Gerbang Kehidupan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 25 April 2016

Namaku Ricardo, umurku empat belas tahun, aku tinggal di Jakarta. Aku memiliki keluarga yang berkecukupan, aku memiliki adik kembaranku yang bernama Zean, kami satu sekolah di sekolah swasta. Mamaku sudah meninggal dan aku tinggal bersama ayah kandungku dan ibu tiriku. Ayahku adalah orang yang sangat sibuk. Aku adalah seseorang yang suka berkelahi dan aku seseorang yang sangat nakal. Sedangkan, adikku tidak. Adikku selalu menghalangiku ketika aku berkelahi, itulah yang membuatku kesal kepadanya. Saat itu malam senin, semuanya berada di ruang keluarga untuk menonton bersama. Setelah nonton aku beranjak pergi ke kamar, saat itu pukul sembilan malam.

Semuanya bubar ke kamar masing-masing kecuali Zean, ia memang suka tidur larut malam. tetapi ajaibnya dia, adalah dapat bangun tepat waktu. Saat Ricardo beranjak ke kamar, ia melihat Zean yang masih menonton. Ricardo pun marah kepada Zean. “Hei Zean, cepat masuk kamar, besok kita mau sekolah, sekarang kamu cepat pergi ke kamar dan tidur!” Zean pun menuruti perkataan Ricardo. Ricardo dan Zean pergi ke kamar mereka masing-masing. Sesampai di kamar, Ricardo bertukar pikiran dan ingin mencoba untuk tidur larut malam. “Lebih baik aku menonton saja biar tidak ngantuk.” Lama-lama Ricardo merasa bosan dan ia melihat jam ternyata sudah jam dua belas malam. “Uh, ternyata sudah tepat jam dua belas malam sudah ngantuk nih!” Akhirnya Zean tertidur dengan televisi yang masih menyala.

Pagi yang cerah Zean dan Ricardo bangun untuk bersiap-siap pergi sekolah. Zean yang berada di depan kamar mandi untuk membuka pintu kamar mandi ternyata langsung saja direbut oleh Ricardo yang masuk ke kamar mandi dengan tergesa-gesa. Ricardo mengunci pintu dengan keras sehingga kunci itu patah, Ricardo tidak menyadarinya. Zean tetap sabar, setelah menunggu lama akhirnya Ricardo sudah selesai mandi. Ketika Ricardo membuka pintu ternyata tidak bisa dibuka. Ia baru sadar bahwa kunci pintu kamar mandi patah, Ricardo teriak meminta tolong sedangkan Zean panik dan bingung untuk menolong kakaknya.

“Kak, ada apa?” Ricardo pun menjawab dengan kesal. “Hei, Bantuin nih!” Tanpa pikir panjang lebar Zean mendobrak pintu hingga rusak. Ibu mendengar kejadian tersebut dan ibu pergi ke tempat yang didengar ibu dan ternyata pintu kamar mandi rusak, akhirnya ibu marah kepada Zean dan Ricardo.
“Hah, Kenapa kalian merusak pintu kamar mandi!” Zean panik dan menjelaskan bahwa.
“Ibu, sebenarnya tadi Kak Ricardo ter…,” perkataan Zean dipotong oleh Ricardo.
“Eh, Bu tadi Zean mendobrak pintu karena ia tidak sabar untuk menunggu aku mandi!” Zean terdiam sambil menahan kesabaran. Zean sangat cemas. Ia tidak tahu harus berbuat apa-apa. Wajahnya memerah menahan rasa sedih. Ia takut kalau dia tidak diizinkan sekolah.

Ternyata benar, Ibu sangat marah dan ibu tidak mengizinkan Zean pergi sekolah. Ricardo sangat senang karena tidak ada yang menghalanginya untuk berkelahi di sekolah. Ricardo bisa dibilang preman di sekolah. Dia duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama dan hari ini dia akan melawan kakak kelasnya yang kelas satu sekolah menengah atas. Di halaman belakang sekolah, Ricardo mulai berkelahi dengan kakak kelas. Ricardo kalah dan jatuh pingsan, saat Ricardo terbangun. Ricardo melihat sekeliling dia dan tidak ada teman-temannya. “Hmm, mungkin semuanya sudah ke kelas masing masing.” Ricardo pun masuk ke kelasnya. Kemudian ia sangat terkejut, ia terkejut melihat semua teman-temannya menghilang.

Kemudian Ricardo memeriksa satu per satu ke kelas yang lain, tetapi percuma saja ia tidak melihat kawan-kawannya. Ternyata di sekolah hanya ada Ricardo sendiri, Ricardo sangat bingung dan ketakutan, Ricardo sangat terkejut karena tiba-tiba bel berbunyi dengan sendirinya. “Aneh, bukannya tidak ada orang di sini tetapi bel berbunyi.” Ricardo melihat jam tangannya, ternyata bel tersebut tepat menunjukkan jam pulang sekolah. “Mendingan aku pulang ke rumah untuk melihat Zean dihukum hahaha!” Ricardo tidak sabar untuk melihat adiknya yang dihukum. Ricardo pun pulang ke rumah. Sesampai dirumah ia melihat adiknya makan roti, Ricardo merasa lapar dan langsung mengambil roti Zean. Tiba-tiba Zean mengamuk dan berubah dari penurut menjadi pemarah.

“Eh, kamu ngapain ngambil roti aku, Zean!” Ricardo bingung karena dia dipanggil Zean.
“Apaan kamu, saya ini Ricardo! Kamu Zean!” Saat itu Ricardo bingung dan langsung masuk kamarnya.
“Mendingan aku masuk kamar.” Tiba-tiba ada yang menegur dan memarahinya, itu ternyata Zean.
“Hei, ngapain kamu masuk kamar saya.” Ricardo bingung karena itu adalah kamarnya.

Di dalam hati Ricardo berkata. “Apakah ini semua telah berubah?”
Saat itu Ricardo sangat bingung. Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu.
“Zean, cepat buka pintu!” Tetapi Zean tidak bergegas untuk membukakan pintu dan malah menyuruh Ricardo.
“Ayo cepet buka pintu, Ibu nunggu tuh.” Ricardo sangat bingung karena yang disuruh adalah Zean.
“Huh, ya sudahlah aku saja yang buka pintu.” saat Ricardo membuka pintu dan Ricardo terkejut.
“Waaaw, manusiaaa serigalaaaa.” Ricardo membalik badan untuk meminta bantuan Zean, tetapi Zean mengeluarkan bulu yang banyak dan mengeluarkan taring yang tajam. Langit pun berubah menjadi hitam.

Ricardo langsung lari ke dalam kamar dan mengunci kamar serta jendela-jendela. Tetapi, lama-lama kamar Ricardo menjadi sempit. “Hah, kenapa kamarku lama-lama menjadi kecil?” Tiba-tiba jendela terbuka dengan sendirinya dan ada gumpalan debu yang masuk ke kamar Ricardo lewat jendela. Terdapat debu kecil yang mengenai mata Ricardo. Ricardo pun memejamkan mata dan saat Ricardo membuka mata ia terkejut karena berada di depan jembatan yang sangat tipis, setipis potongan tujuh helai rambut, jembatan tersebut menghubungkan Ricardo dan sebuah gerbang yang bercahaya, di bawah jembatan terdapat kobaran api, jarak jembatan tersebut sangat jauh kira-kira sepuluh ribu langka.

Ricardo bingung dan ia sangat takut. “Apa yang harus aku lakukan!!!” Ricardo berteriak dan tiba-tiba ada suara yang bergema. “Saya akan memberi kamu satu kesempatan dan kamu harus mengubah sikapmu atau.” Kata-kata tersebut terhenti. Ricardo sangat bingung karena tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kata-kata tersebut, tanpa pikir panjang Ricardo pun berteriak. “Siapa yang berbicara?” Suara bergema itu terdengar lagi.
“Ubahlah sikapmu dan berjanjilah.” suara tersebut membuat Ricardo sangat cemas dan akhirnya Ricardo kembali berteriak. “Saya minta maaf, saya berjanji akan mengubah kesalahan yang ku perbuat!”

Tiba-tiba jembatan yang tipis tadi menjadi lebar dan megah yang terbuat dari tumpukan emas dan taburan berlian. Tiba-tiba terdengar suara yang bergema lagi. “Pergilah ke gerbang itu!” Dan dengan gugup Ricardo melangkah maju dan Ricardo berlari sekencang-kencangnya ke gerbang yang berjarak sepuluh ribu langkah menjadi seperti sepuluh langkah, satu langkah lagi Ricardo menembus gerbang tetapi ia terjatuh dan sulit berdiri. Akhirnya ia merangkak dan persis di depan gerbang, Ricardo merangkak masuk gerbang dengan sangat gugup dan masih merasakan ketakutan.

Setelah itu ia membuka mata dengan sulit karena seperti di lem. “Kenapa aku susah membuka mata?” Akhirnya Ricardo pasrah, tetapi mata Ricardo terbuka sedikit demi sedikit dengan sendirinya. Ia melihat bahwa dia berada di sekolah, ia terkejut melihat teman-temannya dan guru-guru berada di tempat Ricardo pingsan. “Akhirnya Ric, kamu sadar.” kata salah satu teman Ricardo. Ricardo senang melihat semuanya kembali seperti semula.

“Apakah ini kalian semua?” Ricardo pun berdiri dan membersihkan bajunya. Ricardo berkata dalam hatinya.
“Huh, untung hanya mimpi.”

Ricardo melihat kepala sekolah yang memegang Penggaris panjang yang terbuat dari kayu dan Ricardo disuruh kepala sekolah ke ruangannya untuk memberi peringatan kepada Ricardo. Bel berbunyi dan Ricardo bersiap untuk pulang. Dalam sekejap Ricardo lupa dan seperti biasa Ricardo pergi ke tempat ia berkelahi di lapangan belakang rumahnya bersama teman-temannya. Sesampai di tempat Ricardo bersiap-siap berkelahi di sana. Saat ia sedang berkelahi ia teringat dengan janjinya. “Hah, aku sudah berjanji akan berbuat baik.” Akhirnya Ricardo sadar dan teringat bahwa dia sudah menyakiti hati adiknya, Ricardo berlari sekencang-kencangnya untuk menemui adiknya, sesampai di rumah Ricardo menemui dan mencari adiknya.

“Zean kamu di mana?” Ricardo mencari Zean, Zean pun ke luar dengan tergesa-gesa dari kamarnya.
“Ada apa Kak?” Ricardo pun memeluk adiknya.
“Zean aku minta maaf telah menyakiti hati kamu.” Zean pun bingung dan memaafkan Ricardo, setelah kejadian itu mereka menjadi saudara yang akur.
Pada esok harinya mereka bercanda bersama dan Zean bertanya kepada Ricardo tentang kemarin sore.
“Kak, kemarin kamu makan obat apa?” Ricardo pun tertawa mendengar pertanyaan adiknya.
“Aku serius Kak!” Dan Ricardo menjelaskan semuanya.

Cerpen Karangan: Julio Maulana Bagus Penag

Cerpen Gerbang Kehidupan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keabadian Yang Dicintai

Oleh:
BLEDARR… langit kelabu menggantung di angkasa menutupi wajah sang surya yang terkesan tidak bernyawa untuk menyinari dunia. Kilat dan guntur bersautan seperti berebut perhatian sang maha kuasa. Setitik air

Angkot

Oleh:
Angkot. Kendaraan umum yang selalu kunaiki saat pulang sekolah. Kendaraan berwarna biru yang bertuliskan angka 61 yang biasa kunaiki. Suasana angkot yang tidak luput dari rasa tak nyaman dengan

Jalan Tengah

Oleh:
Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Abdul Rahim, yang dikampungnya kurang begitu popular sedang berbincang dengan seorang temannya, di kampung mereka teman abdul Rahim ini kurang begitu di suka. Abdul

Hutang Tingkat Dewa

Oleh:
Aku terus berlari menerobos hutan cemara, entah berapa lama aku berlari aku tak tahu pasti. Yang kurasa nafasku sudah hampir habis. GEDEBUGG… aku terjatuh. Kuarahkan pandangan kesekelilingku, rupanya aku

Lahirnya Bayang-Bayang Putih

Oleh:
Aku tersedak oleh udara yang terasa sangat dingin, membeku dari kesadaranku yang baru kembali. Pipiku kebas, bahkan tak terasa. Kurasakan ujung-ujung jemariku bergetar, kuat sekali hingga ikut menggoyang tubuhku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *