Ada Cinta (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 29 June 2014

Cantik. Sungguh sangat cantik. Hanya kata itulah yang ada dibenak Leo saat ini. Laki-laki yang kini menjabat sebagai ketua Osis di sekolah. Ya, Leo adalah laki-laki pintar yang menjadi kebanggaan guru-guru di sekolah. Tak jarang namanya sering diikut sertakan dalam setiap perlombaan yang diadakan di sekolah ataupun di luar sekolah. Boleh dibilang, dia itu satu-satunya kebanggaan yang sekolah ini miliki.

Leo boleh saja menjadi kebanggaan guru-guru di sekolah. Tetapi tidak untuk masalah pergaulan. Di sekolah, Leo terbilang anak yang pendiam. Jarang bermain, bahkan setiap istirahat dia lebih memilih untuk ke ruang Osis atau ke perpustakaan. Bukannya dia tidak memiliki teman. Tetapi dia memang tipe orang yang berkepribadian tertutup. Di sekolah, dia terkenal sebagai ketua Osis yang pendiam dan tak banyak bicara. Yaa mungkin dia berbicara kalau memang itu penting dan pada orang tertentu saja. Seperti teman-temannya yang bergabung dalam Osis. Itu bukan karena dia sombong. Tetapi memang tidak tau caranya bergaul itu seperti apa. Baginya, berbicara yang tidak penting itu hanya membuang-buang waktu saja.

Hari ini, akan diadakan rapat Osis untuk membahas rencana perpisahan kelas yang memang selalu diadakan menjelang Semester Genap. Di ruang Osis kini hanya ada Leo dan Rindu. Rindu adalah sekretaris Osis. Dia cukup dekat dengan Leo. Boleh dibilang, Rindu adalah satu-satunya teman yang sering berbincang dengan Leo. Wajahnya Cantik, rambutnya keriting menggantung. Tak jarang, banyak laki-laki di sekolah ini yang menyukainya. Termasuk Leo.

Diam-diam, Leo selama ini mengaggumi kecantikan Rindu. Dia sangat ramah dan baik. Tapi Leo tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya pada Rindu. Rindu mudah bergaul, sedangkan Leo tidak. Itulah yang membuat Leo merasa, dirinya tak pantas untuk Rindu. Tetapi menurutnya, untuk bisa dekat dan berbicara pada Rindu saja, Leo sudah merasa bahagia.

“yang lain kok belum datang ya kak Lee” Tanya Rindu. Kak Lee adalah panggilan Rindu untuk Leo. Leo juga tidak mempermasalahkan itu. “hem, mungkin sebentar lagi mereka akan datang” jawab Leo. Rindu pun seketika duduk di samping Leo. Gugup. Itu yang Leo rasakan saat ini. untuk menetralisir perasaan gugupnya, Leo pun berpura-pura mencari berkas untuk rapat nanti. “cari apa Kak?” Tanya Rindu lagi. “ini cari.. cari berkas untuk nanti rapat” ucapnya dengan sangat gugup. “loh kan berkasnya sudah aku letakan di meja kak” sahut Rindu. Bodoh. Ini benar-benar membuat nya malu. Harusnya dia menjawab yang lain. Semoga saja Rindu tidak tau kalau ini hanya caranya untuk menghindari rasa gugup.

“duh maaf ya kita lama” ucap Zein yang baru saja datang ke ruang Osis bersama Gina, Hadi, Jill dan Tito. Rindu dan Leo pun menoleh ke arah meraka secara bersamaan. “lain kali jangan telat ya” ucap Leo. Mereka pun kini memulai rapat Osisnya.
“eh kita ke kelas duluan ya” ucap Tito dan Hadi. “iya.. iya” jawab Gina. Setelah membereskan berkas-berkas bekas rapat Osis tadi, Gina dan Jill pun menyusul Tito dan Hadi untuk ke kelas. Tinggalah kini Zein, Leo dan Rindu di ruang Osis.
“Rin, tadi gue ketemu Rega” ucap Zein dengan maksud meledek Rindu. Rega adalah mantan pacar Rindu. Mereka berpacaran hanya 2 bulan. Sebenarnya, banyak yang menyangka kalau hubungan mereka akan langgeng. Tapi sayangnya, itu hanya opini teman-temannya. Mereka putus karena Rega terlau mengekang Rindu. “ketemu dimana?” Tanya Rindu. “biasa, di lapangan basket. Trus dia titip salam buat lo Rin” jawabnya. Leo saat itu sibuk dengan komputer di depannya. Tetapi sebenarnya sejak tadi dia terfokus dengan pembicaraan antara Zein dan Rindu. Mendengar nama Rega, rasa putus asa untuk mendekati Rindu kembali muncul dalam diri Leo. Rega adalah cowok yang dibilang cukup popular di sekolah ini. jabatannya sebagai Ketua Tim basket dan ketampanan wajahnya yang membuat banyak wanita yang mengilainya. Leo tau akan hubungan Rindu dan Rega. Karena sejak mereka menjalin hubungan, banyak pada murid yang membicarakan mereka.

Para siswi yang menyukai Rega saat itu sangat membenci Rindu. Begitupun sebaliknya, Cowok-cowok di sekolah ini yang menyukai Rindu juga membenci Rega. Tetapi seiring berjalannya waktu, semuanya mengerti dan tak saling membenci satu sama lain. Tapi sayangnya, disaat semua siswa mendukung hubungan mereka berdua, Rindu dan Rega tiba-tiba saja putus. Tak banyak yang tau penyebab keretakan hubungan mereka. Karena mereka selalu menutupi hal itu. terkecuali Leo.

Ya, mungkin Leo adalah orang satu-satunya yang mengetahui penyebab putusnya hubungan Rindu dan Rega. Karena saat itu, tak sengaja Leo melihat Rindu yang sedang menangis di taman sekolah. Dan ketika itu, Leo memberanikan diri untuk mendekati Rindu. Awalnya Leo takut untuk menanyakan hal yang membuat Rindu menangis. Tetapi akhirnya dia memberanikan dirinya. Rindu pun tak sungkan untuk menceritakan semuanya pada Leo. Karena semenjak Rindu menjadi Sekretaris Osis, hubungan Rindu dan Leo memang cukup dekat.

Dan sejak saat itu, perasaan Leo jadi berbeda terhadap Rindu. Rasa ingin melindugi, rasa perduli, kini selalu ingin ia berikan untuk Rindu. Setelah sekian lama Leo mencari tau perasaan apa yang kini ada di hatinya, kini Leo mengerti kalau dia kini mulai menyukai bahkan menyangi Rindu. Tapi sayangnya, tak ada keberanian untuk mengungkapkan itu.

“Kak Lee” ucap Rindu yang membuat Leo tersentak kaget. Lamunan Leo akan kejadian 8 bulan lalu pun membuyar. “eh, kenapa Rin?” jawabnya masih dengan perasaan kagetnya. “kak Lee masih mau disini? Aku sama Zein mau ke kelas soalnya” ucapnya. “hem iya sebentar, kakak mau simpan berkas rapat tadi. Kamu sama Zein duluan aja” ucap Leo. Dan akhirnya Rindu dan Zein pun pergi ke kelas lebih dulu.

Setelah selesai merapikan ruang Osis dan mengunci pintu, Leo pun lansung segera menuju kelas. Ketika hendak menuju kelas, tak sengaja Leo melihat Rindu sedang berbicara pada Rega, mantannya. Entah kenapa, rasanya saat itu Leo ingin sekali menarik tangan Rindu untuk menjauhi Rega. Tetapi hal itu tak mungkin Leo lakukan. Karena dia bukan siapa-siapanya Rindu. Sambil menghela nafas panjang, Leo pun melanjutkan gerak kakinya menuju kelas. karena tak ada jalan lain, dengan sangat terpaksa Leo kini harus melewati gadis yang ia sukai yang kini sedang bersama mantan pacarnya.

“Kak Lee” ucap Rindu saat Leo melintasi mereka. Sebenarnya, Leo tidak ingin menoleh dan rasanya ingin terus melangkah. Tetapi, itu akan menimbulkan pemikiran negatif pada Rindu. Dengan terpaksa, akhirnya Leo menghentikan laju kakinya untuk menoleh ke arah Rindu. “kenapa Rin?” tanyanya. Leo sempat melirik ke arah Rega. Sepertinya Rega melihatnya cukup sinis ke arah Leo. “nanti siang kita ada rapat lagi gak?” Tanya Rindu. “hem, sepertinya gak ada” jawab Leo. “nah berarti bisa kan nanti kita jalan?” ucap Rega tiba-tiba. Sontak kini mata Leo langsung tertuju pada Rega. “harusnya aku tidak ke kelas sekarang!” gumamnya dalam hati. “hem iya iya” jawab Rindu atas ucapan Rega tadi. “ya sudah, nanti pas pulang sekolah aku jemput di depan gerbang ya?” ucap Rega lagi. Rindu pun hanya tersenyum sebagai tanda setuju. “hem kakak ke kelas dulu ya Rin” ucap Leo berusaha menghindari Rindu dan Rega. “eh tunggu kak, bareng ya” ucap Rindu menahan Leo. “Ga, aku ke kelas dulu ya” lanjutnya yang kini tertuju pada Rega.

“kamu balikan sama Rega?” Tanya Leo saat berjalan menuju kelas dengan Rindu. Mungkin ini pertanyaan bodoh. Pertanyaan yang tak seharusnya Leo tanyakan pada Rindu. Tetapi jika ia tidak bertanya, ini akan menambah rasa sakit di hatinya. “gak kak. Kenapa memangnya?” Tanya Rindu. “gak apa-apa kok. Kakak hanya Tanya” jawabnya singkat.

Bel pulang sekolah…
“keluar kelas sekarang atau nanti?” itulah pertanyaan yang kini ada di benak Leo. Ia tau kalau siang ini Rindu dan Rega akan pergi bersama. Dan dia tidak ingin melihat itu. “Le, nunggu siapa?” Tanya Jill yang tiba-tiba datang menghampirinya. “eh, gak kok. Gak nunggu siapa-siapa” jawabnya. “hemm, ya udah gue pulang duluan ya” ucapnya lagi. Leo pun tersenyum.

“kira-kira Rindu udah pergi belum ya sama Rega? Aku gak akan kuat melihat mereka pergi bersama. Jadi lebih baik aku tunggu sampai mereka keluar dari gerbang” ucapnya saat melihat keadaan di gerbang lewat jendela kelasnya. “sepertinya mereka sudah pergi” ucapnya lagi. Leo pun akhirnya langsung ke luar kelas.
Dia pun segera ke parkiran untuk mengambil motornya. Tapi seketika kakinya terhenti saat melihat Rindu dan Rega. Ternyata mereka masih disini. “harusnya aku tidak keluar kelas sekarang!” ucapnya menyesal. Ketika ingin membalikan badan, tiba-tiba saja Rindu memanggil namanya “Kak Lee” teriaknya. Leo pun langsung menutup matanya. sebenarnya ia tak ingin menoleh lagi ke arah belakang. Karena itu hanya akan membuatnya sakit. Ya, sakit melihat seseorang yang ia sayangi bersama pria lain. Tetapi lagi-lagi Rindu kembali memanggil namanya. Dan untuk yang kesekian kalinya, Leo harus mengubur rasa Egonya. “eh, Rindu” ucapnya saat membalikan tubuh. Seulas senyum kecil terpancar dari wajah Leo. Sebenarnya ini bukan senyum yang tulus dari bibirnya. Jauh di lubuk hatinya, sebenarnya sangat rapuh. Bahkan sangat rapuh. “kak Lee mau pulang ya?” Tanya Rindu. “hem iya nih. Kamu mau kemana?” ucap Leo. “kita mau jalan” ucap Rega yang tiba-tiba menjawab pertanyaan dari Leo. “oh ya sudah. Hati-hati ya Ga, Rin” ucapnya dengan senyum yang masih terus ia paksa.

Kini hanya tinggalah Leo sendiri di parkiran. “Bodoh. Harusnya dari dulu aku mengatakan perasaanku pada Rindu. Jika pun Rindu menolaknya nanti, mungkin tak akan sesakit ini!” ucapnya. Ternyata, secara tak sengaja Jill mendengar apa yang Leo katakan tadi. “eh Le” ucapnya sambil menepuk pundak Leo. Sontak Leo pun kaget dan langsung menoleh ke arah Jill. “bicara sama siapa Le?” Tanya Jill. “ah gak kok. Kok belum pulang?” Tanya Leo untuk menetralisir rasa gugupnya. “iya tadi ke ruang kepala sekolah dulu kasih proposal tentang rapat kita tadi” jawabnya. “oh ya udah, gue pulang dulu ya Jill..” ucapnya lagi. “Le, anterin pulang dong. Please…” ujar Jill memohon. “biasanya dijemput sama supir Jill?” Tanya Leo heran. “hem, iya supir gue gak bisa jemput hari ini. jadi boleh ya?” ucap Jill lagi. “tapi naik motor butut gini? Mau?” Tanya Leo. “ya gak apa-apa kok” jawabnya. “hem ya udah naik deh” ucap Leo. Mereka pun akhirnya pulang.

Secara tak sadar, tangan Jill kini melingkar di pinggang Leo. Leo pun dibuat kaget. Jatungnya kini terasa berdegup kencang. Beberapa kali Leo berusaha tenang dan tidak gugup. Walau bagaimanapun Jill juga seorang wanita cantik yang juga banyak disukai pria. “tenangg.. tenangg” ucap Leo dalam hatinya.

“udah sampai Jil” ucap Leo saat sampai di depan rumah Jill. “eh iya, sampai gak sadar kalau udah sampe rumah” ucap Jill sambil melepas tangannya yang sejak tadi melingkar erat di pinggang Leo. “masuk dulu Le?” lanjutnya mempersilahkan Leo untuk masuk ke dalam rumahnya. “kapan-kapan aja deh Jill, masih ada urusan soalnya” jawabnya. “ooh ya udah. Makasih ya atas tumpangannya” ucap Jill. “iya sama-sama” jawab Leo sambil tersenyum. Leo pun akhirnya pulang ke rumahnya.

Tak membutuhkan waktu yang lama, Leo pun sampai di rumah. “assalamu’alaikum Bu..” ucapnya saat memasuki rumah. “iya wa’alaikumsalam..” jawab ibunya dari dalam rumah. Leo memang anak yang sangat sopan pada kedua orangtuanya. Leo anak satu-satunya di keluarga ini. walaupun begitu, Leo tak pernah menyusahkan kedua orangtuanya. Bahkan dia berusaha membuat bangga kedua orangtuanya dengan prestasi yang selalu dia dapatkan selama sekolah.
“kok baru pulang jam segini?” Tanya ibunya khawatir. “iya tadi Leo antar teman dulu Bu..” jawabnya dengan lembut. “hem ya sudah kalau begitu, ganti baju trus makan ya?” ucap ibunya lagi. Karena anak satu-satunya, Leo selalu diperlakukan layaknya anak kecil oleh kedua orangtuanya terutama ibunya. Leo tak pernah merasa risih, justru dia sangat senang diberi perhatian lebih oleh kedua orangtuanya. Tak banyak orang yang mendapatkan perhatian lebih dari kedua orangtuanya. Maka itu, Leo selalu bersyukur.

Setelah selesai makan, Leo langsung bergegas menuju kamarnya. Di dalam kamar, dia masih saja memikirkan Rindu yang kini kembali dekat dengan Rega. Kalau begini terus, peluang untuk mendapatkan Rindu semakin tipis. “ya sudahlah kalau jodoh tak akan lari kemana” ucapnya untuk meyakinkan dirinya.

Matahari sudah masuk ke dalam sela-sela jendela kamar Leo. Dan itu tandanya, waktunya dia untuk segera bergegas pergi ke sekolah. Tak seperti hari biasanya. Hari ini, Leo sedang tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah. Mungkin lagi-lagi karena Rindu dan Rega.

Sementara itu, di kamarnya Rindu sudah siap untuk berangkat sekolah. Dengan rambut yang terkuncir rapi dengan pita berwarna merah menghiasi rambutnya. Benar-benar terlihat cantik dan anggun.
“Bu, Leo berangkat dulu ya..” ucapnya saat berpamitan dengan ibunya. “iya hati-hati yaa..” ucap ibunya sambil membelai rambut anak kesayangannya itu. “Ayah mana Bu?” Tanya Leo lagi. “ayahmu sudah berangkat kerja lebih dulu” jawab ibunya. Kemudian Leo pun langsung berangkat ke sekolah.

Sebenarnya hari ini tidak ada jadwal belajar karena ulangan semester sudah selesai. Tetapi Leo harus tetap masuk untuk menyelesaikan rencana perpisahan kelas dengan anggota Osis lainnya.

Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Leo sampai di sekolah. Tak sengaja, Leo melihat Rindu datang ke sekolah bersama Rega. “apa mereka sudah balikan lagi ya?” kata-kata itu terbesit begitu saja dalam fikiran Leo. Tapi dia berharap kalau perasaannya tidak benar. Sambil menghela nafas panjang, kini Leo melanjutkan gerak kakinya menuju kelas.

“heii Leoo..” ucap Gina yang tiba-tiba saja muncul dari balik punggung Leo. “ih Gina, ngagetin deh” ucap Leo. “eh hari ini rapat jam berapa?” Tanya Gina. “secepatnya. Karena kan memang hari ini sudah tidak belajar efektif seperti biasanya” jawab Leo. “hemm, oke deh” jawab Gina. Mereka berdua pun masuk ke kelas secara bersamaan.

Selang beberapa detik, Rindu pun memasuki kelas dengan wajah yang terlihat berseri-seri. Wajah Leo terlihat jutek. Dia seperti tidak senang melihat Rindu. Yaa memang tak seperti biasanya. Karena biasanya, Leo selalu tersenyum bila ada Rindu. Ini mungkin karena Rindu yang sudah mulai dekat kembali dengan Rega.
“heii Gin, Kak Lee” sapa Rindu dengan riang. Leo hanya diam dan tak menjawab sapaan dari Rindu. “hei juga Rin. Ciee sepertinya ada yang lagi bahagia nih” ledek Gina. “ahh tidak juga kok. Sama seperti biasanya” jawab Rindu sedikit malu. Sementara Leo kini sibuk dengan buku yang sedang ia baca. “Kak Lee” panggil Rindu. Leo tetap saja diam. Seakan-akan dia tidak mendengar panggilan dari Rindu. “Leoo dipanggil Rindu juga” ucap Gina. “kak Lee kenapa sih? Rindu ada salah ya sama kakak?” Tanya Rindu dengan wajah murung. Leo jadi merasa tidak enak dengan Rindu. Tak seharusnya dia jutek tanpa alasan yang Rindu tak mengerti.
“eh maaf ya Rin. Kakak lagi ada masalah soalnya” ucap Leo yang kini mulai tersenyum pada Rindu. “hem, aku kira kakak marah” jawabnya. “hehe gak kok” ucapnya lagi.
“Le, Rin di panggil kepala sekolah tuh” ucap Tito yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kelas. “hem, mungkin ini tentang proposal tentang rencana perpisahan kelas kita” sahut Gina. “iya udah Rin, kita ke ruang kepala sekolah sekarang” ucap Leo. Rindu dan Leo pun langsung menuju ruang kepala sekolah.

“permisi pak” ucap Leo saat mengetuk ruang kepala sekolah. “iya masuk” jawab kepala sekolah. “eh Leo, Rindu” lanjutnya. “bapak tadi memanggil kita berdua?” Tanya Leo dengan sangat sopan. “iya benar. Silahkan kalian duduk” ucap kepala sekolah. Mereka berdua pun langsung duduk di kursi yang sudah disediakan kepala sekolah.
“langsung saja, saya memanggil kalian untuk bertanya mengenai Proposal yang kalian ajukan kemarin” ucap kepala sekolah. “hem iya Pak. kami selaku anggota Osis ingin mengadakan Party sebagai acara perpisahan kelas. tempat yang kami rekomendasikan juga tidak terlalu jauh. Yaitu ke Pulau Macan yang ada di kepulauan seribu Pak. anggaran yang kami ajukan juga sudah seminimal mungkin” ucap Leo saat menjelaskan mengenai Proposalnya. “hem, bagaimana dengan tempat itu sendiri?” Tanya kepala sekolah lagi. “kami memilih Pulau Macan karena Atmosfir natural di dalam Pulau membuat pengunjungnya serasa berada di lingkungan rumah yang nyaman. Trus Pak, Pulau Macan juga menawaran berbagai tipe cotages, seperti Sunset Hut, dimana kita bisa langsung melihat sunset dari kamar, tenda, red brick, eco wood, drift wood. Berbagai aktivitas olahraga air juga dapat kita nikmati, mulai dari canoe, snorkeling, wind surfing, dan diving. Untuk itu kita tertarik sama Pulau Macan Pak” ucap Rindu sedikit menjelaskan tentang Pulau Macan. “kalau bapak ingin melihat langsung Pulau Macam itu seperti apa, Bapak bisa ikut kami untuk melihat Pulau itu hari sabtu besok pak” lanjut Leo. Kepala sekolah pun berfikir sejenak. Dan akhirnya… “oke, saya percaya pada kalian. Saya hanya perlu foto-foto keadaan Pulau Macan itu sendiri. Jadi ketika kalian survey ke sana, saya minta untuk berikan foto-foto mengenai fasilitas yang ada disana” ucap kepala sekolah lagi. “iya siap pak” ucap Leo sambil menjabat tangan kepala sekolah.

“gimana Le, Rin?” Tanya Gina yang terlihat penasaran. “kepala sekolah belum memberikan persetujuannya secara resmi sih. Cuma gue yakin kok, dia pasti setuju dengan rencana kita” ucap Rindu. “trus rencana selanjutnya apa supaya kepala sekolah tanda tangan Proposal kita?” Tanya Tito. “kita harus survey ke Pulau Macannya langsung. Soalnya kepala sekolah minta foto-foto mengenai fasilitas disana” jawab Leo. “ya udah, kapan kita kesana?” Tanya Gina lagi. “nah sekarang kita rapatin mengenai hal itu. hem Zein, Jill sama Hadi mana sih? Belum datang juga?” Tanya Leo. “oh iya ya, coba deh kamu hubungi Jill” ucap Gina pada Rindu. Rindu pun segera menghubungi Jill.
“hei Jill, kamu lagi dimana? Kita mau rapat nih” ucap Rindu saat menghubungi Jill. “iya, aku lagi di jalan sama Hadi. Bentar lagi sampai kok” jawab Jill. “oh ya sudah, nanti langsung ke ruang Osis ya sama Hadi?” ucap Rindu. “oke” jawab Jill.
“Jill lagi di mana katanya?” Tanya Leo. “lagi di jalan sama Hadi” jawab Rindu. “sama Hadi???” Tanya Gina yang terlihat shock. “iya, katanya sih gitu” jawab Rindu. “hem ya sudah kita tunggu mereka di ruang Osis aja deh” ucap Tito. Mereka semua pun akhirnya menuju ruang Osis.

Wajah Gina terlihat berbeda dari sebelumnya. Wajah yang tadi terlihat ceria kini berubah menjadi muram. Mungkin ini karena Jill yang pergi ke sekolah bersama Hadi. Maklum saja, sudah satu tahun Gina berharap bisa dekat dengan Hadi. Dan sekarang, saat Gina baru saja dekat dengan Hadi, kini Hadi dekat dengan Jill. “oh Tuhan, apa memang aku tidak ditakdirkan untuk dekat dengan Hadi? Aku bela-belain menjadi anggota Osis karena ada Hadi. Tapi kenapa Hadi harus dekat dengan Jill?” batinnya.

“heii semuaaa… maaf ya lama” ucap Jill yang kini baru datang bersama Hadi ke ruang Osis. “makannya jangan pacaran mulu” sahut Gina tiba-tiba dengan nada suara yang terlihat jutek. Hadi dan Jill pun langsung menoleh ke arah Gina dengan pandangan heran. “siapa yang pacaran?” Tanya Hadi pada Gina. “eh udah.. udah.. kok malah jadi bahas itu?” ucap Rindu berusaha menenangkan. “hemm.. Zein mana?” Ucap Leo saat menyadari kalau Zein belum juga hadir. “oh iya, Zein gak bisa ke sekolah hari ini. katanya sih nganter mamahnya ke Bandara” ucap Jill. “hem, ya udah gak apa-apa. kita mulai aja ya rapatnya” ucap Leo.

“Assalamu’alaikum.. teman-teman, rapat kali ini akan membahas mengenai Survey ke Pulau Macan tempat sekolah kita akan mengadakan Party perpisahan kelas. sebelum itu, saya ingin member informasi sedikit pada Hadi dan Jill yang tadi terlambat datang. Jadi, tadi kepala sekolah meminta kita untuk memberikan foto-foto yang kita ambil secara langsung di Pulau Macan. Nah untuk itu, kita harus survey kesana. Jadi menurut kalian, siapa aja yang akan survey langsung ke Pulau Macan?” ucap Leo saat membuka pembicaraan di Rapat Osis.

“kita semua aja Le yang survey kesana?” usul Hadi. “hem, ada pendapat lain?” Tanya Leo. “iya, lebih baik kita semua ikut survey tempat itu. kita kan anggota Osis yang mewakili anak-anak di sekolah ini. “semuanya setuju, kalau kita semua yang survey langsung tempat itu?” Tanya Leo meminta persetujuan. “iya setuju..” jawab Hadi, Jill, dan Rindu. Sementara itu Gina hanya terdiam dengan wajahnya yang masih terlihat kesal. “Gina, kamu setuju apa gak?” Tanya Leo yang menyadari kalau Gina sejak tadi hanya terdiam. “iya” jawabnya singkat. “ya sudah, karena semuanya sudah setuju kita tutup aja rapat hari ini” ucap Leo saat menutup Rapat.

Semuanya pun keluar dari ruang Osis terkecuali Gina dan Rindu. Rindu pun perlahan-lahan mendekati Gina yang sedang duduk dengan wajahnya masih saja ditekuk. “Gin” ucap Rindu hati-hati. “apa?” jawab Gina. “hem kenapa sih dari tadi terlihat murung?” Tanya Rindu. “gak apa-apa kok” jawabnya. Kemudian Gina pun keluar dari ruang Osis meninggalkan Rindu.

Sepulang sekolah, Gina melihat Jill lagi-lagi bersama Hadi. Hatinya makin terasa panas. “hei Gin” sapa Jill saat melihat Gina yang melintas di depannya. Gina sama sekali tak menjawabnya. Dia malah tetap saja berjalan dan melihat sinis wajah Jill dan Hadi. Jill dan Hadi juga tak mengerti akan sikap Gina yang tiba-tiba saja seperti itu. “Gina kenapa sih?” Tanya Jill pada Hadi. “gue juga gak tau Jill” jawabnya.

Sementara itu, Rindu tak sengaja bertemu dengan Leo di depan gerbang sekolah. “nunggu siapa Rin?” Tanya Leo. “eh kak Lee. Aku lagi nunggu Rega nih kak” jawabnya dengan sebuah senyuman kecil. “hem lagi.. lagi rega” gumannya dalam hati. “ooh ya sudah, kakak duluan ya?” ujarnya. “iya kak. hati-hati ya kak” jawabnya.

Dalam perjalanan, Leo masih terus memikirkan Rindu. Kenapa dia harus kembali dekat dengan Rega? Mungkin pertanyaan itulah yang ada di fikiran Leo saat ini.

Cerpen Karangan: Risdatul Zulfiah
Facebook: fiahzulfi[-a-]gmail.com
follow: @risda_zulfiah
add Facebook: Risdatul ZulfiAH

Cerpen Ada Cinta (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Berbelit

Oleh:
“Res, aku mau ngomong sesuatu sama kamu” Kataku kepada Resya, sahabatku “Iya ngomong apaan” “Eemm aku suka sama Bagas senior kita kelas 10/1 SMA” “Ohh itu pantesan kamu suka,

Batang (Part 1)

Oleh:
Menurut Wikipedia, rok*k adalah silinder dari kertas yang panjangnya antara 70 hingga 120 mm dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Itu sih menurut

Random

Oleh:
Aku melihat perempuan dan berharap untuk memilikinya, tapi dia tidak mungkin bisa kumiliki. Ya, sahabat saat aku di bangku sekolah. Namanya Bella, aku dan dia selalu bersama sejak kecil.

Kutunggu Abu Abu

Oleh:
Aku masih berada dalam buaian mimpi indahku, saat tiba-tiba seseorang meneriakkan namaku. Membuatku seketika melonjak mendapati Anya sudah ada di kamarku. Menggoyang-goyangkan tubuhku, memaksaku untuk bangun. Aku hanya menggeliat,

Cinta itu Pengakuan

Oleh:
Aku tak pernah mengagumi atau mengidolakan siapapun dalam 15 tahun perjalanan hidupku. Bahkan ibupun aku tak tahu, tak pernah bertemu. Hhhhh entahlah. Aku bahkan pernah berfikir akan lebih baik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *