Failing in Online Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 13 September 2021

Malam itu di sebuah daring dalam salah satu jejaring sosial yang bisa mempertemukan orang-orang dari seluruh dunia, aku bertemu dengan seorang yang begitu cantik dengan nama akun Alivia08. Kami mengobrol panjang lebar, karena ternyata kami berdua tinggal di kota yang berdampingan.

Tanpa disadari, saking banyaknya yang kita berdua bahas, akhirnya aku dan dia memutuskan untuk berbagi kontak sosial media masing-masing. Hingga suatu hari dia berkata padaku saat sedang melakukan video call, dia begitu ingin bertemu denganku.

“Oh iya Ndra, kita meet up yuk. Kan jarak tempat kita juga gak begitu jauh,” Ucapnya dalam Video call.
“Ya boleh sih, ketemu di titik 0 aja biar kamunya gak terlalu jauh,”
“Baiklah, gimana kalau pas sabtu besok”
“Oke siap, nanti aku bakal ngajak kamu ke suatu tempat yang keren banget,”
“Oke deh,”

Meski dalam hati cukup kurang percaya diri, aku tetap mempersiapkan semuanya dengan baik. Walaupun aku tidak berharap banyak bisa mendapatkan hatinya, tapi harapan itu selalu ada meski hanya satu titik putih.

Hari kami bertemu sudah datang, handphoneku bunyi begitu keras untuk membangunkanku. Persiapan sudah selesai, aku dan Alivia pun berbagi kabar kalau kami akan sama-sama berangkat.

Dalam sebuah kafe di titik 0 perbatasan kota, ternyata aku datang terlebih dahulu daripada dia. 30 menit aku menunggunya, dia pun datang dengan menggunakan mobil yang bisa dikatakan cukup mewah.
Aku melihatnya keluar dari mobil dengan balutan pakaian casual elegan layaknya seorang putri kerajaan yang sedang turun dari mobil kerajaan. Kecantikan yang seakan memburamkan pandangan sekitar dan hanya terfokus pada dirinya saja.

Aku masih terpana dengan bidadari yang menghampiriku hari ini. Dalam hati masih tidak yakin kalau dia adalah salah satu orang yang ada di kontak jejaring sosial dan handphoneku.

“Haiii… Ndra…” Sapanya sambil melambaikan tangan.
Aku pun spontan membalasnya dengan melambaikan tangan.
Dia berjalan padaku dengan penuh percaya diri dan tenang walaupun dilihat oleh banyak pasang mata. Tanpa basa basi dia langsung duduk ditempatku.

“Udah lama nunggunya Ndra?” Ucapnya santai.
“Hmmm sekitar 4-5 bulanan dah aku nungguin kamu, hahaha,” Jawabku.
“Bisa aja kamu Ndra hahaha,” Menepuk lenganku seakan kita berdua begitu akrab.

Kami berdua pun berbincang-bincang hingga lupa waktu, yang ternyata sudah menunjukkan pukul 16.00. Aku yang melihat jam sontak langsung menarik tangannya dengan terburu.
“Hei, kenapa Ndra?”
“Ya ini waktu yang tepat untuk mengajakmu ke tempat rahasiaku,”
“Ah, benarkah?” Jawabnya terkejut.

Kami berdua pun langsung berlari menuju ke tempat kendaraanku tanpa berfikir. Sesampainya di tempat parkir, aku berfikir dan menanyakan sesuatu ke Alivia.
“Apa kamu baik-baik saja kalau kesananya naik motor bututku?” Tanyaku.
“Gakpapa kok, santai saja,”

Aku dan Alivia berangkat dengan balutan udara sejuk di sore hari, tak banyak terdengar hiruk pikuk kemacetan jalanan seperti di kota. Aku intip dia melalui spion motorku. Dalam hatiku berkata, sepertinya dia enjoy dan merasa senang dengan perjalanan ini.

Kami pun sampai di lokasi sesuai perkiraanku.
“Kita udah sampai, Liv,” Berhenti di tanah lapang yang cukup luas.
“Tanah kosong?” Ucapnya bingung.
“Hei… lihat deh di depanmu,”
“Wow… Tepat sebelum sunset, apa setelah ini langitnya akan terlihat begitu indah?” Ucapnya begitu terkejut.
“Yah, jangan kehilangan momennya, sayang kalau gak diupload di Instagram,”
“Iya nih, aku boleh agak maju?”
“Boleh dong, tapi jangan terlalu dekat dengan pembatas ya, kayaknya batas buatanku sudah sedikit rapuh,”

Dia berjalan perlahan seraya menikmati indah pemandangan senja yang mulai menjingga. Dia terlihat begitu bahagia dengan yang ia dapatkan saat datang ke tempat ini.

Tanpa sepengetahuannya aku pun memotret pose canditnya yang terbaik. Senyum bibir tipis menambahkan goresan indah cahaya jingga yang perlahan meredup.
Dalam hati aku berkata, sepertinya aku benar-benar jatuh hati padanya.

Tak lama aku menikmati pemandangan terindah, tiba-tiba saja ia memanggilku untuk membantunya foto dengan latar belakang senja. Aku memotret dengan keadaan terbaiknya, mungkin inilah bidadari yang diciptakan oleh Tuhan.

Setelah kami selesai bersua foto, ia mendekat padaku dan menanyakan hasil fotonya.
“Wah… Ini indah sekali, foto yang kamu ambil bagus banget Ndra,” Ucapnya kegirangan.
“Hahaha cuma kebetulan saja kok,” Jawabku sambil menutupi perasaan,

Setelah melihat-lihat fotonya, ia pun kembali bertanya.
“Ndra, ayo pulang,” Ajaknya.
“Tunggu 20 menit lagi, kamu akan melihat sesuatu yang tidak kalah menakjubkan daripada senja,” Jawabku.
“Apa itu?”

Waktu berselang, kami berdua ngobrol panjang levat dengan hawa dingin yang perlahan mulai menyentuh pori-pori. Ia pun juga mulai merasa dingin, spontan aku memakaikan jaketku ke dia.

“Eh… Aku baik-baik saja kok,” Ucapnya.
“Udah, pakai aja dan lihatlah pemandangan di depan,” Pintaku karena dia menatapku.
“Wow, dobel surprise ya dari kamu, keindahan yang gak mungkin aku dapat di kota,”
“Yah, kebetulan aja cuaca lagi cerah yang membuat pemandangannya begitu cantik,” Ucapku menatapnya.

Setelah menikmati pemandangan itu, kami berdua kembali ke tempat pertemuan awal. Dia akan pulang, begitu juga aku yang mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi.

“Terima kasih ya, Liv,” Ucapku melambaikan tangan.
Ia pergi dengan supirnya yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan kita berdua.

Setelah melihat bidadari yang sangat sempurna itu, aku langsung memposting fotonya yang kebetulan berpose sangat cantik dengan cahaya jingga disekilingnya. Aku menulis caption “Bidadari Senja”.

Dari apa yang aku posting, kedua sahabatku Roy dan Jennie langsung menghubungi. Kami bertiga pun bertemu di tempat tongkrongan biasanya, langsung kukebut untuk menemui mereka yang kebetulan sudah berada di di lokasi.

Sesampainya di lokasi, aku disambut tepuk tangan oleh mereka berdua.
Plok… Plok… Plok…
“Gila… Akhirnya sahabatku bisa move on dari masa lalu,” Ucap Roy menyambut.
“Wiiii… Cieee…. Bikin jeles aja nih anak,” Sambar Jennie.
“Aish… Biarkan aku duduk dulu,” Jalanku menuju tempat duduk.
Aku duduk dan memesan coklat hangat pada penjaga warung yang biasa kami tongkrongi.

“Gimana-gimana kencan butanya?” Tanya Jennie begitu penasaran.
“Aku rasa semua baik-baik saja untukku, tapi entah apa komentarnya untukku. Setidaknya aku sudah berusaha untuk tidak mengecewakannya,” Jawabku.
“Hmmm… Tapi ada peluang dong biar bisa dapetin hatinya??” Tanya Roy.
“Hahaha… Gak bakal kesampaian Roy kalau mikir sampai ke sana, terlihat begitu jauh kelasnya. Kalau dibandingkan dengan daging sapi, dia itu grade A dan aku di grade C,” Jawabku sedikit becanda.
“Hahaha… Ya sudahlah, yang penting kamu sudah bersusah-payah tidak mengecewakan dia. Kali aja hatinya tersentuh,” Jawab Roy.
“Hahaha betul juga tuh. Hmmmm… kalau seminggu ke depan dia gak ngehubungi kamu, berarti dia emang gak ada perasaan apapun ke kamu ditambah dia gak mau berteman lagi denganmu. Gampanganya sih kecewa,” Sahut Jennie.
“Oh gitu, oke deh aku gak ngehubungi dia dulu, sampai beberapa hari kedepan,”

Setelah habis membahas tentang Alivia, kami pun lanjut nongkrong hingga larut malam. Kantukku mulai kurasa, mata jadi semakin berat, kami bertiga pun memutuskan untuk pulang.

Waktu berjalan perlahan, karena rasa bosan yang seiring waktu menghinggapi tanpa kabar dari Alivia. Sebulan berselang, aku hanya tampak seperti orang tolol yang setia menunggu kabar darinya. Sedangkan dia membagikan foto-fotonya bersama pria lain di feed Instagramnya.
Perasaan pesimis menumpuk di otakku, aku pun memutuskan untuk berhenti menaruh perasaan pada orang yang baru saja dikenal dan sudah memiliki kekasih.

Frustasi menemani hati dan fikiran yang akhirnya membuatku kembali ke bukit itu untuk menenangkan isi otak dan hati dengan goresan luka yang sudah terlanjur basah.
Aku duduk di bangku tua yang tersandar di dekat pohon pembatas jurang. Kuambil rokok dan pemantik untuk menikmati indahnya senja. Kuhela nafas panjang dengan hati yang kondisinya sedang carut-marut.

Tepuk seseorang di pundakku.
“Kamu kesini juga Ndra?”
Terdengar suara yang pernah aku kenal berasal dari balik punggungku. Aku langsung menoleh ke arah suara itu, tak bisa berkata karena keterkejutanku yang membuatku terpaku.

“Maaf sebulan ini aku tidak menghubungimu karena fikiranku sedang dalam persimpangan, dan kini aku telah memutuskan harus kemana,” Ucap Alivia panjang lebar.
“Santai saja, duduk sini aja biar sempat melihat keindahan sunset,” Sambarku mempersilahkan tempat.

Aku berusaha menutup luka dengan senyum palsuku, terdiam dan tak banyak berkata seperti awal jumpa. Bahkan kali ini aku tak bisa menatapnya.

“Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak marah saat tidak ada kabar dariku kan?”
Aku hanya terdiam dan menggelengkan kepala sambil memalingkan wajahku yang terus menatap ke arah matahari terbenam untuk menutupi rasa luka karena terlalu berharap lebih. Dia kembali melihat ke arah matahari terbenam sepertiku.

“Kamu kecewa sama aku?” Celetuknya.
Dengan beban dalam hati yang begitu besar, aku pun mengatakan semua padanya.
“Huuh… Aku tidak pernah kecewa sama kamu, hanya saja aku yang berangan terlalu tinggi dan akhirnya ketika jatuh rasanya lebih sakit dari biasanya. Aku juga tidak marah,” Jawabku.
“Tapi kamu terlihat berbeda hari ini, sangat berbeda dari saat awal kita berjumpa dan melakukan video call,” Ucapnya.
“Hehehe itu hanya perasaanmu saja, sekarang aku hanya terlalu lelah saja. Tenang saja, aku sedang baik-baiknya kok,”

Kemudian aku spontan berdiri dan akan pergi meninggalkannya sendirian.
“Kamu mau kemana Ndra?” Tarik tangan di lengan bajuku.
“Pulang, untuk menemukan dimana tempat yang tepat untukku,”
“Maksudnya?”
“Gak ada maksud apa-apa, nikmati aja indah senja hari ini, sebentar lagi sudah masuk musim penghujan, bye,”.

“Kamu gak mau nemenin aku disini?”
“Nikmati saja, senja lebih terasa begitu indah saat dilihat sendirian,” Jawabku sambil terus melangkah ke arah motorku dan melambaikan tangan.

Setelah aku mengharapkan sesuatu yang begitu hebat dari seorang melalui sosial media dan gagal, aku pun memilih untuk menutup semua akun sosial mediaku agar tidak begitu mengganggu.

Cerpen Karangan: Sahaq Alby
Facebook: facebook.com/bhie.allbee

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 13 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Failing in Online Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love After Move On

Oleh:
Mike. Adalah nama yang pernah menjadi bagian hidupku. Dia adalah orang yang pernah mengisi hari-hariku dengan cintanya. Tapi cinta tidak selamanya indah. Saat lulus SMA, aku dan Mike memilih

Unforgettable Day

Oleh:
Ini adalah hari terakhir Masa Orientasi Siswa tahun ajaran 2013-2014, ditutup dan dimeriahkan dengan diadakannya Pentas Seni. Siswa siswi kelas XI dan XII turut berpartisipasi dalam acara ini, tak

45 Derajat Senyummu Merubah Arah Kompasku

Oleh:
Pada saat itu hari sabtu Sepulang sekolah, aku merencanakan mengajak sacna, andika untuk berkemah di gunung manglayang, jelas mereka pun mau karena kami bertiga memiliki hobi yang sama, kami

Untimely Love

Oleh:
Angin malam begitu dingin, rintikan hujan yang turun kini kian mengecil, jalanan sudah basah kuyup oleh guyuran hujan yang sangat deras tadi. Kipas angin yang terus berputar di sebuah

Terima Kasih Cinta

Oleh:
“cepatlah Lisa! nanti kita bisa ketinggalan bus..” ajak Ara yang terburu-buru. Karena hari ini kami hampir kesiangan berangkat ke sekolah. “tunggu sebentar ra.. aku ambil bando merahku dulu..” ucapku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *