Waktu Di Balik Senja (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 February 2016

Waktu itu akan tercipta dengan sendirinya dengan siapa dan di mana pun yang dia inginkan. Indah rasanya bila hidup selalu ceria. Indah rasanya bila hidup tak penuh duka lara. Indah rasanya bila hidup penuh suka cita. Namun bagiku, hidup jika tidak ada jalan yang berliku itu tidak asyik, tidak ada tantangannya. Karena bagiku, hidup itu perlu diperjuangkan. Sama halnya dengan saat kita mengejar cinta. Ya, kata orang cinta itu indah, cinta itu mengasyikkan, cinta itu butuh perjuangan. Tapi bagiku cinta itu bisa membuat kita mengenal indahnya dunia dan juga membuat kita mengerti akan pahitnya hidup di dunia. Intinya, cinta dalam hidup itu diperjuangkan, biar asyik. Kalau jatuh, ya bangun lagi. Kalau gagal, ya bangkit lagi. Kalau lancar, ya jalan lagi. Gampang kan! Ya, sayangnya hidup tidak segampang itu.

Kata orang, masa putih abu-abu itu masa yang tidak akan terlupakan sampai kapan pun. Bahkan, ada yang mengabadikannya sampai nantinya akan dia ceritakan kembali pada anak dan cucunya kelak. Wah, indah bukan! Ya. Di masa inilah aku memulai hidupku yang baru. Hidup yang penuh batu kerikil, hidup yang banyak bukit, dan juga hidup yang banyak hewan buasnya, sampai akhirnya aku memahami arti sebuah kata cinta dari dia yang bernama Aditya.

– Perfect
Masa Orientasi Sekolah, kata-kata itu sedikit membuat perutku mual, yang katanya masa itu adalah masa yang paling menakutkan, mengerikan, juga menyeramkan.

“Ray, banguuunn.” Teriak mama dengan suaranya yang menggelegar. “Em, iya Ma.” Masih bermalas-malasan.
“Rayyaaa banguuunnn…” Kali ini teriakan mama cukup membuat telingaku sakit parah.
“Iya Ma iyaaa. Berisik banget sih ah.” Aku mengomel sambil menarik bantal untuk menutup telingaku. Beberapa menit berlalu, ku rasakan teriakan mama tak lagi mengganggu telingaku. Perlahan aku membuka mata dan mengintip untuk melihat jam. “Aaaaa.. jam tujuh…” Dengan segera aku bangun, mandi, pakai baju dan langsung turun.
“Kenapa sih tuh anak Ma?” Tanya Kak Raffa.
“Gak tahu, adek kamu tuh ya Raf, bener-bener. Males banget udah dibangunin dari tadi juga balik sana balik sini, golek sana golek sini. Pusing kepala Mama lihatnya, aduh!”
“Tahu deh Ma, anak Mama tuh!” Tiba-tiba aku lewat dengan baju yang berantakan, dasi yang entah di mana. Dengan cepat tanganku menyambar roti yang ada di meja makan.

“Ets, ets..” Sanggah Kak Raffa dan mengambil roti yang ada di tanganku.
“Duh, apaan sih Kak! Gue buru-buru nih.” Rengekku sebal juga!
“Enak aja main ngambil-ngambil. Lo pikir cuma lo doang yang buru-buru gue..”
“Susah ya punya Kakak kayak gini.”
“Susah ya punya adek kayak gini.”
“Ih apaan sih Kak, susah ngomong sama orang gak penting. Udah ah Ma Rayya berangkat dulu.”
“Makanya, daripada susah mending gak usah.”
“Gak penting! Bye.” Ucapku berlalu.

Kak Raffa juga mengikutiku lalu kami masuk mobil bersama. Beberapa menit kemudian, kami tiba di tempat yang katanya favorit di Bandung. SMAN Nusa Jaya Bandung. Entah apa yang membuat sekolah ini menjadi favorit, yang jelas aku masuk ke sini karena kakakku Raffa sekolah di sini. Tahu gak gimana rasanya sekolah di tempat yang ada saudaranya? Euh nyebelin banget! Salah dikit ngadu, dan semua yang kita lakuin di sekolah, ada list laporannya.

“Udah, cepetan masuk sana. Jangan telat. Awas aja entar lo kalau telat.” Perintah Kak Raffa.
“Iya-iya. Bawel banget ya lo Kak jadi cowok. Ribet tahu gak.” Membalas ucapan Kak Raffa sambil membuka pintu mobil menuju kelas. Teett Teett Teett.. Bel tanda masuk sekolah berbunyi. Ya, saatnya memulai Masa Orientasi Siswa.

“Baris semuanya. Jangan ada yang terlambat!” perintah Kak Aldo, wakil ketua osis. Setelah semuanya berbaris, tak lama kemudian ketua osis masuk dan berdiri di depan kami semua. Ketua osis yang katanya ganteng, berwibawa, cool, keren, santun, pendiam, berkulit putih, ya itulah Raffa, kakakku tercinta. Cih basi!
“Semuanya berbaris sesuai dengan yang telah ditentukan. Hari ini kami akan memberikan kalian tugas, dan tugas ini harus dilaksanakan besok. Masing-masing dari kalian akan mengambil kertas yang telah panitia siapkan. Di dalam kertas itu terdapat sebuah nama untuk kalian buat menjadi bet nama kalian besok. Jam 7.15 tepat kalian harus sudah ada di lapangan. Jangan ada yang terlambat, mengerti?”
“Siap Kak, ngerti.” Jawab seluruh siswa.

Setelah semuanya mengambil lot untuk bet nama, barisan pun dibubarkan. Hari pertama MOS dinyatakan selesai. Tak ada yang istimewa, hanya saja banyak siswa yang menghampiriku karena istimewanya Kak Raffa di mata mereka. Duh, menyebalkan.

“Ray, lo adeknya Kak Raffa ya?” Tanya salah satu siswa yang menjadi penggemar kakakku.
“Iya.” Jawabku singkat.
“Ih, Kakak lo kok bisa ganteng banget gitu ya. Suka deh.”
Aku hanya menghela napas. Saat mataku berkeliling, tiba-tiba mataku berhenti di suatu titik. Cowok memakai kacamata, tinggi, putih, cool, keren, rambutnya sedikit acak-acakan, sedang bersandar di tembok dan kakinya diangkat sebelah, melipat kedua tangannya sambil melihat ke arah lapangan. Wah! Cowok idaman gue banget! Perfect!

“Hellooo, Ray.” Panggil Fany berusaha menyadarkanku. “Ray, Ray, Rayyaaaa.”
“Ampun deh nih orang. Apaan sih teriak-teriak, gue gak pekak kali.” Jawabku sambil memegang telinga yang tidak sakit. “Lo lihat apa sih Ray? Fokus bener.”
“Gak kok.” Meskipun aku bilang ‘enggak’ tapi mataku tetap mengarah ke cowok itu. “Oh, dia.”
“Lo kenal Fan?”
“Yaiyalah, satu kelompok sama gue waktu MOS tadi.”

“Serius lo?”
“Emang kenapa sih?”
“Siapa namanya?”
“Kenapa tanya-tanya? Jangan-jangan lo naksir ya!”
“Apaan sih.”
“Haha, tuh kan merah mukanya. Namanya Nathan Aditya. Biasa dipanggil Adit. Lo tahu gak, tuh anak pendiem banget. Tapi cool sih, keren, ganteng lagi dan banyak banget yang ngincar dia.”
“Hah? Seriusan lo?”
“Gak usah kaget gitu juga kali biasa aja. Tapi sayang, diem banget anaknya. Cuek lagi.”
“Em, penasaran gue.”

Teett… Teett.. Teett… Bel pulang sekolah berbunyi.
“Ray, bareng yuk!” Ajak salah satu teman kelasku, Devan.
“Gak deh Dev, gue sama Kak Raffa aja.”
“Oke.” Aku segera menuju ke parkiran untuk menunggu Kak Raffa. Saat mataku asyik berkeliling mencari Kak Raffa, tiba-tiba aku melihatnya lagi. Iya, dia yang buat aku penasaran. Dia masih berdiri di tempat yang sama, dengan gaya yang sama, hanya saja kali ini kancing bajunya di lepas, sedikit tidak rapi tapi cukup membuatku terpesona, Nathan Aditya.

Tet, tet, tet… Kak Raffa membunyikan klakson yang berhasil membuat lamunanku buyar. Juga membuat mataku berpaling. “Oi, ngelamun mulu. Gue tinggal, jalan kaki lo entar.” Kata Kak Raffa.
“Jangan!”
“Buruan naik.”
“Iya-iya.”

Aku pun berjalan mendekati mobil sambil melihat lagi ke arah Adit. Lah, ke mana tuh orang? Perasaan tadi di situ. Tanyaku dalam hati. “Nyariin gue?” tanya seseorang dari belakangku. Aku membalikkan tubuhku dan melihat Adit berada tepat di depanku sekarang. Mulutku diam seribu kata. Aku hanya sanggup menatap matanya.

“Nathan Aditya, lo?” tanyanya sambil menjulurkan tangan ingin bersalaman.
“Rayya Arthamevia.” Jawabku sambil menjulurkan tangan membalas salamnya.
“Ray, cepetan. Gue banyak urusan nih.” Ajak Kak Raffa.
“Em, gue pulang duluan ya.” Pintaku.
“Oke.” Jawab Adit singkat sambil tersenyum. Aku pun segera masuk ke mobil karena Kak Raffa udah teriak-teriak.

Saat perjalanan pulang, aku hanya duduk diam tanpa suara sambil melihat ke sisi jalan.
“Ray, lo dapet nama apa tadi?” tanya Kak Raffa. “Rillakkuma.” Jawabku singkat. Tak lama, kami pun sampai ke rumah. “Eh, anak Mama udah pulang.” Sambut mama. “Makan dulu yuk.” Ajak mama.
“Rayya cape, Ma. Bentar lagi aja ya makannya? Mau tidur nih.” Pintaku.
“Ya udah, kamu istirahat dulu. Tapi ingat, nanti jangan lupa makan.” Jawab mama.
“Oke.” Balasku sambil mengacungkan jempol. Saat tiba di kamar, aku merebahkan tubuhku di atas ranjang. Huft, hari yang cukup melelahkan. Tak butuh waktu lama, aku memejamkan kedua mataku.

– Hukuman
“Bangun oi… Banguuunnn…” teriak seseorang di telingaku, yang langsung membuatku terbangun yang tidak lain itu teriakan Kak Raffa.
“Apaan sih Kak, orang ngantuk juga.” Jawabku kesal.
“Apa lo bilang? Ngantuk? Gak salah denger nih gue?”
“Emm.”
“Rayyaaaaaaa… Bangun oi udah soreeeee…”
“Apa?” Aku tersentak. “Udah sore? Berapa lama gue tidur Kak?”
“Seabad! Gila lo, bangkong banget sih.”

“Duh, ampun deh nih orang. Terus ngapain lo di sini, hah?”
“Ya bangunin lo lah.”
“Buat apa?”
“Deh, buat apa? Lo gak mau beli keperluan buat besok? Mau kena hukuman? Pinter banget sih adek gue.”
“Oh.”
“cuman oh?”
“Terus? Bodo.”
“Bener-bener ya nih anak. Awas lo entar ya. Gue kasi hukuman yang paling langka buat lo. Lihat aja entar.” Ancamnya.
“Em.”
“Baaanguuunnnn..” Kak Raffa berteriak lalu pergi.
“Aaaaa… Kak Raffaaaa.”

Malam pun berlalu seperti biasanya. Rumahku memiliki dua tingkat, dan ya kamarku berada di tingkat kedua. Setiap malam aku selalu berada di balkon hanya untuk melihat bintang. Aku sangat menyukai bintang. Tahu kenapa aku suka bintang? Bintang itu memberiku harapan. Walaupun harapan itu susah digapai, namun aku akan berusaha sebisaku untuk menggapainya. Setiap malam aku berusaha untuk mencari yang mana bintangku? Aku ingin melihat bintangku secara nyata. Ataukah mungkin aku bisa menjadi bintang? Ah, entahlah. Mungkin itu hanyalah sebuah harapan.

Seperti biasa, aku tidak akan mau bangkit dari tempat tidurku sebelum pukul 7.00. setelah pukul 7.00 aku segera bersiap untuk berangkat ke sekolah sebelum Kak Raffa merepet gak jelas. Aku tidak pernah sempat duduk untuk sarapan. Aku selalu membawa roti itu di mulutku. Ya aku makan di mobil dalam perjalanan sekolah.
“Lama ya?” Ledek Kak Raffa. “Duh Kak, masih pagi nih.”
“Emang ada yang bilang kalau ini sore?”
“Tahu deh ah.”
“Aduh anak-anak Mama udah siap mau berangkat sekolah ya.” Kata mama.
“Iya Ma, Rayya berangkat dulu ya Ma.” Aku menyalami mama begitu juga dengan kakakku.
Dengan segera aku menuju mobil dan pergi ke sekolah.

“Tugas lo mana?” Tanya Kak Raffa.
“Tugas apaan?”
“Jangan bilang lo gak buat.”
“Apaan sih Kak? Ini?” tanyaku sambil menunjukkan bet nama yang telah aku selesaikan tadi malam.
“Gue kira lo gak buat.”
“Emang kenapa kalau gue gak buat?”
“Masih nanya lagi. Malu-maluin gue namanya kalau lo gak buat. Secara lo kan adeknya ketua osis. Gue orang terpandang di sini. Jadi jangan buat malu gue.”
“Udah ngomongnya? Gue mau turun.”

Kak Raffa memberhentikan mobilnya di parkiran. Aku turun dengan kurang semangat, karena apa? Hari ini aku pasti akan dikerjain habis-habisan sama kakak kelas. Belum lagi ditambah dengan fans-fansnya Kak Raffa yang siap kapan aja nyerbu kapan dan di mana aja. Duh, susah ya hidup dikelilingi oleh orang-orang kayak begini, ribet! Teett… Teett… Tett… tepat pukul 7.15 bel masuk berbunyi.

Seperti yang udah diarahkan kemarin, kami semua akan dikumpulkan di lapangan dengan menggunakan bet nama masing-masing. Setelah barisan rapi, tak lama ketua osis masuk lapangan untuk memberikan arahan, yang tak lain adalah Kak Raffa, kakakku. Sewaktu Kak Raffa sedang berbicara, tiba-tiba Kak Aldo membawa seorang siswa laki-laki memakai kacamata, putih, dengan rambutnya yang berantakan dan tidak memakai bet nama, yang tak lain itu Adit! Mataku langsung terbelalak heran.

“Kenapa Do?” tanya Kak Raffa penasaran.
“Lo lihat nih Raf.” Kata Kak Aldo.
“Mana bet lo?” tanya Kak Raffa sambil menatap Adit kesal.
“Gak ada.” Jawab Adit singkat.
“Enak banget lo ngomong ya. Lo kira gue ini apa? Lo anggap apa hah?” bentak Kak Raffa.
“Sorry, gue gak sempat.”
“Apa lo bilang? Ulangi.” Bentak Kak Aldo.

Adit hanya menghela napas. Aku menatap Adit dalam. Aku bingung harus berbuat apa. Di satu sisi aku ingin membela Kak Raffa karena aku merasa kakakku udah tidak dihargai dan diperlakukan seperti sampah olehnya, namun disisi lain aku gak tega melihat Adit dibentak. Saat aku melihatnya, tiba-tiba Adit juga menatap mataku. Dia seperti tidak mempedulikan orang yang sedang berbicara dengannya. “Semuanya ikut gue.” Perintah Kak Fitri, sekretaris osis. Semuanya beranjak pergi. Namun tidak denganku. Aku tetap berdiri di sini. Aku tidak ingin meninggalkan dia sendiri. Dia diem banget sih, diapa-apain cuma diem doang, gak respon. Kan kita yang lihatnya jadi kesal.

“Ngapain lo masih di sini?” Tanya Kak Aldo kepadaku.
“Udah deh Kak Raffa, cukup. Lebay banget sih. Dia kan juga udah minta maaf.” Ucapku.
“Sejak kapan lo ngebela dia?” Tanya Kak Raffa penasaran.
“Apaan sih Kak. Dia kan udah minta maaf. Lagian dia cuma gak ada bet.”

“Apa lo bilang? cuma? Itu peraturan yang gue buat Ray, buat jalannya MOS ini, dan lo bilang itu semua cuma?”
“Bukan gitu Kak, tapi…” ucapanku terputus saat Kak Aldo menyambung perkataanku.
“Jangan sementang lo adek ketua osis lo bisa perintah Kakak lo seenaknya ya Ray.” Sahut Kak Aldo.
“Yang salah itu gue.” Kata Adit berusaha mencairkan suasana.
“Nah, dia aja sadar kalau dia salah Ray. Ngapain pake lo bela?” Ucap Kak Raffa kesal.

Aku menghela napas dan menggigit bibirku. Aku pun gak tau kenapa aku harus ngebela dia? Emangnya dia siapa? Sahabat? Bukan. Teman? Bukan. Saudara? Bukan. Pacar? Apalagi. “Kalian berdua gue hukum. Berdiri di tengah lapangan selama 1 jam tidak ada istirahat!” perintah Kak Raffa. Kami berdua pun langsung menuju ke tengah lapangan untuk menjalani hukuman. Suasana menjadi hening seketika. Tak ada suara. Aku enggan untuk memulai duluan, secara aku kan cewek. Harusnya dia duluan dong yang mulai.

“Kenapa?” Tanya Adit membuat aku langsung memalingkan wajahku kepadanya.
“Heh?”
“Kenapa nolong gue?”
“Gue gak nolong lo.”
“Jadi?”
“Gak sengaja.”
“Kok bisa?”
“Gak tahu.”
“Oh.”

Gila! Dingin banget nih cowok. Gue jawab singkat, ternyata dia bisa lebih singkat lagi, bisa gila gue. Irit banget. Sampe-sampe ngeluarin suara aja secukupnya. Ternyata dia bukan hanya cool, irit bicara, tapi juga ramah lingkungan, karena gak banyak buat polusi. Gimana enggak? Buka mulut aja jarang. Omelku dalam hati.

“Bye the way, Makasih.”
“Heh? Buat?”
“Anything.” Balasnya sambil tersenyum.

Duh, jangan senyum dong. Kan jadi serasa melayang kayak gini. Tuhan, manis banget senyumnya. Dengan lesung pipi di kanan dan kiri yang dia punya makin menambah pesonanya.
“Duh, berapa lama lagi sih?” Aku mengeluh karena sudah gak tahan kepanasan.
“10 detik lagi.”
“Serius?”
“Udah.”
“Akhirnya.”

Aku segera menuju ke kursi yang ada di depan kelasku. Hari ini panas banget, sumpah! Huft.
“Eh Ray.” Panggil Fany, orang yang selalu berusaha mendekatkan diri denganku, yang selalu bertanya bagaimana keadaanku sedari SMP.
“Apaan?” Jawabku singkat.
“Lo tadi ngapain sih?”
“Dihukum.”
“Ya kalau itu gue tahu. Maksud gue ngapain lo bentak Kak Raffa tadi?”
“Gak tahu, meluncur kayak gitu aja dari mulut gue.”

“Hai Ray!” Sapa Devan sambil menyerahkan botol minuman dingin di tangannya.
“Hai Dev! Thanks.” jawabku malas.
“Em, Ray. Entar pulang bareng siapa?” tanya Devan.
“Sama kakak.”
“Bareng gue aja mau?”
“Enggak, males.”

Ketika aku sedang duduk bersama teman-temanku, tiba-tiba segerombolan anak kelas 2 datang menghampiriku.
“Lo yang namanya Rayya?” Tanya salah satu dari mereka yang sepertinya ketua dari geng itu.
“I..i..iyaa Kak.” Jawabku terbata-bata.
“Ikut gue.” Perintahnya.

Salah satu dari mereka memegang tanganku dan membawaku pergi ke gedung belakang sekolah. Semua yang menyaksikan adegan ini terbelalak. Fany dan Devan pun gak tahu harus berbuat apa, karena ini masih baru. Sekolah juga baru dua hari. Aku juga bukan anak yang biasa-biasa aja, adeknya ketua osis! Jabatan kakakku paling tinggi di antara siswa yang lain. Tapi ada anak kelas 2 yang berani ngelabrak seorang Rayya? Oh tidak!

Bersambung

Cerpen Karangan: Ella Yolanda
Facebook: Yolanda Nakatsuka
Ella Yolanda Nakatsuka. umur 17 tahun. SMAN Unggul Aceh Timur. Jalan Tgk Yahya dan Utama Perumahan Thariq Permai Blok A nomor 13, Paya Bujok Tunong, Langsa Baro, Langsa, Aceh.

Cerpen Waktu Di Balik Senja (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bebek Kesurupan

Oleh:
Gue sedang berdiri di ambang pintu kelas sembari menunggu teman-teman datang. Memandangi sudut-sudut sekolah, yang masih sepi. Udara pagi yang segar, embun yang melekat pada daun-daun. Gue menghirup udara

Tak Terbalaskan

Oleh:
Suatu hari ada seorang wanita yang bernama anita, dia adalah wanita yang ceria dan juga cukup cerdas, namun suatu ketika dia mengalami suatu masalah yaitu dia telah jatuh cinta

Detektif Love

Oleh:
Keheningan menjadi penguasa ruangan, semuanya sibuk mengotak-atik ponsel masing-masing, maklum lah anak-anak kos. sore ini aku ada janji untuk pergi jogging bersama pacarku, jam sudah menunjukkan angka 15:00. tapi

Friday Night With Rangga

Oleh:
Hari ini tanggal 02 maret 2016, hari ulang tahunku yang ke 19. Banyak ucapan-ucapan selamat beserta doa yang kuterima dari sahabat, teman-teman, dan orang-orang peduli denganku baik secara langsung,

Hubungan Antara Kau Dan Aku

Oleh:
Suasana malam yang sangat indah dan juga hening. Bentuk sang rembulan yang sempurna, tidak terhalang awan hitam sedikit pun, cahayanya pun terlihat sangat cerah dari jendela kamarku. Aku duduk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *