Bukit Jembatan Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 9 November 2016

Apakah arti dari menunggu ketika yang ditunggu tak kunjung datang. Semua impian dan harapan yang pernah tercurah menggariskan sebuah warna hidup yang tidak berubah hingga saat ini. Berulang kali kucoba untuk mencari seorang pengganti yang tepat mengisi relung hati yang sekian lama masih tertutupi bayang-bayang dirinya.

Disini di tempat ini aku berdiri mengingat semua kenangan lalu yang belum sempat aku bingkai sebagai kisah indah dalam hidupku. Perkenalkan namaku Zacky, lebih lengkapnya Zacky Nurwansyah. Disaat umurku menyentuh angka 28, aku masih bingung kenapa sampai saat ini aku masih single terus. Apa karena aku kebanyakan di kamar atau di puncak bukit ini seorang diri. Jarang hangout sama teman tuk sekedar cari kenalan.

Bukit jembatan merah, disinilah aku berdiri sejak 2 jam yang lalu memandangi setiap jengkal kota dari kejauhan. Ya seperti biasa aku hanya sendiri. Kalaupun berdua pasti karena ditemani sama si putih kesayanganku yang rela kutunggangi sampai kesini. Aku juga tidak tahu pasti kenapa namanya bukitnya seperti itu. Mungkin karena jembatan gantung yang saya lewati di kaki bukit berwarna merah makanya bukitnya diberi nama demikian.

Sudah 6 tahun lebih sejak dia pergi. Atau Mungkin lebih tepatnya dipaksa pergi oleh orangtuanya. Ya, mantan kekasih yang meninggalkanku dan harus menuruti kehendak orangtuanya menikah dengan seorang perwira tentara kenalan ayahnya. Disinilah tempatnya dia mengucapkan kalimat terakhir yang selalu kuingat sampai sekarang, “saat aku tak bisa menolak kehendak orangtuaku, aku pun tak bisa melupakanmu zacky”, bisiknya seraya menangis.

Tapi semua itu hanya tinggal kata-kata belaka yang tak berujung makna. Dari kabar yang kudengar dari temanku, dia sudah punya 2 anak dan tinggal di kota lain. Dan sepatutnya dia memang sudah bahagia sekarang dan aku pun harusnya demikian. Tapi nyatanya, aku masih belum mampu beranjak dari masa laluku yang harusnya berakhir sejak dia pergi 6 tahun yang lalu. mulai kualihkan pandanganku ke sekeliling bukit hijau yang ditumbuhi pohon dan mataku terpaku pada satu sosok yang membuatku heran. “sejak kapan dia disana, dan apakah dia memperhatikan dari tadi”, batinku.

Saat aku menatapnya dengan penuh tanda tanya, dia menatap balik padaku. Aku pun jadi grogi dan langsung mengalihkan pandanganku. Disatu momen, dia melangkah persis ke arahku.. “wah, bisa gawat ini, apakah mungkin dia makhluk penunggu bukit ini, tapi kok baru muncul sekarang padahal sudah 6 tahun saya selalu kesini. Mana dia cantik lagi”, pikirku. Tunggu, tunggu, ini bukan waktunya untuk kagum. Dia melangkah semakin dekat dan aku bisa menatap wajahnya dengan seksama walaupun masih dalam ketakutanku yang kusembunyikan.

“kamu kok kayak orang ketakutan sampai mukanya pucat gitu”, tanyanya sambil tersenyum. Masya allah manis sekali tuh senyumnya. Eitss, kok dari tadi kagum meluluh sih. “hehehe, anu, itu aku, habis olahraga tadi makanya begitu,” jawabku asal. Mati aku kok alasannya gak nyambung banget sih. “kamu lucu ya, masa olahraga pakai pakaian lengkap begitu, pakai baju kemeja sama celana jeans pula”, ledeknya sambil tertawa. Aku pun hanya mengangguk dengan muka merah menahan malu.

“oh iya, perkenalkan namaku Rafika Azzahra Rayya, biasa dipanggilnya fika” katanya seraya mengulurkan tangan. Tanpa komando tawaku langsung meledak keluar dari mulutku. Dia heran dan mulai jengkel karena aku tertawa tidak jelas. “kenapa kamu ketawa, ada yang lucu ya?”, tanyanya penuh selidik. Aku yang yang mulai sadar dari tingkah konyolku berusaha menjawabnya dengan senormal mungkin. “tidak, tidak. Aku hanya teringat sesuatu aja kok, hehehe “, jawabku sambil tersenyum.

“aku Zacky Nurwansyah, biasa dipanggil Zacky”, jawabku lagi. Kami terdiam untuk beberapa saat dan terhanyut dengan fikiran masing-masing. Saat aku tersadar aku mulai memperhatikan dia yang masih dengan tatapan kosong. aku pun memberanikan diri untuk bertanya. “kamu baru kesini ya, kok aku tidak pernah melihatmu sebelumya,” tanyaku. Ia hanya tersenyum pertanda dia juga sudah kembali dari lamunannya. ‘iya, ini juga baru pertama kali, hehehe”, jawabnya sambil menyipitkan mata. “aku baru tiba 3 hari yang lalu di rumah bibi yang tidak jauh dari sini, saat melihat ke arah sini, aku melihat ada bukit yang begitu indah kelihatan dari jauh, makanya aku sempatkan diri jalan-jalan kesini sebelum aku pulang nantinya,” jelasnya. Aku hanya bisa menggangguk pertanda mengerti walaupun dalam hati aku ingin bertanya apakah kamu akan kesini lagi supaya kita bisa bertemu lagi.

“oh, iya aku pulang dulu yah, udah terlalu sore nanti dicariin sama bibi dikirain tersesat, hehe”, katanya. Aku pun tersenyum dan mengiyakan saja padahal masih ingin lebih lama dengannya. Dia pun melangkah pergi sambil melambaikan tangan menyisakan diriku yang masih berdiri menatap matahari yang hampir tenggelam. Sejenak berfikir dan tersenyum hingga akhirnya aku pun beranjak pulang dari bukit itu.

1 minggu berlalu sejak kejadian itu, aku masih sering menyempatkan diri ke bukit itu. Namun aku tak pernah lagi menjumpai dirinya. Apa dia sudah pulang ke kotanya pikirku. Mungkin ini terlalu cepat tapi entah mengapa aku ingin melihatnya lagi dan lagi. Mungkinkah aku telah jatuh hati hanya karena peristiwa sesingkat itu. Sungguh aku pun bodoh tidak menanyakan alamat keluarganya disini. Sejuta pertanyaan berkecamuk di hatiku. Aku duduk di sebuah bongkahan batu besar sambil membuka minuman kaleng yang tadi kubeli sebelum ke tempat ini.

Tiba-tiba ada yang melemparkan sebuah batu kecil ke arahku. Aku menoleh ke belakang tapi tidak ada siapa-siapa. Aku abaikan sambil meneguk lagi minumanku. Dan lagi Sebuah batu kecil mendarat tepat kepalaku. “aduhhhh.. woeee, siapa yang berani lempar batu sembunyi tangan begini!!!,” teriakku sok puitis sambil menahan sakit. Tiba-tiba dia muncul dari balik pohon sambil tersenyum cengengesan. “aku yang lempar, kamu mau apa?” tanyanya bercanda. “aku tidak mau apa-apa kok, jadi pacar kamu aja udah cukup”, jawabku tidak kalah bercanda. “hahaha, kamu tidak tanya dulu apa aku masih single atau tidak, kamu tidak takut aku punya suami terus marah-marah sama karena kamu godain aku”, candanya lagi.
“hahaha, kalau kamu sudah punya pacar atau suami dan punya anak, tidak mungkin kamu perginya sendirian kesini.”, jawabku sambil meneguk minuman kalengku lagi. “pintar juga kamu,” cetusnya sambil menarik hidungku. “aduh.. aduh sakit tau, kamu itu kok kayak orang yang sudah kenal lama sekali denganku, bisa akrab begitu, tidak takut kalau aku ini psikopat?”, tanyaku asal. Sejenak dia terdiam dan sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak. “tampang model kamu tidak cocok jadi psikopat, terlalu bodoh, hahaha” ledeknya.

Kami pun tertawa bersama sambil duduk diatas bongkahan batu besar menghadap ke arah kota yang terlihat dari jauh. Aku menawari dia minuman yang kebetulan masih ada tersisa dalam tasku. Seakan tak mau ketinggalan, langsung diambilnya tanpa berkata kemudian diminumnya. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lucunya. Dia pun tersenyum balik sambil meneguk lagi minumannya. “kapan kamu balik ke kotamu?” tanyaku dengan mata masih menatap kedepan. “kenapa tanyakan itu, masih kangen yah?” Dia bertanya balik sambil meledekku.

Aku pun salah tingkah karena yang dikatakannya sangat tepat sasaran. “kalau iya kenapa” Jawabku enteng. “hahaha, tenang.. aku masih akan mengunjungi tempat ini lagi kok” jawabnya sambil tersenyum. “Kalau kamu ingin tahu lebih banyak datanglah kesini”. Tambahnya seraya memberikan secarik kertas. Kuambil kertas itu dan membukanya. “itu adalah alamat rumah bibiku yang tidak jauh dari sini, kamu boleh berkunjung kesana dan bertanya berbagai hal yang tidak kau mengerti, kenapa saya disini dan bisa akrab denganmu” jelasnya panjang lebar.

Tidak terasa hari semakin sore dan pertemuan ini harus berakhir. Besok dia sudah harus kembali ke kotanya. dan aku hanya bisa berharap bisa ada kesempatan mengenalnya lebih jauh. Setelah saling pamit kami pun berpisah dan tidak tahu kapan bertemu lagi. Sebulan berlalu sejak pertemuan terakhir itu, aku kembali ke rutinitasku dan sesekali berkunjung ke bukit itu. Tiba-tiba aku teringat dengan kertas yang dia berikan. Aku pun bergegas memacu motorku ke alamat yang tertera di kertas itu.

Sampai di alamat tersebut aku pun bertemu dengan bibinya. Dan aku pun mulai bertanya banyak hal tentang dia. Dari situ aku mulai tahu kebenarannya. Tak kusangka waktu yang telah lama berlalu membuatku lupa kalau ternyata dia adalah teman SD ku yang telah lama tidak bertemu. Kami berpisah sejak lulus SD karena orangtuanya harus pindah ke kota lain. Pantas saja dia begitu akrab waktu pertama kali bertemu di bukit itu. Dia sudah tahu siapa diriku sebelumnya namun berusaha untuk menyembunyikan dan berharap aku sendiri yang mencari tahu kebenarannya. Sungguh dia gadis yang istimewa, masih bisa mengenaliku setelah puluhaan tahun tak pernah bertemu.

Aku pun meminta nomor teleponya melalui bibinya kemudian pamit pulang ke rumah. Sesampainya di rumah mama heran melihatku yang terlihat lebih bersemangat dari biasanya. “sepertinya jiwa mudamu telah kembali sayang”, katanya meledekku. “ah.. mama.. bisa aja tunggu zacky bawakan surprise untuk mamaku tercinta.” balasku sambil tersenyum. Malam harinya, aku menelpon ke nomornya. “haloo, assalamu alaikum.” kataku. “waailaikum salam”, jawabnya. “ini siapa yah?” tanyanya kemudian. “penghuni bukit yang sering duduk di bongkahan batu” jawabku. Sejenak terdiam yang kemudian terdengar dia tertawa, “Zacky si muka pucat karena habis olahraga pakai baju kemeja yah,” ledeknya. kami pun tertawa.
Kami mengobrol panjang lebar semalaman. Hingga pada satu kesempatan aku beranikan untuk bertanya. “kamu sudah punya seseorang yang istimewa di hatimu?”. “hahaha, sepertinya kamu lagi serius sekali, kenapa bertanya seserius itu”, sambil bertanya balik. “pokoknya jawab saja”, tegasku. “ya seperti yang kamu lihat di bukit waktu itu, aku datang sendiri, itu artinya aku memang masih sendiri”, jelasnya. Aku terdiam beberapa saat kemudian bertanya lagi. “kalau aku datang melamarmu, apa jawabanmu?”. Dia kemudian terdiam lalu berkata, “kalau mau tahu jawabannya, datanglah ke rumah dan temuilah orangtuaku, dari situ kamu tahu segalanya”. Aku pun mengiyakan seraya menutup telepon setelah mengucapkan salam.

Pada akhirnya yang telah berlalu menjadi kenangan. Dan cerita yang dimulai sekarang akan menjadi bingkai masa depan. Benar kata pepatah, obat untuk patah hati adalah jatuh cinta lagi atau sekalian menikah kalau sudah ketemu yang tepat. Sebuah Cerita baru telah kumulai bersama seorang gadis teman masa kecilku dalam ikatan bernama keluarga. Nama yang mengingatkanku pada sebuah merek pelicin pakaian “Rafika three in one” hingga membuatku tertawa pas ketemu pertama kali di bukit itu.

RAFIKA AZZAHRA RAYYA, itulah dirimu. Kamu bisa membuat rasa nyaman mengalahkan ketidaksempurnaan. Terima kasih karena kau telah mencintaiku.

TAMAT

Cerpen Karangan: Irham Suryansyah
Facebook: ancha suryansyah
pemuda biasa yang mempunyai kebiasaan mengisi waktu kosong dengan kegiatan menulis sesuatu yang bermanfaat. salam hangat.

Cerpen Bukit Jembatan Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesingkat Pertemuan

Oleh:
Hari ini aku melihat sosok itu lagi, sosok tinggi, tampan dengan kulitnya yang pucat. Wajahnya yang tampak sayu itu pun masih menyisakan sebuah senyum manis yang terlihat dipaksakan. Baju

F For Farah

Oleh:
Aku senang membiarkan diriku terbuai dalam lamunan. Bagiku itu sangat mengasyikkan, sekaligus membuat diriku sibuk daripada berbuat sesuatu yang tidak jelas. Kali ini aku kembali melamun, sambil menatap melalui

Memori Masa Lalu

Oleh:
Aku berjalan gontai dengan tatapan kosong menyusuri sebuah pusat perbelanjaan dan tiba-tiba dari arah yang tidak kusangka-sangka, “bruggghhhhhhh” seorang laki-laki menabrakku dari arah arah yang berlawanan, sepertinya ia terburu-buru,

Hujan Yang Sama

Oleh:
Suasana kantor mulai lengang. Beberapa karyawan telah meninggalkan ruang kerja mereka sekitar sejam yang lalu. Kembali pada keluarganya untuk sejenak melepas lelah seharian bekerja dan bersiap kembali ke rutinitas

Biuti Fourtuna

Oleh:
Cerita ini dimulai saat aku duduk di kelas XII SMA, XII SMA merupakan saat-saat sibuk masalah ujian nasional, ya kebanyakan siswa mengikuti les tambahan didalam maupun diluar sekolah, Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *