28 Maret

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 1 November 2017

Aku memang hanyalah seorang cowok yang tak bernyali besar untuk menatap matamu. Melihat wajahmu. Merasakan keindahan yang terpancar dari dirimu saat ini. Dan di sini, aku hanya bisa memandangi dirimu lewat lirikan mataku yang seakan ingin berbicara di hadapanmu.

Aku hanya cowok pengecut dan payah. Yang hanya berani melihat kecantikanmu dari balik tembok besar yang menghalangi posisi kita berdua. Aku bagaikan seorang pengintai yang hanya bisa mengintip dari balik celah jendela atau lubang agar bisa ‘berinteraksi’ denganmu. Meski tidak secara langsung, tapi entah kenapa aku lebih senang dengan keadaan ini. Melihat keindahanmu secara diam-diam dan mengaguminya.

“Woi, kenapa lo?! Ngelamun aja, kayak anak bebek kehilangan induknya,” kata Igo membuatku tersadar dari lamunan. Igo adalah temanku, lebih tepatnya sahabatku sejak SMP. Kebetulan di SMA ini aku satu sekolah lagi dengannya.
“Nggak. Gue gak ngelamun kok.” jawabku.
“Halaah… gak usah bohong sama gue. Lo lagi ngelamun apaan sih? Beras di rumah lo habis? Atau lo lagi dimarahin Ibu lo lalu uang jajan lo dipotong? Iya?” berondong Igo.

Aku tidak menanggapi pertanyaan Igo yang semakin membuatku pusing. Aku terus memandangi cewek itu sambil kembali melamun. Aku terus menatapnya yang menurutku hanya aku yang menatapnya, tanpa pernah berharap ia balik menatapku.
Igo yang melihatku menatap cewek itu segera bereaksi cepat. “Ohh… ya ya ya. Gue ngerti. Ngerti banget, malah! Jadi dari tadi lo ngeliatin Vira ya? Ck, ck, ck, gak nyangka gue kalo selera lo tinggi!”
Aku terus memandanginya tanpa menggubris perkataan Igo yang bawaannya bercanda melulu.
Kapan diriku ini berani bertatap muka langsung dan berbicara padamu? Ahh… aku sendiri tak tahu kapan peristiwa itu terjadi.

Sebenarnya sejak kelas X, aku mengaguminya. Meski aku dan dia berbeda kelas tapi letaknya yang bersebelahan, membuatku selalu melihatnya dengan leluasa. Saat itu aku belum mengenali namanya. Aku hanya memanggilnya —pastinya tidak secara terang-terangan— Si Cewek Manis, karena wajahnya yang manis dan ngangenin. Ternyata tanpa disangka saat kenaikan kelas, aku sekelas dengannya. Tapi jangan tanya aku pernah ngobrol dengannya. Menyapa saja tak pernah. Aku pun tahu namanya saat guru mengabsen satu-persatu siswa yang ada di kelasku.

Tapi hari ini ternyata ada yang berbeda dari hari yang sebelumnya. Ternyata Vira ingin meminjam buku catatan pelajaran bahasa Indonesia kepunyaanku. Saat itu pelajaran bahasa Indonesia membahas tentang penulisan karya fiksi. Pak Irwanto mencatat materinya di papan tulis. Diam-diam aku melihat ke arah Vira yang duduk agak jauh dari bangkuku. Ternyata ia asyik mengobrol dengan Bintang, teman sebangkunya.
Aku terus saja mencatat tapi pandanganku tak bisa lepas darinya. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya.

Tanpa diduga, minggu depannya saat Pak Irwanto meminta kami untuk praktek menulis puisi karya sendiri, Vira tiba-tiba memanggilku.
“Arta, gue minjem catatan bahasa Indonesia lo, dong!” kata Vira dengan pandangan matanya yang entah kenapa selalu membuatku terdiam sesaat. Benar-benar tak berdaya di depan matanya.
“Ngg… ambil aja. Tuh, di meja gue!” Aku mengangsurkan bukuku lalu di tempat duduknya ia asyik membaca catatan yang kutulis di buku. Terlihat wajahnya yang serius saat melihat-lihat catatanku. Baru pertama kali ini ia berbicara padaku.

Sehabis disuruh mencatat dan menulis puisi, Pak Irwanto menyuruh kami untuk membacakannya di depan kelas, tanpa membawa teks sama sekali.

“Ta, lo mau maju gak? Kan lo udah hapal,” Igo mulai ngoceh di sampingku saat aku sedang larut dalam lamunan.
“Kenapa lo nyuruh gue? Kalo lo udah hapal kenapa gak lo aja yang maju duluan.”
Igo tiba-tiba nyengir kuda. “Hehehe… ya, misalnya kalo lo belum pengin maju, ajarin gue dong. Ngg… atau gak gue minjem catatan lo aja deh. Boleh kan?”
Aku menoleh ke arah Igo lalu ke Vira. “Catatan gue lagi dipinjem sama Vira.”
Igo kembali cengar-cengir. Kali ini cengirannya makin lebar. “Caelaah… iya deh, yang catatannya dipinjem sama calon gebetannya. Oke deh, gue ga mo ganggu. Mending gue pinjem catatan yang lain aja deh!” Igo berlalu sambil menatapku dengan pandangan seakan ia berbicara ‘sukses-ya-bro’.

Aku kembali menatap Vira yang masih serius membaca catatan di bukuku. Sudah tak bisa diragukan lagi. Perasaan ini makin membuncah dan meluap di hati. Andai saja rasa keberanianku menebal sedikit saja, akan kulakukan pendekatan saat itu juga. Tapi nyatanya, hati dan perbuatanku berbeda jauh. Berseberangan.
Aku malah berpikir dan berkhayal seandainya aku sudah memberanikan diri untuk ngobrol dan dekat dengannya, lalu aku berniat nembak, aku cuma berharap tidak ada seseorang yang mengisi hatinya lebih dulu. Tidak ada nama lain yang terukir di hatinya.

Seperti cowok pemalu dan pengecut lainnya, aku berniat menulis surat untuknya. Lebih tepatnya surat misterius tanda ada yang menjadi secret admirer-nya selama ini. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku kehilangan inspirasi untuk menulis berbagai kalimat di atas kertas putih di hadapanku ini. Padahal bisa dibilang aku sudah berkali-kali menulis cerpen yang selalu aku kirim ke majalah sekolah. Itu berarti tandanya aku sudah mahir dalam mengarang. Merangkai berbagai kata dan kalimat menjadi sebuah cerita.
Sekarang? Saat aku berniat ingin ngobrol dengannya lewat surat, ide itu malah beterbangan entah ke mana. Tak bisa diajak kompromi. Dan tak seperti saat aku mengarang cerpen kala waktu senggang.

Haahh… aku jadi putus asa. Lebih baik merelaksasikan diri dulu, baru setelah inspirasi itu muncul langsung aku lanjutkan dan tanpa menundanya. Aku lalu menuju ruang tengah dan menonton TV. Ternyata malam ini TV menawarkan acara-acara yang membuatku makin tidak nyaman. Bosan menonton, aku berniat ke ruang makan. Di sana aku menemui Ibu yang sedang asyik mencoba resep masakan baru dari majalah kuliner yang Ibu beli kemarin.

“Bu, lagi sibuk ya? Ada yang bisa Arta bantu?” tanyaku menawarkan bantuan. Aku tak mau melihat Ibu yang sering terlihat letih karena pekerjaan rumah tangganya yang semakin hari tak ada habisnya.
Ibu menengok ke arahku. Melihat wajahku yang terlihat lesu tidak seperti biasanya. “Kamu kenapa, nak? Kamu sakit?” tangannya yang lembut mengelus wajahku.
“Aku nggak apa-apa kok, Bu. Aku cuma… kecapekan aja.”
Ibu menggeleng. “Ibu gak percaya kalo kamu cuma sekedar kecapekan saja. Kalau kamu ada masalah, cerita saja sama Ibu. Moga-moga Ibu bisa membantumu.”
Melihat tatapan Ibu yang nanar, akhirnya aku menyerah. Akhirnya aku menceritakan semuanya pada Ibu.

“Oohh… jadi kamu lagi suka sama seseorang, tapi kamu nggak berani untuk mendekatinya?” tanya Ibu seolah mengerti maksud curhatanku.
Aku mengangguk.
“Kalau menurut Ibu, seharusnya kamu jangan ragu dan jangan takut buat mendekatinya. Ya… anggap saja seperti kamu bergaul dan akrab dengan teman-temanmu yang lain. Anggap dia temanmu, bukan seorang yang kamu incar selama ini. Karena dengan itu kamu akan terlihat lebih PD dan gugupmu akan hilang dengan sendirinya,” jelas Ibu.
“Aku udah mencoba cara itu, Bu. Tapi rasa takut dan gugupku masih berkuasa dan sulit dilepaskan.” Wajahku tertunduk dalam. “Gimana dong, Bu?”
Ibu menghela napas panjang sebelum kembali berbicara. “Ibu tahu. Ibu juga pernah muda dulu. Ibu pernah merasakan apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi saat itu, Ibu memakai surat untuk berkenalan dan mendekati seseorang. Nyatanya cara itu berhasil…”
“…Sebelum Ibu kenal dengan ayahmu, Ibu surat-suratan sama seseorang. Dan saat orang itu akhirnya menyatakan cinta ke Ibu, Ibu tolak karena alasan Ibu belum mau pacaran dan lebih memilih serius belajar.” Aku serius mendengarkan cerita masa lalu Ibu. “Jadi menurut Ibu kalo kamu mengalami hal seperti ini, ya, wajar… tapi apa kamu mau selamanya akan begini? Terdiam lama karena kamu takut padahal kamu menginginkannya.”
Aku berpikir. Benar juga perkataan Ibu.
“Hmm…, kan kamu kecapekan, lebih baik kamu langsung tidur saja yaa,” suruh Ibu. Aku pun berjalan ke kamar sambil terus memikirkan perkataan Ibu. Nyatanya setelah di dalam kamar, aku tidak bisa tidur. Aku terus berusaha mencari cara ampuh dan terbaik agar aku bisa berkenalan dengannya. Dekat dengannya. Akrab dengannya.

Ternyata hari ini Vira ulang tahun!
Padahal di dinding kelas tertempel kertas putih yang berisi tanggal lahir para siswa di kelasku. Dan hari ini tanggal 28 Maret, dia ulang tahun yang ke-17. Teman-teman di kelas banyak yang menghampiri dirinya lalu menyalaminya. Memberi ucapan ‘selamat ulang tahun’ dan ‘semoga panjang umur’. Sementara aku? Hanya bisa melihatnya tersenyum bahagia karena hujan ucapan dari teman-teman.

“Ta, lo nggak ikut ngasih ucapan selamat ke Vira kayak yang lain? Lumayan, buat pendekatan awal. Ya, nggak?” kata Igo yang doyan banget ngegodain aku.
“Jangan sekarang, Go. Waktunya menurut gue kurang pas,” jawabku.
“Lah, terus maunya kapan? Waktu yang pas itu kapan?”
Aku menatap Igo dengan tatapan serius. “Nanti lo juga tahu. Gue mau pake cara gue sendiri.”
Igo menghela napas. “Haah… terserah lo deh, Ta. Gue sih cuma bisa mendoakan lo bisa jodoh sama Vira. Soalnya kan sama-sama pintar. Iya nggak?” katanya dibarengi dengan cengirannya yang khas. “Ya udah deh, gue mau ke kantin dulu. Udah ditunggu sama yang lain,” Igo berlalu.

Aku kembali menatap Vira. Terlihat ia masih setia dengan senyuman bahagianya yang seolah tak bisa lepas dari sosoknya. Di hatiku. Vira lalu keluar kelas dan sepertinya pergi menuju kantin bersama yang lain. Merayakan hari bahagianya saat usianya yang makin bertambah.

Di kelas tinggal beberapa anak yang terlihat asyik bergosip di pojokan kelas. Entah apa yang dibicarakannya. Aku mengeluarkan secarik kertas lalu siap menulis kalimat yang akan kuberikan pada seseorang yang selama ini kuanggap spesial. Vira.

“Selamat ulang tahun…
Hanya itu yang bisa kuucapkan padamu lewat surat ini. Tanpa pernah berani untuk mengatakannya langsung. Meski kita sekelas, tapi entah kenapa hanya kamu yang membuat aku gugup dan malu di hadapanmu. Hanya kamu yang membuatku terdiam. Hanya kamu yang membuatku cukup puas mencuri pandang dirimu tanpa harus berbicara langsung denganmu.
Dan aku ucapkan, semoga panjang umur. Semoga semua wish yang kamu ingini tercapai. Aku hanya berharap semoga kamu bisa selalu jadi dewi di hatiku. Menjadi seseorang yang kukagumi setiap hari. Di setiap embun pagi menjelang.
Your Secret Admirer”

Kertas itu lalu kulipat dan kumasukkan ke dalam amplop berwarna merah, warna favoritnya. Nanti saat jam pulang tiba, akan kuberikan padanya. Harus kulakukan sebelum semua hanya jadi kenangan yang membuatku akhirnya hanya bisa menyesal.

Bel pulang sekolah berdering. Teman-temanku termasuk Igo langsung terlihat semangat jika suara bel pulang sudah terdengar. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Satu demi satu pergi meninggalkan sekolah. Tapi masih ada beberapa anak yang terlihat masih betah nongkrong di sekolah, baik di depan kelas, atau di pinggir lapangan.
Meski suasana sekolah makin lama terlihat sepi, tapi aku masih setia di teras kelas. Aku menunggu waktu yang pas untuk memberikan surat itu pada Vira.

“Hei, Di. Ke aula, yuk! Kita kan mesti latihan tari kolosal buat pentas pensi minggu depan. Ayo, cepat!” ajak Vira pada Dian. Vira memang ikut ekskul tari kolosal dan itu membuatku tambah kagum padanya karena menurutku kalo cewek ikut ekskul tari, kecantikannya akan bertambah dari yang aslinya.
Vira dan Dian lalu berlari menuju aula. Sementara aku yang masih di teras kelas melihat kelas kosong dan hanya ada tas anak-anak kolosal. Tiba-tiba aku punya ide. Kenapa surat ini tak kuselipkan saja di tasnya?
Aku pun masuk ke dalam kelas lalu kuselipkan surat itu ke dalam tasnya di antara deretan buku-buku tebal. Setelah itu aku cepat-cepat keluar kelas agar tidak ada yang mencurigai tingkah dan gerak-gerikku. Ya.. aku berharap semoga dia membaca suratku lalu membalasnya dengan cara yang sama. Lewat surat.

Seminggu berlalu sudah, tapi tak ada tanda-tanda surat balasan darinya. Rasa heran dan penasaranku makin membendung. Apa Vira tak membaca surat itu dan langsung membuangnya? Atau saking sibuknya ia belajar sampai-sampai surat itu tak terbaca olehnya?

Hari ini acara pensi diadakan. Vira yang tampil bersama grup tari kolosalnya sudah menampilkan aksinya lima menit yang lalu. Aku hanya menonton penampilannya. Setelah selesai, aku kembali nongkrong dibalik tumpukan buku di perpustakaan. Asyik baca buku sambil terus memikirkan nasib surat yang kuberikan pada Vira.
Tapi lama-lama bosan juga di dalam perpustakaan. Akhirnya aku memutuskan keluar dari perpustakaan dan menuju ke kelas. Aku ingin melihat senyum Vira yang manis itu setelah tampil bersama grup kolosalnya di pensi.

Menyadari nyaliku yang ciut, aku hanya melirik sebentar ke dalam kelas lalu berjalan menuju kantin. Saat aku berbalik arah menuju kantin, sebuah suara memanggil namaku.
“Arta, tunggu!” seru suara itu. Aku pun berbalik untuk melihat siapa orang yang memanggilku itu. Ternyata orang itu… Vira! Ada apa ya, sampai dia memanggilku?
“Arta, gue mo ngomong sama lo. Tapi kita ngomongnya di kantin aja ya. Kebetulan gue juga pengen beli minum. Lo juga mo ke kantin kan?” tanyanya yang hanya kujawab dengan anggukan kepala.

Kita berdua langsung ke kantin. Vira memilih tempat strategis, yaitu di bangku ujung kantin yang terlihat sepi. Setelah itu kita memesan minuman yang sama.
Vira memulai percakapan. “Ta, gue mau lo jawab yang sejujurnya. Elo yang kirim surat itu ke gue, ya, kan? Lo yang nyelipin surat itu di tas gue? Bener, kan?” berondongnya.
Aku hanya bisa terdiam, tak bisa berkata. Secara refleks kepalaku mengangguk pelan. Aku takut Vira tak suka dengan cara pendekatanku yang diam-diam dan tidak terus terang.
“Jujur, gue seneng banget sama surat lo, Ta. Makasih ya, udah ngasih ucapan selamat ke gue, padahal ultah gue udah lewat. Tapi yang gue heran, kenapa lo baru ngucapin sekarang? Dan kenapa harus lewat surat?”
Aku masih terdiam. Takut-takut Vira jadi emosi karena ulahku. Tapi setelah kulihat raut wajahnya yang tak menampakkan kekesalan, akhirnya aku memutuskan untuk berkata jujur.
“Gue… malu sama lo. Sebenarnya gue suka sama lo, Vir. Selama ini gue hanya bisa memendam perasaan gue dan gue cuma bisa melihat lo tersenyum dari jauh. Selama ini gue jadi secret admirer lo. Ya… gue cuma berharap lo mo ngebales surat itu dan semoga lo juga mau ngebales perasaan gue selama ini.” Aku tak tahu harus berkata apalagi. Aku terpaksa jujur mengungkapkan perasaan ini padanya.
Aku kembali melihat wajah Vira. Ia tersenyum saat melihatku yang jadi salah tingkah. Jujur, aku tak tahu apa maksud dari senyumannya itu.

Cerpen Karangan: Fakta Putra B.
Blog: faktajkt.blogspot.com
Penulis bernama lengkap Fakta Putra Buana, tapi sering dipanggil Fakta atau Ata. Asal Jakarta dari keturunan dua orang tua yang Jawa tulen. Lahir 6 hari setelah Valentine. Selama ini hobi nulisnya berawal dari otodidak dan “kenekatan”. Cerpen pertamanya terinspirasi dari cerita-cerita FTV. Selain hobi menulis (mulai dari cerpen, puisi, flash-fiction, bahkan kali ini mencoba untuk menulis novel serial), penulis juga hobi mendengarkan musik (dari era ’60 sampe 2000-an), makan, hangout ke toko buku dan bursa buku Blok M, dan baca buku2 yang disukainya terutama fiksi remaja.
Sekian.

Cerpen 28 Maret merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pria Yang Sangat Ku Cinta

Oleh:
Pagi yang cerah 20 maret 2014, sebut saja nama ku iva, aku memiliki kekasih fodi. Kita berpacaran 15 bulan lebih 7 hari. Awal pertemuan kita 1 desember 2012 saat

Cinta Terpendam

Oleh:
Di malam yang dingin dan gelap sepi benakku melayang pada kisah cintaku, kisah cinta yang tak pernah ku tahu akhirnya. Ku sampaikan semua kegalauan hatiku lagu-lagu yang ku rasa

Antara Cinta dan Kagum

Oleh:
“Pak Mukadis ada gak?” tanyaku pada Ferry, ketua kelas di kelas XI IPA 1. “Pak Mukadis ada, cuma katanya nanti yang masuk bukan dia. Ada PPL dari Untan yang

Cinta Dan Rahasia

Oleh:
Dinda mulai memetik senar gitar…. “Terakhir kutatap mata indahmu Di bawah bintang-bintang Terbelah hatiku antara Cinta dan Rahasia Ku cinta padamu namun, Kau milik sahabatku Dilema hatiku, andai ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *