dulu, eh yang ditembak balasnya juga rapat dulu. Kompak deh! (Aduh.. Kopiku habis!)

Cerpen Karangan: Y. Endik Sam
Facebook: Yenva Endik Sam
Ada tangga, aku naik, ku lihat genteng melorot, aku betulin, mau turun, eh tangganya gak ada.

Cerpen Trio Kompak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta di Ujung Purnama

Oleh:
Cinta. Tak seorang pun tahu kapan ia akan merasakan nya, dengan siapa akan menjalaninya, dimana ia mendapatkannya dan bagaimana ia merasuk ke dalam hati. Mengusik usik otak ini, sehingga

Gara Gara Cabe

Oleh:
Siang itu adalah jam istirahat pertama kami dikelas 8 ini. Tidak terasa akhirnya kami semua, K’HITS dapat naik kelas dengan nilai yang lumayan bagus, malah ada yang bagus banget.

Bintang Yang Terpisah

Oleh:
Di salah satu SMA swasta, tampak seorang siswa masih membawa tas gendong sedikit berlari memasuki kelas menghampiri temannya yang sedang duduk di sebuah bangku. Siswa itu bernama Tyo. “Nindra!

Cerita Cinta Omegle

Oleh:
Salah satu jejaring sosial yang cukup terkenl yaitu omegle, salah satu jejaring sosial yang digunakan untuk cahating dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia termasuk indonesia. Di sini saya akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *