Yang Sudah Berlalu Biarlah Berlalu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 June 2016

Aku merasa kesal dan marah dalam dua hari ini. Semua berawal dari pengumuman yang diberikan sekolah bahwa pada hari Kamis, tanggal 21 April 2016 akan diadakan Peringatan Hari Kartini. Berbagai macam lomba akan digelar. Lomba-lomba itu terdiri dari lomba menghias tumpeng, merias, serta gerak dan lagu. Aku dan tiga temanku, dua laki-laki dan satu perempuan, dipilih untuk menjadi perias. Lima temanku yang lain, dipilih menjadi penghias tumpeng. Sisanya, diwajibkan mengikuti lomba gerak dan lagu. Disanalah semua perasaan ini dimulai.

“Dita, nanti kita latihan gerak dan lagu di rumahnya Nisa, ya,” kata Yanti sambil menghampiriku yang duduk di bangku pojok belakang kelas pada saat istirahat, ia termasuk peserta lomba gerak dan lagu.
“Lho, bukannya aku termasuk perias?” kataku, mukaku agak memanas karena kemarahan yang segera tampak jelas di wajahku.
“Tapi, sebagai ketua kelas, kamu mestinya juga harus bertanggung jawab pada teman-temanmu yang lain, kalau besok kami gagal, bagaimana? Kamu juga kan, yang akan menanggung malu.” Suaranya agak memelan, karena dia tahu, aku tidak bisa menerima argumen apapun dalam keadaan marah.
“Iya, aku tahu, tapi kenapa harus aku yang bertanggung jawab? Bukannya kamu dan peserta gerak dan lagu lainnya yang harusnya bertanggung jawab, itu kan bagianmu, bukan bagianku!” kataku setengah membentak. Setengah dari seluruh wajah di kelas menatap kami. Wajah Yani langsung memerah, tanda air mata akan segera membasahi wajahnya. Aku merasa kasihan. Walaupun aku sedikit kasar, tapi setidaknya aku masih punya rasa kasihan. Tatapanku padanya yang tadinya agak tajam, sekarang melunak.
“Oke, oke. Kapan kita ke rumah Nisa?” tanyaku, berharap air matanya tidak jadi mengalir.
“Na, nanti, sepulang sekolah,” jawabnya, sedikit terbata-bata, bingung kepada perubahan emosiku. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepala dan beranjak pergi.
“Beritahu yang lain, terutama yang laki-laki, pastikan mereka semua tahu dan datang nanti.” Kataku dengan nada agak memerintah. Yani, yang dalam perjalanan menuju ke bangkunya di depan kelas, hanya mengangguk sekilas.

Sepulang sekolah, kami segera berkumpul di rumah Nisa, dekat SMP kami. Rumahnya dipilih menjadi tempat latihan karena selain dekat, salah satu ruangan di rumahnya memiliki banyak kaca, tempat itu sering digunakan para instruktur tari untuk melatih murid-muridnya. Itulah mengapa rumahnya disebut sanggar tari.
Aku memperhatikan semua yang hadir, kelihatannya ada beberapa muka yang tak tampak selama kami latihan gerak dan lagu tadi.
“Siapa saja yang tidak ikut latihan?” tanyaku dengan suara yang dikeraskan, semua orang bisa mendengar suaraku yang agak serak, pertanyaan itu ditujukan pada semua orang dalam ruangan penuh kaca ini.
“Hanya Dino, Putra, dan Rizki” jawab seorang anak laki-laki. Huh, Trio Bikin Ulah itu, ya, gerutuku dalam hati. Mereka sering disebut Trio Bikin Ulah karena sesuai dengan namanya, mereka memang anak-anak yang susah diatur dan mereka sering membuat onar di kelas. Merekalah yang membuatku menjadi seperti ini, menjadi seorang ketua kelas yang galak. Aku terpaksa harus bersikap galak kalau berada di dekat mereka, untuk menunjukkan kewibawaanku. Sebenarnya aku bersikap seperti tadi kepada Yani hanyalah untuk menutupi kemarahanku, karena aku tahu harus berurusan dengan mereka lagi. Stop, berhenti memikirkan mereka, toh mereka hanya membuat sakit hati saja, kataku dalam hati, menghentikan lamunan singkatku.

Keesokan harinya, kami membuat kesepakatan dengan guru mata pelajaran jam pertama kami, kami akan menggunakan satu jam pelajaran di sekolah untuk latihan gerak dan lagu.. Meja-meja disingkirkan dan dirapatkan ke belakang serta kursi-kursi dinaikkan di atas meja, sehingga terciptalah semacam lapangan kecil di tengah-tengah kelas. Semua peserta gerak dan lagu sudah bersiap di tempatnya masing-masing. Aku memperhatikan wajah-wajah itu sekali lagi dan menyadari bahwa tiga orang tidak berada di tempat yang sudah disediakan untuk mereka. Wajahku memanas, kemana lagi mereka?
“Trio Bikin Ulah dimana?” tanyaku dengan suara tinggi yang tercekat pada seluruh siswa-siswi di kelas. Mereka hanya diam dan mengangkat bahu.

Trio Bikin Ulah pasti kabur saat aku dan teman-teman yang lain sedang membereskan meja-meja serta kursi-kursi. Aku memutuskan untuk mengabaikan mereka, mengingat peringatan yang diberikan Pak Dar kemarin, bahwa anak yang tidak berpartisipasi dalam kegiatan ini akan dijatuhkan sanksi berupa harus membayar denda sebesar Rp 250.000,00. Aku tahu kalau itu hanyalah sebuah ancaman agar murid-murid berpartisipasi dalam kegiatan ini, tapi Trio Bikin Ulah itu mengabaikan peringatan Pak Dar, dan mereka malah berperilaku seenaknya mereka sendiri, seperti menganggap bahwa tanggung jawabku pada peserta gerak dan lagu hanyalah sebuah tugas yang enteng.

Tak terasa air mata mulai membanjiri wajahku. Aku berpaling dari tatapan semua teman-teman sekelasku yang sarat akan keprihatinan, mereka tahu apa yang sedang kutangisi, sebab mereka tahu Trio Bikin Ulah layaknya sebuah musuh bagiku dan aku sering bertengkar mulut dengan mereka.
“Sudahlah, Dita, tak apa-apa,” Yani berkata sambil menepuk-nepuk punggungku. Ia membimbingku berjalan menuju kamar mandi, melewati kerumunan orang yang menatapku dengan pandangan aneh, seakan baru kali ini saja melihat seorang ketua kelas menangis. Mataku yang buram karena tangisan terbuka sedikit dan aku melihat bayangan tiga orang siswa yang tinggi, lebih tua dariku. Trio Bikin Ulah. Wajahku memerah, tangisku yang tadi agak mereda, sekarang tiba-tiba kembali pecah. Aku menangis dalam diam, tanpa bersuara, hanya air mata saja yang mengucur deras di wajahku. Jenis tangisan yang menandakan bahwa luka di hatiku sudah sangat dalam.
“Dita, mereka ke sini untuk minta maaf kepadamu,” Yani menjelaskan.
“Aku tak perlu permintaan maaf dari kalian!” teriakku dengan keras, sejenak suara-suara di sekolah seperti hening oleh teriakanku.
“Maafkan kami, Dita. Kami memang tahu kami tak seharusnya menyakiti hatimu.” Putra mewakili Trio Bikin Ulah berbicara. Oh, yang benar saja, kalian bukan hanya menyakiti hatiku, tapi juga meremukkan hatiku, kataku dalam hati. “Kami sudah tahu kesalahan-kesalahan kami. Jadi, kami hanya ingin minta maaf dan berjanji bahwa kami tak akan mengganggumu lagi. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu.” kata Putra lagi.
Aku hanya mengangguk sedikit, tak mampu berkata-kata. Air mataku seakan terhapus oleh kata-kata Putra barusan. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu.

Cerpen Karangan: Ana Gita
Blog: Belajar Bersama
Mulai menulis, Fighting!

Cerpen Yang Sudah Berlalu Biarlah Berlalu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjuangan Cinta Yang Sia Sia

Oleh:
Di sekolah yang mungkin bagi orang lain tidak menarik, yah? bisa dibilang sih jadul dan sangaaaatttt membosankan. Di situlah terlahir persahabatanku dengan lima temanku. Teman yang selalu membuat aku

Berawal Dari Kopi

Oleh:
Prudence berjalan di koridor sekolah menuju kantin. Hari ini rasanya ia ingin menikmati secangkir kopi yang akan menjernihkan pikirannya. “Bi, kopi” Ucap Prudence dan seorang pria di sebelahnya berbarengan.

Malam Minggu Jomblo

Oleh:
Jomblo adalah mereka yang ingin hidup bebas dan mandiri tanpa ada ikatan hubungan dengan lawan jenis. Jomblo juga bukan berarti tak laku hanya saja mereka masih ingin menjalin status

Sahabat yang Tak Kusadari

Oleh:
Namaku Putri, umurku 14 tahun. Aku menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) tepatnya kelas 9. Aku dikenal seorang pendiam di sekolah, anak yang tak mau bergaul dan cupu! Sebenarnya,

Hikmah Membersihkan Lingkungan

Oleh:
Rudi, Syifa dan Aila merupakan kakak beradik. Mereka tinggal di kampung dekat pantai. Jarak antara rumahnya dengan laut hanya sekitar satu kilometer. Dari arah dapur, Rudi menghampiri Syifa yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *