Ara, Alvian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 18 February 2021

Aku disini lagi. Di rumah Alvian. Bunda sudah sejak pagi berada disini untuk bantu-bantu bersama saudara-saudara yang lain.
Sebenarnya aku tidak suka. Ramai. Egois ya? Padahal saudaraku baru saja meninggal.

Tujuh hari yang lalu…
Setelah mendapat kabar duka dari keluarga Mbak Nur, Ibu Alvian, Aku sekeluarga pun bergegas menuju rumah duka. Mbak Nur merupakan keponakan Ayah dari Alm. Kakak pertama Ayah.
Suami Mbak Nur dikabarkan meninggal tadi pagi setelah sekitar seminggu dirawat di Rumah Sakit. Padahal Kudengar, Keadaan suami mbak Nur kian membaik. Entahlah.

Selepas membaca Yasin dan Tahlil, Aku dan bunda pun segera menghampiri Mbak Nur di ruang tengah. Sementara Ayah dan Kakak sedang berada di depan bersama bapak-bapak lain.
Tanpa mengucapkan apapun, Bunda langsung duduk di samping Mbak Nur dan mengelus punggungnya. Kata Bunda, disaat seseorang kehilangan seperti ini, Ia tak berharap mendengar ocehan bela sungkawa dan yang lainnya. Mungkin itu yang dirasakan Bunda ketika Kakek meninggal dulu.

Sebenarnya Aku ingin ikut Bunda di dapur, tapi Mbak Nur melarang. Ia menyuruhku untuk menjaga Adel, anak bungsunya yang masih berusia 2 tahun. Anak ini cukup pendiam. Padahal Ia tak akrab denganku. Aku bahkan ragu apakah ia mengetahui namaku.

“Kak?”
“Eh? Iya?”
“Mau Kak yan.” Lanjutnya.
“Mm Kak yan dimana?” Tanyaku setelah beberapa detik baru paham kalau ‘Kak Yan’ itu Alfian.
“Di Kamal.”
Aku pun menggendong Adel dan mengikuti arahannya untuk pergi ke kamar Alvian.

“Ini?”
Adel pun mengangguk dan berseru, “Kak yaaan!”

Tampak Alfian membuka pintu kamar dengan raut wajah bingung. Aku tidak tahu, tetapi menurutku itu raut wajah bingung.
Sama sepertiku yang bingung harus ngomong apa. Sudah kubilang kan, Aku tidak pandai ngobrol dan lain sebagainya.

“Sini.” Alfian mengambil Adel dari gendonganku.
“Kamu ya ngerepotin orang aja.” Sambungnya.
“Sini, Kak!”

Melihatku hanya diam diambang pintu kamarnya, Alfian pun mempersilahkanku masuk ke kamarnya. Aku pun tersenyum kikuk dan menurut.
“Ini namanya Kak Ara.” Jelas Alfian yang sekarang tengah berbaring di kasurnya pada Adel.
“Kak Aya.”
“Arrra.”
Aku hanya tertawa mendengar perselisihan kecil mereka.

“Ayah kenapa suruh Alvian kerja di bengkel Ayah?”
“Ayah nggak nyuruh. Alvian yang mau.”
“Tapi kan Ayah tau kalo Alvian itu masih sekolah. Tugasnya Alvian ya belajar, Yah. Apalagi Alvian udah kelas 3.”

Ayah menghela napas dan memandangku.
“Sayang, coba kamu pikir dari sudut pandang Alvian. Dia pengen bantu Ibunya. Keluarganya.”
Aku hanya diam.

“Ayah tahu Alvian masih sekolah. Makanya Ayah kasi dia kerja sore-malem doang.”
“Terus gimana Alvian belajarnya?”
“Alvian kan belajarnya di sekolah.”
Lagi-lagi Aku diam.

“Dengan kerja di bengkel, bukan berarti itu akan ganggu belajarnya. Alvian juga sedang belajar. Dia mulai belajar mandiri dan bertanggung jawab.”
Ayah mengusap kepalaku dan berkata, “Tumben kamu… Mm protes masalah orang lain?”
“Ya… Mm Alvian kan.. Mm sodara kita.”

Aku tidak menyangka kalau Ayah akan menyuruh Alvian untuk mengantarkanku ke sekolah. ‘Masalahnya, Aku dan Alvian itu beda sekolah!’ Walaupun sekolah kami searah, Aku tetap merasa tidak enak dengannya. ‘Kalau dia telat gara-gara nganterin aku gimana?’

“Nanti kamu pulang jam berapa?”
“Jam 3.” Jawabku sambil menyerahkan helm pada Alvian.
“Ayah nggak nyuruh kamu jemput aku juga kan?”
“Iya. Kenapa?”
“Kamu mau pulang bareng orang lain?” Sambungnya.
“E.. enggak kok.”
Alvian hanya mengangguk menanggapi jawabanku dan melajukan motornya.

Tok tok tok
Aku tidak tahu mengapa Aku ke rumah Alvian. Kata Ayah, Mbak Nur tidak mengizinkan Alvian kerja sampingan.
‘Ya terus kenapa aku kesini?’

Pintu pun terbuka. Terlihat Mbak Nur yang tengah menggendong Adel.
“Eh Kak Ara.”
Aku pun tersenyum kikuk dan bertanya,
“Mm Alvian ada Mbak?”
Hening beberapa detik sebelum akhirnya Mbak Nur memperselihkan Aku untuk masuk.

Mbak Nur pun menceritakan tentang Ia yang memarahi Alvian karena tidak setuju dengan keputusan Alvian untuk bekerja sampingan di bengkel Ayah. Aku tahu dari Ayah kalau Alvian tidak menceritakan hal ini pada Mbak Nur.

“Kayaknya Mbak keterlaluan deh marahin Vian.”
“Oh ya, dia lagi di kamarnya. Kamu samperin aja ya. Mbak lagi bikin pesenan kue nih.” Sambung Mbak Nur.
Aku pun tersenyum dan mengangguk.

Aku mengetuk pintu kamar Alvian dan masuk. Tampak Alvian sedang duduk bersandar pada ranjangnya. Aku pun duduk disampingnya.
‘Sungguh. Aku tidak tahu harus apa.’

Aku tahu Alvian sedang mengalami hal-hal berat akhir-akhir ini. Aku ingin melakukan sesuatu. Setidaknya mengatakan sesuatu. Tapi… sungguh, Aku bukan orang yang cukup pandai untuk melakukan hal itu.

Alvian mengalihkan pandangannya padaku. Menatapku. Cukup lama kami saling berpandangan. Hingga tanpa sadar, tanganku mulai mengusap pelan tangannya.
Alvian menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku… sedikit terkejut dengan perbuatannya yang tiba-tiba itu. Aku pun mengusap pelan punggungnya.

“Aku… salah ya?”
“Nggak ada yang salah.”
“Aku bikin Mama Marah. Padahal Aku pikir, Aku pikir Aku bantu Mama, Aku pikir”
“Vian.”
Aku mulai mengusap pelan bagian belakang kepalanya. Hening. Baik Aku maupun Alvian tak ada yang bersedia membuka suara hingga akhirnya Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya.

“Vian tahu, awalnya Aku juga protes sama Ayah karena ngizinin Kamu kerja di bengkel.”
Ia hanya menatapku.
“Aku pikir itu akan ganggu belajar kamu. Apalagi kamu udah kelas XII. Tapi kata Ayah, Kamu juga sedang belajar. Belajar menjadi dewasa. Belajar menjaga sesuatu yang berharga.”
Aku mengusap pelan pipinya dan menambahkan,
“Tapi bukan berarti Mama kamu salah. Kalian sama-sama melewati hal yang sulit. Sama-sama kehilangan orang yang sangat berharga. Dan kalian juga sama-sama sedang menjaga sesuatu yang berharga.”

Ia mengusap tanganku tanpa berniat untuk melepaskannya dari pipinya.
Kemudian Alvian mengajakku ke dapur.
‘Gimana sih, lagi serius-serius malah dia nanya Aku udah makan belum. Dasar!’

“Neduh dulu ya?”
Aku hanya menjawabnya dengan bergumam. Sebenarnya Aku tidak masalah jika kehujanan. Toh kalau sampai rumah ganti baju. Tetapi mungkin Alvian tidak suka kehujanan.

Akhirnya, Mbak Nur mengizinkan Alvian untuk bekerja sampingan di bengkel. Asalkan itu tidak mempengaruhi sekolah Alvian, Aku pikir tidak apa.

“Eh?”
Aku sedikit terkejut karena Alvian memakaikan jaketnya padaku.

Hujan masih deras dan Kami masih saling diam. Hanya suara hujan yang mengisi diantara kami hingga akhirnya ponselku berbunyi. Panggilan dari Bunda.
Aku bilang kalau hujan dan sedang meneduh.

“Banyak banget ya yang jagain kamu.”
Aku mengalihkan pandanganku untuk menatapnya.
“Gimana bisa aku ngimbanginnya?” Lanjutnya sambil membenarkan Hoodie jaketnya di kepalaku.
Aku masih bungkam. Menginginkan kelanjutan dari penjelasannya.

“Sekarang, Aku masih belajar jagain Mama. Jagain Adel. Mana berani Aku ngimbangin keluarga Kamu buat jagain Kamu juga.”
“Aku tungguin.” Ucapku sambil menunduk.
“Aku tungguin sampe Kamu bisa jagain orang-orang yang berharga bagi Kamu.” Sambungku.
“Termasuk Ara.” Ucapnya sambil menuntun wajahku untuk menatapnya.

Setelah itu, Aku merasakan Alvian mengecup puncak kepalaku yang terhalang Hoodie. Iya, tidak bersentuhan.

“Aku sayang Ara.”

Cerpen Karangan: Icecho
Facebook: Alshop

Cerpen Ara, Alvian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Permen Yang Pahit

Oleh:
“Semua orang pernah berumur lima tahun. Menjadi anak kecil dimana bermain, berlari dan berpetualang adalah hal yang sangat menyenangkan. Namun, semakin bertembah dewasa kenanangan itu perlahan mulai hilang. Sudah

Te Amorr, Nai! – Senandung Cinta

Oleh:
Siang itu Nara sedang melepas lelah di kamar kozannya. Rita nampaknya masih di kampus dan sibuk dengan tugas jurnalistiknya. Maklum lah, dia memang mahasiswi fakultas Dakwah dan Komunikasi, jadi

Terselip Cinta di Bumi Perkemahan

Oleh:
Sinar mentari memeluk lembut tubuh ini, menghangatkanku dari dinginnya setetes embun pagi ini. Sebuah bus telah melaju membawaku menuju ke suatu tempat. Berhenti. Kini aku berada di sebuah taman

Puisi Terakhir

Oleh:
Kita masih disini… Masih menghirup udara yang sama di ruangan ini. Entah sampai kapan kita mampu bertahan. Tapi kita harus tetap berjuang. Saat ini mungkin tak akan pernah kembali,

Pengagum Sang Pengagum

Oleh:
“Iya bu, terima kasih,” Ucapku seraya menerima uang kembalian dari ibu kantin. Aku segera menuju meja yang sudah kami pilih, ku tunggu Bella yang masih memesan makanannya. Seketika aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *