A Girl Like Me

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 24 October 2017

Aku dikenal sebagai wanita yang perfeksionis. Bekerja sebagai konsultan membuatku dituntut untuk menjadi wanita yang cantik dan menarik. Bagaikan dewa Narcissus, aku selalu merasa diriku cantik dan tak jarang sering berkaca untuk memeriksa penampilanku. Karena itu juga, para pria menyukaiku, dan aku menjadi bangga karenanya. Karena kecantikanku, banyak klien yang datang kepadaku. Para wanita hanya menggigit jari melihat betapa cantiknya diriku
Aku merasa hidupku bahagia sekali.

Senin, 6 Maret
“Kamu nggak apa-apa?”
Aku mengadahkan kepala. Cowok itu menatapku dengan tatapan cemas. Bahkan aku tidak mempedulikan kopi yang tumpah di rokku. Yang aku tahu, mataku hanya tertuju padanya, sekarang.

“Hello?”
Aku mengerjapkan mata pelan. Urgh, what am I doing? Aku bisa merasakan pipiku yang panas karena sadar telah memandanginya dengan setengah terbengong. Aku makin tersadar lagi karena penampilanku yang sangat berantakan hari ini.
Gawat, aku tidak sempat berdandan lagi! Bagaimana ini!? Pasti aku terlihat jelek sekali! Batinku panik.

“You okay?” tanyanya lagi.
“Umh, sorry. Aku nggak apa-apa kok” kataku setelah mengendalikan diri. Namun naasnya, kakiku sepertinya terkilir. Aku meringis pelan.
“Aku minta maaf ya. Tadi beneran nggak lihat jalan” katanya dengan nada bersalah dan membantuku berdiri.
Aku terdiam sejenak dan mengangguk
Salahku juga sih, aku melamun juga saat berjalan, batinku.

Ia membawaku ke tempat duduk terdekat. Aku mencuri pandang ke arahnya yang tengah sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.

“Aku beneran minta maaf karena membuat rokmu kotor” katanya sambil menyerahkan sejumlah uang padaku. “Kuharap cukup untuk menggantinya” katanya.
“E-eh its okay. Nggak apa-apa kok, serius. Saya juga agak melamun tadi saat berjalan. Jadi setengah kesalahan di saya juga” kataku sambil tertawa kikuk.
Ia agak terperangah sejenak, masih merasa bersalah. “Nggak apa-apa kok. Dicuci juga hilang. Kamu tidak perlu menggantinya”.
Ia memainkan matanya dengan ragu. Entah mengapa saat ia melakukannya, aku sangat menyukainya. Matanya yang menyiratkan kebingungan juga membuatku penasaran.
Entah mengapa aku ingin sekali mengenalnya.

“Okay. Terima kasih kalau begitu. Ah —maaf, aku buru-buru. Sekali lagi senang bertemu denganmu” katanya sopan sambil berjalan pergi.
Tanganku hendak menahannya untuk pergi, namun urung kulakukan juga pada akhirnya.
Aku bahkan belum tahu siapa namanya…

Punggungnya makin menghilang di kerumunan orang. Aku mendesah pelan.
Pertemuan yang sangat singkat. Hanya kebetulan saja. Dan itu membuatku makin mendesah panjang.

Aku menggeleng kepalaku pelan. Sudah, itu hanya kebetulan. Belum tentu juga aku akan bertemu lagi dengannya, batinku.
Dan aku menyesap kopiku dengan perasaan yang kecewa. Bahkan kaca yang sudah kuambil dari tas, tidak kusentuh sama sekali.

Rabu, 24 April
Kedai kopi ini masih terlihat sepi. Aku mengamati sekitar. Entah mengapa aku ingin sekali minum kopi di tempat ini. Dan entah mengapa, aku hanya ingin berdandan natural hari ini.
Seperti pertama kali aku bertemu dengan “nya”, di tempat ini.

Aku tersenyum saat mengingatnya. Seperti bernostalgia. Memainkan memori indah bak lagu yang mengalun lembut di kotak musik. “Aku harus menyelesaikan pekerjaanku” kataku dengan suara semangat.

Namun suara pintu kedai dibuka menarik perhatianku. Aku melirik sekilas.
Waktu seakan terhenti. Bahkan nafasku ikut terhenti sejenak.
Laki-laki itu. Iya, laki-laki itu. Laki-laki yang beberapa bulan lalu menolongku saat terjatuh. Yang mata kebingungannya membuatku tertarik, tengah berdiri di depan pintu, mencari tempat kosong.
Tanpa kusadari juga, tanganku terangkat ke atas.
Ia menatapku dari kejauhan. Dan pandangan matanya membuatku tak bisa berpikir lagi. Aku terpaku sejenak oleh tatapan matanya.
Sebelum akhirnya, ia menunjukkan senyum manisnya dan berjalan ke arahku

“Ah kamu yang dulu kakinya terkilir ya? Sekarang sudah baik-baik saja?”
Aku hanya menatapnya dan membatin pelan.
“Apakah ia akan menyukai wanita ‘seperti’ ku?”

Cerpen Karangan: Titis Purbosari

Cerpen A Girl Like Me merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diam Ku

Oleh:
Pria itu bernama Radit. Aku mengenalnya sebenarnya sudah lama. Tapi aku baru dekat dengannya belum lama ini. Dia pria yang tampan, baik, juga lucu. Dia teman yang baik. Tapi

Bukit Jembatan Merah

Oleh:
Apakah arti dari menunggu ketika yang ditunggu tak kunjung datang. Semua impian dan harapan yang pernah tercurah menggariskan sebuah warna hidup yang tidak berubah hingga saat ini. Berulang kali

Wednesday Boy

Oleh:
Prittt!!! Prittt!!!! Suara peluit yang khas milik guru olahraga membuatku langsung menutup telinga, aku menggerutu kesal melihat pak Hari menyuruh kami untuk ganti baju lebih cepat. Oh ya, namaku

Aku Selalu di Ujung Sini

Oleh:
Aku menempati kursi penonton terdepan namun berada di paling ujung. Selalu. Agar kedua mata yang banyak orang menyebutnya belok ini tetap dapat melihat dengan utuh potongan tubuh atletisnya dengan

Akhir Kisah

Oleh:
Aku sekarang hanya bisa memperhatikan dia. Dulu kita sedekat nadi, namun sekarang sejauh langit dan bumi. Dia hanyalah objek nyata yang tak bisa kugenggam. Semakin ingin kugenggam, semakin menjauh.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *