Zea dan Persahabatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 August 2017

Pagi ini Zidan bermaksud menyapa Zea. Sekaligus mengucapkan selamat atas juara dua yang diraih Zea pada lomba melukis kemarin. Tapi yang disapa malah memasang wajah jengkel, dan secepat kilat berlalu dari hadapan Zidan. Zidan bingung bukan buatan. Memang dia punya salah apa sampai Zea menghindarinya? Apa karena Zidan meraih juara satu di lomba melukis kemarin? Ah, tidak mungkin!

Zea yang masih dilanda rasa kesal berjalan dengan cepat menuju kelas. Mukanya ditekuk sedemikian rupa. Menimbulkan aura mencekam hingga dua meter di sekitarnya.
“Hei, Ze… Pagi-pagi udah cemberut aja,” rupanya Si Lembut Izzati, yang mencoba menyapa. “Omong-omong, selamat, ya, sudah jadi juara di lomba lukis kemarin,”
“Eh… Iya, makasih,”
“Kok, mukanya ditekuk gitu, sih? Ada apa, hayo?”
“Itu…”

Sebenarnya Zidan dan Zea adalah kawan akrab. Apalagi mereka sama-sama menaruh minat di bidang seni rupa. Tapi sejak mereka mulai mengikuti perlombaan-perlombaan, Zea merasa hubungan mereka kian merenggang. Terutama karena Zidan selalu lebih unggul daripada Zea. Ini kali ketiga Zidan mengalahkan Zea. Zea merasa Zidan sudah bukan Zidan yang dulu ia kenal. Zidan jadi lebih sering membanggakan hasil karyanya. Atau bahasa kasarnya: sombong. Ucapan selamat dari Zidan pagi tadi Zea anggap sebagai ejekan, jelasnya Zea mengira dengan mengucap kata juara dua, Zidan sedang menyindir kekalahannya. Tapi… apa benar ini salah Zidan? Atau Zea hanya iri karena tak mampu meraih apa yang Zidan raih?

“Zea… Zea… Sepertinya kamu telah salah menilai orang. Kamu melihat hanya dari satu sudut pandang. Cobalah lihat dari sudut pandang lain. Mungkin Zidan ingin membesarkan hatimu, atau barangkali ia hanya ingin membagi kebahagiaannya,” kata-kata mutiara itu meluncur bagai air dari mulut Izzati. Es di hati Zea perlahan-lahan mencair. Siapa yang tidak akan luluh mendengar kalimat bijak bernada lembut seperti itu?
“Menang kalah itu urusan biasa. Tapi persahabatan harus tetap dijaga,” sempat-sempatnya Izzati bermain rima. “Kalau perlombaan hanya merusak ikatan persaudaraan di antara kita, bukankah lebih baik tidak ada perlombaan sama sekali?”

Izzati tidak sembarangan menasihati Zea. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia sastra, Izzati cukup sering mengikuti berbagai event. Dan ia juga punya saingan yang belum pernah dikalahkannya. Adalah Azizi, calon sastrawan berbakat yang selalu menempati nomor satu dalam berbagai event. Tapi, Izzati tak pernah memandang Azizi sebagai musuh. Ia justru menganggapnya sebagai motivasi untuk terus melangkah maju. Izzati tidak pernah menatap horor ke arah Azizi. Izzati malah selalu tersenyum tipis ke arah Azizi ketika Azizi berdiri di samping kanan Izzati sebagi seorang juara.

“Sudah lima kali dia mengalahkanku Ze… Bisa kau bayangkan, lima kali berturut-turut!” Izzati mendramatisir suasana.
“Dan kau tidak pernah merasa tersinggung?”
“Untuk apa?”

Zea menunduk sambil menggigit ujung telunjuknya. Perkataan Izzati ada benarnya, tidak, sangat benar malah. Sekarang apa yang harus Zea lakukan? Haruskah Zea meminta maaf?
“Cepatlah minta maaf! Selagi belum tiga hari, bukankah bermarah-marahan dalam Islam tidak boleh lebih dari tiga hari?” dasar Uztadzah Izzati! Selalu mengaitkan permasalahan dengan ajaran Islam. Cocok sekali dengan kerudung lebarnya.
Zea tidak menjawab, melainkan segera pergi begitu saja. Izzati hanya tersenyum simpul dan berlalu dari tempat itu.

Lepas bertemu Zea, sekarang Izzati malah bertemu dengan rivalnya, Azizi. Calon sastrawan itu tampak sedang merenung, dengan ujung pena dimasukkan ke mulutnya. Sedikit jorok, memang, tapi Izzati tahu, itu adalah tanda kalau Azizi sedang berpikir tentang cerpen, atau mungkin karya sastra lainnya.
“Hai, Zi! Gimana, sudah dapat ide?” Izzati menyapa tiba-tiba.
“Oh, Izza, kamu ngagetin aja! Untuk alur ceritanya aku belum ada ide, sih. Tapi aku sudah punya gambaran tentang karakter-karakternya,”
Izzati sudah hafal jawaban itu. Memang, kalau membuat cerpen, Azizi selalu menentukan tokoh-penokohan sebelum menentukan alur dan konflik yang dihadapi si tokoh. Termasuk untuk lomba menulis bulan ini. Bulan ini, Smansa mengadakan lomba menulis untuk anak-anak SMP seperti Izzati dan kawan-kawan. Temanya cukup sederhana, tentang persahabatan.

“Kalau kamu sendiri, gimana, Za? Kamu ikut lombanya Smansa juga, kan?” Azizi balik bertanya.
“Aku baru saja dapat ide menarik,”
“Oh, ya? Tentang apa?”
“Sebenarnya aku terinspirasi dari kisah nyata. Ceritanya tidak terlalu rumit tapi inspiratif. Tentu saja akan kuberi bumbu-bumbu fiksi supaya terkesan dramatis. Rencananya aku juga akan memasukkan sedikit dalil dari Al-qur’an dan hadist,” Izzati menjabarkan rencananya lanjang lebar. “Kali ini aku tidak akan kalah darimu,”
“Wow, amazing!” respon Azizi dengan sok Inggris.
“Syukron,” Izzati membalas dengan sok Arab.
“You’re welcome,” Azizi berlagak sok Inggris-lagi.

Zidan sedang duduk manis di bangkunya. Tapi pikirannya tak setenang gaya duduknya. Zidan masih dihantui rasa penasaran akan sikap Zea pagi tadi. Bagi Zidan, Zea itu tipe anak yang ceria, gemar berkawan, dan setia kawan. Lantas, apa kiranya yang membuat Zea bersikap dingin seperti tadi?

“Zidan…”
“Hm…” Zidan menoleh dengan pikiran tak sepenuhnya fokus- “Eh, Zea?” -membuatnya terperanjat ketika tahu orang yang memanggilnya adalah Zea.
“Um… Selamat, ya, atas kemenangannya di lomba lukis kemarin,” untuk saat ini, Zea rasa itu kalimat yang tepat untuk mengawali pembicaraan.
“Ah, iya, makasih,” sekarang Zidan jadi tambah bingung. Baru saja Zea bersikap dingin padanya. Dan sekarang Zea menghampirinya untuk mengucapkan selamat?!
“Maaf, ya, soal tadi pagi. Tadi itu aku agak…” Zea menggantung kalimatnya. Terasa memalukan untuk berkata jujur bahwa Zea iri dengan Zidan. Tapi untuk berbohong, juga terasa berat. Memang alasan apa yang mau dipakainya?

Kring…
Bel masuk berbunyi nyaring. Mengalihkan perhatian seluruh penghuni sekolah.
“Zidan, aku balik ke kelas dulu, ya,” Zidan tak begitu memerhatikan dan tahu-tahu Zea sudah berada di dekat pintu kelas.
‘Bel penyelamat,’ ucap Zea pada akirnya.

Cerpen Karangan: Na

Cerpen Zea dan Persahabatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


When You’re Lost

Oleh:
Alvino Offyan Nugraha, sosok setengah ganteng, tinggi, sawo mentah menuju mateng, kalo dilihat di fotonya (gue belum pernah ketemu orangnya langsung sih) sosok yang gue kenal lewat aplikasi bernama

Tinta Hitam Untuk Bunda

Oleh:
Sudah selarut ini, bunda masih saja berkutat dengan pekerjaannya. Puluhan karton snack sudah menumpuk di atas meja makan. Bunda selalu bekerja keras. Hampir tidak pernah mendengar kata keluhan dari

Tak Peka (Part 1)

Oleh:
“Ayo Neyla berangkat ngaji, udah hampir telat nih” ucap Reva dengan nada yang sedikit marah. Dengan santainya aku menjawab “Iya.. bentar lagi”. Lalu di perjalanan kami bertemu sahabat kami

Lentera Bintang (Part 2)

Oleh:
Mentari menyapa dengan pendaran cahayanya melalui jendela kamar. Embun tertetes dengan kesegaran. Langit penuh dengan coretan pigmen. Lembayung angin menerpa sedertan bunga kesayangan mama di taman. Meniup air mancur

Berbicara 6 Mata

Oleh:
Namaku nadia, aku adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Kata orang, anak terakhir itu pasti manja banget. Karena, anak terakhir itu paling disayang. Aku memang anak yang manja banget.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *