Usia 18 Tahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 January 2017

Hari ini tepat hari kelahiranku. Hari dimana seluruh masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan RI. Aku merasa beruntung karena aku dilahirkan di tanggal Ir. Soekarno memproklamirkan proklamasi. Namaku Keisya. Sebagian orang yang akrab denganku memanggil Icha. Usiaku sekarang baru saja memasuki 18 tahun. Di usia ini kata kebanyakan orang sih labil ya. Tapi itu menurut orang lain. Dari pemikiranku usia 18 tahun memiliki arti yang berbeda. Makna yang tersirat di usia 18 tahun ini benar-benar membuat aku gila. Aku harus mendengarkan apa yang tidak ingin aku dengar dan terkadang aku tidak bisa mendengar apa yang ingin aku dengar.

Aku melamun di ruang tamu rumahku dengan sebuah earphone yang menggantung di telinga. “Hei! Lagi mikirin apaan sih?”, seseorang membuyarkan lamunanku. “Eh, kakak ngagetin aja” jawabku. “Sebenernya lagi mikirin apaan sih? Serius banget kayaknya”. “Nggak ada apa-apa kok kak” jawabku lagi. Aku berlalu meninggalkan kakakku dan berpindah ke kamar.

Di kamar aku berbaring di tempat tidur dan mataku mulai menerawang. “Jika dipikir-pikir saat ini serasa mimpi, padahal rasanya baru kemarin aku masuk ke SMA. Tapi sekarang aku sudah kelas 3 saja” celotehku dalam hati. Usia 18 tahun, rasanya masih terlalu dini untuk mewujudkan impian. Tapi di usia 18 tahun ini juga merupakan hari yang bagus untuk memulai mimpi. “Tidur dulu ah, besok pagi harus ke sekolah” ucapku dalam hati. Tepat jam 11 malam aku berbaring di tempat tidur hingga terlelap.

Keesokkan harinya aku bangun. Kulihat jam beker menunjukkan pukul 05.00. Aku langsung bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi dan berwudhu untuk melaksanakan sholat shubuh. Setelah selesai sholat aku berdoa kepada Allah SWT agar setiap hari-hari yang kujalani selalu diridhoi oleh-Nya. Sekarang aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Aku diantar oleh papa. Biasanya aku kesekolah dengan kendaraan umum. Karena sering telat dengan kendaraan umum, aku mengeluh ke papa. Sehingga mulai sekarang aku diantar oleh papa.

Setibanya di sekolah, dengan mood yang bagus aku menuju kekelas. Dengan harapan hari ini lebih baik dari hari kemarin. Seperti biasanya sebelum memasuki kelas aku mengucapkan salam terlebih dahulu. “Assalammu’alaikum” ucapku. Tak ada jawaban dari penghuni kelas. Moodku berubah dari yang tadinya senang malah bete abis. Kata remaja zaman sekarang bad moodlah. Yaa seperti itu, lalu… loh kok berubah kayak syahrini. Oke kembali ke bad mood. Padahal teman-teman udah pada datang. Tapi mereka malah sibuk sama pena dan buku mereka masing-masing. Karena merasa dicuekin aku langsung meletakkan tasku di atas meja. “hei, pada ngapain sih? Sampai nggak sempat jawab salam” tanyaku pada mereka. “udah siap pr fisika belum?” Tanya teman sebangkuku. “emang ada?” tanyaku balik. “ya ampun Icha pasti lupa lagi ya?”. “astaghfirullahaladzim, kenapa aku bisa lupa sih.”. aku segera mengambil buku pr di tas lalu mengerjakannya. Belum sempat pena kumenyentuh kertas, salah seorang junior ku memanggil. Dia mengatakan bahwa ada foto bersama kepala sekolah. Tanpa berpikir panjang, aku tutup buku pr tadi dan segera berlari ke luar.

Sebelum bel masuk berbunyi, waktuku yang tidak banyak itu kuhabiskan di luar bersama teman-teman satu organisasi. Aku termasuk orang yang aktif dalam organisasi. Aku tergabung dalam kepengurusan MPK atau majelis perwakilan kelas. Tak sengaja aku menoleh ke kiri. Kulihat guru fisika berjalan ke kelasku. Seketika itu aku teringat lagi akan pr yang belum sempat kubuat. Aku langsung berlari ke kelas. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengambil buku prku tadi. Namun apa daya, guruku sudah memasuki kelas dan rasanya sudah tidak sempat lagi untuk membuat pr. “anak-anak, sekarang keluarkan buku pr nya!” kata guruku. Aku pusing tujuh keliling. Ini karena kelalaianku sendiri. Harusnya aku tadi tidak keluar untuk bersenang-senang. Guruku pun bertanya “siapa yang tidak membuat pr?”. “saya buk!” jawabku. Aku tidak bisa berbohong.

Jam pelajaran fisika berlalu. Aku kena marah oleh guruku. Hanya aku sendiri yang tidak mengumpulkan tugas. Imbasnya aku juga yang tidak mendapatkan nilai. Aku menyesal dengan kejadian itu. Aku keluar meninggalkan kelas. “Cha!” sahut salah seorang temanku. “Apaan sih?” tanyaku sambil menengok ke belakang. “Sinis amat sih jawabnya, yaa udah.. aku dapat kabar baru nih”. “penting atau nggak? Kalau nggak penting gua pergi aja” jawabku. “Penting banget tauuuu..” jawabnya sambil memonyongkan bibir. “Ya udah cepetan bilang! Gua pergi nih” balasku sok-sok nggak peduli, padahal dalam hati kepo banget. “iya-iya, nggak sabaran amat sih. Aku baru dapat kabar kalau Ali jadian sama adik kelas kita” katanya. “Apa?” tanyaku tak percaya. “biasa aja nanyanya kali! Orang-orang pada ngeliatin kita tuh!” balasnya. “serius kamu?” tanyaku lagi. “ngapain aku bohong sih sama kamu”. “hhhhh…”. Ali adalah satu-satunya laki-laki yang kusuka di sekolah. Dia memiliki postur tubuh yang bagus, namun jika dilihat dari jauh, dia seperti pria imut. Dia memiliki suara yang tak asing kudengar. Menurutku suaranya mirip dengan suara mantanku. Mungkin itu salah satu alasan mengapa aku menyukainya. Selama ini aku hanya bungkam dengan perasaanku. Aku mengenalnya saat aku masuk ke salah satu organisasi yaitu Pramuka. Seketika aku teringat saat transisi kacu. Kami berada dalam satu tim. Satu tim terdiri dari 2 orang. Saat itu aku melihatnya mengerjai senior kami. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya. “hei!” sapaku. “sssttt” jawabnya sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya. “kak Cici lagi nyariin kamu tuh, katanya kacu kamu hilang yaa?” kataku. “Nih!” balasnya sambil menunjukkan kacu yang sudah ada di tangannya. “kamu bohong ya?” tanyaku. “kak Cici! Ali udah dapat tuh kacunya” kataku lagi. “diam kenapa sih, biarin aja! Gua mau ngerjain dia tau!” balasnya. Karena senior kami sudah tau kalau dia dikerjai, akhirnya kami berdua dihukum. Kami disuruh menyiram bunga dengan sebuah gayung yang sudah dibolong bagian bawahnya. Jarak tempat mengambil air dengan taman cukup jauh. Aku sampai ngos-ngosan membawa air. Kak Cici memanggilku dan menyuruhku istirahat. Aku meninggalkan Ali yang saat itu masih berlari membawa air. Mengingat itu, tubuhku rasanya lunglai. Aku seakan tak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh temanku tadi. Aku menoleh ke kelas Ali. Tampak ia sedang berbincang dengan temannya. “sepertinya sudah tidak ada harapan lagi” ucapku dalam hati. Saat aku menoleh kesana untuk yang kedua kalinya, tatapan kami bertemu. Aku langsung membuang pandanganku ke arah lain. Sepertinya dia mengetahui kalau aku sedang memperhatikannya. Aku pura-pura melakukan hal lain.

Aku kembali ke kelas. Pelajaran berikutnya tetap berlanjut. Sampai bel istirahat berbunyi, temanku mengajak untuk pergi ke kantin bersama. Dan lagi aku bertemu dengan teman yang menceritakan hal yang sama tentang Ali. “Aku sudah tau dan aku muak mendengarnya!” jawabku. Saat aku kembali dari kantin aku melihat Ali. Dia sedang bercanda dengan mantannya. “Dasar playboy! Udah punya pacar tapi masih aja deketin mantan” gerutuku dalam hati. Aku mempercepat langkahku.

Keesokan paginya, aku merasa malas pergi sekolah. Tidak ada hal apapun yang menjadi motivasi bagiku untuk berangkat ke sekolah. Aku menelepon temanku untuk membuatkan surat. Agar nanti tidak di buat alfa di absenku. Setelah semua beres, aku mengambil laptop dan menonton salah satu drama korea yang baru aku dapatkan dari temanku. Judulnya sederhana, namun bermakna. Di film itu diceritakan bahwa ada sekelompok remaja yang ingin meraih mimpi mereka. Namun karena banyak rintangan dan cobaan yang menghadang, mereka masih tetap dapat meraih mimpi mereka. Melihat itu, aku butuh keberanian untuk percaya pada diriku sendiri dan percaya pada kepercayaanku.

Setelah satu hari libur, aku kembali bersekolah. Saat semangat ku sedang membara. Aku merasa sendiri. Tidak ada yang mengacuhkanku. Mereka bergaul dengan bergenk-genk. Entah mereka memandang dari sisi apa, akupun tidak tahu. “aku benci kalian!” hanya kalimat itu yang terus keluar dari mulutku saat berada di sekolah. Belum lagi kabar tentang Ali yang jadian. Aku teringat saat aku masih SMP. Aku begitu dipuja di sana. Banyak sahabat yang peduli terhadapku. Semenjak berbeda sekolah, kami menjadi sulit untuk bertemu. Tentu saja sibuk dengan sekolah masing-masing. Apalagi sudah kelas 3 SMA. Sesekali bertemu, aku sedikit bercerita tentang bagaimana aku di sekolah kepada mereka. “sudahlah Cha, jangan nangis lagi! Kami kan masih care sama kamu!” kata sahabaku wina. “iya Cha, mana Icha yang kami kenal dulu? Icha yang dulu perasaan nggak cengeng gini deh”. “tapi rasanya seolah-olah hidup sendiri na! belum lagi Ali yang baru aja jadian” kataku terisak. Lalu dia memelukku. Waktu aku kelas 2 SMA memang ada salah seorang teman akrabku. Tapi saat kami berbeda kelas, dia seperti menjaga jarak. Karena dia telah menemuan teman yang lain. Teman yang lebih bisa membuatnya bahagia.

Hari ini ulangan kimia. Aku optimis dengan jawabanku. Karena sebelumnya aku sudah belajar dan memperhatikan saat guru menerangkan. Waktu yang diberikan hanya 10 menit per soal. Namun saat membaca soal, rumus-rumus dan materi yang telah aku pelajari tidak teringat lagi. Dan sesekali aku teringat Ali. Saat hasil ulangan sudah keluar, aku merasa deg-degan. Hatiku hancur saat melihat hasilnya. Ditambah lagi dengan hasil ulangan biologi dan mata pelajaran lainnya. Angka yang tertera di kertas itu membuat aku semakin terpuruk.

Bel tanda pulang berbunyi. Aku pulang ke rumah dengan hati yang masih hancur. Ditambah lagi dengan berjalan kaki pulang sekolah. Rasanya begitu melelahkan. Setibanya di rumah, aku langsung mengganti baju dan duduk di sofa. Kemudian mama menghampiriku. “gimana di sekolah nak?” Tanya mama. “kayak biasa aja ma” jawabku memelas. “usia kamu udah 18 tahun loh! Jangan main-main lagi belajarnya” kata mamaku. “iya ma” jawabku. Sejak masih sekolah dasar, mamaku menginginkan aku nanti menjadi dokter. Tentu saja aku juga menginginkannya. Sebuah pekerjaan yang terhormat untuk membuat orang memiliki harapan hidup. Namun saat aku melihat nilai-nilai utsku, aku menjadi takut dan ragu-ragu melangkah. Bisakah aku melakukan itu? Akankah mimpiku menjadi nyata? Sesekali pertanyaan itu muncul dalam benakku.

Ketika aku lelah, aku menutup mata. Dan aku membayangkan bagaimana rasanya diacuhkan, ditinggalkan dan gagal dalam belajar. Memang sakit saat gagal, tapi saat yang ke 100 kali lebih baik untuk belajar supaya bangkit lagi. Aku belum dewasa. Di umur segitu, aku mudah terluka dan sering mengalami masa sulit.

Ketika ada seseorang mengulurkan tangan hangatnya setelah kamu terjatuh. Tidak lebih, tidak kurang. Hanya satu orang saja, dekati teman yang menangis dan katakan padanya! “aku dan kita, tidak peduli rintangan apa yang akan menghadang dihadapi. Tak apa-apa jika kamu terluka, karena kita masih 18 tahun.

Cinta yang kamu pikir akan selamanya, mungkin omong kosong dan berakhir saat ujian masuk universitas. Karena kita masih 18 tahun, kita saling mencintai dan membenci seolah hari ini adalah hari terakhir kita.

Cerpen Karangan: Nia Gustika
Facebook: Nia Gustika
I am a Dreamer

Cerpen Usia 18 Tahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau Hanya Butuh Motivasi

Oleh:
Waahh… Kelas lantai tiga memang yang terbaik. Kau bisa memandang seisi kota dari sini. Angin yang menerobos masuk ruang kelas melalui jendela pun serasa lebih sejuk. Jadi begini rasanya

Sedihku Musnah

Oleh:
Rintik air hujan mulai turun pukul 3 sore, membawa pesan dari matahari yang perlahan mulai tak nampak keberadaannya. Aku tidak tahu apa yang membuat hujan itu turun sore ini.

Cinta Yang Tak Terbalas

Oleh:
Namaku Nayla Cantika Maulana.. kalian bisa memanggilku nay. Aku bersekolah di sekolah Swasta, sekolah itu baru memiliki 8 angakatan yaa bisa dibilang sekolah baru. Di sekolah aku Duduk di

Janji Sekar

Oleh:
Pagi yang cerah membuatku semangat dalam beraktivitas. Mengayuh sepeda dengan tenang, santai sambil memandang gunung tepat di arah depanku. Dengan udara yang sejuk, udara pegunungan yang dapat membuang jauh

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Setelah move on dari cinta pertamaku, 2 tahun yang lalu, aku kembali dipertemukan dengan cinta keduaku. Yah, dia. Tuhan telah mempetemukanku dengan dia dengan cara yang spesial. Bagaimana tidak,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *