A Cup Of Longing Please! (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Islami, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 1 March 2018

“Jadi ini salah?” ucap Disa sambil memandang kain yang menggantikan posisi jilbab lebarnya dulu. Ada nada sedih dalam suara lirihnya. Segera aku menyahut, “Bukan salah. Hanya saja kau lebih cantik dengan jilbab lebarmu. Menurutku sebaiknya kamu jadi Disa yang ceria dan tampil apa adanya tanpa make up yang berlebihan. Itu saja, ok?”
Gadis itu tampak mempertimbangkan kata-kataku sebelum mengangguk dan kembali tersenyum. “Ya, aku rasa aku bisa melakukannya. Aku akan mencoba mengikuti saranmu. Tapi boleh aku minta satu hal darimu?” ucap Disa akhirnya.
“Apa?” tanyaku dengan nada selembut marshmallow. “Tolong jangan beritahu siapapun, terutama ‘dia’ tentang percakapan kita malam ini,” pinta Disa penuh harap. Aku mengangguk mantap dan membiarkannya kembali ke kamarnya.

Aku tahu aku melakukan hal yang benar, menyadarkan Disa dari pesona cinta. Disa memang harusnya mengikuti kata hatinya untuk tetap jadi dirinya sendiri, sehingga dia bisa tetap merasa nyaman dan aman menjadi penggemar rahasia pria yang dikaguminya. Aku tersenyum memandang bayangannya yang semakin menjauh. Perasaan bahagia menyusup ke dalam hatiku.

Perkiraan Disa benar tentang persaingan ketat dalam pengejaran Abdullah. Pria itu menjadi terkenal dalam sekejap sejak ia aktif dalam kepengurusan organisasi keislaman di sekolah kami. Banyak wanita yang mengidolakannya, bahkan tak sedikit yang mencoba menyatakan perasaannya pada Abdullah. Terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Tapi semua itu berakhir dengan penolakan dari pria hebat yang mampu menjaga pandangannya dari wanita yang bukan mahramnya.
Aku benar-benar kagum pada sahabatku ini. Dia memang memiliki pesona yang luar biasa. Dan Disa adalah orang pertama yang menyadari hal itu. Kali ini gadis itu membuatku kagum berkali-kali padanya.
Apalagi aku pernah menanyakan pada Abdullah tentang wanita yang diidamkannya saat kami hanya berdua di kamar.

“Hey, aku ini sebenernya heran sama kamu. Punya banyak fans, tapi nggak satupun yang kamu jadikan pacar. Atau minimal kamu terima cintanya. Memang kamu nyari yang kayak gimana?”
Yang ditanya cuma tersenyum dan menyahut kalem, “Akhi, ana nggak ingin pacaran sebelum menikah. Lagipula antum kan juga tahu pacaran itu haram. Memangnya kenapa antum tanya seperti itu?”
“Ya… pengen tahu aja kayak apa cewek yang bisa bikin hatimu lumer kayak coklat dipanasin. Mungkin tipe cewek idaman?” pancingku. Abdullah tersenyum dan menyahut bijak, “Seorang muslimah yang sholehah dan menutup auratnya sesuai syar’i. Muslimah yang menghijabi hatinya dari rasa iri dan dengki, serta melindungi pandangannya dari laki-laki yang bukan mahram. Tapi tentunya bukan untuk dijadikan pacar. Melainkan untuk dinikahi suatu hari nanti, insyaallah.”
“Seperti… Disa?” iseng kusebutkan nama itu. Abdullah terdiam mendengarnya. Sejenak dia menghentikan aktivitasnya sebelum menyahut dengan gugup, “Emm… ya pokoknya muslimah seperti yang ana sebutin tadi.”

Terdapat ambiguitas dalam kalimat itu. Tapi dari gaya bicara dan ekspresi tersipu yang sempat tertangkap olehku, aku segera mengerti bahwa itu artinya aku benar. Jelaslah kini, kedua insan itu tengah memendam perasaan yang sama tanpa berusaha mengungkapkannya.

Selama di SMA, aku dan Disa sama-sama menyimpan perasaan pada seseorang sejak kami kelas sepuluh. Aku menyukai Disa dan Disa mengagumi Abdullah. Mungkin ini terdengar menyakitkan, namun itulah cinta yang bagiku tak harus berbalas, apalagi memiliki.

Lulus dari SMA, aku dan Disa diterima di kampus yang sama tapi beda jurusan. Disa mendapat beasiswa penuh atas prestasinya selama di SMA. Dia memang gadis yang pandai, tapi polos dan lembut hatinya. Aku yakin Abdullah menyukainya karena hal itu juga.
Dan meski satu kampus, kami tak pernah benar-benar bertemu meski di area kampus sekalipun hingga kami lulus. Tapi kami sering mengirim pesan untuk bertukar informasi dan sebagainya. Sama seperti Abdullah yang juga melanjutkan studinya di luar negeri, tapi tak satu negara dengan kami. Hingga suatu hari menjelang wisuda S1, Disa mengirim pesan chat untukku yang isinya:

Abdullah datang ke rumahku dan melamar. Doakan ya!

Hanya itu isi pesan dari Disa, sosok yang tak pernah sadar bahwa selama ini aku menyukainya diam-diam. Kali ini hatiku terluka dan pikiranku kacau membayangkan pernikahan mereka. Apalagi tak lama kemudian, Abdullah yang juga tak tahu tentang perasaanku pada Disa juga mengirim pesan padaku:

Bismillah, doakan aku berhasil melamar muslimah yang ini, ya!

Hari itu juga aku berkemas dan bersiap meninggalkan rumah kontrakanku menuju kampus di luar kota, dimana aku akan melanjutkan S2 di sana. Aku hanya hadir saat wisuda untuk mengambil sertifikat kelulusanku. Aku belum bisa pulang ke rumah karena aku berjanji akan pulang bila sudah mendapat pekerjaan yang layak.

To: Airidisa

Kamu tak pernah tahu bahwa di sini ada hati yang selalu menyayangimu dengan tulus
Kamu tak pernah tahu bahwa di sini ada seseorang yang selalu ingin melindungimu
Kamu tak pernah tahu bahwa di sini ada cinta yang menunggumu hingga kau siap

Tapi mungkin kau seharusnya tak pernah tahu sampai kapanpun
Karena luka ini biar aku saja yang merasakan dan menyimpannya
Karena kamu tidak seharusnya mempedulikan kehadiran perasaanku ini.

Dan di sinilah aku sekarang, menikmati secangkir kopi di Coffee House tiap dua atau tiga hari sekali. Aku diserang kerinduan yang mendalam akibat mencoba berlari dari patah hati. Meski dulu aku berusaha tak cemburu pada rasa yang dimiliki Disa untuk Abdullah, tapi rasanya jadi berbeda sekarang. Setelah lima tahun, terhitung dari pasca lulus SMA, aku merindukan peri kesayanganku.

Aku berusaha mengenangnya sebagai cinta terakhirku di masa lalu dan membuka hati untuk hadirnya cinta yang baru. Namun yang terjadi malah aku kesulitan move on dari Disa. Semakin aku berusaha melupakannya, semakin aku teringat pada semua hal tentangnya. Perlahan, aku jadi rindu pada pertemuan-pertemuan kecil kami. Andai saja aku bisa mendengar suaranya sekali lagi. Tapi apa bisa?

“Moccachino and cappuchino, please!” sebuah suara dari belakang tempat dudukku menyapa telingaku. Suara yang begitu mirip dengan suara Disa. Sejenak, perasaan bahagia menghiasi hatiku. Tapi segera kutepis perasaan itu karena berpikir bahwa itu pasti halusinasiku belaka.

Kupesan dua cangkir moccachino lagi untuk kubawa pulang sebelum berlalu dari Coffee House. Dan tepat sebelum aku keluar dari kafe itu, seseorang berteriak padaku, “Sir, wait Sir! You left your wallet! Wait Sir!” Aku menoleh dan mendapati seorang gadis berjilbab lebar tengah berlari ke arahku. Mataku membelalak kala menyadari bahwa gadis itu adalah Disa!
Jantungku berdebar tak menentu, seperti saat pertama kali aku ngobrol dengannya. Langkah gadis itu makin mendekat seiring seulas senyum yang diberikan padaku muncul. “Sir, sorry I have to say this but your wallet has been fall on the floor. Here you are,” ucap gadis itu tanpa benar-benar sadar akan lawan bicaranya yang masih bengong.

“Disa…?” gumamku dengan wajah pilon. Gadis itu memandangku sesaat, lalu menyambutku riang, “Andi, ya? Apa kabar?”
Aku tersenyum dan menyahut, “Baik. Kamu sendiri gimana?” “Alhamdulillah sehat. Eh, sejak kapan kamu pindah ke kota ini?” tanya Disa. “Sejak setahun yang lalu,” jawabku.
“Wah, kok nggak ngasih kabar? Kan bisa bareng berangkatnya,” canda Disa. Aku tersenyum dan menyahut, “Maaf, aku buru-buru banget. Takut nggak dapet apartemen yang cocok,”. “Kamu ini selalu aja buru-buru. Padahal masih banyak apartemen kosong di sini,” ucap Disa.

Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal dan teringat sesuatu, “Oh ya, apa kabar Abdullah?” “Insyaallah Mas Abdullah baik-baik aja. Kayaknya masih di kantor. Biasanya kalo pulang lewat sini, kalo mau bareng,” sahut Disa.
“Eh, kalian sudah menikah?” Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku mendengar panggilan Disa untuk sahabat lamaku itu. Untuk sesaat, Disa memandangku bingung. “Kalian siapa maksud kamu?” tanyanya.
“Kamu sama Abdullah… bukannya waktu itu dia melamarmu?” tanyaku. Disa memandangku serius, “Eh, kamu nggak baca undangannya ya? Di sana tertulis bahwa Mas Abdullah menikah dengan Mbak Aisyah, sepupuku yang yatim piatu dan tinggal satu rumah denganku.”
“Jadi Abdullah bukan menikah denganmu?” tanyaku dengan suara agak melengking riang, membuatku merasa konyol melakukannya di tempat umum. Disa mengangguk mantap dan menyahut, “Mereka menikah setahun yang lalu. Kukira Mas Abdullah sudah memberitahumu.”
“Enggak, aku nggak tahu apa-apa. Kenapa nggak ada yang ngasih tahu aku?” tanyaku heran. “Waktu itu aku udah ngirim undangannya ke rumahmu sama ke alamat kontrakan yang pernah kamu kirim ke aku. Terus aku diberitahu sama pemilik kontrakan bahwa kamu baru aja pindah, tapi beliau nggak tahu ke mana. Nggak tahunya malah ketemu di sini,” jelas Disa. Aku tertawa kering, “Ah ya, maaf aku lupa berpamitan padamu waktu itu. Aku buru-buru banget.”

“Aku juga udah menulis di grup kelas dan memposting undangannya. Apa kau tidak melihatnya?” sambung Disa kemudian. Aku menggeleng, “Aku nggak sempat melihat ke grup kelas. Akhir-akhir ini aku benar-benar sibuk dengan pekerjaan dan pendidikan S2ku di sini, ” sahutku apa adanya.
“Oh ya? Kamu tinggal di mana? Kapan-kapan mampirlah ke apartemenku,” ajak Disa dengan keramahan yang tak dibuat-buat. “Ah, apa kamu sering datang ke sini?” tanyaku kemudian. Disa tertawa renyah, “Tentu. Temanku adalah pemilik Coffee House, jadi aku sering keluar masuk dapur dan mencicipi kopi yang diracik sebelum disajikan ke pelanggan. Aku pernah melihatmu duduk di sana, dekat jendela besar yang menghadap ke luar. Tapi karena takut salah orang, jadi aku tidak menyapamu waktu itu.”

Aku kembali terpesona melihat senyum Disa yang kurindukan sejak tujuh tahun lalu. Perasaan itu pun kembali muncul seperti déjà vu, membuatku tersadar betapa sulitnya aku move on dari gadis ini. Pantas saja aku masih memberinya ruang di hatiku, karena kini aku sadar bahwa dia adalah orang pertama yang membuatku terkesan dengan keanggunannya yang melebihi putri dari kerajaan manapun.

“Disa, apa kamu masih sendiri?” tanyaku kemudian. Disa mengangguk dan menyahut dengan lembut namun apa adanya, “Aku belum dilamar siapapun, kalo itu yang kamu mau tanyakan. Kamu sendiri gimana, apa udah punya tunangan atau istri?”
Aku tersenyum dan berkata, “Aku masih menunggu seseorang,”. “Eh, benarkah? Beruntung sekali gadis itu, dinanti oleh orang sepertimu. Selamat ya!” sambut Disa dengan wajah riang seperti dulu.
“Mungkin suatu hari nanti aku juga akan merasakan hal yang sama seperti gadis itu,” gumam Disa sambil menunduk. Deg! Jantungku berdegup kencang, ingin rasanya aku berkata padanya bahwa dialah orang yang kutunggu selama ini.

“Disa, dengar! Kamulah yang kutunggu selama ini. Aku menyukaimu sejak kelas sepuluh. Aku menyukai semua yang ada pada dirimu, terutama agamamu. Airidisa, maukah kamu menikah denganku?”
Hup! Aku segera menutup mulutku setelah semua kata-kata itu meluncur begitu saja. Aku benar-benar tak menyangka akan kelepasan lagi seperti waktu itu. Kulihat ekspresi Disa yang tampak sulit kuterjemahkan, antara kaget dan… sedikit gembira?

“Apa kau serius mengatakannya?” tanya Disa dengan mata berbinar-binar. Aku meng-angguk kecil, merasa malu karena Disa langsung mendengarku dengan jelas. Disa meng-hembuskan napas pelan sebelum menyahut, “Aku nggak bisa menjawabnya sekarang, tolong beri aku waktu sampai akhir tahun ini. Kurasa kita perlu membicarakannya dengan keluarga kita saat pulang ke Indonesia nanti. Apa kau keberatan jika kita ta’aruf dulu?”
Aku tersenyum malu dan menyahut, “Tentu, kurasa kita perlu ta’aruf dan membicarakannya dengan keluarga kita. Apa kau mau kuantar pulang?” “Tak perlu, aku akan pulang bareng Mbak Aisyah dan Mas Abdullah karena apartemen kami bersebelahan. Insyaallah kapan-kapan kita ketemu lagi di sini. Assalamualaikum,” ucap Disa.
“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh,” jawabku. Disa melangkah menuju halte bus dan menunggu sepupunya itu. Aku memandang kepergiannya dengan perasaan yang berdesir dalam hatiku, perasaan yang sama seperti delapan tahun lalu ketika pertama kalinya aku menyukai Disa.

Aku tersenyum, dalam hati berterima kasih pada Tuhan yang telah memberiku kesempatan untuk meraih hatinya. Setelah sekian lama perasaan itu menanti keberanianku, akhirnya tibalah hari ini. Hari dimana aku mengungkapkan perasaanku pada peri kesayanganku dan menantikan sebuah harapan tuk disambut olehnya dengan sepenuh hati.
Tunggu aku, siapapun kau wahai tulang rusukku di manapun kau berada. Jika kau adalah Disa, maka penantian ini takkan sia-sia. Rasa rindu ini akan memudar seiring berjalannya waktu. Tapi apabila peri kesayanganku bukanlah jodoh yang terbaik untukku, maka semoga dia mendapatkan yang lebih baik dariku dan aku bisa move on darinya. (Fin)

Cerpen Karangan: Rizukiya
Facebook: Nova Barik Rizqiya
Hai!
Nama saya Rizukiya, panggil saja Rie-chan. Saya lahir pada hari Sumpah Pemuda. Saya berasal dari Jawa Timur dan saat ini sedang menjalani pendidikan S1 di salah satu kampus di Malang. Sekian dan terima kasih :).

Cerpen A Cup Of Longing Please! (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisi

Oleh:
Sepucuk surat tiba di meja kerjaku. Kuraih surat itu dan aku mulai membacanya. Indahnya pagi tak seindah dengan wajahmu. Hangatnya sinar mentari pagi tak sehangat senyumanmu. Merdunya kicauan burung

Ini Cara Aku Mencintaimu

Oleh:
“Maura…!” panggil Bayu dari depan kelas, kepada Maura yang sedang berjalan. “ada apaan sih Bay?” sahut Maura. “nih buat lo.” Bayu memberikan sebungkus roti isi kepada Maura. “wiih.. dalam

Menunggu Putra

Oleh:
Menunggu itu memamng membosankan, aku paling benci dengan hal yang satu ini. Tapi meskipun membosankan, toh aku harus lakukan juga untuk mendapatkan yang aku inginkan. Benar. Menunggu seseorang untuk

Rahasia Allah Itu Indah

Oleh:
Agustus 2009 Aku berdiri di gerbang, menatap dengan takjub ke bangunan bertingkat dua di hadapanku. Tak disangka aku seorang Safira Aulia Siregar, anak semata wayang Pengusaha Furniture yang selalu

For Attention Religious

Oleh:
“Bisakah kau datang ke sini?,” tanya Arka kepada Felly. “Ada apa memangnya?,” tanya Felly kembali. “Siapa sih yang nelepon, Fel?!,” tanya Bram penasaran. Felly membalik tubuhnya ke arah Bram.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *