Bukan Cinderella

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 25 May 2016

Namaku Cinderella. Ya, Cinderella. Seperti nama tokoh dongeng yang sangat terkenal. Dan kebetulan atau memang takdirnya, ibuku meninggal saat aku kecil dan ayahku menikah lagi dengan janda beranak dua. Atau mungkin takdirku sama sepertinya. Tapi ada yang berbeda dariku dan Cinderella aslinya, ayahku belum meninggal hingga saat ini hanya saja dia terlalu gila dengan perusahaannya hingga lupa pada anaknya sendiri. Dia tidak pernah pulang ke rumah walau hanya sedetik. Seperti Cinderella aslinya, aku disiksa oleh ibu tiri dan kedua saudara tiriku, Cindy dan Sarah. Mereka menyuruhku ini, itu, atau apa pun itu. Aku bersekolah di sekolah yang cukup bergengsi, hanya orang kaya yang dapat bersekolah di sini. Aku bersekolah di sini karena beasiswa yang diberikan sekolah ini. Kedua saudaraku juga bersekolah di sini. Meskipun kami satu sekolah, aku selalu disuruh naik bus atau angkot sedangkan mereka mengendarai mobil mewah.

“Hei!! Tian akan mengadakan pesta ulang tahun!!” teriak salah satu siswi. Hm? Tian akan mengadakan pesta ulang tahun? Ahh!! Pulang-pulang aku pasti disuruh mencuci baju milik kedua saudara tiriku. Aku ke luar dari dalam kelas dan tiba-tiba… Ada seseorang yang memegang tanganku…. ‘Tian memegang tangan gadis itu!’
‘Gadis itu..!!’
‘Tian… Pegang tanganku sajaa!!’ Apa?!!! Tian memegang tanganku?
“Aku juga mengundangmu..” bisiknya. Aku melepaskan genggamannya dan berlari pergi.

Tian adalah lelaki terpopuler di sekolah, tapi jujur aku belum pernah tahu wajahnya. Meskipun saat dia memegang tanganku tadi. Aku tidak sempat melihat wajahnya.
“Heh!” cegah Cindy dan Sarah. Hhh, kedua saudara tiriku ini!!! “Lihat tanganmu!!” ucap Cindy sambil menarik tanganku.
“Apa Tian tidak jijik setelah memegang tangan gadis ini?!” tanya Sarah. Tuhan, tanganku tidak seburuk itu.
“Heh, upik abu! Jangan lupa! Cuci baju terbaikku kemudian setrika! Awas saja kau!” ucap mereka kemudian pergi.
Oh? Begitu? Jika aku tidak pulang sekolah hari ini, apa aku tetap harus menyuci dan menyetrika baju mereka? Ini bukan cerita dongeng! Ini zaman modern!

“Permisi, nona. Jemputan sudah menunggu.” ucap seorang pria berpakaian rapi.
“Jemputan?”
“Mari, nona.” Aku hanya terdiam dan menuruti pria itu. Mungkin saja, ini akan merubah hidupku. Aish, hidup? Kenapa aku berpikir pria ini akan menikahiku?! Yang benar saja. Kenapa pikiranku benar-benar aneh? Dia mengajakku ke arah sebuah mobil mewah. “Masuklah, nona.” Aku mengangguk pelan dan menuruti perintahnya. Aku masuk ke dalam mobil itu. Dan kemudian pria itu yang mengendarai mobil ini.

“Ekhm, permisi, Pak. Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanyaku.
“Apa saja nona..”
“Siapa yang menyuruhmu untuk membawaku?” tanyaku.
“Tuan muda.” Hm? Tuan muda? “Kau akan membawaku ke mana?” tanyaku lagi.
“Salon kecantikan dan butik. Kemudian kau akan diantar ke acara ulang tahun tuan muda.” ULANG TAHUN TUAN MUDA?!!! Maksudnya tuan muda… Tian?
“Pak, apa namanya Tian?” tanyaku lagi.
“Begitulah..”
Aku akan dibawa ke salon? Ke butik? Dengan mobil mewah ini?! Ahh, apa ini mimpi?!

Saat ini aku sudah sangat cantik. Dengan gaun abu-abu selutut, sepatu highells 3 cm berwarna putih silver, rambut terurai dan jepit kupu-kupu sederhana di pojok kiri rambutku. “Kita sudah sampai di pesta ulang tahun tuan muda, nona.” ucap pria yang sama sambil membukakanku pintu. Oh Tuhan, aku serasa seperti terhormat. Aku turun dari mobil. Hm, aku gugup. Aku takut masuk ke gedung ini. Aha! Aku ingat sesuatu. Aku tidak asing dengan gedung ini. Dulu saat aku kecil, aku suka melihat bintang-bintang di gedung ini bersama ibuku. Ah! Tangga itu masih ada! Aku berlari ke arah tangga itu dan memanjatnya. Ahh! Tangga ini masih sama seperti dulu. Dan, yey! Aku sampai di atap!! Eh? Ada seseorang.

“Hai? Kau ikut ke pesta?” tanyaku.
“Tidak. Aku bosan di dalam. Mereka hanya membahas harta dan tahta. Kau sendiri?”
“Aku? Aku takut untuk masuk ke dalam. Aku tidak kenal mereka.” ucapku sambil duduk di sampingnya.
“Hmm, kau bilang mereka hanya membahas harta dan tahta. Dan kau bosan. Apa kau anak orang kaya? Dan, Siapa namamu?”
“Tidak. Aku hanya anak tukang kebun. Namaku Putra. Kau?”
“Aku? Cinderella.”

“Terima kasih tumpangannya, Putra!” ucapku sambil melambaikan tangan kepadanya. Dia membawa sepeda, jadi sekalian aku menumpang padanya. Hehe.
“Ibuuu!!! Lihat Cinderella!!!” teriak Cindy.
“Ibuu!! Bagaimana dia punya baju sebagus ini?!” teriak Sarah. Ah? Mengapa mereka jadi paduan suara?
“Dari mana kau dapatkan baju, sepatu, dan semua itu?!” tanya Ibu tiri.
“Tian yang memberiku semua ini.” jawabku santai.

“TIANNN?!!! Setelah kau berpegangan tangan dengan Tian, diundang ke pesta ulang tahun Tian, dibelikan baju oleh Tian, bahkan saat pulang kau bersama Tian?!!” tanya Sarah.
“Hm? Aku pulang bersama Putra. Dia temanku.”
“Aishh, nama lengkap Tian itu Septian Putra! Apa kau tidak tahu?” tanya Cindy.
“Tapi, Putra bilang, dia anak tukang kebun!!” teriakku.
“SUDAH HENTIKAN! Cinderella hari ini kau tidur di luar!”
Tuhan, sebenarnya.. Apa Putra itu Tian? Tapi mengapa dia berbohong?

Di sekolah…
“Putra!! Jujur kepadaku! Apa kau Tian?!” tanyaku kepada Putra.
“Hei, kau siswi sekolah ini? Kau tidak kenal Tian?” jawab seseorang.
“Aku tanya ke Putra!! Jawab aku! Kau Tian?!” tanyaku lagi.
“Ya, aku adalah Tian.”

“Kenapa kau bilang jik–”
“Karena aku tahu, jika aku bilang bahwa aku Tian, kau tidak akan mau dekat denganku. Jika kau tahu aku Tian, aku tidak akan pernah berbicara denganmu. Jika kau tahu aku Tian, kau akan menjauhiku. Karena aku tahu semua itu!” potong Putra yang ternyata Tian.
“Kenapa kau bilang bahwa Ayahmu–”
“Itu karena aku anak yang kurang kasih sayang. Tukang kebunku lebih menyayangiku dibandingkan kedua orangtuaku. Aku juga tidak suka menjadi populer. Aku tidak suka disenangi banyak gadis hanya karena hartaku.” keluhnya.

“Mengapa kau menyuruh orang untuk membawaku ke salon dan butik?”
“Karena sebenarnya, saat di pesta ulang tahun kemarin, aku ingin kau terlihat lebih cantik dari biasanya. Dan aku ingin mengenalkanmu kepada orangtuaku. Dan aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.”
“A-a-apa itu?” Dia berlari ke dalam kelas dan mengambil sesuatu dari tasnya, Sebuket bunga. Kemudian dia berlari kecil ke arahku dan berlutut di depanku.
“Aku sudah lama memperhatikanmu. Aku sudah lama ingin dekat denganmu. Aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu. Aku sudah sangat lama ingin bertukar cerita denganmu. Aku akan mengungkapkan ini sekarang! Would you be my girlfriend? Forever?”

“F-forever?”
“Ya, selamanya..”
“Tapi, kenapa?”
“Karena aku mencintaimu.”
“Kenapa selamanya?”
“Aku ingin menyelamatkanmu dari Cindy dan Sarah. Princess Cinderella. Would you be Prince Charming’s girlfriend? Say ‘I’m yours’ and i will hug you,”

Aku terdiam. Tuhan, apa ini akhir dari cerita Cinderella modern kali ini?
“Ini bukan Truth or Dare?” tanyaku.
“Aku serius. Katakan,..” dia menghentikan ucapannya dan matanya seperti berkata ‘I’m Yours’.
“I’m yours,” ucapku ragu-ragu. Tian berdiri dan menatap mataku lekat.
“Ambil bunga ini dan peluk aku!” suruhnya.
“Peluk?” tanyaku.
“Ya, seperti ini!” kemudian Tian memelukku erat.
Tuhan apa ini mimpi?

Krriing!!!

Ah? Bel istirahat? “Renii!! Bangun! Kau ingin telat sekolah huh?! Cepat bangun! Kau tidur terlalu larut karena cerpen Cinderellamu itu. Dan akhirnya kau sulit bangun sekarang!! Kalau kau tidak bangun, berhenti sekolah!” Aishh.. Kenapa ini hanya mimpi?

Cerpen Karangan: Reniantika Dwi Pratiwi

Cerpen Bukan Cinderella merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


A Cup Of Longing Please! (Part 1)

Oleh:
Kuhirup secangkir moccachino pertamaku. Aromanya yang wangi membiusku agar terjaga sore ini. Sekedar melepas penat usai bekerja di kantor seharian, ditambah persiapan ujian di kampus besok. Kupikir mampir di

Tak Ada Yang Sempurna (Part 2)

Oleh:
Siang ini, Chrisa hanya sendirian di dalam kamar dengan ditemani sebuah novel yang dibacanya, sedangkan Pak Ferdi sedang ada urusan dengan kantornya. Karena merasa jenuh, Chrisa memutuskan untuk pergi

Gadis Pasar Malam

Oleh:
Aku berjalan seorang diri, menerobos beberapa kerumunan orang di tempat ini. Entah kenapa, perutku terasa mual setiap kali aku melihat keramaian seperti ini. Aku juga tak tau, angin apa

Senyuman Senja Terakhir

Oleh:
Kucabut satu per satu kesepian di ruang kelas baruku ini. Kutatap tajamnya sinar mentari pagi yang menembus kelambu biru langit di sampingku. Aku duduk di bangku paling belakang. Kesunyian

Perbudakkan Nafsu

Oleh:
Aku masih dalam posisi yang sama, dengan sebatang rok*k yang terjepit di antara sela jariku, terlentang pada sebuah pembaringan dengan berserak puntung sisa hisapan dan sebotol bir yang setengah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Bukan Cinderella”

  1. Novia sekar ayu andini says:

    Ceritanya bagus dan menarik dan bikin penasaran…berjuang lagi ya…

  2. riska maulida says:

    hahaha, cerpen nya aneh tapi keren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *