Tujuh Belas Tahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 July 2016

Ketika sedang asyiknya mendengar musik yang diputar pada DVD player, terdengar suara ketukan pintu tok… tok… tuk,
“Assalammualaikum,” ucap seseorang sambil mengetuk pintu,
Denny bergegas ke luar dari kamar untuk membukakan pintu,
“Waalaikumsalam,” ucap Denny. “Ayah, ibu.” Denny mencium tangan orangtuanya.
Mereka berjalan menuju ruang keluarga, Denny pergi ke dapur untuk mengambilkan minum untuk orangtuanya.
“Denny, sore ini, ayah dan ibu mau pergi ke Surabaya,” kata ayah sembari mengambil minum di meja.
“Memangnya ada acara apa mau pergi kesana?” Tanya Denny.
“Ada urusan bisnis,” lanjut Ayah “kira-kira 2 hari ayah dan ibu berada di sana.”
“Tidak masalah kan kamu sendirian di rumah?” Tanya ayah.
“Tidak apa-apa kok yah, tenang saja.” Jawab Denny.

Menjelang petang, Orangtua Denny sudah siap berangkat menuju bandara. Taxi telah sampai di rumahnya, Denny membantu membawakan koper ke dalam taxi. Sebelum pergi sempat ibu berpesan kepada Denny,
“Baik-baik di rumah, ya sayang.” kata ibu sambil mengusap kepala Denny.
Kemudian Denny menyalami kedua orangtuanya dan mereka pun berangkat menuju ke bandara.

Keesokan harinya, sebelum mentari terbit Denny telah bangun untuk membereskan rumah dan membeli makanan untuk sarapan paginya. Denny pergi ke sekolahnya ketika jarum jam menunjuk tepat di angka 7.
Sesampainya di sekolah, Denny segera menuju ke kelas. Tidak lama kemudian, bel pun berbunyi menandakan pelajaran akan segera dimulai. Selama jam pelajaran, Denny memerhatikan materi yang disampaikan oleh guru dan mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan kepadanya.

Ketika jam istirahat, Denny pergi ke kantin bersama teman-temannya, mereka berbincang-bincang sambil menyatap makanan ringan yang mereka beli. Sebelum masuk ke kelas, mereka bermain basket untuk menghabiskan sisa waktu istirahat mereka, 15 menit kemudian, bel berbunyi, mereka pun bergegas masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.
Tepat pukul 12.00 siang, bel berbunyi menandakan telah berakhirnya pelajaran, Denny bergegas menuju ke parkiran motor. Ketika di parkiran, ada beberapa temannya sedang berkumpul, dan salah seorang dari mereka memangillnya.
“Hai Den sini dulu, jangan buru-buru pulang.” Kata Azwar sambil melambaikan tanganya kepada Denny.
“Ada apa nih manggil?” Tanya Denny.
“Kita nih mau main futsal, kamu mau ikutan?” Tanya Azwar.
“Oke tidak masalah.” Jawab Denny.
Mereka pun pergi bersama ke lapangan futsal.

Selesai bermain futsal mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di rumah, Denny beristirahat sebentar lalu memasak mie instant untuk makan siang, setelah perut terisi, Denny menonton TV sambil tiduran di sofa yang empuk hingga tanpa sadar tertidur pulas.
Denny terbangun ketika ada suara yang memanggil namaku
“Denny… Denny… Denny…” Pekik sesorang di luar memanggil namanya.
Denny bergegas ke luar dari rumahnya,
“Ada apa nih Ron?” Tanya Denny.
“Jalan-jalan yuk!” ajak Ronny, “Sekalian refreshing.”
“Okey, tunggu sebentar ya aku mau cuci muka dulu.” Lanjut Denny.
Denny pun berlalu masuk ke rumah. Tak lama kemudian, Denny pun sudah berpakain pergi dan pergi bersama Ronny.
Mereka menuju ke salah satu mall terbesar di kota kembang. Mereka berkeliling melihat-lihat barang yang terdapat disana. Sekitar sejam mereka berkeliling, Ronny mengusulkan untuk minum kopi sambil bersantai di kafe tempat biasa mereka nongkrong.

Setibanya mereka di kafe tersebut, Denny merasa bingung tidak seperti biasanya kafe itu sepi pengunjung. Ronny pun segera memesan minuman.
“Den kamu pesan rasa apa?” Tanya Ronny.
“kayak biasanya Caramel Macchiato.” Jawab Denny.
Denny pun langsung duduk di tempat yang biasa mereka tempati.
Tidak lama kemudian, Ronny membawa kopi pesanan mereka dan Ronny duduk sejenak.
“Den aku ke toilet dulu ya, sudah tidak tahan lagi nih.” Kata Ronny sambil menahan rasa ingin buang air kecil.
“Iya silakan,” balas Denny “jangan lama-lama, kalau lama aku tinggal.”

Tak terasa 15 menit berlalu Ronny belum kembali, Denny berniat untuk menyusul Ronny ke toilet. Baru saja dia berdiri, terdengar suara sekelompok orang sedang bernyanyi lalu ia berbalik melihat ke belakang, betapa terkejutnya ia saat melihat teman-temannya membawa sebuah kue tart berhiaskan lilin angka tujuh belas
“Happy birthday to you… happy birthday to you… happy birthday… happy birthday… happy birthday Denny…” Secara kompak teman-temannya menyayikan lagu disertai tepuk tangan yang meriah. “tiup lilinnya… tiup lilinnya… tiup lilinnya sekarang juga… sekarang juga…” Denny pun meniup lilinnya disertai sorak-sorai.
Ronny secara tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Selamat ulang tahun ya bro,” ucap Ronny. “Semoga apa yang kau harapkan dikabulkan Tuhan.” Sambil menjabat tangan kanan Denny.
“Thanks ya bro.” balas Denny.
“Jadi, kalian semua sudah merencanakan ini semua?” Tanya Denny karena sedikit bingung dengan kejadian yang sedang dialaminya.
“Tentu saja,” Jawab Azwar. “Ini semua kan ide Ronny.”

Mereka pun berpesta hingga jarum jam tepat menunjuk ke angka 8, Ronny mengantar Denny pulang ke rumahnya.
Ketika Denny membuka pintu rumahnya, betapa terkejutnya ia melihat kedua orangtuanya sedang duduk santai di sofa ruang tamu.
“Assalammualaikum.” Ucap Denny sembari bersalaman dengan orangtuanya.
“Waalaikumsalam.” Balas orangtuanya. “Darimana Den?”
“Dari mall jalan-jalan sambil refreshing.” Jawab Denny sambil tersenyum.
“Ini nih, hadiah ulang tahun dari ayah dan ibu buat kamu.” Lanjut ayah sembari memberikan sebuah laptop baru kepada Denny.
“Wah.. ayah, ibu terimakasih ya, Denny sudah lama ingin memiliki laptop ini.” Ucap Denny dengan girangnya menerima.
“Iya sama-sama anakku sayang.” Tukas ayah.
“Udah malam nih, bersih-bersih dulu sana baru tidur.” Sambung ibu.
“Siap boss.” Jawab Denny.
Denny pun merasa senang, karena di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas, ia mndapatkan sesuatu yang telah lama ia inginkan.

Cerpen Karangan: M Pandu Kurniawan
Facebook: M Pandu Kurniawan
Penulis bernama lengkap Muhammad Pandu Kurniawan, dilahirkan 17 tahun yang lalu di kota Palembang, Sumatera Selatan, pada tanggal 24 September 1999. Penulis dapat dihubungi melalui email : kurniawanmuhammad20@gmail.com, Akun Facebook : M Pandu Kurniawan,

Cerpen Tujuh Belas Tahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebatas Mimpi

Oleh:
Cowok pemegang kamera canon itu terus saja menatapku dan bahkan, ia mengambil gambarku tanpa meminta izin terlebih dulu padaku. Cowok itu terus saja menyorotkan kameranya ke arahku. Ia berdiri

Dua Kali

Oleh:
Rindu ini sungguh meyiksa bathinku… Semilir angin malam tolong sampaikan pada kekasih jiwaku, Dikala aku menutup mataku ketika malam aku mengingat wajahnya… Dikala aku terbangun di pagi hari aku

Sebuah Warna

Oleh:
Aku ingat, semua berawal dari kejadian itu, 13 Agustus sepuluh tahun yang lalu… Angin membelai wajahku dengan lembut, seolah ingin aku mengurungkan niatku. Dari sini aku menatap Kota Lama,

Asas (Aku Suka Anak Sekelas)

Oleh:
“Hei kita sekelas lho. Duduknya bareng sama aku ya?” perempuan bertubuh tinggi besar itu berkata sambil menepuk pundakku. “Hmmm, apa iya? Gimana nanti ya. Aku buru-buru” ucapku setengah teriak.

Anak Nongkrong Gak Selalu Nakal

Oleh:
Anak zaman dahulu kalo pulang sekolah langsung pulang rumah, beda banget sama anak sekarang pulang sekolah malah nongkrong dulu contohnya kaya gue yang selalu nongkrong sama temen-temen sekolahan. Selain

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *