Diantara Gelap Malam bersama Bintang Pengganti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 2 June 2019

Sebelum kita tidur pembicaraan menjadi begitu sendu. Cerita cinta yang kita bicarakan seolah bersatu dengan dinginnya malam. Ditengah kesenduan, tiba-tiba kak Mada dengan sombongnya membeberkan statusnya yang sekarang.
“Iya dong, aku udah punya pacar, kalian kapan? nyusul yaaa.”
Aku tahu sebenarnya ia berniat menyemangati kita agar tak terus terbawa suasana, tapi caranya itu menyinggung perasaan orang-orang sepertiku. Dan jujur kata-katanya begitu membekas dalam pejaman karena aku ingat bagaimana dulu ia memperlakukan.

Saat tengah malam aku dibangunkan, acara puncak akan segera dimulai, semua panitia berkumpul tepat di depan tenda yang kutempati. Aku keluar dengan wajah mengatuk dan tubuh yang menggigil karena kedinginan. Aku duduk menyamping dari depan tenda, di sebelahku hanyalah tanah, tanpa manusia yang menempatinya, keadaan ini menambah hawa dingin mnyusup ke dalam tubuhku. Aku terduduk di tanah sambil memeluk kedua kakiku, terkadang tertidur dengan kepalaku yang disandarkan pada lutut sambil menunggu yang lainnya datang.

Belum lama tertidur, aku merasa tubuhku sedikit hangat, mungkin karena yang lain sudah datang. Aku terbangun dan melihat ke kanan, di sana terdapat ka Mada diam duduk seperti tak ada tempat yang lainnya.
Aku bertanya dalam hati “Kenapa harus duduk di situ sih kan masih banyak tempat, yang lain juga belum datang bisa kan duduk di depan sana?”

Aku kembali tertidur dengan posisi tadi, hanya saja tubuh ini terasa lebih hangat karena kak Mada duduk tepat di samping kanan pundakku. Tak lama aku terbangun kembali, mungkin karena sebelumnya aku sudah terjaga. Kali ini kak Mada menatap wajahku dengan wajah yang tak biasa aku lihat. Ia tersenyum hangat, belum pernah aku melihatnya seperti itu, atau ini hanya ilusi karena aku yang baru bangun tidur. Tapi sungguh belum pernah aku melihatnya tersenyum padaku dengan wajah sehangat itu.

Diskusi tentang acara puncak pun dimulai. Aku acuh tak acuh selama diskusi, karena sebelumnya aku sudah tahu tugasku hanya menjaga tenda. Aku mendengarkan sekilas arahan dari ketua, apa saja yang harus dilakukan dan dimana saja pos yang akan dilewati. Ditengah diskusi temanku Cita meminta izin.
“Izin berbicara, maaf ketua aku gak bisa ikut jaga pos sama kak Mada, tiba-tiba gak enak badan.”
Aku terkejut setelah mendengar pernyataan itu. Jika ia tak bisa menjaga pos, berarti ia menjaga tenda dan salah satu orang yang menjaga tenda harus dikorbankan menjaga pos. Kemungkinan aku terpilih sangat besar. Awalnya aku dan Tami yang akan menjaga tenda, namun Tami ketua penanggung jawab barang bawaan anggota, tak mungkin Tami dipilih untuk menjaga pos. Jadi orang yang harus dikorbankan itu adalah aku. Aku pasrah harus jaga pos dengan kak Mada.
“Ya udah kamu yang jaga pos sama kak Mada, bisa kan?” Ketua menunjukku dengan serius.
“Hmmm… iya bisa.” Aku menjawab alakadarnya.
Jujur aku kesal setelah mendengar pertanyaan ketua.
Kak Mada menatapku lagi namun aku menghiraukannya.

Diskusi berlanjut, tak lama tercium bau busuk, dan dipastikan ini bau gas yang dikeluarkan seseorang.
“Oy, siapa ini yang kentut?” Ka Damar sedikit marah.
“Ih bauuu jorok.” Tia menutup hidungnya.
Tak lama kak Mada tertawa sambil menatapku lagi yang sedang menutup hidung.
“Eh itu Mada ketawa, ah Mada bauuuuuu.” Tuduh Rian dengan yakinnya.
“Jorok ihhh.” Cita agak marah.
Saat itu semua tertawa namun kesal dengan kelakuan kak Mada.

Acara dimulai, aku dan rombongan penjaga pos pergi menuju pos masing masing, Sebelum menuju pos, kita pergi ke kamar kecil agar nanti tidak ingin buang air. Kuturuni setapak pegunungan seorang seperti tak seorang pun yang peduli. Kenyataan itu pahit namun tak sepahit yang kita bayangkan. Tak lama Kak Mada berbalik, ia melihatku, kemudian menghampiri dan mengambil senter yang kubawa.
“Hey kamu cewek, sana depan aku.” kak Mada berdiri di sampingku.
Aku hanya menuruti kak Mada karena saat itu aku cukup kesal dengan yang lain, seperti tak menganggapku ada. Saat di kamar kecil pun sama, aku menunggu seorang diri di depan dengan wajahku yang cukup kesal dan ya hanya kak Mada yang mengahampiriku saat keadaanku seperti ini.

“Kamu gak mau pipis dulu?” kak Mada bertanya.
“Engga kak.” Aku kesal dengan semua orang di sana, termasuk kak Mada yang duduk di sampingku.

Setelah semua selesai, perjalanan dilanjutkan, kebetulan kak Mada menjaga pos terkhir, jadi kita harus berkeliling untuk sampai di lokasi, jalanannya pun naik turun jauh dari perkiraanku. Aku terengah-engah di tengah perjalanan, dan meminta untuk beristirahat sebentar.
“Oy kalian aku cape tunggu dulu ya.”
“Bentar lagi kok.”
“Ayo mangat” Kak Mada menyemangati.
Aku terus berjalan namun kali ini aku sangat lelah sampai-sampai kak Mada mengetahui keadaanku saat itu.
“Kamu cape?”
“Iya kak.”
“Hey kalian tunggu dia cape.” Seru kak Mada.
“Bentar lagi kok.” Temanku yang bernama Bumi acuh dengan seruan itu.
“Tunggu sebentar aja bisa kan? dia cewek sendiri di sini.” Protes kak Mada dengan nada kesal.

Temanku Bumi benar-benar tak mendengarkan kata-kata kak Mada, ia masih terus melanjutkan perjalanannya. Kekesalanku hampir memuncak, untungnya kak Mada mau menungguku sebentar. Ini berakibat pada aku dan kak Mada yang harus berjalan paling akhir dari rombongan lain yang semuanya laki-laki. Aku diberi tahu Bumi bahwa posku ada di bawah, sungguh melelahkan, setelah naik aku harus turun lagi. Dan seramnya aku dan ka Mada terpaksa turun diantara semak-semak yang cukup sempit.

“Kamu di depan lagi, nanti aku yang senterin jalan.”
“Okeee.” Aku berjalan sambil diarahkan oleh ka Mada, hingga akhirnya kita sampai di pos jaga.
Kita mencari tempat yang tepat untuk berjaga, dan mebersihkan area pos yang penuh dengan dedaunan.

“Hei, kita duduk di sini aja yu.” Ka Mada menunjukkan tempat padaku. Tempat itu tepat di depan pohon yang cukup tinggi dan dipenuhi semak-semak. Untungnya pohon itu tak begitu lebat, daun-daunnya sudah berjatuhan ke tanah. Menyeramkan memang namun harus dimana lagi kita menunggu.

Aku duduk di sampingnya dan membicarakan apa yang harus kita lakukan kepada para anggota. Ternyata aku hanya harus menghibur mereka setelah tekanan yang diberikan di pos sebelumnya. Saat pembicaraan habis aku dan ka Mada terdiam tanpa sepatah kata pun. Aku melihat sekitar yang saat itu begitu gelap. Dan disinilah diantara gelap malam yang menakjubkan, aku menatap langit dari sela-sela ranting pohon dengan wajah yang cukup terkagum-kagum. Langit tengah malam saat itu begitu indah, bintang-bintang bertaburan hingga tak terhitung jumlahnya, bulan pun begitu benderang menerangi setapak pegunungan yang tengah malamnya sangatlah gelap, ditambah langit nan cerah merubah suasana hati menjadi begitu menyenangkan.

Aku melihat ke samping, dan ya aku sedang bersamanya. Bersama dia yang dulu begitu dekat denganku, dengan segala tingkah lakunya yang begitu menyebalkan, namun entah mengapa aku begitu menyukainya. Menikmati indahnya malam dengan taburan bintang, seolah sengaja diberikan Tuhan untuk kita berdua. Ia pun sama sepertiku hanya melihat ke atas langit, takjub dengan pemandangan yang ada.

Tak lama aku dan ka Mada bertatapan, ia tersenyum, namun aku kembali melihat langit yang saat itu jauh lebih indah dari senyumannya. Saat ini semua berbalik, setiap menatap langit malam, aku bukan mengingat langit di malam yang penuh taburan bintang itu, aku malah selalu ingat bagaimana indahnya senyummu pada diriku. Kunamai engkau bintang pengganti. Bintang yang selalu mengerti, bagaimana aku harus meluapkan rindu. Padamu, seseorang yang selalu aku rindu.

Cerpen Karangan: Siel

Cerpen Diantara Gelap Malam bersama Bintang Pengganti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sunset

Oleh:
Hening menyapa senja ini, warna langit yang biru pun mulai memudar, matahari mulai menghilang perlahan lahan. kupu-kupu kuning bermotif indah itu meliuk liuk mengikuti irama sungai bawah jembatan rell

Firasat

Oleh:
Pagi ini terasa sepi hanya tetesan embun dan semerbak udara pagi yang menyapa pagiku. Seakan semua kebahagianku terengut semenjak kejadian itu, kejadian yang membuatku ingin lari dari kenyataan. Namaku

Sampai Kapan pun

Oleh:
Sepinya hari yang ku lewati. Tanpa ada dirimu menemani. Sunyi ku rasa dalam hidupku. Tak mampu ku tuk melangkah. Masih ku ingat indah senyummu. Yang selalu membuatku mengenangmu. Rangga

Jaket Ungu

Oleh:
Hujan sore ini cukup membuatku menggigil, kucoba menatap langit di luar belum ada tanda bahwa hujan akan berhenti. Aku kembali masuk ke dalam kamarku, membuka sedikit jendela untuk cukup

Suatu Saat Kita Akan ke Perancis, Sayang

Oleh:
Suatu saat kita akan menginjakkan kaki di Perancis, Sayang Perancis masih nyenyak ketika kita berdua akhirnya tiba di stasiun Gallieni, Paris, setelah melewati perjalanan panjang dari Amsterdam. Jauh sebelumnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *