A Cup Of Longing Please! (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Islami, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 1 March 2018

Kuhirup secangkir moccachino pertamaku. Aromanya yang wangi membiusku agar terjaga sore ini. Sekedar melepas penat usai bekerja di kantor seharian, ditambah persiapan ujian di kampus besok. Kupikir mampir di Coffee House bukan ide yang buruk. Apalagi ini kafe favoritku sejak aku lulus dari S1 dan pindah ke kota ini untuk kuliah S2 sambil bekerja.
Yah, mungkin kalian pikir ini salah satu bentuk pelarianku akibat kegagalan dalam percintaan di masa laluku atau yang lain. Tapi tidak demikian! Justru aku jadi suka pergi ke tempat baru, kecanduan kopi, dan serasa punya energi yang berlipat akibat rasa rinduku pada seseorang yang dulunya pernah mengisi sebuah ruangan istimewa di hatiku. Dia sudah pergi melanjutkan kisahnya tanpaku, menuju kehidupan bahagia yang lain.

Tapi jangan berpikir bahwa aku bisa melupakan perasaanku padanya dengan mudah. Bahkan sebenarnya aku masih menyimpan rapi perasaan itu di salah satu sudut hati kecilku. Kalian mengerti, apa artinya itu? Aku belum bisa move on.
Bukan karena tak ada orang lain yang hadir di hidupku. Atau karena aku trauma jatuh cinta lagi. Bahkan karena aku pindah haluan orientasi s*ksual karena patah hati. Bukan. Sekali lagi bukan.
Bahkan pintu hatiku masih terbuka untuk hadirnya cinta yang baru. Aku masih menunggu datangnya cinta yang baru, sambil memberi ruang pada cinta terakhirku di masa lalu. Bolehkah aku menggandeng tanganmu dan mengajakmu untuk menjelajahi dimensi ruang dan waktu, menuju kumpulan kenangan masa laluku yang tersimpan rapi?

Tujuh tahun lalu, saat aku masih kelas dua SMU. Masih terukir jelas dalam benakku tiap kejadian yang kualami sepanjang hari itu. Termasuk di satu malam yang dingin, saat aroma hujan masih tercium jelas menyelimuti bumi bagian timur.
Dari lantai dua gedung sekolah, aku melihat gadis berjilbab lebar dengan ransel coklat berlari melewati lapangan sekolah yang sepi. Di tangannya, ada sebuah cangkir sedang merah muda dengan tutup yang ditekan ibu jarinya. Aku tahu ia menuju ke mana. Kumpulan bangku panjang yang berjejer rapi menghadap akuarium mungil di dekat ruang guru, yang menunggu kehadirannya.

Biasanya ia akan duduk sambil menulis atau membaca buku. Sesekali ia bermain dengan ikan-ikan hias di akuarium, sekedar membunuh waktu sambil menunggu guru tentornya datang. Ia memang sering belajar sendirian, tapi dia nampak begitu menikmati rutinitasnya.
Sesekali aku ingin belajar bersamanya, karena ingin melihat dari dekat ekspresi riangnya saat belajar. Jarang kulihat ia murung atau marah, apalagi sampai meledak-ledak. Seolah dia tercipta dari tawa dan hidupnya hanya untuk apa yang disebut bahagia. Dia seperti tokoh peri cantik tak bersayap.

Setelah puas mengamatinya, kutarik napasku dalam-dalam. Bergegas aku berlari menuruni tangga, menuju ke arahnya tanpa berusaha agar ia menyadari kesengajaanku. Kulihat gadis itu duduk dengan anggun di depan akuarium sembari membaca novel. Aku tersenyum dan melambatkan langkahku sebelum benar-benar sampai di dekatnya.
“Disa!” aku berusaha memasang senyum termanisku. Gadis itu menoleh dan menatapku datar, lalu balas tersenyum dan mengangguk. Itu caranya menjawab sapaan dari lawan jenis. Kuhampiri dia sekedar untuk berbasa-basi.

“Hari ini les apa?” tanyaku sambil melirik buku di genggamannya, The Man. “Matematika,” jawabannya yang bernada datar membuatku mengangguk. Kucoba membangun percakapan lebih lanjut, tapi aku tak bisa menemukan topik yang menarik. Jadi kutunjuk cangkirnya dan berkata, “Itu kopi?” Maksudku berbasa-basi, tapi tak lama kemudian aku menyesal menanyakan hal yang sudah kutahu.
Disa menyambut pertanyaanku dengan nada datar, “White-Frappe.”

Mendengarnya menyahutiku tanpa merasa terusik dengan pertanyaan bodohku, aku merasa lega dan melanjutkan bertanya dengan nada yang lebih santai, “Kau selalu minum kopi tiap malam, ya?”
“Tidak juga. Hanya jika aku membutuhkannya,” sahutnya lagi. “Kenapa begitu?” tanyaku. “Karena aku tidak ingin kecanduan kopi,” sahutnya. “Benarkah? Apa rasa kopi favoritmu?” aku terus mencoba membuatnya bicara lebih banyak.
Disa tertegun dengan pertanyaanku barusan. “Aku… hanya suka rasa dan aroma kopi yang enak. Itu selalu berhasil mengurangi rasa kantukku. Jadi kurasa tak ada yang benar-benar favorit,” sahutnya kemudian. “Apa tak satupun?” kejarku.
Disa memiringkan kepalanya dan menoleh ke arah lain, tengah mengingat-ingat sebuah informasi yang tampak amat penting.

Beberapa saat kemudian Disa menyahut, “Kurasa moccachino adalah rasa favoritku,”. Aku tersenyum dan mengangguk paham.
“Ah, guruku sudah datang!” sentaknya tiba-tiba sambil menunjuk ke arah parkiran. Aku refleks menoleh dan mendapati seorang wanita kurus berkacamata yang tersenyum sambil berjalan ke arah kami. Disa buru-buru membereskan barang-barangnya dan memakai ranselnya. Sambil mengangkat cangkir kopinya, ia tersenyum dan berpamitan padaku, “Aku pergi dulu. Assalamualaikum.”
Lalu ia berjalan menuju guru privatnya, meninggalkanku yang diam-diam tersenyum sambil memasukkan tangan ke dalam saku jaket. Aku pun berlalu setelah menjawab salamnya pelan, tanpa menunggunya melewatiku.

Di kepalaku, terngiang percakapan kami malam itu. Disa menyukai kopi karena membutuhkannya agar tetap terjaga. Kami makin dekat sejak peristiwa itu. Kami makin sering ngobrol tentang berbagai hal, kecuali yang menyangkut hal-hal pribadi. Meskipun kami tidak ngobrol saat berdua saja di suatu tempat dalam durasi yang cukup lama, karena Disa merasa risih.
Dengan pendekatan seperti itu, harusnya mudah bila ingin menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Tapi prinsip Disa, ia tak mau dalam hidupnya punya sejarah berpacaran sebelum menikah. Hal itu membuatku menahan diri untuk tidak menyatakan perasaanku padanya. Tidak hingga suatu hari nanti waktu yang tepat akan tiba.

Bila bunga-bunga cinta yang bermekaran dalam hatiku masih dapat kurawat baik-baik dan terus menebarkan wanginya hingga sudah waktunya dipetik dan dipersembahkan kepada sang bidadari terindah, maka akan kujaga kemurnian cinta ini untuk wanita yang membawa separuh jiwaku. Entah di mana wanita itu, tapi aku yakin akan bertemu dengannya suatu hari nanti.

Dan hampir tiap malam aku menyapa gadis berjilbab lebar itu di dekat gerbang sekolahku. Entah apa gadis itu menyadari kesengajaanku berlalu ke arahnya, atau melewati jalur yang di sana terdapat dirinya yang menunggu guru privatnya.

Hingga suatu hari, aku menyadari ada yang berbeda dari dirinya. Bukan perbedaan mencolok. Hanya sikapnya yang agak asing dalam ingatanku. Bila biasanya Disa yang kukenal adalah Disa yang hanya mengangguk kecil saat disapa oleh lawan jenis dan enggan menyapa terlebih dahulu pada lawan jenis, kali ini adalah berbeda sama sekali.
Beberapa kali dia menyapa aku dan teman-temanku. Bila disapa siapapun, dia tak lagi sekedar mengangguk kecil. Tak jarang dia membalas sapaan kami dengan menyebut nama kami.
Biasanya Disa datang tepat waktu bahkan jauh sebelum jam bimbelnya dimulai, tapi kini dia sering datang terlambat. Bukan untuk membuat kopi, tapi untuk tampil cantik di luar jam sekolah. Aku menatapnya ngeri. Bagiku Disa lebih cantik dengan tampilan alaminya, tanpa make up ataupun kain yang melilit tak karuan di kepalanya itu.
Tampilan ala hijaber modis seperti itu malah membuat peri kesayanganku tampak mencolok dan ribet. Itu bukan seperti Disa yang kukenal ceria dan apa adanya. Aku merasa asing melihatnya dan mulai jarang ngobrol dengannya. Terlalu kaget bagiku melihat perubahannya.

Berhari-hari aku memikirkan penyebab berubahnya peri kesayanganku. Aku sering melamun, lupa makan, insomnia, bahkan sulit berkonsentrasi pada kegiatanku. Dan akibat rasa sayangku yang terlalu dalam pada Disa, aku jatuh sakit sampai berhari-hari. Aku yang selama ini tinggal di asrama dan tak pernah sakit separah ini, hampir diajak pulang oleh orangtuaku, karena dikira homesick.
Tapi aku menolak untuk pulang, karena aku yakin bisa sembuh bila sudah menemukan jawaban atas kegelisahanku. Dan doaku terjawab, ternyata Disa jatuh cinta pada seseorang. Dia menceritakan padaku tentang bagaimana dia bisa jatuh cinta pada pria itu.

Suatu senja, saat aku sudah merasa lebih baik, aku hadir dalam pembelajaran rutin di asramaku. Disa melihatku dan memberi isyarat padaku bahwa ada yang ingin dia katakan padaku malam ini, usai sholat Isya’. Aku mengangguk dan menunggu tiap detik menjelang pertemuan kami dengan hati berdebar tanpa henti. Pikiranku nyaris kacau lagi, namun aku segera merapikannya dan menata tiap degup agar berirama sewajarnya.

Sesuai waktu yang ditentukan, kami bertemu di gazebo dekat gerbang asrama putri. Disaksikan rembulan yang tersenyum tipis dan beberapa serangga yang enggan menunjukkan rupanya, kami ngobrol di sana. Tidak hanya berdua, masih ada beberapa orang yang duduk-duduk di dekat gazebo. Sesaat, tak ada satupun dari kami yang memulai pembicaraan.
Hingga akhirnya Disa berdehem dan bertanya, “Apa kabar kamu? Udah sehat?” Aku menoleh demi mendengar pertanyaannya. Disa menanyakan keadaanku? Tak seperti biasanya. Tapi kujawab juga, “Baik. Kamu sendiri apa kabar? Kayaknya, sejak kemarin-kemarin sebelum aku sakit sampai sekarang, ada sesuatu yang beda dari kamu. Ada apaan nih?”
Disa menatapku bingung, “Beda gimana? Emang aku berubah jadi apa?” Aku tersenyum tipis dan menunjuk kepalanya, lalu menyentuh kepalaku. Disa menyentuh jilbabnya dan bertanya polos, “Hijab ini?” Kujawab dengan anggukan sembari tersenyum tipis, lalu berganti memandang lapangan sekolah di depan mataku. Membiarkan Disa memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya.

“Aku… Apa aku tampak aneh? Ini kan lagi nge-trend?” terdengar nada keraguan dalam suaranya. Aku mengangkat bahu dan balik bertanya, “Menurutmu? Kalo aku sih, jadi merasa kamu kelihatan beda,”. Disa menggigit bibirnya dan menyahut pelan, “Aku… aku juga tidak terlalu menyukai hijab ini. Aku kurang nyaman memakainya setiap saat. Tapi aku harus melakukan ini.”
“Kalau kau tidak merasa nyaman memakainya, lalu kenapa kau masih memakainya? Kau kan terbiasa dengan jilbab lebarmu?” tanyaku sambil memandang sandal gunungnya. Peri kesayanganku menggigiti bibirnya, lalu menyahut lirih, “Aku malu mengatakannya. Tapi sebenarnya, aku sedang jatuh cinta pada seseorang.”
Deg! Sebuah pukulan halus dan samar terasa mengetuk sanubariku. Peri kesayanganku jatuh cinta pada seseorang dan selama ini aku tidak peka akan hal itu. Bagaimana bisa?

“Pada siapa?” tanyaku ragu-ragu. Disa tersipu dan menyahut malu-malu bak gadis dipinang pria pujaannya, “Kau mengenalnya, dia teman sekelas kita.”
Mataku membelalak kaget. “Boleh kutahu siapa namanya?” tanyaku hati-hati. Disa meng-geleng perlahan dan menyahut tegas, “Kau harus berjanji takkan memberitahukan pada siapapun.”
Aku mengangguk mantap dan menyahut antusias, “Siapa dia? Mungkin aku bisa membantumu lebih dekat dengannya,”. Disa menatapku ragu, lalu menyahut, “Abdullah,”. Aku terpana sesaat mendengar jawabannya.

“Kenapa kau menyukainya?” tanyaku lirih, tanpa ber-harap dia akan sadar bahwa aku memendam perasaan padanya. Entahlah, tiba-tiba terbersit perasaan menyesal karena aku menanyakan hal itu.
“Aku menyukai sikapnya yang sopan, rajin, alim, dan menjaga pandangan. Kurasa dia tipe suami idaman, meski aku belum memikirkan pernikahan sama sekali. Tapi bila membayangkan persaingan ketat yang akan terjadi bila aku mengejarnya sudah cukup membuatku ngeri. Aku memutuskan untuk jadi penggemar rahasianya saja,” celotehnya malu-malu.
Aku terpana mendengarnya bercerita padaku. Terpana oleh semangat dan ekspresi riangnya yang kurindukan sejak aku sakit. Aku hampir melupakan hatiku yang terasa perih oleh kenyataan.

Aku sadar, pria yang dicintai Disa tak sebanding denganku. Aku tak sehebat Abdullah, pria yang mempesona dengan kesholehannya. Ya, Abdullah adalah teman sekelas kami yang terkenal karena kesholehannya. Tapi setidaknya, Disa tidak membenciku. Tanpa sadar, aku tersenyum.
“Kau mengerti kan?” tanya Disa tanpa memandangku. Tapi kemudian gadis itu menoleh ke arahku. Agaknya dia sadar bahwa aku tak benar-benar fokus mendengarkannya. “Apa kau… mendengarkanku dari tadi atau sedang memikirkan hal lain?” lanjut Disa hati-hati.
Aku menyahut cepat, “Iya, aku mengerti. Ngomong-ngomong, apa hubungannya kamu jatuh cinta dengan kain yang melilit di kepalamu itu? Apa namanya… hijab modern, ya?” Disa menarik-narik kain yang menutupi sebagian besar kepalanya itu lagi dan mengangguk pelan. Peri kesayanganku itu mengubah posisi duduknya lalu menjawab, “Well, ini karena teman-teman sekamarku bilang aku harus show off dan berdandan seperti ini agar Abdullah bisa melihatku dan…”

Aku segera memotong, “Tapi kamu bilang ingin jadi penggemar rahasianya? Kenapa malah show off?” Disa tampak ragu mendengarku, seperti tersentak sesuatu dalam pikirannya. Kemudian dia melanjutkan, “Iya, kamu benar. Jadi aku harus gimana?” “Nggak usah pake hijab trendi kayak gini. Kamu malah kelihatan mencolok dan bikin orang bertanya-tanya tentang perubahan style fashion kamu. Be yourself and don’t make it over. Ok?” ujarku.
Disa mengangguk dan tersenyum manis. Sekali lagi aku terpana dan spontan berkata, “Kamu lebih cantik dengan jilbab lebarmu. Aku yakin Abdullah lebih menyukai Disa yang ceria dan tampil apa adanya, bukan Disa yang ikut-ikutan trend tanpa berpikir dua kali.”
Disa membelalakkan matanya dan menahan napas mendengarku. Senyumnya menghilang seketika oleh kata-kataku yang entah mengandung sihir apa. Aku buru-buru menutup mulutku dan mengalihkan pandanganku dari Disa.

Itu tak sengaja, sungguh. Kata-kata itu memang sudah lama mengendap di hatiku sejak kali pertama aku melihat Disa dengan penampilan barunya. Tapi aku tak menyangka akan meluncur begitu saja dari mulutku. Kembali aku menyesali perbuatanku yang spontan itu. Pelan-pelan, aku memandang Disa lagi dan melihat ekspresinya.

Cerpen Karangan: Rizukiya
Facebook: Nova Barik Rizqiya
Hai!
Nama saya Rizukiya, panggil saja Rie-chan. Saya lahir pada hari Sumpah Pemuda. Saya berasal dari Jawa Timur dan saat ini sedang menjalani pendidikan S1 di salah satu kampus di Malang. Sekian dan terima kasih :).

Cerpen A Cup Of Longing Please! (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Ingkar

Oleh:
Seperti jalan yang tak berujung.. Seperti ruang yang tak ada celah.. Aku menyusuri setiap jalan yang jejaknya kutinggalkan. Mencari dimensi yang pernah kau katakan. Fiksi yang kau ceritakan seperti

Biksah Bersama Ilham

Oleh:
“Fel, gue boleh nanya sesuatu nggak?,” tanya Bram dengan hati-hati di tengah latihan mereka untuk mempersiapkan turnamen nasional band terbaik. Felly mengangguk. Tetap memetik senar gitar dan melihat partitur

Nasi Goreng Plus Plus (Part 1)

Oleh:
“Woyyy, ngapain loe ngelamun di pinggir danau siang bolong kaya gini, kesambet baru tau rasa loe, hahaha”, teriak seseorang tepat di lubang kuping gue. “Ehh Kampret, bikin kaget orang

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
“Tunggu Yu…” Tian memanggilku dari kejauhan. “Ayo cepet, nanti telat” jawabku sambil nafas terengah engah Karena berlarian. “untung aja kurang 2 menit kita udah ada di sekolahan.” Kata Tian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *