Bahagia Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 4 January 2016

Tiara atau sering dipanggil Ara, berjalan sendirian melintasi koridor kampus yang masih sepi, selalu sepi setiap ia melewati koridor ini di pagi hari. Mungkin Ara terlalu rajin datang sepagi ini, tapi selalu saja ia tidak pernah bisa datang terlambat walaupun sudah dicoba berkali-kali. Sudahlah.. mungkin memang sudah ditakdirkan seperti itu. Koridor kampus saja masih gelap dan sepi, eh.. tapi kok ruang 231, ruang kelasnya sudah nyala ya lampunya? Enggak seperti biasanya. Ternyata, di kelas sudah ada satu teman dekatnya yang sedang duduk sendirian di kelas dengan handphone ditangan kanannya.

“Sha…” Ara menegurnya, karena sepertinya dia tidak sadar kalau pintu kelas dibuka. Gadis itu berjalan menghampiri teman karibnya itu.
“eh ra dari tadi?” Marsha sepertinya kaget melihat Ara yang sudah nyender di tembok samping papan tulis.
“haha serius banget sih Sha sampe gak tahu gue dateng.” Ucap Ara sembari melirik ke layar hp yang sedang dipegang Marsha. Yap! Kebiasaan Ara yang kepo banget.
“Sory ra. Ih apa sih lirik-lirik, kepo kumat deh!” Marsha langsung menekan tombol off yang ada di sebelah kanan hp-nya agar layar hp-nya mati.

“Ish pelit deh lo.” Ara langsung beranjak ke dekat jendela dan membuka jendela itu.
“Tutup jendelanya ra, kan AC-nya nyala. Emang lo kepanasan?” Tanya Marsha yang langsung menghampiri Ara.
“Menurut lo?” Ucap Ara sembari menyunggingkan senyum ngeledeknya.
“Kulit badak dasar.” Marsha dan Ara tertawa bersama.

Ara sangat menyukai udara pagi yang segar, karena baginya udara pagi itu bagian dari obat alami gratis yang disediakan sang pencipta. Jadi jangan disia-siakan. Ia tidak suka udara yang berasal dari AC. Baginya AC membuat seluruh tubuhnya merasa tidak fit dan seperti terserah penyakit yang hebat. Ara hanya menyukai AC, ups! AC alam loh.. Ara dan Marsha memiliki sifat yang berbeda. Marsha yang notabene adalah wakil ketua kelas di kelasnya dan ia seorang gadis yang pintar dan aktif di kelasnya, cantik dan juga menjadi pusat perhatian buat cowok-cowok di yang kenal dengannya.

Ara gadis biasa yang bukan apa-apa dibanding Marsha, tapi Ara selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk semua orang yang membutuhkannya. Ara pasti juga punya kelebihan selayaknya yang Marsha punya, mungkin ia belum mengetahuinya saja. Tuhan adil. Ya dia selalu percaya itu. Ruang 231 mulai ramai, satu persatu mahasiswa berdatangan. Marsha terlihat asyik ngobrol sama teman-temannya yang lain. Entah apa yang dibicarakan. Ara selalu ingin tahu apa yang sedang dibicarakan, tapi ia selalu mengurungkan niatnya. Bukan waktu yang tepat kepo-nya itu muncul.

“Dosennya mana sih belum dateng dateng.” Gerutu Dirga sang ketua kelas yang. Um.. tumben dia menggerutu kayak gitu, biasanya dia yang paling happy kalau dosennya nggak dateng dan dia disuruh ambil absen di sekretariat dosen.
“Tumben dir lo nyariin dosennya.” Sahutku yang aneh sama sikapnya itu.
“Plis deh ra gue kan ketu.” Ucap Dirga dengan gaya sok cool-nya.

“Dir cek ke sekdos sana, biar pasti tuh dosen masuk atau enggak.” Mahasiswa yang lain pun ikut berpendapat. Ya memang tidak enak digantung sama dosen.
“Ra temenin gue yuk.” Dirga menarik tangan Ara yang sedang digunakan untuk menopang dagunya.
“Kok gue sih dir, sama Marsha aja kan dia wakilnya.” Sahut Ara dengan malasnya.
“Mana Marsha nggak ada, udah sama lo aja yuk.” Ara melihat sekeliling, mencari Marsha. Tidak ada ternyata, dia memang suka ngilang tanpa jejak. Maklum, Marsha pandai bergaul dan punya banyak teman. Tapi, itu tidak membuat Marsha melupakan Ara. Sampai saat ini.

“Dir lo yang masuk gih, gue tunggu di luar.”
“Hmm.. Okelah.” Ara berjalan mengelilingi ruangan sekdos. Bukan maksud tidak ingin masuk ke sekdos menemani Dirga, tapi seperti ada yang membuatnya penasaran ingin berkeliling sendirian. Ara menghentikan langkahnya dan duduk di bangku putih yang ada di belakang ruangan sekdos. “Sejuk.” Batin Ara yang merasa nyaman berada di situ.

Because tonight will be the night that i will fall for you, Over again don’t make me change my mind.

“Eh.. duh ketiduran lagi.” Ucap Ara dan langsung nge-cek hp-nya yang berbunyi. “Halo sha, hah balik? Jam segini udah balik? Eh iya jam 12. Dosennya masuk tadi? Enggak? Syukur deh. Iya gue ketiduran nih hehe. Oke gue ke sana dah see you, tunggu loh!” Nggak sadar Ara ketiduran kurang lebih 3 jam. Ara langsung cepet-cepet naik ke lantai 3 dan nyamperin Marsha yang kayaknya lagi ngobrol di deket tangga sama cowok. Kedengeran dari lantai 2.

“Siapa ya cowok itu?” Ara membatin melihat laki-laki berbadan atletis, tinggi kira-kira 170 cm, dengan sweater biru dongker yang lengannya digulung sampai melewati sikut. Lelaki itu juga berkacamata, Tapi tetep kelihatan charming.
“Araaa! Ngilang Berjam-jam, gue kira lo diculik.” Ucap Marsha yang dengan sedikit heboh. “Oh iya kenalin, ini Bayu. Bay, ini Ara sahabat gue.” Marsha memperkenalkan Ara dan Bayu. Ara dan Bayu hanya saling tersenyum tipis. Ara tidak mengulurkan tangannya untuk berkenalan karena dia selalu merasa nggak pede di deket cowok. Kalau Bayu? Nggak tahu kenapa dia juga gak mau ngulurin tangannya.

“Ra, nggak bisa pulang bareng ya hari ini. Gue mau ngajarin Matematika ke Audy dan teman-temannya. Apa mau ikut?” Marsha memecahkan keheningan.
“Oh, nggak deh sha gue balik duluan aja. Selamat mengajar Ibu dosen!” Ucap Ara sambil pergi dan juga tertawa ngeledek Marsha.
“Woo apaan sih lo. Hati-hati ya!” Teriak Marsha dan pasti terdengar oleh Ara, karena suara Marsha yang lantang ngalahin klakson tronton.

Siang yang panas banget bikin semua orang termasuk Ara males buat ke luar dan berjalan di bawah terik matahari. Tapi Ara akan lebih males kalau harus berlama-lama di kampus tanpa satu pun aktivitas yang dilakukan, dan lebih tepatnya tanpa satu pun orang yang menemani. “Ya ampun, belum salat dzuhur lagi. Mesjid dulu deh baru pulang.” Ara selalu ingat akan kewajiban yang harus dilaksanakan itu. Selain dapet pahala, adem juga rasanya kalau habis salat.

Triiinggg.. Tringggg! Alarm hp berbunyi bukan buat bangunin Ara dari tidur, karena hari ini libur. Tapi buat ngingetin Ara tugas apa yang harus dikerjain. Percuma nulis di catetan, karena gak bakal dilihat Ara. “Huah! Akuntansi! Plis be smart ra!” Ara nyemangatin dirinya sendiri. Akuntansi emang bukan minatnya, dia lebih suka di bidang seni. Yang pasti nggak ketemu matematika. Tapi apa daya, orangtuanya memberi masukan agar Ara ngambil jurusan akuntansi karena untuk masa depannya sendiri. Tapi Ara kurang yakin masa depannya bisa indah di tangannya. Semoga, indah.

“Ke Perpus aja kali ya biar lebih enak di sana. Coba deh.” Ara jarang banget ngunjungin perpus kalau nggak karena kepepet nyari buku, tapi kali ini dia pengen nyoba sensasi ngerjain tugas di perpus, bisa jadi dapet angin yang bikin otaknya jadi adem terus bisa ngerjain akuntansi.

Siang itu perpus kelihatan penuh dengan mahasiswa yang sedang diskusi, ngerjain tugas atau hanya sekedar ngobrol bisik-bisik dan main games di laptop. Ara memilih meja di pojok kiri dekat jendela dengan dua bangku yang saling berhadapan. Cuma itu yang masih kosong. Dan tempat yang pas. Rasanya komplit ngerjain tugas sambil sesekali ngelihat ke luar jendela nikmatin pemandangan dari lantai 5, semuanya kelihatan lebih kecil. Mungkin sekecil itu Ara di mata semua orang, bahkan tak terlihat. Tidak ada yang istimewa dari dirinya. Terdengar bangku di depannya ditarik. Ara menoleh buat mastiin siapa yang menarik bangku itu.

“Eh…” Ara kaget, bukan karena dia tidak setuju bangku itu diduduki. Tapi karena dia kenal dengan orang di depannya itu.
“Nggak ada bangku lain lagi.” Ucap lelaki yang Ara kenal kemarin siang dari Marsha.
“Iya, tapi..”
“Ini tempat mahasiswa, bebas siapa yang mau duduk di sini. Nggak ada salahnya, daripada harus duduk lesehan di bawah.” Dengan santainya Bayu memotong ucapan Ara, dan langsung membuka laptopnya. “Idih sok cool banget, pengen gue makan abis lo!” Batin Ara kesel melihat kelakuan Bayu.

Sudah hampir satu jam Ara berkutat dengan binder dan buku Akuntansi yang tebal, tapi masih kertas kosong yang terlihat. Di luar awan mulai mendung dan mulai terlihat tetesan hujan satu persatu. Ara menyenderkan kepalanya ke jendela dan menutup matanya. Ara merasakan kepalanya adem terkena tetesan hujan yang menempel di jendela.
“Jangan terlalu nempel. Nanti ada petir.” Sahut Bayu yang ternyata memperhatikan Ara dari tadi.
Ara membuka matanya, “it’s oke. Nggak ada yang perlu ditakutin.” Sahut Ara santai dan kembali menutup matanya.
“Termasuk tugas akuntansi lo?” Ucapan Bayu membuat Ara membuka mata -lagi- dan kali ini langsung tertuju pada buku akuntansinya.

“Itu dihitung dulu modalnya, baru dibikin jurnal.” Sahut Bayu.
“Tahu apa anak Tekhnik sama akuntansi?” Sahut Ara sedikit menyindir. Ya, Bayu jurusan Teknik, kelihatan dari buku yang dipinjamnya. Bayu melirik bukunya, mengetahui Ara tahu dia dari jurusan Teknik, “Setidaknya gue lebih tahu harus apa dulu dibanding lo.” Ucap Bayu dan langsung mengambil binder dan buku Ara. Ara hanya terdiam memperhatikan gerak-gerik lelaki itu. Ingin tahu apa yang dilakukannya. Sejauh apa dia tahu akuntansi?

“Nih. Tinggal lo hitung, jangan bilang nggak ngerti ngehitungnya.” Ucap Bayu sedikit meledek.
“Ngerti!” Sahut Ara sedikit kesal karena diremehkan. “Jago juga ya dia, eh tapi belum tentu bener. Bisa jadi ini cuma akal-akalannya dia biar kelihatan bisa. Ih!” Batin Ara.
“Itu pasti bener.” Sahut Bayu yang seakan tahu apa yang dipikirkan Ara.
“Thanks a lot!” Sahut Ara dan langsung pergi meninggalkan Bayu. Bayu memperhatikan langkah Ara yang semakin menjauh. Selalu lucu dan akan semakin lucu pikirnya.

“Ra ikut lomba accounting yuk. Look!” Marsha yang tiba-tiba datang mengagetkan Ara yang sedang larut dalam khayalannya yang selalu indah menurut Ara.
“Apasih sha, gak ah gue gak mau. Lo aja , Matkul Akuntansi aja gue gak tuntas masa mau ikut lomba ngewakilin kelas.”
“Yah ra gak apa-apalah jangan samain sama matkul kita, ini dasarnya banget kok.”
“hmm oke… gu..” Ucapan Ara terpotong karena Marsha yang langsung lari ke luar kelas dan sepertinya dia sedang mengobrol dengan seseorang. Rasa kepo Ara yang tinggi banget, akhirnya Ara memutuskan mengintip dan menguping apa yang dibicarakan, “Bayu lagi? Lagi ngomongin apa kok pelan-pelan gitu ya.”

“Hm sha tuh..” Bayu melihat Ara di balik pintu. Bayu selalu cepat mengetahui sekelilingnya.
“Hmm ada yang nguping nih.” Marsha mengetuk kaca pintu dan tertawa melihat tingkah Ara yang selalu kepo.
“Hah enggak, tadi gue mau ke toilet tapi gak enak mau lewat takut ganggu kalian. Gue.. ke toilet dulu.”
“Eh ra tunggu, nanti gue langsung balik nih, nitip tugas bank ya tolong kumpulin hehe.”

“Loh mau ke mana sha?” Biasa kepo Ara selalu muncul.
“Ada.. hehe, gue juga nanti bareng Bayu.” Sahut Marsha setengah melirik ke Bayu.
“Oh.. oke, taro di binder gue aja tugas lu.” Ara langsung pergi meninggalkan Marsha dan Bayu. Dia tidak ingin berlama-lama berada di antara mereka berdua rasanya. Entah perasaan apa yang selalu hadir semenjak melihat Bayu dan melihat Bayu bersama Marsha. Ara selalu merasa tidak beruntung dibanding sahabatnya itu.

“Happy Birthday… Happy Birthday… Happy Birthday.”
Alarm di hp Ara membangunkannya dari tidurnya yang indah. Alarm seperti itu selalu berbunyi setahun sekali tepat di tanggal 26 Januari. 20 tahun lalu Ara dilahirkan dan sudah 20 tahun ia hidup di dunia yang luas ini. Ara beranjak ke luar dari zona nyamannya. Tiba-tiba ada yang memeluknya dan membawakannya sepiring nasi kuning dihiasi sedikit orek tempe dan telur rebus yang dibelah dua.

“Selamat ulang tahun anak Mama dan Papa sayang, semoga selalu panjang umur, sehat terus, selalu dilindungi Allah. Semoga mimpimu ke Paris tercapai ya. Selalu jadi harta terindah Papa Mama ya sayang.” Papa dan Mama yang selalu menjadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun ke Ara, dan hanya mereka harta terindah yang Ara miliki. Ara memeluk Papa dan Mamanya erat tak ingin ehilangan mereka.

Drrrttt… Drrtttt…Drrrtttt…

“Halo sha ada apa? Hah Marsha kecelakaan? Di mana Dir? Oke gue ke sana tunggu dir.” Dirga menelepon Ara memberi kabar buruk di hari ulang tahunnya. Ara berlari sangat kencang, sangat tidak pernah Ara berlari sekencang ini. Hanya karena sahabatnya.
“Loh kok sepi? Sha… Marsha.. Halo dir lo di mana? Iya gue udah di lokasi, Marsha mana? Ke arah pancuran? Oke, oke.” Ara menutup teleponnya dan berjalan mencari pancuran dan mencari Marsha. Sepi? Tidak ada siapa-siapa di sana.

“Kok sepi juga sih, Marsha mana?”
“Di sini!” Ara menoleh ke belakangnya dan ada Marsha dan teman-temannya di sana.. sangat ramai sekali.
“Selamat Ulang tahun Ara-ku. Sahabatku dan sahabat kita semua.” Banyak balon berwarna biru dan putih, dan juga kue yang terdapat menara Eiffel di tengah kuenya.
“Sha, apaan lo kecelakaan.” Ara sangat terharu melihat surprise dari sahabat dan teman-temannya, tidak pernah dia mendapat kejutan seindah itu walaupun simple tapi sangat membahagiakan bagi Ara.

“And.. ada yang mau bilang sesuatu sama lo.” Marsha menyingkir dan tiba-tiba ada yang muncul dari belakang. Laki-laki berkemeja maroon dan lengan yang digulung setengah membawa bunga mawar merah dan memakai topi Eiffel, Bayu.
“Selamat ulang tahun, Ara.” Hanya itu yang Bayu ucapkan.

Dan Bayu memberikan album berwarna biru dongker polos tetapi sangat tebal. Ara membuka album itu dan terdapat fotonya sedang bersender di dinding koridor pada lembar pertama dan juga terdapat tulisan, ‘Today I find you, and finally i can take your picture.’ Lembar kedua terdapat foto Ara sedang mengelap keringatnya sambil memegang tombol merah di pipinya. “Apa itu jerawatku?” Ara tertawa sejenak dan melihat Bayu.

“Bay, ini.. apa?”
“Itu album semua tentang lo ra, gue kumpulin selama 2 tahun ini. Gue gak pernah sengaja ngikutin lo tapi gue selalu dipertemukan sama lo. Dan gue selalu seneng lihat tingkah lucu lo, cuek lo, polos lo. And i always want to be close with you, everytime.” Ucapan Bayu membuat Ara tidak bisa berkata apa-apa, hanya melihat dan menatap Bayu. Ingin menangis, menangis bahagia.

“Gue gak nembak lo ra, kita udah tinggal selangkah lagi wisuda. Gue gak mau ganggu konsentrasi lo, gue gak mau membuat lo membagi dua konsentrasi lo. Gue cuma mau mengungkapkan semuanya. Biar gue lega.” Bayu memberikan topi Eiffel yang ia pakai dan ia pakaikan ke kepala Ara, “One more, Happy Birthday my Artist hehe.”
“Ra ngomong dong… Hahaha Ara spechlees. Udah ah selamat ulang tahun Ra!” Marsha memecahkan keheningan.

Kebahagiaan kecil sangat dapat membuat kesedihan dan kesendirian berubah menjadi kebahagiaan yang tak ternilai.

Cerpen Karangan: Mutia Rahmadyanti
Facebook: Mutia Rahmadyanti

Cerpen Bahagia Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku Sahabat

Oleh:
Libur sekolah telah usai, kini aku harus memasuki sekolahku yang baru, aku bersekolah di SMP N 1 Kroya. Sekolah ini termasuk favorit di daerah tempatku tinggal. Kebetulan kedua sahabatku

Dia, Si Mayla Yang Malang

Oleh:
Minggu sore, di kediaman sepupu Mayla. Aku sudah satu jam berada di sini, mendengarkan ungkapan rindu dan amarah Mayla. Ada rasa sesal terhadap apa yang diucapkannya, bagaimanapun juga aku

Bukan Dia Tapi Kamu Vin

Oleh:
Ku melirik alvin yang berdiri tak jauh dariku, alvin asyik ngobrol dengan danar temannya. Aku kembali melihat ke depanku andini masih asyik melihat pengumuman di Mading sekolah. Aku mendekati

Kisah Cinta Istimewa

Oleh:
“Bon, kamu sehat kan?” Aku menatap lelaki di depanku sesaat setelah ia berhasil duduk tenang di sebuah bangku kelas kami. Kalau aku boleh berujar kepadamu mengenai posisi duduknya, anggap

Sebuah Pertanyaan (Part 2)

Oleh:
“Hohoho!” Mas Tyo tertawa. “Kaget, ya?” Aku menatap Mas Tyo dari sepatu hingga ujung rambutnya. Penampilannya benar-benar berubah. Aku tahu pasti penampilan alumnus yang satu ini yang biasanya acak-acakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *