Di Bawah Rindang Mapel Haruizawa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 26 February 2018

Siang hari yang begitu cerah di pinggiran kota. Ujung-ujung sengatan panasnya menghujani ubun kepala. Seisi kota bagai kelap-kelip berlian yang ditumpahi taram temaramnya sinar mentari. Desahan angin senduh bergantian menggelayuti daun telinga. Jauh dari hiruk pikuk kepenatan pusat kota.
Dibawah rindangnya rimbun mapel Haruizawa…

Watari, seorang gadis buta yang tinggal dekat kuil tak jauh dari sini. Menjelang condongnya arah mentari, ia dan tongkat rampingnya cekatan menyusuri jalan taman ini. Meraba ruas demi ruas pijakan dengan ujung tongkatnya. Dirinya selalu duduk di bebatuan aral tepi sungai kecil yang airnya begitu jernih. Gemericik ngarainya memercikkan kesejukan. Membiaskan bintik-bintik kilau bak permata.

Dandanannya yang bersahaja gaun lembut putih pastel, geraian rambut panjangnya mengepak dibelai angin. Berjam-jam ia duduk di sana. Menanti seseorang datang. Seorang pemuda yang ia tahu saban hari pulang dari rutinitas kantor dan menemaninya duduk mengobrol hingga petang. Di tepi sungai kecil ini. Gadis itu memang tidak menunggunya setiap hari. Pemuda itu hanya sesekali datang menegur dan mengajaknya mengobrol. Watari paham, pemuda itu selalu sibuk dengan dunianya.

Ia bahkan sempat lupa kapan mereka pertama kali mulai akrab. Dirinya hanya sesekali merasa sering mengobrol dengan suara yang sama itu sejak musim dingin tahun lalu. Saat ia tersesat kembali ke rumah di tengah angin musim dingin yang menusuk tulang. Hari hampir gelap.

“Maaf. Nona, di sini dingin, dan hari mulai gelap. Apa kau mencari arah pulang?” Ia mendengar suara seorang pemuda yang berbicara di depannya.
“Hm. Iya. Maaf tuan, bisakah kau tunjukkan padaku arah menuju kuil.”

Sejenak Watari tak yakin apakah pemuda tadi akan mengantarnya pulang sampai rumah atau berbuat hal aneh padanya. Di sini benar-benar dingin. Lantas ia pun memberikan mantelnya pada Watari. Ia hanya meminta pemuda tadi mengantarnya sampai taman ini. Dan berjalan sendiri menuju rumah.
Ia pun tidak pernah lagi mencoba pergi lebih jauh dari taman.
Saat hari mulai petang begini, pemuda itu biasa sering menegur dan mencoba duduk di sampingnya. Mereka hanya bercerita tentang kehidupan masang-masing. Watari hanya berusaha mengenali suara itu lagi. Suara pemuda yang kala itu dengan baik hati menunjukkan jalan pulang padanya.

Suatu ketika pemuda itu kembali datang menghampirinya. Sepertinya ia membawa banyak belanjaan. Mungkin dititipkan untuknya. Tetapi ia agak khawatir, karena nenek selalu mengingatkan untuk tidak dengan mudah menerima barang pemberian orang yang tidak dikenalnya. Bukan yang pertama kali, sudah hampir setahun. Namun sang pemuda tetap saja kelihatan tidak merasa bosan menemaninya duduk di tepi sungai.
Pemuda itu selalu curhat panjang lebar tentang masalah yang dihadapinya sepanjang hari. Pernah sekali Watari meminta kepada sang pemuda untuk menceritakan padanya suasana di sekitar taman.

“Maaf. Arashi, aku pernah bercerita bukan bahwa aku memiliki keadaan seperti ini karena sebuah kecelakaan.” Celetuknya.
“I-iya, maksudmu?” Tanya pemuda itu dengan wajah heran.
“Aku ingin sekali bisa melihat indahnya alam di sekitarku. Nenekku selalu bercerita tentang suasana di sekitar kuil. Tetapi aku bahkan belum pernah membayangkan dengan jelas apa yang ada di depanku selama ini.” Pinta Watari membuat wajah pemuda di sebelahnya itu pias.
Pemuda itu tersenyum, sembari memerhatikan lincah bibir tipis watari meramu kata demi kata dengan pendangannya yang kosong. Ia sejenak tertegun. Merogoh sudut kecil dalam hatinya.

“Kau tau nona.. sesuatu yang kau lihat itu kadang dapat menipumu”
“Apa maksud ucapanmu barusan?” Watari bertanya pada sang pemuda.
“Sesuatu itu akan terasa sangat indah, bila kau mencintainya. Bukan karena ia terlihat indah lantas kau dapat mencintainya.” Suara pemuda itu begitu sendu. Menghanyutkannya.

“Bila kau dapat membayangkannya. Aliran sungai kecil yang ada di depanmu saat ini begitu jernih. Dengarlah gemericiknya! Airnya amat sejuk. Kau dapat memerhatikan dengan jelas ikan-ikan yang kesana kemari kegirangan menatapmu dari sini.” Sambung sang pemuda.
“Lalu..” watari kembali memintanya melanjutkan.
“Dengarlah kicauan burung-burung itu. Mereka bertengger dengan girangnya di antara ranting rimbun pepohonan mapel yang daunnya menguning di atas kita. Ribuan dedaunannya jatuh dengan lembut menyentuh tanah diusap angin-angin sepoi yang berlarian. Merasuk ke dalam ruang rindu.”

Tak pernah dirinya membayangkan hal seindah ini sebelumnya. Hatinya begitu terenyuh. Aroma alam begitu kuat diresapnya. Kepakan demi kepakan rapuh itu menyinggahi ambang daun telinganya.
“Apa selanjutnya..” watari kembali memintannya melanjutkan cerita.
“Sejauh mata memandang, kau mendapati jajaran pegunungan memucat di kejauhan yang dipagari ilalang-ilalang gagah dengan kupu-kupu yang terbang menghinggapi kelopak. Begitu tenang. Banyak anak-anak berlarian di dekat pondok seberang sungai. Menertawai satu sama lain. Mereka melihat kita..” Cetus sang pemuda.

Watari melambaikan jemari ke arah mereka.
“Ayo. Melambailah.. mereka pasti sedang melihat kita dari seberang sana kan.” Ajaknya kepada pemuda tadi. Sang pemuda pun ikut melambai.
“Mereka tersenyum pada kita.” Sahut pemuda tadi. Membuat Watari begitu senang dan tersenyum lebar. Senyumannya begitu indah. Hati sang pemuda luruh dibuatnya.

Saat warna kejinggaan pada langit semakin kuat menerjang. Saat itulah biasanya pertemuan mereka berakhir. Sang pemuda pun pamit untuk kembali pulang ke rumahnya. Berpisah. Hingga pertemuan demi pertemuan berikutnya. Lagi. Dan lagi..

“Hei.”
Watari tersentak. Kaget. Membuyarkan lamunannya seketika.
“Ya ampun, Arashi. Kau benar-benar mengagetkanku kali ini. Dengan tatapan kosongnya, Watari berceletuk.

Sore ini pemuda itu benar-benar terdengar sangat gusar. Ia bercerita panjang lebar kalau ia baru dipecat dari kantor tempatnya bekerja. Mungkin karena itu Watari tidak menduga bahwa ia akan menemuinya secepat ini.
Pemuda itu menumpahkan semua kekesalannya dalam percakapan. Sesekali ia melempar-lempar tidak jelas kerikikil ke sungai. Terkadang kaget karena nada bicaranya yang meninggi. Ia begitu kesal tampaknya. Perlakuan bosnya, dikucilkan rekan kerjanya. Watari hanya berusaha paham apa yang pemuda itu inginkan. Ia pun butuh teman. Tempatnya mengutarakan isi hatinya. Sama sepertiku.

“Arashi. Sungguh, saat ini aku cuma menginginkan satu permintaan. Hanya satu. Bisa melihatmu.. itu saja.” Gumam Watari.

Hari demi hari berlalu begitu singkat..
Setelah pertemuan sore itu, Watari tak pernah lagi ditemui olehnya. Tak pernah dirinya merasa sesunyi ini. Banyak langkah kaki yang terdengar. Langkah kaki para pengunjung taman lainnya. Namun tak satupun yang ia rasa menuju ke arahnya. Ia merasa, mungkin pemuda itu saat ini sedang sibuk mencari pekerjaan barunya.

Hm.
Sudah sebulan berselang. Hanya aroma angin yang menemaninya berfikir..
Malam ini nenek pulang lebih awal. Watari berfikir, ikan dagangannya sudah habis dijual di pasar. Ia benar-benar dikagetkan dengan pernyataan nenek kala itu. Seseorang dari rumah sakit memberikan surat bahwa Watari mendapatkan pendonor mata. Ia tak menyangka mendengar kabar ini. Setelah kedua orangtuanya meninggal akibat kecelakaan yang juga menimpa dirinya, Watari kecil dipindahkan ke kota ini dan diasuh oleh neneknya yang juga seorang pengurus kuil. Dirinya begitu menantikan saat ini. Saat semua bisa ia raba dengan sorot matanya.

Akhirnya setelah beberapa kali menjalani operasi, kedua mata Watari dapat digunakan kembali. Ia merogoh tiap sudut cakrawala di depannya. Begitu terang. Gadis itu benar-benar tak sabar untuk pulang dan melihat indahnya taman belakang kuil yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Mm. Watari benar-benar heran.
Ia yakin, saat ini ia berdiri di atas batu tepat dimana ia sering duduk dan mengobrol dengan pemuda itu. Di sini. Namun tak ada sungai jernih dengan ikan-ikan yang berenang kesana kemari. Airnya keruh. Dengan ilalang-ilalang meruncing di tepiannya. Sejauh mata memandang, hanya ada gedung-gedung pencakar langit yang berhimpitan tak beraturan.
Dedaunan mepelnya pun telah habis berguguran. Tinggal dahan-dahan kering dan kulit batang yang mengelupas. Tak ada keindahan taman yang sempat dibayangkannya waktu itu. Arashi hanya berusaha menghiburnya. Berusaha membuatnya nyaman. Dinaungi hangat angin sendu musim gugur Haruizawa…

Saban petang ia menunggu penjelasan dari pemuda itu, berharap keinginannya waktu itu dapat terkabul. Dapat memandang dengan jelas wajah sang pemuda. Bukan membayangkan semua tingkah lakunya. Namun, sang pemuda tak kunjung datang kembali. Menemuinya.

Malam mengunci keheningan hatinya. Ia coba mengambil semua pemberian sang pemuda dahulu. Tumpukan kado. Tak pernah ia buka, karena hanya tersimpan rapi di sudut kamar. Tersingkap sepucuk surat. Ia ingat, ini yang pemuda itu berikan bersama sebuah boneka neko kecil saat terakhir kami bertemu. Terukir sebuah pesan singkat.
“Jika suatu hari nanti aku tak dapat lagi menemuimu, aku ingin sekali membuatmu dapat merasakan kembali indahnya dunia. Watari San.”

Cerpen Karangan: Rizki Pratama
Facebook: facebook.com/muhammadrizqyp

FKIP – PBSI UISU MEDAN
NO Hp. 0815 3496 3593
Di mohon kritik dan sarannya untuk karya yang lebih baik selanjutnya..

Cerpen Di Bawah Rindang Mapel Haruizawa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bias Asa Nadia

Oleh:
Melelahkan. Sudah lama aku tidak beres-beres kamar tidur. Akhirnya setelah melewati bulan-bulan yang sibuk aku bisa menikmati sejenak hari libur. Setelah dua hari kemarin dihabiskan berlibur bersama teman-teman sekantor,

Psikosis

Oleh:
Hujan deras membasahi seluruh tubuh Leia. Padahal hari ini ia harus pulang secepat mungkin. Atau hukuman menantinya. Leia mencoba menerobos hujan. Tapi ia sama sekali tak dapat menahan rasa

Goodbye My Life

Oleh:
Hari itu adalah hari pertamaku bersekolah di sd hinamoto. Bisa disebut sebagai hari pertamaku karena aku baru pindah dari sekolah lamaku. Di pagi hari, aku sedang bersiap siap untuk

Bukan Cinderella

Oleh:
Namaku Cinderella. Ya, Cinderella. Seperti nama tokoh dongeng yang sangat terkenal. Dan kebetulan atau memang takdirnya, ibuku meninggal saat aku kecil dan ayahku menikah lagi dengan janda beranak dua.

Shinjiru (Part 3)

Oleh:
Keesokan paginya, aku segera pergi ke ruang OSIS dan menunggu Yui sambil mengerjakan beberapa tumpukan kertas yang ada di atas mejaku. Ketika Yui datang, aku lihat matanya sembab seperti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *