Ansel & Aileen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 29 July 2021

Berlapiskan gaun ungu bermodel duyung, high heels dan handbag putih, serta pernak-pernik yang ada di leher dan telingaku. Aku masuk ke ruangan layaknya miss Indonesia, tidak sedikit mata menatapku tertarik. Entah itu pujian atau hinaan. Aku tidak tahu. Kuperhatikan sekeliling ruangan, sudah jelas di hadapanku seorang lelaki ganteng, keren, nan gagah melambaikan tangannya untukku. Kubalas dengan senyuman, lalu berjalan anggun menghampirinya.

“Ho ho. Lihatlah pangeran kelas kita, dengan setelan jasnya. Ansel. Wah… Sahabatku ini memang bibit unggul sejak lahir,” kataku memuji kegantengannya itu. Gimana gak ganteng, jantan berkulit kuning, alis tebal, hidung mancung, dan bibir yang seksi itu berhasil memikat hati para betina. Ditambah lagi rambutnya yang ditata rapi membelah dua, wih… Nyaris membelah dunia.
“Sudahlah, duduk sini,” sahutnya.

“Apa hidangan ini boleh dimakan? Aku gak sempat makan siang tadi. Lihat ada makanan di depan mata, aku jadi lapar.”
“Bodohnya Aileen! Sudah tahu selesai acara bakalan tengah malam, malah gak makan pula dari rumah. Makan ini! Jangan sampai kamu kelaparan, nanti kalau kamu pingsan gimana?”
Mendengar ucapannya tanganku langsung menyerbu cupcake coklat di susunan paling atas. Kunikmati, sambil menunggu acara dimulai.
“Pelan-pelan Aileen, nanti ke sedak!” serunya, sambil memberikan air mineral padaku.
“Selow bro. Selow.” Walaupun dingin, Ansel tetap lelaki yang paling perhatian ke aku. Bahkan hal sepele pun dia perhatiin.

“Tapi kalau diperhatikan ya… Hari ini kamu berbeda Aileen.”
“Maksudnya?” tanyaku. Dariku mengerut, otakku memprediksi kira-kira apa yang dipikirkan bocah itu.
“Maksudku. Kamu lebih cantik hari ini,” jawabnya gagap. Mungkin karena malu.
“Oh… Eh! Jadi maksudmu hari-hari sebelumnya aku gak cantik gitu?”
“Bukannya gak cantik, kan..”
“Oh gitu ya… Oke” potongku. Matanya memutar, menandakan menyerah berkata-kata. Aku tersenyum manis, menatap mata si bocah ini. Bermaksud menggodanya. Ini pertama kalinya aku melihat Ansel tersipu malu begini.
“Hei! Apa? Jangan menatap seperti itu. Jangan tersenyum manis seperti itu!”
“Kenapa?”
“Ya… Pokoknya jangan!”

“Ansel. Kalau dipikir-pikir ya… Sebentar lagi kamu beranjak dewasa. Itu artinya masa remajamu bakalan the end.”
“Terus…?”
“Hmmm. Apa kamu gak kepikiran buat pacaran gitu? Secara kan banyak cewek yang ngedeketin kamu tuh, apa kamu gak tertarik?”
“Gak!”
“Gak tertarik? Widih… Oi! Kamu tuh ganteng, pinter, populer. Hah! Kaya lagi. Kurang apa coba? Kesuksesan sudah ada digenggaman. Aku sebagai sahabat seorang Ansel, harus memastikan apakah Ansel menikmati masa remajanya atau tidak,” kataku, sambil memakai gerakan tangan agar lebih menyakitkan.
“Atau jangan-jangan kamu homo ya!” lanjutku, dengan nada tinggi. Tamu-tamu menatap kami heran, satu dua tertawa kecil ke arah kami.
“Mau kutonjok?” tanyanya. Aku mengangguk menggodanya. Kini, wajah lelaki itu memerah menahan emosi, dan aku tertawa kecil melihatnya.

“Wah… Lihat gadisku ini. Terlihat sangat cantik dan menawan dihari perpisahan sekolah ini,” kata seseorang yang berjalan santai mendekati kami berdua. Bastian. Pria yang gak kalah gantengnya dengan Ansel, Cuma yang kali ini sedikit bodoh. Ups! Haha.
“Apa itu pujian?” tanyaku yang sedikit malu. Jujur saja, aku sedikit tertarik dengan Bastian. Setiap perhatiannya yang menghampiriku berhasil menyulapku. Apalagi dia tipe pria kesukaanku, sedikit brengsek tapi ganteng. Haha.
“Kan, kan kan! Sudah kubilang jangan tersenyum manis seperti itu! Apalagi ke laki-laki lain!” ujar Ansel, sambil menunjuk-nunjuk bibirku. Seketika senyumanku menciut. Menatap sinis ke Ansel, lalu berkata, “Emangnya kenapa hah?”
“Ya… Kalau kamu senyum… Ah! Pokoknya gak boleh!”
“Kok ngatur sih!”
Bastian tertawa melihat tingkah kami berdua. Menepuk-nepuk bahu Ansel sebanyak tiga kali, lalu pergi meninggalkan senyumnya kepadaku. Aku salah tingkah karena itu.

“Selamat sore para hadirin selamat datang di acara perpisahan sekolah Trisatra…” Suara MC memulai acara. Aku memperbaiki posisi, memperhatikannya.
“Oppa!” teriak seseorang yang memanggil Ansel. Aku mengenal suara ini. Emma. Si konglomerat, obsesif, dan gak mau kalah. Yah… Kuakui dia gadis yang cantik.
“Oppa, kamu kok ninggalin aku sih… Dia siapa? Dia selingkuhan kamu?” Gadis itu menunjukku. Aku hanya diam, menyantap santai cupcake yang ada di atas meja ini. Ansel juga dia tak menganggapi. Gadis itu semakin ribut, menanyakan siapakah aku.
“Pergi sana.” Kalimat pertama yang dikeluarkan Ansel untuk menanggapi gadis itu.

Bshukkk!
Emma menyiram segelas air putih ke wajahku. Aku diam tercengang. Sekarang seluruh mata menuju ke meja kami.
“Emma!” bentak Ansel. Emma melanturkan sejuta keluhan dari mulutnya. Yang bisa didengar telingaku adalah, “bla bla bla bla bla bla dan bla.”

“Diam!” teriakku. Seketika ruangan hening. Aku berdiri mendekati Emma.
“Woi! Dari tadi Ansel udah nyuruh kamu pergi kan? Tapi kamu malah sibuk nanya siapa aku, tanpa lihat situasi. Sebenarnya kamu cinta sama Ansel atau. Atau terobsesi? Enak aja kamu nyiram air ke wajahku hah!” Emma terdiam melihatku. Bukan Cuma Emma, yang lainnya juga. Kuambil gelas lain yang berisikan air. Kuayunkan ke arah Emma, menakuti. Sontak gadis itu mengelak ketakutan. Aku tertawa kecil.
“Aku haus! Kamu pikir aku mau nyiram seenaknya aja hah! Dengar ya Emma. Kalau kamu gini terus, itu membuatku semakin bersemangat ngerebut Ansel dari kamu. Jadi bersikaplah sewajarnya” Kataku mengakhiri. Emma masih terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Minggir!” bentakku, sambil mendorong pelan menyingkirkan mereka.

“Aishhh basah semua lagi. Dasar Emma. Lagian Ansel sih. Mau aja di kejar-kejar sama dia. Cewek obsesif itu. Merepotkan aja.” Aku berbicara dengan bayanganku yang ada di kaca toilet. Mengeluhkan gadis puber itu.
“Aileen! Ini aku Lasma!” Suara seseorang, sambil mengetuk-ngetuk pintu toilet. Diberinya aku baju ganti, “Nih dibawa Ansel. Kata dia tadinya mau dihadiahin ke kamu.”
“Oh iya. Aileen. Kamu jago nyanyi kan? Bantuin aku dong…” lanjut Lasma, dengan raut wajah memohon.
“Bantuin apa?”
“Jadi gini. Bintang tamu pengisi acara belum datang juga. Karena kejadian kalian tadi, aku pikir waktunya cukup. Ternyata dia belum sampai juga. Udah aku hubungi, tapi gak dijawab.”
“Terus? Bantuin apa nih?”
“Bantuin isi acara dong. 10 menit aja. Kamu, Ansel, dan Bastian kan pernah satu grup band. Isi acara dua lagu aja… Ya?”
“Oke. Tapi konfirmasi dulu ke Ansel dan Bastiannya. Aku ganti baju dulu.”
“Oke! Makasih sayang!”
“Cih!” Aku tersenyum, membalas gurauan temanku itu. Tersenyum lagi ketika melihat gaun yang di beri Ansel untukku. Hadiah? Beneran ga nih? Tapi warna pink. Bodoh ah… Pakai aja. Toh bagus-bagus aja kok di kulitku.

Sampai di belakang panggung. Aku, Ansel, Bastian, dan temannya Bastian saling berhadapan.
“So, kita mau bawain lagu apa nih? Sudah pasti kan? Aku main drum, Ansel main gitar, Leo main piano, and my lady vocalis.” Bastian dengan cool nya memulai rundingan, tak lupa menggodaku. Aku tersipu malu.
“Gimana kalau Stuck with you? Lagunya Justin Bieber,” ujar Ansel merekomendasi.
“Yakali nyanyi lagu itu. Nantinya penonton malah salfok ke artinya lagi,” sahutku.
“Gimana kalau still into you?” request nya lagi.
“Boleh tuh,” jawab Bastian. Aku mengangguk setuju.
“Lagu keduanya?” tanyaku lagi.
“Stay with me?” jawab Ansel, lagi. Yang lain mengangguk setuju.
“Widih… Tau aja kamu lagu lope lope ya. Padahal single. Tapi Oke deh haha!” seruku semangat.

Kami berdiri sesuai posisi yang sudah di rundingkan sebelumnya. Penampilan kami pun dimulai.
~ But when our fingers interlock, Can’t deny, can’t deny you’re worth it ~

Aku pun mulai memasuki malodi lagu, tak lupa kulirik Bastian, sambil mengedipkan mataku ke arahnya. Hingga di klimaks dari lagu ini. Kugoda lagi dia dengan mengacak rambut ke atas kepalaku.
~ ‘Cause after all this time, i’m still into you. I should be over all the butterflies. But I’m into you ~
Bastian memainkan drumnya dengan ketukan rocknya membuat jantungku berdegup kencang. Tiba-tiba Ansel menaikkan volume gitarnya, yang membuat konsentrasi kami hilang kendali sejenak. Kutatapi wajah Ansel dengan sinis. Dibalasnya dengan tatapan sini pula. Aku tahu, ada benih kecemburuan di sini. Aku tersenyum riang, membakar klimaks lagu ini dengan penuh semangat.

Penampilan pun selesai, sorak-sorai, dan tepuk tangan penonton masih terdengar di belakang. Itu semua berkat ke profesionalan kami haha…
Bastian menghampiriku, menepuk rambutku lembut. Aku tersenyum.

“Woi! Jangan sembarangan pegang kepala orang dong!” seru Ansel. Cemburu.
Aku memeluk Ansel dan berkata, “Ansel! Makasih banyak!”
“Hei! Jangan peluk aku! Pake senyum lagi.”
“Kenapa?” tanyaku pura-pura polos.
“Jan.. Jantungku berdegup kencang,” jawabnya gugup. Senyumku semakin lebar. Memeluknya lebih erat lagi.

Bastian yang menyaksikan kami menunjukkan raut muka kecewa terhadapku, aku hanya bisa tersenyum padanya. Yang sangat-sangat kusuka bukanlah Bastian melainkan Ansel. Yang sudah 3 tahun ngehabisin waktu bersamaku. Ansel yang kalau aku telat ke sekolah diteleponin mulu, Ansel yang kalau aku sakit datang ke rumah ngasih bubur hangat, Ansel yang kalau aku kena masalah pasti ngebantuin nyelesain, Ansel yang kalau aku menangis pasti nutupin muka aku pakai bajunya, supaya gak kelihatan orang-orang. Semua itu Ansel bukan Bastian.

Kami kembali duduk ke tempat masing-masing. Kudekati kursi Ansel, kubisikkan di telinganya, “Sudah lama aku menyukaimu tapi kenapa baru sekarang kamu membalas perasaan itu?”
Ansel memandangku heran. Telinganya memerah, tersipu malu. Aku tersenyum manis. Senangnya bukan main. Akhirnya perasaanku terbalaskan.

“Ansel. Gimana tadi kamu muji aku? Aku lebih cantik?”
“Hm… Iya”
“Coba bilang lagi?” kataku lagi, sambil mencubit pelan perutnya. Aku tertawa kecil, disambut lagi tawa kecilnya.

Cerpen Karangan: Patricia Manurung
Blog / Facebook: Patricia manurung

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 29 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Ansel & Aileen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tanduk Rusa Jantan

Oleh:
Entah aku sedang berada di mana. Yang ku lihat hanyalah ilalang setinggi pinggangku dan beberapa pohon raksasa di ujung utara. Aku berjalan sendirian dengan mengenakan baju terusan selutut berwarna

Menepis Rindu di Leicester Square

Oleh:
“Kau tidak pergi?” Clare menggeleng sebagai jawaban. Dominic mendesah pelan. Clare sudah berada di jendela terbuka Ruang Duduk sejak 2 jam lalu. Dia tidak memperhatikan apapun. Juga tidak menunggu

Love the Hand Clapping

Oleh:
Tayangan di sebuah stasiun televisi membuat seorang gadis kecil yang imut itu terkagum-kagum hingga es krim yang digenggamnya meleleh menetesi karpet merah maroon yang tengah didudukinya. “Qaaley! Es krimmu

Kenangan Indah Masa Lalu (Part 1)

Oleh:
Angin malam terasa dingin menyentuh pipiku. Dibumbui oleh hujan yang sudah sedari tadi turun dengan derasnya menambah sensasi dingin malam ini. Aku yang kedinginan menggosok-gosokkan kedua tanganku sambil kutiup

Terima Kasih Eza

Oleh:
“Selamat Pagi Sayang.” Tiba-tiba ada sms masuk ke hpku, ternyata dari Eza kekasihku. “Selamat Pagi juga Sayangku, semangat sekolahnya ya.” Begitulah smsku kepada Eza setiap pagi hari, aku dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *