Sahabat Tuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 8 March 2017

Tuhan, sewaktu kecilku dulu, engkau bagaikan sahabat terbaikku, engkau selalu ada di setiap langkahku, engkau selalu mengabulkan permintaanku, apakah engkau masih ingat ketika aku meminta sepeda baru kepadamu, tak beberapa lama berselang engkau mengabulkannya lewat kedua orangtuaku, engkau pasti takkan melupakan jua ketika aku menginginkan juara kelas sewaktu aku belajar di sekolah dasar dulu, dan masih ingatkah engkau ketika aku bercerita kepada Mu masalah cinta pertamaku.

Tuhan tentu engkau masih menyimpan memori indah ketika kita masih bersama, kenangan bersamamu seakan menjadikan aku sebagai hamba Mu yang taat. Tuhan masih kah engkau ingat di suatu sore itu? Kala aku menginginkan dia bisa menerimaku sebagai pacar pertamaku, engkau pun mengabulkan itu… Tuhan, kenapa? Semua berubah dikala aku menginjak dewasa, Seakan kita tidak bersahabat lagi, ataukah engkau mulai jenuh dengan sifatku yang mulai berubah, ataukah engkau telah mengkhianatiku, aku yang selalu setia kepadamu tak mungkin rasanya aku yang dulu berkhianat kepadamu.

Tuhan, Sekarang aku sudah dewasa, problema demi problema mulai hinggap di kehidupanku, tapi sahabat masa kecilku dulu, pergi entah kemana, seakan dia telah pergi jauh dariku. Tuhan kemanakah engkau menghilang, apakah engkau telah berpindah hati, ataukah engkau telah menemukan penggantiku, ataukah engkau sudah memutuskan persahabatan yang telah lama kita bina, kenapa engkau begitu mudah menghapus kenangan indah kita, Tuhan, rasa kecewa yang teramat besar menghiasi hari-hariku, kala mengingat indahnya masa kecilku dulu…

Tuhan, sudah lama rasanya aku menjauh dan meninggalkanmu, begitupun engkau telah melupakanku, memang aku sudah tumbuh dewasa, tetapi memori indah persahabat kita dulu masih terngiang di benakku. Tuhan berbagai cara aku mencari penggantimu, tapi kenapa engkau tak bisa aku lupakan, mulai aku menuntut ilmu tanpa mencantumkan namamu dalam setiap niatku, meninggalkan semua syari’at-syari’atmu bahkan aku telah mengingkari semua perjanjian kita dulu bahwa aku akan selalu taat kepadamu. Tetapi karena perselisihan antara kita, semua yang terucap dari mulutku, melalui indahnya janjiku kepadamu, seakan terbang bersama debu yang di tiup oleh angin.

Tuhan, sahabat masa kecilku, sekarang aku ingin kembali bersahabat denganmu, apakah engkau mengabulkan itu? Ataukah engkau sudah menutup pintu persahabatan antara kita, Tuhan aku masih ingin bersahabat denganmu, dan akan kutebus semua itu dengan meningkatkan amal ibadahku, akan ku jauhi semua laranganmu, Tuhan aku memohon kepadamu, agar aku bisa bersahabat denganMu sama seperti dulu…

Tuhan dengankanlah rintihan hatiku ini, walaupun aku telah mencampakkanMu, dan menuduhmu tidak setia kepadaku, tapi Tuhan, hanyalah engkau sahabat terbaikku, Tuhan sekarang umurku sudah bertambah tua, aku ingin kembali bersahabat denganmu sama seperti dulu, aku hanya ingin engkau yang menemani hari-hari tuaku, dan hanyalah kepada engkau aku menyisakan sisa umurku… Tuhan sahabat masa kecil dan masa tua ku, terimalah permintaanku, karena hanyalah kepadamu aku meminta.

Tuhan, tak terasa 5 tahun berlalu, permintaan ku dulu telah engkau kabulkan, sekarang aku dan Engkau bersahabat seakan aku bernostalgia pada masa kecil dulu, tetapi sekarang makna persahabatan denganMu telah aku sematkan jauh di dalam relung hatiku, dan telah aku ajarkan kepada semua keturunanku bahwa sahabat terbaik di dunia ini adalah sang penciptaku, yang maha pengasih, yang maha pegampun, dan yang maha pemaaf, hanyalah engkau Tuhan..

Cerpen Karangan: Rully Hidayatullah
Facebook: Roe Lly Sang Pemimpin

Cerpen Sahabat Tuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karma

Oleh:
“Tett… tett…” “Siapa Rai? Kok nggak di angkat?” Tanya Ray padaku mengomentari handphoneku yang berdering. “Oh, ini Mama Ray, tunggu ya aku angkat dulu.” Aku sedikit berbohong padanya dan

Kau Selalu di Hatiku

Oleh:
“Masih ku ingat indah senyummu. Yang selalu membuatku mengenangmu. Terbawa aku dalam sedihku Tak sadar kini kau tak di sisi.” Keadaan rumah masih seperti kemarin dan 3 hari berturut-turut

Angkot

Oleh:
Angkot. Kendaraan umum yang selalu kunaiki saat pulang sekolah. Kendaraan berwarna biru yang bertuliskan angka 61 yang biasa kunaiki. Suasana angkot yang tidak luput dari rasa tak nyaman dengan

Inspirasi Buta

Oleh:
Kakiku terus kuangkat dan kuletakkan serta berpindah tempat dengan gerakan yang paling cepat. Berbutir-butir bening basah menempel di keningku, aku melepaskan dan mengambil udara di sekelilingku. Tanganku tak kuasa

Pergi dan Tak Kembali

Oleh:
Shiba menyandarkan tubuhnya di bangku panjang di sebuah taman. Ia memandang amplop berwarna putih berisi kertas hasil pemeriksaannya di rumah sakit barusan. Perlahan ia merobek-robek amplop itu tanpa membukanya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *