3G (Gara Gara Genteng)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 29 May 2017

Cermin itu menjadi saksi bisu betapa aku begitu tampan malam ini. Kurapikan sedikit rambut dan kemeja kotak-kotak yang telah melekat di tubuh. Ah sudahlah, diapakan saja aku tetap terlihat tampan. Aku putuskan segera berjalan menuju tempat dimana motorku berdiam diri. Kupasang helm di kepalaku, dan aku segera melaju.

15 menit kemudian, kumatikan mesin dan kusuruh motorku untuk kembali berdiam diri di depan rumah. Ah, kutebarkan terus-menerus senyum lebarku ini. Bagaimana tidak? Di sampingku telah terdapat seorang bidadari yang tampak begitu anggun berbalut sebuah gaun berwarna biru muda. Nasya, nama sang bidadari tersebut. Tiba-tiba, terdengar suara menggelegar berasal dari langit yang tampak tak secerah senyumku kali ini. Sepertinya, langit akan segera menangis, entah mengapa. Apa mungkin ia tak suka melihat aku dengan seorang bidadari? Ah sudahlah, aku tak mempedulikan masalah itu.

Sengaja telah kusuruh pembantuku untuk menyiapkan makanan di atas meja makan. Sebab, ini adalah acara dinner spesial. Meski sederhana, tapi penuh makna. 1 suap, 2 suap, 3 suap, terus terlewati.

Suara itu kembali datang. Hanya saja kini disertai tangisan dari langit. Sepertinya memang benar, langit tak suka melihat aku bersama Nasya. Sungguh sangat benar-benar mengganggu. Tidak akan menjadi masalah apabila ia hanya mengeluarkan suara yang disertai dengan tangisan. Pasalnya, air tangisan itu mulai membanjiri rumahku, melalui lubang atau celah pada setiap bagian retakan genteng yang pecah. Parahnya lagi, air hujan itu menetes di atas meja makan, dan jatuh tepat di hadapan kami. Sungguh sangat mengganggu, bukan? Entah sejak kapan genteng rumahku mulai pecah. Bodohnya, aku lupa memperbaikinya. Percikan tetesan air itu masuk ke piring makanku, membuatku kehilangan nafsu untuk melanjutkan makan. Kutaruh kembali sendok itu di atas piring.

“Kamu tunggu sini!” ucapku pada Nasya.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya padaku.
“Aku mau benerin genteng yang pecah.”.
“Jangan! Masih hujan, terlalu beresiko”.
“Tapi gara-gara genteng itu, dinner kita gagal”.
“Nyawa kamu lebih penting daripada dinner kita malam ini.” ucapnya.

Terdengar suara gemericik lain, mulai membasahi kaki. Bodoh, aku baru ingar bahwa tak hanya 1 genteng yang bocor.

“Yah, banjir. Gimana nih?” tanyaku pada Nasya seraya kuangkat kedua kakiku ke atas kursi.
“Kamu kan cowok, masa takut sama air?”. Nasya bergegas bangkit dari kursinya, berjalan menuju dapur. Aku pun mengikutinya dari belakang. Kuperhatikan apa yang akan ia lakukan. Cerdas. Ia mengambil beberapa baskom dan ember untuk menampung tetesan air tangisan langit itu. Tak salah jika aku memilihnya untuk menjadi calonku. Yang jelas, bukan calon pembantu.

“Kamu tahu? Ada hikmah dibalik semua ini.” tanyanya seusai menangani tetesan air tangisan langit yang tanpa permisi masuk ke rumahku melalui genteng-genteng yang bocor.
“Apa?” tanyaku tanpa mengerti apa maksudnya. Sekedar untuk memperjelas.
“Kita disibukkan menangani air yang masuk ke rumahmu melalui genteng yang bocor, pada saat itulah aku menyadari satu hal tentang kamu.” ucapnya menatapku.
“Apa?” tanyaku kembali penuh penasaran.
“Bahwa kamu…” Nasya menggantungkan kalimatnya, membuatku semakin penasaran.
“Takut sama air.” ucapnya sambil menertawaiku.
“Dasar!”. Nasya berlari dari kejaranku sambil tak berhenti tertawa. Sedangkan langit, masih terus menangis.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Facebook: Elfa Puspita

Cerpen 3G (Gara Gara Genteng) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pangeran Kecilku

Oleh:
“Bangun pagi kuterus mandi… tidak lupa menggosok gigi… abis mandi kutolong ibu… membersihkan tempat tidurku…” Alarm handphoneku berbunyi kencang di telingaku, karena semalam aku lupa mencabut headset dari telingaku

Talk Love

Oleh:
“Albitari Diandra dan Reyhan Andriano.” “What? Nggak mau!” Suara seorang manusia terdengar menggelegar di dalam kelas. Gadis itu tak terima dengan keputusan yang diberikan Bu Anita —wali kelas mereka.

Akhir Kisah

Oleh:
Aku sekarang hanya bisa memperhatikan dia. Dulu kita sedekat nadi, namun sekarang sejauh langit dan bumi. Dia hanyalah objek nyata yang tak bisa kugenggam. Semakin ingin kugenggam, semakin menjauh.

Cinta Yang Abadi

Oleh:
Masih kuingat saat saat aku bersamanya, begitu indah dan begitu romantis. Takkan pernah aku lupakan sampai kapanpun. Meskipun itu sudah sangat lama, 5 tahun yang lalu, namun memory itu

I Like You Like I Like a Lake

Oleh:
Namira menghempaskan tubuh mungilnya ke atas tempat tidur dengan kasarnya. Menumpahkan semua air matanya disana. Kesedihannya memuncak sudah. Sesekali Ia berteriak histeris dengan menutupkan bantal ke wajahnya. Tak terbayangkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *