F For Farah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 7 February 2014

Aku senang membiarkan diriku terbuai dalam lamunan. Bagiku itu sangat mengasyikkan, sekaligus membuat diriku sibuk daripada berbuat sesuatu yang tidak jelas. Kali ini aku kembali melamun, sambil menatap melalui jendela bening ke arah luar kafe tempatku biasanya minum; lebih tepatnya menatap kosong ke arah beberapa pejalan kaki yang berlalu lalang di salah satu sudut istimewa di kota Paris, Prancis.

Sungguh tak terbayangkan memang, aku yang bukan siapa-siapa ini bisa tinggal di kota terindah di seluruh dunia. Hanya saja aku selalu merasa ada yang kurang; mungkin belum lengkap hidupku tanpanya. Dia, yang selalu termenung ketika aku menatapnya.

Maafkan karena aku tidak sopan. Kalian bisa memanggilku Fiko atau Viko; tak ada bedanya. Aku sendiri kurang mengetahuinya secara pasti karena akte kelahiran yang menyatakan diriku terlahir ke dunia ini telah tiada, entah ke mana.
Jangan pernah memanggilku Piko; aku tidak menyukainya. Akan tetapi, akan kubagikan sedikit kisahku, asal mula si Piko ini.

Tepat 20 tahun yang lalu;
Aku memergoki seorang anak perempuan kecil berambut poni sedang menatap ke arahku dari balik pagar rumahnya. Anak perempuan itu jauh lebih muda dari padaku. Saat itu aku sedang bermain bola bersama beberapa teman dan kebetulan bola yang kutendang, masuk ke rumah anak itu. Ia memegang bola itu sambil terus menatapku.

“Hei! Jangan bengong!” bentakku kepadanya sambil mengambil bola itu dari kedua tangannya.
Anak perempuan itu langsung menangis keras. Aku takut, lalu berlari meninggalkannya. Kesan pertama yang buruk ya?

Sejak saat itu aku mengenal anak perempuan berambut poni itu. Namanya Farah. Aku memanggilnya si cengeng. Dia memanggilku: Piko.

“Bisa gak sih pake F aja?” tanyaku sambil membentaknya. Itu terjadi ketika kami bersekolah di sekolah dasar yang sama. Aku duduk di kelas 5 dan dia di kelas 3.
“Namamu Piko kan?”
Semakin kesal, aku memilih untuk mengabaikannya. Toh, dia kerjaannya hanya mengganggu saja. Ia selalu memperhatikanku ketika aku bermain basket. Dan dia selalu berkelit: “Ah aku cuman ngelamun aja.”
Begitulah. Parah.

“Hei cengeng! Sekali lagi kamu sebut namaku salah, besok kamu kena sangsinya!” bentakku padanya. Ospek SMA. Kami bertemu kembali. Coba tebak: ia seperti kutukan. Ke mana aku pergi, dia akan mengikutiku.
“Oke kak Piko!” sahutnya sambil tertawa geli. Beberapa temannya ikut tertawa.
Harga diri dan reputasiku jatuh dibuatnya, padahal aku dikenal sebagai salah satu mentor tergalak.
“Terserah lah!” sahutku meninggalkannya. Hasilnya: aku menghukum semua temannya, kecuali dia. Tujuanku ingin membuatnya takut, setidaknya segan. Tapi percuma.

Lagi-lagi ia ketahuan memperhatikanku bermain basket, kebetulan aku masuk tim inti pemain basket di SMA.

“Bisa gak sih jangan ngelamun lagi?” tanyaku sambil memarahinya.
“Ngelamun itu gak ngerugiin orang kok,” sahutnya cuek.
“Tapi ngelamun itu gak baik!”
“Iya deh kak Piko…” jawabnya sambil menjulurkan lidah.
“Arghhh! Fikoooo!”
“Bodo. Piko. Weeee.”

Pertengkaran soal nama ini berlangsung cukup lama. Piko dan Parah, begitulah julukan yang diberikan oleh teman kami. Beberapa dari mereka bahkan menganggap kami “Pacaran”.

“Gara-gara kamu nih…” keluhku padanya. “Sekarang seisi sekolah menyangka kita pacaran!”
“Masalah buatku?” tanyanya cuek.
“Argh! Kamu ini…!”
“Mau pacaran kek, mau facaran kek, aku gak peduli Piko…”

Tidak peduli?
Sayangnya kenyataan mengatakan hal yang berbeda.
Ketika perpisahan angkatanku berakhir, Farah datang menghampiriku dengan ekspresi wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Piko…” katanya. “Maafkan jika selama ini menyusahkan kamu.”
“Pake kak dong!” kataku sambil menoyor jidatnya. Aku kira dia akan membalasnya dengan tawa seperti biasanya, namun kali ini, berbeda.
Ia menitikkan air mata lalu menatapku. Tatapannya kosong.
Aku mengerti. Ia sedih. Entah kenapa aku bisa merasakan kesedihannya saat itu. Aku langsung memeluknya dan berbisik:

“Jangan pernah kupergoki dirimu sedang melamun lagi.”

“Kalau kamu pergi, aku akan melamunkan siapa? Siapa lagi yang bisa kuperhatikan?”
Ia bertanya dan hingga saat ini tak bisa kujawab.

Beberapa saat berlalu, aku mendapatkan beasiswa di Prancis. Ternyata prestasiku dalam dunia olahraga, secara khusus basket tidak sia-sia. Salah satu universitas di kota Paris mau menerimaku secara cuma-cuma. Dan begitulah, sudah 3 tahun sejak kepergianku dari Indonesia.

Mungkin sejak saat itulah, aku mulai sering melamun. Membayangkan wajah Farah, membiarkan diriku membayangkan suara tawa dan senyumnya, tangisnya hingga celetukannya. Aku rindu kepadanya.

Aku rasa aku telah jatuh cinta. Pada gadis yang telah melamunkan diriku sejak dahulu. Gadis berambut poni yang sering termenung. Aku rindu saat-saat bersamanya.

Aku melamun. Lagi.
Tetapi kali ini ceritanya berbeda.
Aku tersadar oleh suara ketukan dari jendela bening di hadapanku. Aku ingat, aku sedang menunggu seseorang yang datang terlambat seperti biasanya di kafe yang menjadi tempat favorit kami.
Orang itulah yang mengetuk jendela tempatku melamun. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum, dan membawa seikat bunga mawar merah di tangannya.

Benar, gadis itu adalah Farah.
Farah, Parah. Ia masuk, kemudian duduk di depanku.
“Maaf ya aku lama,” katanya.
“Udah kebiasaan kamu kok, untuk apa mawar itu?” tanyaku.
“Aku suka. Tadi kelamaan milih di jalan, kebetulan lewat dan hehehe…” jelasnya. “Kamu marah sayang?”
“Enggak,” jawabku singkat, memalingkan wajah darinya, menunggu tanggapan dari dirinya.
Ia cemberut dan berkata:

“Dasar Piko! Ngelarang aku ngelamun sendirinya suka ngelamun!”
Ia langsung mencubit pipiku.
“Biarin,” jawabku lalu membalas cubitannya. Ia memberikanku sebuah keceriaan yang sangat kunantikan.

Jangan tanya bagaimana kami dapat bertemu dan bersama sampai sekarang, karena aku hanya akan menjawab satu:

Kami akan menikah bulan depan. Di mana lagi kalau bukan di Paris, kota yang sering kami lamunkan bersama.

F For Farah, F From Fiko.

Cerpen Karangan: Rafael Stefan Lawalata
Facebook: Rafael Stefan Lawalata

Cerpen F For Farah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bahasa Kami Berdua

Oleh:
Metias. Nama yang menurutku agak aneh. Biasanya, namanya ditulis sebagai “Matias”, atau disebut sebagai “Matius”. Yang jelas, Metias bukan nama yang sering kudengar. Metias melangkahkan kakinya memasuki kelas kami.

Cinta Yang Terlarang

Oleh:
Yogi tak menyadari ketika roh kekasihnya Dara yang baru saja meninggal karena sakit jantungnya masuk ke dalam jasad Dido, korban tabrak lari kemarin sore. Tidak masuk akal memang tapi

Embun yang Hilang

Oleh:
Embun, ciptaan Tuhan yang sangat aku sukai. Mataku hanya bisa melihat sehari sekali di pagi hari. Aku hanya bisa memandangnya dari jendela kaca kamarku. Dia begitu sejuk, begitu segar,

Dear Rosi (Part 2)

Oleh:
Keesokan paginya saat yang masih terlelap Raka menghubungi melalui telepon. “halo” jawabku. “halo Ros coba keluar deh ada yang pengen gue tunjukkin sama lo” ujarnya. Aku keluar dari kamar

Love Street (Part 3)

Oleh:
Di dalam mobil. “Kita ke mana?” tanyaku. “Banyak nanya.” ucapnya datar masih fokus menyetir mobilnya. Aku mengeluarkan hpku. “Sekarang tutup mana lo.” ucapnya sambil mengulurkan selembar kain. “Gak mau.”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “F For Farah”

  1. fitri says:

    ok
    aq suka…

  2. renymarliadi says:

    Ide ceritanya sederhana, ya. Ceritanya gampang dipahami soalnya penggunaan kalimatnya nggak berbelit-belit juga. Cukup bagus menurutku meskipun bagiku cerita ini terlalu singkat.

  3. maraa says:

    bagus, namun terlalu singkat. kalo panjangan lagi, keren dah. bakalan flawless 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *