Edelweiss

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 17 November 2019

Aku melihatnya lagi pagi ini. Dia terlihat sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Senyumnya selalu terukir ketika dia berbicara. Matanya pun berbinar ketika dia berkata. Aku tahu pasti, dia sedang membicarakan rencana untuk mendaki gunung bersama-sama.
Dia terobsesi pada gunung, sama sepertiku.

Aku berjalan menghampirinya ketika teman-temannya berlalu pergi.
“Hei,” sapaku.
Dia tersenyum menatapku. “Hei juga, aku sudah memberitahu mereka. Jika kita lebih baik berangkat tanggal 7, mereka semua setuju.”
Aku mengangguk.

“Kau ada kelas siang nanti?” tanyanya.
Aku mengingat-ingat, kemudian berkata, “Tidak, ada apa?”
“Makan siang bersama?” tawarnya.
“Oke,” jawabku.

Kita duduk di kafe dekat kampus. Suasana ramai kafe cukup mengangguku. Jika boleh jujur, aku tak suka keramaian. Aku suka sunyi yang membuatku damai. Aku lebih suka menghabiskan jam kosongku di perpustakaan. Membaca buku-buku tentang geografi.

“Kau pernah ke Gunung Rinjani?” tanyanya menatapku.

Selain membaca buku-buku tentang geografi. Aku suka mendaki gunung. Papaku memiliki hobby mendaki gunung. Jadi, terkadang dia mengajakku untuk ikut bersamanya. Tentu saja aku setuju. Lagi pula apa yang membuat seseorang tak menyukai tantangan mendaki gunung?

“Pernah, dulu waktu aku masih SMA. Aku pergi bersama Papa dan teman-temannya.” jawabku.
Dia terlihat kagum. “Kupikir kau lebih berpengalaman dariku.”
Aku terkekeh. “Tidak juga, omong-omong aku suka melihat bunga edelweiss. Kurasa aku akan melihatnya lagi di pendakian kita nanti.”
“Tentu saja, kita akan melihatnya.”

Dia, lelaki yang berbicara padaku merupakan teman satu angkatanku. Kita dekat karena kita memiliki hobby yang sama, mendaki gunung. Aku bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu, saat kita mendaki bersama dengan teman-teman yang lain.
Sejak itu, kita jadi sering berkomunikasi dan berbicara tentang segala hal. Dia lelaki yang baik dan menyenangkan.

“Aku hampir menghabiskan waktu liburanku dengan mendaki gunung,” ceritaku.
Dia menatapku, tersenyum dengan mata berbinar. “Itu keren. Aku tebak kau bukan tipe perempuan yang suka keramaian, bukankah begitu?”
Aku mengangguk membenarkan. Aku memang lebih menyukai gunung dengan segala kedamaiannya bukan mall dengan segala keramaiannya.

“Kau lelah?” tanyanya saat kita sudah beberapa lama mendaki Gunung Rinjani. Salah satu gunung yang memilik bunga keabadian, bunga edelweiss.
Aku menggeleng. Jujur saja, aku tak terlalu lelah. Aku sudah cukup sering melakukan hal ini. Jika pun aku lelah tidak ada yang bisa dilakukan selain tetap mendaki hingga kita sampai di pos peristirahatan. Jika kau berpikir bahwa mendaki itu hal yang keren, aku setuju. Tapi jika kau berpikir bahwa mendaki itu hal yang mudah, aku belum tentu setuju.

Aku mengusap keringat yang menetes di dahiku ketika sampai di pos peristirahatan. Beberapa teman yang lain meminum air botol mereka. Beberapa lagi, menyiapkan tenda. Yah, kita memutuskan untuk beristirahat karena memang waktu sudah cukup sore dan akan melanjutkan pendakian esok pagi.

“Ayo semangat!” teriak salah satu temanku saat kita mulai mendaki lagi.
Aku menarik napas, bermaksud mengumpulkan tenaga.

Dia menghampiriku dan tangannya terulur, “Ayo!”
Aku menyambut uluran tangannya dan berjalan bersama-sama. Kita berada di barisan paling belakang. Teman-teman yang lain terlihat lebih bersemangat. Karena memang, sebentar lagi kita akan melewati hamparan tanah yang dipenuhi bunga edelweiss. Yang katanya, bunga edelweiss merupakan simbol cinta.

Sesampainya disana, aku tersenyum. Hamparan tanah tersebut terlihat sangat indah. Hingga pandangan mataku tak mau pindah.

“Aku pernah baca, kelopak bunga edelweiss itu akan gugur menjadi serbuk dalam 3-4 hari jika kita memetik dan membawanya pulang.” katanya.
Aku menoleh padanya dengan terkejut.
Dia menyadari arti pandanganku. “Tenang saja, mana mungkin aku memetik bunga edelweiss. Bisa-bisa, aku dipenjara.”
Aku tertawa mendengar jawabannya. “Kau tahu mengapa bunga edelweiss disebut bunga keabadian? Karena bunga itu selalu mekar selama 10 tahun lamanya. Ada zat yang namanya etilen, yang menyebabkan kelopaknya tetap bermekaran.”
“Kau keren,” pujinya.
Aku merasa pipiku memanas. Pujiannya tak berlebihan, tetapi mampu memberi efek yang berat padaku. Perutku seolah bergejolak.

Aku mencoba untuk mengabaikan perasaan itu dan bersuara, “Papa pernah berkata padaku. Jika kamu ingin menunjukkan keindahan bunga edelweiss, jangan bawa bunga itu turun dari gunung, tapi ajaklah orang-orang untuk melihat langsung keindahan edelweiss di atas gunung. Karena keindahan bunga edelweiss yang sebenarnya adalah ketika melihat tangkainya bergoyang tertiup angin pegunungan, bukan ketika berada di tangan.”

Dia menatapku. Kedua tangannya meraih jari-jemariku. Dia terlihat menarik napas dan berkata, “Kau tau, darahku terasa membeku setiap melihatmu. Napasku terasa tercekat setiap melihat senyummu. Jantungku terasa tak berdetak setiap mendengar suaramu. Dan seluruhku organ tubuhku terasa tak berfungsi setiap kau menghilang dari pandanganku.”

Aku terpaku, aku bahkan tak menyangka dia dapat berkata seperti itu. Apa baru saja dia berkata dia menyukaiku?

“Banyak hal yang tidak kita ketahui tentang dunia ini. Maukah kau belajar bersama denganku untuk memahami arti dunia sesungguhnya? Maukah kau menjadi rumah tempat dimana aku akan selalu pulang? Maukah kau menjadi milikku?” tambahnya.

Aku tak pernah membayangkan bahwa ada seseorang yang indah yang berani berkata-kata indah di tempat yang paling indah, tak pernah sekalipun. Tapi hal ini terjadi, saat ini, di tempat ini.

Aku tak tahu, dia akan berkata seperti itu. Tapi yang kutahu, aku berkata, “Ya, aku mau.”

Cerpen Karangan: Dewi Sinta
Blog / Facebook: Dewi Sinta Andani
Hanya seorang gadis yang suka menulis. Kalian bisa membaca tulisanku yang lain di akun wattpad dengan nama pengguna halosinta.

Cerpen Edelweiss merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Winter In Blitar

Oleh:
Pagi yang cerah di kota Blitar, namun udara dingin begitu terasa menusuk tulang. Mungkin bisa dibilang ini adalah “Winter” nya Blitar. Meski udara tak begitu bersahabat, hal itu tak

Detik yang Pergi (Part 3)

Oleh:
Tiga bulan berlalu. Kehidupan Franky terasa hambar tanpa kehadiran gadis yang dulu selalu menyambut kedatangannya di rumah. Setiap ia pulang kerja ia selalu memanggil Leah, tetapi saat itu juga

Hujan

Oleh:
Hujan deras mengguyur kota Ponorogo. Hujan disertai angin kencang itu membuat Icha ketakutan dan memilih untuk tetap berada di kelasnya meskipun teman-temannya semua memutuskan untuk pulang walau dalam keadaan

Kamu Lovable

Oleh:
Pentingkah peduli apa yang dilakukan dan tempat kencan pertama tiap pasangan? Seperti teori surya yang pasti tenggelam di barat maka tujuanku adalah sesuatu yang sudah sangat jelas. Membuat kedua

Maafkan Aku (Part 3)

Oleh:
Tak terasa 1 bulan sudah kami menjalin hubungan. Layaknya hubungan yang lainnya, perjalanan kami pun tak semulus yang kami dambakan. Hari ini, tepat 3 hari dimana Nada tidak memberikanku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *