Cerita Khayalan Basah Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 28 June 2015

Karena semua berhak mendapat kesempatan kedua.

Hujan sudah lama turun dan sudah lama pula pikiran terlarung dalam kenangan. Hujan masih tetap sama, masih tetap dingin. Dingin yang mengembun di hati. Hujan kali ini tak kan sama dengan hujan yang selalu mondar-mandir di angan. Hujan yang gerimis minyirami dirimu yang berlari menghindar. Masih kuingat bulir-bulir air yang mengantung di rambut cepakmu bermain riang. Tangan kokohmu menyapu wajah dan rambutmu dengan cepat sesaat setelah kau capai tempat berteduh terdekat. Di sebuah pohon yang cukup rindang namun tak cukup layak dikatakan tempat bernaung bagi kita berdua karena masih saja hujan berusaha menyerang lewat celah dedaunan yang kurang rapat. Tepat di sebelahku kau berdiri memeluk tubuhmu sendiri. Kau melihat keluar, melihat hujan atau entahlah apa yang kau pandangi. Yang jelas kau adalah pemandangan terindah di siang yang dingin di hari yang basah. Tanpa kau sadari mata ini sedang asik menjajah tiap sudut yang menyimpulkan keindahan. Alis yang tebal, mata besar dengan bola mata hitam, hidung mancung dengan sisa titik air yang bergelayutan di ujungnya, bibir tipis keunguan mengisyaratkan kedinginan, titik-titik hijau di atas bibir, rahang yang tegas dan kuat serta dagu yang sempurna.
Kau menyadari ada pengganggu yang sedari tadi meneliti wajah pucatmu. Dengan sorot mata yang tajam kita saling berbalas pandang. Tajam, menusuk sesuatu di dalama badanku. Leher tercekik, ada ganjalan besar disana. Darah mengalir cepat ke kepala, membuat wajah memerah dan seketika memanas.

Ada sebuah pelajaran yang dapat kupetik. Akhirnya aku tau bagaimana rasanya kupu-kupu berterbangan di dalam perutmu sambil menebar bibit bahagia di tiap kepakannya. Kau memandang lekat mataku. Angin kencang menerbangkan rambutku, menutupi sebagian malu yang tersirat di wajah. Aku hanya terus menatapmu, tanpa rasa enggan bahkan risih rambut menguasai sebagian dari wajah basahku. Senyuman manis teruntai, dingin menyengat hati dan menyisakan rasa geli di dalam dada. Tak mampu membalas, kutau senyum itu hanya untukku. Aku jatuh cinta.

Hujan di luar rumah makin liat memukul tanah. Terpaska kututup jendela kamar karena air sudah terlalu jauh mencoba masuk. Segala umpatan, makian, kutukan, mengicau dari mulutku. Kulanjutkan bermalas, merebahkan diri yang mulai kikis. Hujan, selalu datang membawa memori-memori yang mendesak air mata untuk keluar. Bulir air pertama runtuh dari mata, pertahan diri yang kupasang nampaknya sia-sia. Mungkin karena hujan tak pernah datang sendiri, dia terlalu kuat untuk dikalahkan. Masa lalu kembali menguap di depan mata.

Senyuman manis di tengah derasnya hujan membuatku membeku. Untuk menggerakan bibir, sekedar menyulam senyum pun susah. Hujan, datang dengan pasukan yang lebih banyak. Kini tak sehelai benang pun yang menempel di badanku dapat menghindar dari serangan air. Dia melangkah, mendekat. Sekali lagi dia menembakan senyuman, yang kali ini tampak lebih tulus. Sambil mengayunkan tangan, “Satria”. Suaranya berat, namun perasaan grogi menyambut tangganya Nampak lebih berat. “Nana”, suaraku berteriak, mencoba mengalahkan derasnya suara hujan. Perkenalan berlanjut lebih jauh. Dia sangat ramah, tawa tak henti kami lontarkan. Melawan sang hujan yang masih tak bosan menerobos celah dedaunan. Di bawah pohon ridang yang basah. Ini hujan kami.

Hujan tak kunjung henti, sambil menyeruput susu coklat hangat ku melihat titik hujan kini sudah mulai mereda. Air yang tadi mengalir bagai sungai di kaca jendela kini hanya sisa titik-titik. Aku duduk berselonjoran di sofa ruang tamu. Dari sini hujan terlihat lebih jelas. “Apakah kamu melihat hujan ini satria?”, celoteh kecil terungkap. “Mama”, teriak seorang anak perempuan kecil. Segera aku menyerka sisa air mataku, menyapanya dengan senyum hangat. Dia balas tersenyum sambil memamerkan gigi ompong yang baru saja Dia dapatkan pagi ini. Dia tampak berkeringat. Kunciran rambutnya berantakan, dan seragam TK-nya kini kusut. Seorang lelaki tegap berdiri di belakang nya. “Nanti aku pulang agak terlambat, mungkin malem banget”, kata lelaki itu sebelum menghempaskan badanya di sofa. “Memangnya kapan kamu pulang gak malem mas?”, godaku sambil tertawa yang terdengar terpaksa. “Ya udah, aku lanjut ngantor ya?”, katanya sambil menindas kening Dia dengan dengan ciuman. “Hati-hati ya mas”, kataku. Tanpa membalas perkataanku dia hanya melambaikan tangan lalu berbalik menuju pintu keluar. “Dosakah aku memikirkanmu satria?”, gumamku dalam hati sambil memperhatikan cincin yang telah melingkar di jari manisku. Hati yang luka.

Hujan masih deras, namun hari sudah mulai senja. Hujan dikala senja ini semakin dingin saja. Entah sudah berapa banyak pokok bahasan yang kubahas dengan satria. Kakiku mulai lelah berdiri, kuputuskan untuk duduk di bawah tanah yang digenangi air. Dia menyusulkku, segera satria duduk di sebelahku. Aku menggigil. “huh, dingin”, keluhku pada satria dengan nada gemetar. Tanpa aba-aba satria memelukku. Kami diam sesaat. “Aku sayang kamu”, satria melontarkan kalimat yang tak mungkin pernah ku bayangkan. Aku tak bisa berkata, kubalas saja pelukannya dengan pelukan yang lebih erat. Aku tau, aku telah membalas pertanyannya dan dia mengerti. Kami berpelukan di bawah pohon rindang dengan hujan yang masih setia menemani. Aku bukan wanita murahan, yang percaya begitu saja pada perkataan lelaki. Namun suaranya menenangkan dan meyakinkan. Aku hangat di dekapannya. Kami sama sama basah, namun aku tau hati kami menghangat. Sampai kapan hujan ini akan terus-menerus mengintip kebagaian kami? Bolehkah berharap hujan ini terus jatuh basahi kami. Egoiskah jika hanya kami yang ingin hujan ini terus menjebak kami disini.

“Halo mas, malam ini kamu harus makan di rumah ya mas”, kataku memulai pembicaraan saat terdengar kata halo pertama.
“Tapi kerjaan aku belum selesai. Kamu makan duluan aja sama Dia, nanti aku nyusul. Kalo gak sempat aku bakal beli makan”, Yoga menjawab dengan nada serius.
“Aku tau kamu mas, kalau gak makan di rumah kamu gak bakal makan. Pokoknya nanti malam kamu harus pulang. Jangan lupa makan”, tak kalah serius dari Yoga aku meminta.
“Iya aku janji, Na aku sayang kamu”, nadanya dingin.
Segera kumatikan telepon, aku tak bisa membalas ucapannya. Aku hanya punya satu hati dan bagaimana aku bisa memberikan hatiku untuk yang lain, jika satria masih membawanya entah kemana.

Hujan sudah reda, menyisakan aroma tanah basah yang mendominasi udara. Pelukanku tak lagi mengekang, lebih longgar. Wajahku memutih pasi. Kurasakan panas yang teramat sangat tak henti memukul kepala. Bibirku gemetar diiringi suara gertak gigi. Nafas yang melambat, tanganku melemas. Kini rasa sesal mulai melanda. Kau terlalu lambat menyedari keunguan yang tergurat terlalu pekat di bibirku. Kau terlalu lama mengisyaratkan raut wajah panik. Wajahmu perlahan mengabur di antara bayang-bayang kunang-kunang. Semakin lama semakin gelap dan kesadaran mulai lenyap.

Kulirik jam yang menempel di diding menunjukan pukul 1 siang. Aku masih berbaring menikmati hari sabtu. Akhir pekan yang sengaja kusantaikan. Aku tau, beban kerjaan masih menumpuk untuk dikerjakan. Kutengok gadis kecil berumur 5 tahun yang sedang tertidur nyenyak. Dia tampak begitu lucu, wajah polosnya mengingatkanku anak masa kecilku. Masa yang bahagia. Dia mirip denganku, namun kurasa dia lebih mirip dengan ayahnya Yoga. Menyaksikan dia sudah tertidur lelap ini saatnya pergi melihat kulkas. Berjalan perlahan menuju dapur dengan nama satria masi ada dalam setiap langkahku. Kubuka, perlahan. Hanya ada sayuran organik, aku tak cukup tega menyaksikan Dia merengek di meja makan mengeluh mengapa aku membawa taman rumput ke piringnya. Nampaknya aku harus pergi sebentar. Kutengok langit lewat jendela terdekat. Memastikan hujan jahanam tak akan lagi menyerang. Tanpa pikir panjang, ku berlari kecil mencari dompet dan jaket di kamar. Menyambar kunci mobil dan berlalu di antara jalanan menuju swalayan terdekat.

Tersadar, aku sudah terbaring di atas ranjang yang tidak nyaman. Bagun di tengah bangsal yang ramai dengan suara riuh yang mengguncang telinga. Dan sejak aku sadar, satria tak pernah muncul kembali. Hanya saja ada yang menggajal di hati dan jariku.

Aku keluar dari dari swalayan dengan beberapa kantong plastik putih besar. Aku tak berniat memborong semua ini, namun entahlah rasa ingin belanja banyak selalu menyerang setiap kali menyusuri lorong-lorong dengan sususnan rak-rak tingginya. Baru saja kulangkahkan kaki keluar dari swalayan petir dan kilat saling beradu di langit. Hujan mulai turun perlahan. Aku berlari menuju mobilku, agak jauh dan air sudah terlanjut melumuri tubuhku. Terus berlari hingga sosoknya muncul di depan mata. Seorang sedang duduk santai dengan kaki yang dilipat di pinggiran tembok yang ditutup atap tanggung di seberang jalan raya sepi. Jatuhlah apa yang ku genggam, jatuhlah air mata. Dia hembuskan kepulan asap rok*k dari mulut dan hidung yang saling beradu dengan rintik hujan. Dia melihatku yang tengah melihatnya dengan segala kebasahan ini. Sontak berdiri dan berlari kearahku. Hujan membasahi tubuhnya. Kami saling bepandang, kini gagang kacamata sudah membingkai mata tajamnya. Satria. “Cincin ini”, satria tersenyum sambil melihat cincin yang melingkar di jari manisku. “Aku belum sempat mengucapkan terimakasih”, lalu membalas senyumnya tak kalah manis. Hujan masih menghajar kami, menguncang perasaan lama yang sudah diajarkan untuk diam di dalam liang untuk bangkit. Satria masih saja tersenyum dan menggengam tangan ku. “Apa hanya aku yang berhasil menyematkan cincin di jarimu?”, tanyanya sambil bergurau. Aku hanya tersenyum sambil kembali mengemasi barang yang tercecer di bawah aspal becek. Dengan sigap satria membantu dan mengangkut semuanya. Kugiring dia pergi dari basah ini, kugiring dia pergi dan tak kubiarkan pergi lagi. Namun, cincin di jarinya tak bisa satria sembunyikan terlalu lama, cincin yang sama sekali tak bisa dikatakan sepasang dengan cincin yang melingkari jariku. Aku berjalan pelan sambil jalan menantang sang hujan dengan perasaan sepi yang masih tetap meringgkuk dalam hati. Ini saatnya aku meminta hatiku kembali, satria sudah terlalu lama membawanya.

Perjalan menuju tempat yang tak kuketahui, hanya ditemani sang hujan dan suara yang tak dapat kunikmati dari radio kecil yang sedang riang bernayanyi. Kulihat dirinya masih seperti dulu, namun kini dia terlihat lebih matang dan bahagia. Perut yang dulunya rata kini mulai menyembul dari sela-sela kancing bajunya. Dia tetap masih mempesona dengan uban yang kini tersebar tak merata hiasi rambutnya. Jangut dan kumisnya kini menyatu dengan jambang, tidak lebat hanya titik-titik hijau yang kulihat itu berubah bagai jarum kecil berwarna legam. Kemudi satria ambil alih, menyayat jalan-jalan basah dengan pelan. Aku menurut saja dibawanya kemana. Aku duduk di sebalah kursi kemudi. Aku bebas memandangi pemandangan yang kurindukan dari dalam wajahnya. Mata tajamnya yang mawas menatap lurus ke depan.

Bunyi radio kini membising, namun berbunyi tanpa isi di telingaku. Kuserongkan duduku hingga aku benar-benar mengahadapnya. Meski tulang punggung sudah membentak tanda tak nyaman, namun hati terlalu pintar mengendalikan otak yang sama sekali tak memedulikan punggung yang meronta.

Hujan mulai reda, kami mulai menyusuri jalanan sepi. Semakin lama semakin sepi hingga, mulai terdengar suara ombak diiringi mentari yang bersinar sangat terik. Menempatkan mobil di naungan terdekat dan berjalan mengampiriku yang sudah keluar dari mobil lebih dahulu. Dia berlutut dan membukakan sepatu datar warna coklat yang membelenggu kakiku yang sudah basah. Menentengnya dengan ringan. Dia juga melepas sepatu pantopel berujung tumpul berwarna hitamnya. Dia menggulung celana panjangnya yang serasi dengan warna sepatunya. Menggenggam tanganku tanpa suara.

Tanah kini berganti pasir putih kasar, seperti biji merica. Aku berjalan dengan perlahan. Pasir ini menjerat kaki lebih dalam dalam tiap pijakanku. Sebukit cahaya berwarna-warni terpampang nyata di hadapanku. “Pelangi”, kataku pelan dengan nada takjub dan mata yang terus menuju dan membaca pelangi itu. “Jika ibarat hujan adalah mimpi dan dan matahari adalah kenyataan. Kita memerlukan keduanya untuk melihat pelangi” suaranya yang sedikit berat menyeluam perasaan hangat. Lebih hangat dari mentari yang kini tersenyum manis. Dia membalikan tubuhku dan menatap lekat mataku. Menindas badan mungilku di dalam dekapannya. “Sudah sangat lama, saya ingin mentari melihat kita. Hujan itu, sampai sekarang saya tidak dapat melupakannya. Bisakah kita mulai semuanya dari awal?” bisinknya di telingaku. Kulepaskan pelukannya, memandang lurus padanya. Menghela nafas berat. Kegugupan memenuhi udara di sekitar kami. “Kenapa kamu meninggalkan saya?”, seruku cepat. Suaraku tenang, namun hatiku bergetar hebat. “Apa saya tidak berhak mendapat kesempatan lagi?”, suaranya memelas. Mata tajam yang selalu aku menancapkan serangan pada hatiku. “Saya terlalu naif jika saya memberimu kesempatan. Kemana saja kamu selama ini? Meninggalkan saya dengan harapan dan mimpi mengebu bagai hujan dan harus menelan pil pahit kenyataan bagai panas mentari. Ini dunia yang sesungguhnya, pelangi hanya muncul sesaat, sisanya hanya ada luka dan sakit. Jangan suguhkan saya janji, saya sudah takut bermimpi”, aku menghela nafas perlahan. Menyusun kata-kata. Aku tak tau apa yang kuucapkan barusan, namun ada beban di hati perlahan merontok dan berguguran. “Ya, saya akui saya bodoh. Percaya pada kata sayang yang kamu ucapkan”, kulanjutkan perkataanku. Kutarik tangganya, kupandangi cicin yang melingkar di jarinya. “Kamu, kamu juga sudah beristri”, suaraku tak bisa kukendalikan. Air mata pertama jatuh di tangan besarnya. “Maaf, saya hanya ingin kamu tau. Semua yang saya katakan saat hujan pertama kita berjumpa itu benar adanya. Saya tidak berbohong”, satria bersuara. Air mata menderas di pipinya. “setiap saat hujan turun, saya selalu merindukanmu. Mengingat wajahmu yang tak pernah pudar di otak saya”, satria menghentikan sejanak perkataannya. Melihat ke arah lain lalu tertawa kering sambil menyeka air matanya. Kemudian dia menarik cincin di jarinya. Mengambilnya. Lalu mengambil tangganku, menanruhnya di telapak tangan ku dan meenggenggamkannya. “Saya sangat butuh kesempatan kedua”, lanjut satria. Aku masih tak mengerti sampai dia mendekapku sekali lagi. Mundur dan tersenyum, memerkan gigi dan kembali menghapus air matanya. Lalu dia berbalik berjalan tanpa isyarat perpisahan lagi. Aku masih terdiam memandangi punggung tegapnya hingga menghilang.

Aku membuka genggamanku, memperhatikan cicin perak polos itu. Tangisku dalam diam sambil mematung. Aku meneriaki namanya dalam hati kala kusadari “Nana” adalah nama yang terukir di dalam cicin itu. Hujan yang sama tak akan ada lagi, aku jatuh. Tetap berdiri mematung dalam sepi. Menangis dalam diam, hanya air mata yang berlinang.

Sekarang aku sadar, aku benar-benar butuh kesempatan kedua.

Cerpen Karangan: Junior Djandon
Facebook: Junior Djandon

Cerpen Cerita Khayalan Basah Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pesan Singkat

Oleh:
Aku terbangun di pagi ini. Namaku Angel, usiaku 17 tahun. Aku baru saja selesai melaksanakan Ujian Nasional tiga hari yang lalu. Pagi yang kurang cerah. Hooaamm.. Aku masih mengantuk!

Weird

Oleh:
Namaku Doni. Umur 17 tahun, 2 SMA. Hari ini, hari yang sangat ku tunggu. Akhirnya aku dapat menghirup udara dengan bebas tanpa mendengar getaran pintu besi penjara. Sidang dimulai

Secret Admirer

Oleh:
Tok… Tok… “Rara bangun sayang, solat subuh dulu yuk” suara lembut itu membangunkan mimpi indah Rara. “iya bundaa, Rara ambil wudhu dulu yaa” Pagi ini adalah hari pertama Rara

Aku, Kamu dan Langit Senja

Oleh:
“Apakah kita akan selalu seperti ini?” ucapku mengawali pembicaraan, di bawah langit jingga sore itu. Kamu hanya tersenyum, menghentikan langkah, lalu menatapku dalam-dalam “Ya. Tentu saja” katamu. Aku membalasnya

Sesaat

Oleh:
“Aku cinta kamu sayang.” “I love You To my Lovely.” Kata-kata itu kini tak ada lagi. Hanya jadi kenangan buat gue saja. Kenapa Cuma gue? Apa dia kagak merasakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *