4th Anniversary

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 16 March 2015

Jihan menatap lembar terakhir kalender duduk yang ada di atas meja kerjanya dengan tatapan bimbang. Ia menghela napas dan tatapannya terpaku pada sebuah tanggal yang diberi tanda hati dengan tinta warna merah.
“Han, kamu nggak balik?” tanya Tiara yang menghampiri meja kerjanya sambil menyampirkan sebuah tas di bahu. Jihan mengangkat kepalanya menatap rekan kerjanya tersebut.
“Iya, ini mau balik kok,” jawab Jihan sambil tersenyum tipis. Tiara mengangguk-angguk mengerti, “Mau balik sama aku nggak? Atau kamu dijemput Aditya?”
Jihan sekilas melirik ponselnya lalu kembali tersenyum, “Terima kasih, Ra. Aku dijemput Adit.”
“Oh, ok deh. Kalau begitu, aku balik duluan ya,” ujar Tiara sambil lalu meninggalkan Jihan yang masih malas bangkit dari kursinya. Ia berbohong. Adit tidak berjanji menjemputnya. Adit bahkan tidak menghubunginya hari ini. Jihan hanya tidak ingin merepotkan Tiara.

Aditya adalah kekasih Jihan selama hampir 4 tahun. Waktu yang cukup bernilai untuk mereka. Jihan masih mengingat bagaimana Adit mengungkapkan perasaannya tepat di malam tahun baru. Di bawah percikan kembang api yang berwarna-warni, Adit mengungkapkan seluruh rasa yang tersimpan selama hampir 1 tahun pendekatan. Saat itu mereka sama-sama duduk di bangku kuliah semester 3 akhir. Yah, waktu memang telah bergulir cukup lama. Kini mereka telah berada di dunia dimana mereka mencoba meniti karir untuk mengejar impian mereka. Waktu memang mampu mengubah.

“Kamu dimana?” tanya Jihan begitu ia berada di café dimana Adit janji untuk datang menemuinya sepulang kerja hari ini.
“Aku sedang dalam perjalanan. Tadi ada liputan mendadak sebentar,” terdengar suara Adit di ponselnya. Jihan melirik arlojinya. 1 jam telah berlalu melewati waktu perjanjian mereka.

Sekitar 15 menit kemudian, Adit datang sambil merapikan rambutnya yang terlihat kacau. Ia menatap Jihan yang telah memasang wajah masam sambil mengaduk-aduk minumannya yang hanya menyisakan sisa-sisa batu es.
“Maaf, aku terlambat,” Adit duduk di hadapan Jihan.
“Lagi,” Jihan menambahkan dengan ketus.
“Ya, tiba-tiba ada liputan mendadak tadi. Terjadi tawuran antar golongan masyarakat di jalan…”
“Aku bisa membacanya di koran terbitan besok,” Jihan masih terdengar ketus membuat Adit kehabisan kata-kata. Ini bukan yang pertama. Pertengkaran ini adalah yang kesekian kalinya.
“Kenapa kita harus terus-menerus bertengkar?”
“Aku juga menanyakan hal yang sama, kenapa kita harus bertengkar lagi? Kenapa kamu selalu terlambat lagi? Kenapa kamu selalu mementingkan pekerjaan daripada aku? Kenapa kamu mulai berubah? Pertanyaan itu terus muncul di pikiranku,” ucap Jihan dengan kesal. ia menanti jawaban Adit yang sepertinya tidak punya jawaban.
Adit mengalihkan tatapannya ke arah lain. Seperti sudah jengah dengan tuntutan atas segala pertanyaan Jihan.
“Kamu ingin bagaimana?” tanya Adit akhirnya. “Apa kamu ingin kita mengakhiri segalanya?”
Jihan terdiam dan menatap Adit tak percaya. Ia tak menyangka Adit akan menawarkan akhir sebagai sebuah solusi.
“Mengapa kamu begitu mudah mengatakannya?” kedua bola mata Jihan mulai berkaca-kaca.
“Aku hanya lelah. Lelah karena kamu tidak pernah mencoba mengerti sedikit pun. Aku lelah selalu mengalah dan menjelaskan,” suara Adit terdengar berat.
“Begitu kah? Hanya sebatas itu?” tanya Jihan masih tak percaya dengan penuturan Adit. Mereka saling berdiam diri bertahan dengan ego masing-masing. Adit menghela napas berat dan menyerahkan keputusan pada gadis itu.
Jihan membuang wajah ke arah lain. Tanpa terasa air matanya meluncur begitu saja membasahi pipi. Beberapa kali Jihan mencoba menyekanya sendiri. Adit tak tahan melihat gadis itu menangis. Akhirnya, ia harus mengalah lagi.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud sama sekali. Aku hanya merasa begitu lelah dengan keadaan kita. Aku hanya ingin mencoba kamu mengerti dengan kehidupan aku.”
Jihan masih tak mau menatap Adit. Ia meraih tas tangannya dan berjalan meninggalkan pria itu. Ia berjalan dengan langkah lebar dan bergegas, meninggalkan Adit yang menyusulnya.
Dengan cepat, Jihan menyetop sebuah taksi dan pergi. Adit hanya menatap sisa bayang-bayang Jihan sambil mengutuk dirinya sendiri atas kebodohannya.
Sedangkan Jihan masih menangisi perkataan Adit. Bukan itu solusi yang ingin ia dengar dari pria yang sudah dipercayainya sebagai jodoh yang dikirim tuhan untuknya. Ia ingin Adit sedikit lebih memedulikannya.
Jihan sadar, hubungannya dengan Adit sedang dalam masa kritis. Hanya menanti siapa yang akan mengakhiri duluan dan siapa yang akhirnya memutuskan.

Seperti biasa, Adit selalu lupa. Pekerjaannya sebagai jurnalis seakan mampu menyita seluruh waktunya.
“Dalam satu hari kamu memiliki 24 jam, 1440 menit, 86400 detik. Tidak bisakah kau luangkan 1 jam untuk menemuiku? 1 menit untuk menanyakan keadaanku? Atau, 1 detik hanya untuk sekedar mengingatku?” tanya Jihan di suatu sore.
Adit terdiam. Karena ada deadline liputan, ia nyaris tidak menghubungi Jihan dalam 2 hari. Kekesalan Jihan sampai pada puncaknya. Ia mendatangi tempat kerja Adit dan menunggu untuk bertemu dengannya.
“Aku juga merasa lelah dengan hubungan kita. Sekarang semua terserah kepadamu. 4 hari lagi adalah tanggal 31 Desember. Pada malam tahun baru, akan menjadi tahun keempat kita bersama. Aku tidak tahu, apakah ada 4th anniversary atau tidak. Sampai tiba pada tanggal itu, mari kita untuk tidak saling berkomunikasi. Mari kita sama-sama berpikir tentang perasaan kita masing-masing,” ujar Jihan dengan menahan emosinya.
“Cemara Asri. Tempat itu akan menentukan arti 4th anniversary itu. Jika harapan itu masih ada, mungkin kita akan bertemu di sana. Namun, jika tidak. Itu artinya salah satu ataupun kita berdua telah menyerah pada waktu,” lanjutnya.
Jihan melangkah pergi meninggalkan adit yang masih tak paham sepenuhnya apa keinginan Jihan. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Pada malam tahun baru kali ini ia harus meliput acara tahun baru yang diselenggarakan walikota di Lapangan Merdeka Medan. Seketika, ia dihadapkan pada sebuah keputusan berat.

“Han, mama kok akhir-akhir ini jarang sekali lihat Adit datang ke rumah?” tanya mama Jihan yang melihat putrinya sedang duduk menonton televisi di ruang keluarga.
Jihan pun segera menoleh, menatap mamanya dengan bimbang. “Adit sedang sibuk dengan pekerjaannya, Ma,” jawab Jihan akhirnya dengan lirih.
“Oh, begitu. Mama kira kalian sudah tidak berpacaran lagi atau mungkin sedang bertengkar.”
Seolah bisa membaca raut wajah putrinya, mama Jihan segera melanjutkan kata-katanya. “Jika dia begitu sibuk, maka kamu yang harus lebih memerhatikannya. Seperti papamu, jika sudah terlalu serius dengan pekerjaannya, jangankan mengingat mama, untuk ingat makan saja pun ia lupa.”
Jihan terdiam sesaat karena merasa mamanya mampu mengetahui apa yang sedang terjadi sekarang. Ia tak banyak komentar, membiarkan mamanya mengatakan apa yang seharusnya ia lakukan.
“Jika dia lupa untuk peduli dan kamu juga terlalu gengsi untuk peduli maka yang ada hanyalah kekosongan. Cinta bukan hanya tentang bagaimana kamu memulai, tapi bagaimana kamu bertahan dan mempertahankan.”
Dada Jihan terasa begitu lega mendengar kata-kata mamanya. Ia seakan mendapat sebuah renungan. Sekarang ia hanya perlu berpikir dengan jernih, apakah ia masih bisa bertahan dan mampu mempertahankan?

Tepat tanggal 31 Desember, Jihan duduk di sebuah kafe untuk mengisi sore harinya sepulang kerja. Kafe itu adalah kafe dimana ia biasa menghabiskan waktu bersama Adit berdua. Begitu banyak cerita yang mengalir di sana.

Jihan memilih meja paling pinggir di dekat kaca jendela yang berbatas dengan jalanan kaki lima depan kafe. Dengan secangkir espresso hangat, Rachel menggerakkan jari telunjuknya di layar ponsel yang kini sedang menampilkan beberapa foto yang merekam jejak kenangan di antara ia dan Adit. Oh, Jihan benar-benar merindukan masa-masa itu.
Ia masih ingat dengan jelas, bagaimana pertama kali ia bertemu Adit di sebuah acara kampus. Saat itu Adit masih bergabung dalam sebuah komunitas jurnalis kampus. Jihan dan Adit memang satu kampus, namun berbeda jurusan. Adit adalah mahasiswa ilmu komunikasi, sedangkan Rachel sendiri mahasiswi akutansi.
Adit adalah kekasih pertama Jihan dan selalu berharap menjadi yang terakhir juga. Begitu banyak impian yang telah mereka rajut bersama.
Namun, sekarang Jihan duduk sendiri sambil memikirkan keputusan yang akan diambilnya kelak. Segala memori tentang kebersamaannya dengan Adit muncul begitu saja bagai potongan film.
Jihan menyesap minumannya lalu memandang langit sore itu melalui jendela café. Mendung, seakan menggambarkan perasaan Jihan saat ini.
“Apakah kita masih bisa terus bersama? Langit bahkan tak berpihak pada kita,” ujar Jihan pelan sambil menyesap kembali cangkir kopinya.

“Dit, kamu sudah berada di Lapangan Merdeka kan?” tanya Jaka, senior Adit di media cetak tempatnya.
“Ya, bang. Bentar lagi aku sampai di sana,” jawab Adit kemudian mengakhiri pembicaraannya. Ia menatap ponselnya dengan tampang bimbang. Kurang dari 5 jam lagi, tahun akan berganti. Selama 3 tahun terakhir, ia selalu melewati moment pada tanggal yang sama bersama Jihan.
Namun, tahun ini ia malah berdiri di pinggiran ruko jalanan kota Medan untuk berteduh dari guyuran hujan yang turun dengan derasnya seorang diri. Adit kembali menghela napas.
Ia marah pada Jihan yang tidak pernah mau mengerti bahwa mereka sekarang sudah memasuki fase dewasa. Ia harus bekerja untuk memberikan kehidupan yang baik kelak kepada Jihan, tapi mengapa gadis itu masih tak mau memahaminya.

Adit merapatkan jaketnya untuk menepis rasa dingin yang menerpa. Pandanganya teralih oleh dua orang yang juga sedang berteduh di pelataran ruko tersebut. Pria dan wanita itu terlihat seperti sepasang kekasih. Pria tersebut melepas jaketnya dan memberikannya pada wanita yang ada di sisinya. Mereka lalu asyik bercerita, mengabaikan Adit yang mematung di sana.
Adit hanya menelan rasa pahit di kerongkongannya. Ia tak ingat kapan terakhir kali melakukan hal itu pada Jihan. Ia tak ingat kapan terakhir kali bercerita panjang lebar dengan gadis itu.
“Aku harus bagaimana Jihan? Aku harus bertindak apa? Apa kita harus mengakhirinya begitu saja?” ujarnya dalam hati lalu menunduk. “Tidak, Jihan. Aku tidak mau.”
Adit segera kembali mengendari sepeda motornya menembus hujan. Ia melaju ke Lapangan Merdeka dimana ia harus mendapatkan berita malam itu.

Lapangan Merdeka yang juga dikenal dengan Merdeka Walk merupakan kawasan muda-mudi kota Medan yang malam itu dipenuhi sesak oleh pengunjung meskipun hujan tengah turun.
Walikota yang dijadwalkan akan hadir pukul 8 tak kunjung datang meski jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Adit memperhatikan arlojinya dengan kesal.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Adit. Seorang wanita berambut pendek tersenyum lebar, “Dit, kamu ngeliput di sini?”
“Iya,” jawabnya pada Dhea yang adalah rekan kerjanya sesama jurnalis.
“Loh, kamu ngeliput di sini juga?”
“Ah, nggak. Aku udah selesai ngeliput tadi. Jadi, sekedar main-main aja di sini bareng temen,”
Adit berpikir sejenak lalu segera menatap Dhea penuh harap. “Dhe, please bantu aku kali ini aja. Bisa nggak gantiin aku ngeliput acara malam tahun baru bersama Bapak Walikota,”
Dhea memandang Adit tidak yakin. “Sebenarnya, aku sih mau bantu kamu, Dit. Tapi…” kata-kata Dhea terpotong.
“Mungkin kamu bakal bilang aku nggak professional jika aku menjelaskan alasannya, tapi ini benar-benar penting buat aku, Dhe.”
Dhea menimbang-nimbang permohonan Adit. “Tapi, bagaimana kalau bang Jaka marah, Dit?”
“Aku yang akan menjelaskannya nanti pada dia, Dhe. Kamu mau kan bantu aku?”
Akhirnya Dhea mengangguk. “Ok, Dit. No problem.”
“Thank you, Dhe udah mau bantu aku.”
“That’s friend are for,” ujar Dhea sambil tersenyum. Adit pun segera bergegas meninggalkan Lapangan Merdeka menuju Komplek Cemara Asri yang memang selalu ramai saat hari-hari besar terutama perayaan tahun baru.

Hujan yang sempat mengguyur kota Medan perlahan-lahan mereda. Namun, kemacetan parah tak bisa terhindari. Sebagian besar orang dengan kendaraannya ingin melewati tahun baru dengan berjalan-jalan dan menambah kepadatan jalan raya.
Adit melirik arlojinya lagi dari balik helmnya. Di dalam hati ia merasa was-was. “Akankah Jihan berada di sana? Masihkan Jihan ingin melewati tahun baru itu dengannya?” tanyanya dalam hati.
Adit menyadari hal itu dalam hati. Ia memang sulit meluangkan waktu untuk Jihan akhir-akhir ini. Ia mengira hal itu bukan masalah dan berharap Jihan mau memahaminya. Namun, ia mulai merasa, ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada kehilangan sebuah pekerjaan yaitu kehilangan orang yang dicintainya.

Jihan berjalan menelusuri pelataran ruko yang kebanyakan membuka rumah makan seafood di kanan dan kiri. Hujan perlahan mulai reda. Para pemilik rumah-rumah makan seafood itu mulai kembali merapikan susunan meja-meja mereka untuk menyambut para pengunjung yang tampak memilih-milih tempat makan.
Puluhan orang memilih berjalan kaki dan memarkirkan mobil-mobil mereka di sepajang jalan boulevard tersebut. Ya, Komplek Cemara Asri seakan telah menjadi sebuah kota sendiri dengan berbagai fasilitas yang mereka punya. Pertunjukkan Barongsai yang sudah menjadi tradisi di setiap perayaan hari-hari besar yang bukan hanya imlek juga ikut meramaikan suasana.
Tujuan utama para pengunjung adalah sebuah taman di tengah-tengah komplek yang sangat luas. Dari sanalah muncul puluhan kembang api yang mulai perlahan-lahan menghiasi langit.

4 tahun lalu, Jihan mengujungi tempat yang sama bersama Adit yang masih berstatus teman. Dan di bawah percikan cantik bunga api itu, Adit mengungkapkan perasaannya.
Rasanya baru kemarin semua itu terjadi. Kebersamaan itu, rasa berdebar-debar itu, rasa malu-malu itu, semuanya terasa baru saja terjadi kemarin.
Namun, kini Jihan malah berjalan seorang diri. Menanti dengan cemas, apakah Adit memutuskan hal yang sama dengannya, memilih untuk bertahan dan mempertahankan? Ataukah Adit malah memilih untuk menyerah, melepaskan hati Jihan yang telah ia perjuangkan dulu? Jihan mulai takut dengan pemikirannya sendiri.
Ia duduk di sebuah bangku, memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Beberapa pasangan membuat hatinya miris. Beberapa kembang api yang meluncur ke langit tak mampu mengindahkan malam itu bagi Jihan. Hanya ada satu orang yang bisa membuat malam itu sempurna, “Adit, I wish you were here.”

Adit mengklakson kendaraan di depannya tak sabar. Begitu banyak kendaraan yang berlomba masuk ke komplek Cemara Asri membuat jalanan bertambah padat merayap. Untuk kesekian kalinya, Adit melirik arlojinya. 15 menit lagi menjelang pergantian tahun. Dengan mencoba sabar, Adit terus mengikuti kepadatan kendaraan tersebut.
Akhirnya, Adit tiba di parkiran sepeda-sepeda motor. Setelah memarkirkan sepeda motornya, Adit berlari menuju pusat taman yang masih sekitar 500 meter lagi. Deru-deruan terompet, letusan kembang api di langit, teriakan riuh orang-orang yang mulai bersiap menghitung mundur tahun baru, mengiringi langkah Adit yang tengah berlari mencari kekasih hatinya.
“5 menit,”
“4 menit,”
“3 menit lagi,”
Adit mengedarkan pandangannya di antara ratusan manusia yang memenuhi taman berdiameter kurang lebih 300 meter tersebut mencari sesosok gadis.
“10… 9… 8…” deruan suara orang-orang yang telah menghitung mundur setiap detik menuju tahun baru.
“7… 6… 5… 4… 3… 2… 1… Selamat tahun baru…”
Adit menatap langit dengan dengan pasrah. Langit malam itu sangat indah. Kegelapannya terkalahkan oleh perpaduan warna percikan kembang api. Andai saja, ia bisa melihatnya bersama Jihan yang sangat menyukai kembang api.

Adit mengalihkan pandangannya dan mulai memutar tubuhnya untuk melihat ke sekelilingnya. Dan, tak jauh darinya, di antara orang-orang yang bersorai-sorai meluapkan kegembiraan, Adit melihat sesosok gadis yang berdiri sambil memejamkan matanya. Tidak bersorai seperti yang lainnya.
“Jihan,” sebut Adit dengan perasaan sedikit lega. Ia segera melewati beberapa orang yang menghalangi jalannya dengan cepat. Gadis itu hanya tinggal beberapa langkah darinya.
“Jihan,” sebutnya lagi di hadapan gadis yang masih memejamkan matanya.

Tepat di saat hitungan mundur tahun baru mendekati angkat 1 tadi, Jihan yang tengah pasrah menanti kedatangan Adit segera memejamkan kedua matanya. Ia melewatkan pesta kembang api yang yang menari indah di langit. Ia tak mau melihatnya sama sekali.
Kini dalam kegelapan, Jihan mendengar suara pria itu menyebut namanya. Jihan sempat ragu untuk membuka matanya. Bagaimana jika saat ia membuka kedua matanya, ia hanya mendapati Adit tidak ada di hadapannya? Bagaimana kalau suara itu hanya khayalan atas kerinduannya saja?
“Happy 4th anniversary, Jihan,” bisik Adit dan akhirnya membuat gadis itu membuka matanya.
“Adit,” ujar Jihan hampir menangis saat melihat pria itu tersenyum di hadapannya. Senyuman yang begitu ia rindukan.
“Maafkan aku, selama ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan mengabaikanmu. Aku sadar tindakanku tidak benar. Aku terlalu egois. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu, Jihan. Perasaanku padamu takkan berubah sedikit pun. Aku masih mencintaimu sama seperti pertama kali bertemu.”
Bulir-bulir air mata Jihan meleleh begitu saja. Ia segera memeluk Adit begitu erat. “Adit, I miss you. Aku janji akan menjadi yang terbaik untukmu.”
Mereka saling merangkul cukup lama dengan doa dan harapan di dalam hati mereka masing-masing. Namun, dengan nada doa yang sama, berharap tahun-tahun berikutnya untuk tetap bersama.
“Ini bukan akhir, ini adalah awal. Awal untuk impian bersama yang lebih besar lagi. bersamamu,” ujar Adit.

Akhirnya mereka menikmati sisa-sisa kembang api di langit sambil memandangi danau burung yang masih berada di tempat yang sama. Ratusan burung bangau berwarna putih yang berkumpul di daratan-daratan kecil di atas danau terlihat begitu indah seperti kapas.
Adit dan Jihan berbagi cerita berdua. Tentang impian dan masa depan.
“Oh, ya,” ucap Adit di sela-sela pembicaraan mereka. Jihan memandang Adit ingin tahu apa yang akan dikatannya pria itu.
“Kenapa kamu terlihat memejamkan mata saat pesta kembang api tadi, bukannya kamu sangat menyukai kembang api?” tanya Adit.
Jihan tersenyum lembut membiarkan Adit menanti jawabannya dengan penuh penasaran.
“Karena aku ingin, kamu menjadi yang pertama aku lihat di tahun baru ini, bukannya kembang api,” ujar Jihan tersipu.
Adit segera tersenyum lebar sambil mencubit pipi Jihan, “Bagaimana kalau aku tidak datang tadi, pasti orang-orang mengira kamu tertidur.”
“Karena aku percaya kamu pasti datang, walaupun harus terlambat lagi.” Jihan menyandarkan kepalanya di bahu Adit dengan nyaman.

Cerpen Karangan: Irna Junita
Blog: irnajo.blogspot.com

Cerpen 4th Anniversary merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Stella

Oleh:
“Buta ya?!” cerca Stella seketika saat dirinya terhuyun ke belakang dan hampir ambruk. Untung nya sang penabrak segera menarik lengannya. Setengah berpelukan pun tidak terhindari. Stella menyadari tubuhnya sangat

Presentasi Air Soda

Oleh:
Suara lonceng di ambang pintu itu selalu menjadi melodi yang menyisir semangatku. Saat pertama kali ku buka pintu itu, gemercik lonceng nan manis itu menyapaku dengan lembut. Seperti ucapan

Love Story Anak Indigo

Oleh:
Sewaktu aku duduk di kelas 2 suatu SMPN di kota bandung. Aku mengenal seorang cewek bernama Alin, dia itu cantik dan tau apa yang sedang aku rasakan beda dengan

Friend and Boyfriend (Part 4)

Oleh:
Teett…. teeet… Bel istirahat pun berbunyi. Pagi ini Hani tidak pergi ke apartemen Levin. Ia merasa canggung dengan sikap Levin kemarin. Hani melihat ke arah jam. Sudah jam sembilan.

Arini

Oleh:
Semilir angin berhembus menyebabkan daun-daun kering berjatuhan. Di kursi taman ini aku menikmati sejuknya. Di sini pula aku pertama kali berjumpa dengannya 8 tahun lalu. Masih ku ingat senyuman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *