Dolphin’s Drama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 3 November 2016

“Lumba-lumba, lambang cinta abadi. Saat dua orang bertemu dan ada lumba-lumba maka cinta mereka akan abadi selamanya.”

“Sadarlah hidup tidak akan seindah drama.”
“Ish Manda, biarkan aku berimajinasi sebentar lah,” ucapku pada Manda yang sedang tertawa di depanku.
“Angel, Angel, drama terus yang dipikirin,” kata Manda disela-sela tawanya. “Beneran kok, gak bakal pangeranmu kelak kayak di imajinasimu,” lanjutnya.
Aku mendengus kesal, sementara ia masih saja tertawa sampai aku bosan mendengarnya. “Kurasa aku harus pergi,” kataku sambil berlalu.
“Eh Angel jangan marah. Duh Angel beneran gak ada maksud apa-apa,” kata Manda sambil mengejarku.

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah, bersiap berjalan ke kantin. Kupercepat langkahku supaya aku tetap berada di depan Manda. Sayangnya aku tidak memprediksi adanya orang yang muncul secara tiba-tiba dari balik dinding. Tabrakan di antara kami pun tak terelakan. Kupikir aku dalam masalah.
“Ups, maaf. Oh, hai Angel.”

Beruntung itu hanya Josh. Aku mengenalnya sebagai anak laki-laki pendiam yang baik hati. Ia tidak tergabung dalam kumpulan pembuat onar jadi sepertinya menabraknya tidak akan membawaku dalam masalah.

“Hai, Josh. Maaf, aku harus pergi,” ucapku sambil berlalu meninggalkannya.

“Um, Angela! Aku…”
Samar-samar aku bisa mendengar suara Josh memamggilku. Tapi ingatanku akan Manda membuatku tetap mempercepat langkahku dan melupakannya. Setelah aku sampai di kantin aku langsung memesan sebuah makanan ringan dalam kemasan supaya tidak perlu mengantri panjang dan langsung duduk.

Tentang tadi, aku selalu berharap akan menemukan seorang yang cukup mirip sikapnya dengan yang ada di drama yang sering kutonton. Mungkin aku seorang romantis yang mengharapkan seseorang yang juga romantis untuk menemani. Tapi saat aku mengungkapkan keinginanku pada Manda, ia selalu menertawaiku. Menurutnya drama dan realita adalah dua hal yang bertolak belakang.

“Hey Angel, Josh bukan pria buruk.”
Tiba-tiba saja Manda duduk di depanku dengan membawa jus jeruk yang sudah diminumnya sedikit.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
“Ya… kalau kalian punya hubungan spesial mungkin itu bukan hal buruk jadi…”
Aku memukulkan tanganku ke meja untuk mendiamkannya. “Manda, masih banyak orang di sini, kalau ada yang dengar gimana?” aku berucap dengan separuh berbisik.
Manda menatapku horor, kemudian tersenyum dan berkata, “Jadi putri kita mulai malu-malu. Apa ada rasa…”

Aku meninggalkan meja tersebut dengan membawa kemasan makanan ringanku yang sudah kosong dan langsung kulempar ke tempat sampah terdekat. Menurut jadwal, hanya perlu dua jam lagi sebelum pulang sekolah. Berkat Manda, aku benar-benar tidak bisa konsentrasi saat pelajaran berlangsung.

Josh, dia anak pendiam dan hobinya ke perpustakaan. Tapi zaman sekarang kurasa tidak semua yang ke perpustakaan adalah anak yang kaku. Atau mungkin sebenarnya tidak kaku hanya aku saja yang kurang memahami mereka. Apa Josh sering membaca novel di perpustakaan? Kuharap ia bisa menjadi laki-laki yang mirip dengan peran utama pria. Astaga apa yang kupikirkan!

Sepulang sekolah, aku memilih berjalan kaki ke rumah. Di pintu gerbang samping sekolah agak sepi, karena itu kuputuskan untuk ke luar lewat sana. Namun perkiraanku salah, karena di sana aku bertemu dengan seseorang yang membuat jantungku berdebar-debar.

“Angela, aku… mau memberi ini untukmu… Terimalah,”
Josh berdiri di sana, di hadapanku. Aku benar-benar mematung saat ia bicara tadi. Perlahan-lahan ia mengeluarkan sebuah kotak hadiah berwarna biru laut yang tampak manis.
Aku mengambil kotak itu. “Terimakasih, Josh.”
Josh tersenyum melihatku, kemudian berkata, “Aku ingin kau membukanya sekarang.”

Menuruti perkataannya, aku langsung membuka kado tersebut. Sepertinya aku kehilangan kesadaran akan diriku sendiri, seakan ia telah menghipnotisku.

Sebuah boneka lumba-lumba berwarna biru dan putih di bagian bawahnya keluar dari kotak hadiah itu. Aku mengelusnya, memegangnya, dan kusadari boneka itu cantik. Aku tersenyum setiap kali menatap matanya yang berkilau terkena sinar matahari.

“Angela, aku tahu saat dua orang bertemu dan dipersatukan lumba-lumba, maka cinta mereka akan abadi,” Josh mulai berbicara. Kalimat pembuka yang menarik bagiku langsung membuat mataku beralih pada matanya. “Tapi sangat sulit membawamu ke laut yang ada lumba-lumbanya. Jadi, aku hanya bisa memberikanmu boneka lumba-lumba saja.”

Ia berhenti berkata-kata dan aku mulai menyadari wajahnya berubah menjadi merah padam. Aku merasa salah tingkah dan menundukkan kepalaku.

“Angela, aku… mau… bertanya, apa kau… kau…?” ia tergagap-gagap melanjutkan perkataan tersebut. “Maksudku Angela, eng… simpan saja boneka itu. Mungkin aku akan bertanya lagi… besok, saat aku sudah lebih siap,”

Josh pergi begitu saja. Aku memandanginya sampai ia benar-benar menghilang dari pandanganku. Ia orang yang cukup lucu, dan juga menarik. Kurasa aku tahu apa yang akan dia tanyakan dan besok aku akan memberikannya jawaban terindah yang dia harapkan.

Cerpen Karangan: Sindy Sintya
Blog: thesparkleofstar.blogspot.co.id

Cerpen Dolphin’s Drama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jendral Ketumpahan Kopi

Oleh:
Tahun 2017 adalah tahun dengan banyak tren aneh di dalamnya. Mari ambil contoh, fidget spinner misalnya. Mainan yang cara mainnya cuma diputer-puter dan gak menghasilkan kesenangan apapun untuk layak

Ulang Tahun Ku

Oleh:
Nama ku Bunga… namaku memang terdengar cukup aneh namun sanggat berarti, nama lengkapku Bunga Aprillia. Namun kebanyakan orang memanggilku bunga, tak apa lah toh hanya sebuah panggilan, aku baru

Little Star

Oleh:
Kumasuki ruangan gelap itu dengan hati yang berdegup kencang, suasana begitu hening. Gemetar tanganku memegang gaun, kuarahkan pandangan ke depan, dan melangkah anggun ke atas panggung. Hanya satu cahaya

Terima Kasih Guru

Oleh:
Ais kembali berjalan menyusuri trotoar yang menemaninya sepanjang jalan. Pagi ini sudah banyak kendaraan yang berlalu lalang. Ais senantiasa berjalan kaki menempuh jalan yang bebatuan untuk sampai ke sekolahnya.

Pramuka or You?

Oleh:
Aku pun memandang ke arah langit, “hari sudah semakin sore”, Ujarku dalam hati. “Tinggal sedikit lagi..”, Kataku dengan nada agak meninggi sambil menarik tali rafia yang kugunakan untuk membuat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *