Gadis Di Malam Pesta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 14 April 2016

Di tengah meriahnya pesta ku lihat seorang gadis dengan mengenakan gaun berwarna biru keunguan melangkah meninggalkan pesta, berjalan di bawah langit malam sambil memainkan tasnya, menendang apa pun yang ada di hadapannya. Wajahnya nampak putus asa dan kecewa. Langkahnya terhenti dan duduk di atas rerumput hijau sambil menatap langit yang berhiaskan rembulan dan bertabur bintang, tatapannya nampak seperti tatapan yang penuh harap. Aku memperhatikannya cukup lama dari belakangnya. Aku tertarik untuk menghampirinya ketika gadis itu menelungkupkan kepalanya sambil menangis, jika kau bertanya bagaimana aku bisa tahu? Terdengar jelas di telingaku suara tangisannya, iya dia menangis cukup keras. Hela napasku membuat ia menyadari kehadiranku di sampingnya ia menoleh dan menghapus air matanya dan merapikan posisi duduknya.

“Kau..” tegur gadis itu.
“Air matamu terlalu mahal untuk menangisinya,” ucapku sambil mendongak menatap langit.
“Kau tahu.. emm tidak. Ah iyah kau benar, terlalu mahal aku menangisinya,” jawabnya sambil kembali mengusap matanya yang mulai melinangkan air matanya lagi.

Gadis itu bangkit dari duduknya dan berlalu pergi. Sejenak aku tersenyum melihat tingkahnya, baiklah kawan jika kau berpikir aku mengenalnya kau salah. Aku tidak mengenalnya dan aku tidak tahu siapa dia, tapi aku tahu kesedihannya di malam ini. Ia seorang gadis yang patah hati dan sulit untuk move on. Di kampus aku bergabung di sebuah organisasi peduli lingkungan, aku cukup berprestasi di kampusku, walaupun aku juga sering bergaul dengan anak-anak yang terkenal cukup bandel di kampus, tapi itu tak membuat reputasi dan image-ku hancur bisa dikatakan aku mampu mengendalikan diriku ya walaupun terkadang teman satu tongkronganku yang bandel tidak jarang mengejekku, namun aku menanggapinya dengan senyuman.

Mungkin karena aku tidak tempramental aku punya banyak teman dari berbagai jenis golongan, haha aku tidak sombong tapi itulah faktanya. Oh ya aku lupa menyebutkan namaku, Rivan, itu namaku. Suatu hari organisasiku mengadakan bazar yang hasilnya akan disumbangkan sebagai rasa peduli kami pada para korban bencana alam di Indonesia. Bazarnya berjalan lancar sejauh ini dan ramai pengunjung, dan aku bertemu gadis itu lagi, gadis di malam pesta waktu itu datang mencoba menikmati salah satu wahana hiburan di bazar. Mungkin ia tak menyadari aku yang menjaga hiburan itu adalah orang yang waktu malam itu sok kenal dengannya. Ku pandangi ia lamat-lamat hingga sosoknya berlalu dari pandanganku.

“Kau kenal dia,” seorang teman bertanya padaku.
“Tidak, hanya pernah berjumpa,” jawabku sambil sedikit tersenyum.
“Ayo makan, sudah waktunya makan siang, yang jaga bazar akan digilir.”

Seperti angin yang berhembus di pantai. Sejuk sekali, pandangannya di hari pertama bazar itu menusuk hatiku, tidak kawan kau tidak boleh menyangka aku suka padanya, namanya saja aku tidak tahu. Di hari kedua bazar ia datang lagi kali ini aku ketahuan oleh teman-temanku kalau aku memperhatikan gadis itu, ditambah lagi ia tersenyum saat menyodorkan uang kembaliannya, aku seperti sapi yang melompong melihat ia berjalan hingga berlalu dari pandanganku.

“Kau tampak bodoh hari ini,” ucap seorang temanku, aku pun membalasnya dengan senyuman sedikit malu.
“Harusnya kau ajak kenalan,” ledek seorang temanku yang lain.
“Ah tidak..” jawabku menolak, sebenarnya juga ingin kenalan.
“Apa kau tahu tentang gadis itu,”
“Dia gadis yang meninggalkan pesta.”

Sejak hari itu aku jadi tersenyum sendiri setiap kali sedang melamun karena teringat akan dirinya. Bazar telah usai kini ada acara baru lagi, pesta topeng, sebuah pesta perayaan wisuda seniorku, senior yang baik mengundang para juniornya dalam pesta kemenangannya. Yang membuatku tertarik dengan pesta itu adalah di pesta itu dari 3 univesitas yang berbeda berkumpul merayakan kemenangannya bersama, dan gadis itu, dia pasti datang. Oh ya satu hal lagi tentang pesta itu, pesta itu diadakan selama 7 malam.

Malam pertama pesta aku hadir dengan kemeja putih dirangkap jas hitam, celana hitam dan berdasi, walaupun penampilanku nampak biasa saja namun banyak gadis yang tertarik padaku, haha kau pasti mengganggapku terlalu PD, tidak kawan tapi inilah faktanya. beberapa gadis ada yang berani yang mengajakku berdansa, sayangnya aku tidak tertarik pada mereka. Ada yang ku tunggu di pesta malam ini, kau pasti tahu kawan siapa yang ku tunggu. Mungkin aku tak menemukam sosok gadis itu dalam pesta tapi aku bertemu dengan seorang pria yang tampan. Iya dia tampan dan terlihat sangat menarik, semua mata tertuju ke arahnya, gadis-gadis yang tadinya berusaha mendekatiku berbalik arah mendekati pria itu. Ku perhatikan lamat-lamat wajahnya memang tampan dan manis. Seorang teman, menepuk pundakku.

“Kau merasa tersaingi?” tanya temanku sambil menatap pria yang dikelilingi banyak wanita itu.
“Tidak, dia memang tampan,” jawabku sambil tersenyum.
“Hmm apa kau kenal dia?”
“Tidak juga, kau tak cemburu melihat wanitamu ikut mendekati dia,”
“Kemarin aku bertengkar dengannya gara-gara kekasih masa laluku mendekatiku waktu pesta kemarin,”
“Apa dia kurang menarik sampai kau meninggalkannya?”
“Dia cantik, tapi terlalu pemalu, dan ia tak pernah berpenampilan menarik,”
“Tapi malam itu menurutku dia tampak menarik,”
“Mungkin itu penampilan terbaiknya untuk yang pertama dan terakhir,”
“Kenapa kau berkata begitu?”
“Sudah ku katakan dia pemalu.” temanku itu pun segera berlalu.

Malam kedua pesta topeng, malam ini aku aku berkenalan dengan pria yang menjadi pusat perhatian itu. Setiap saat aku selalu memperhatikan gerak geriknya, ia selalu mendekati seorang temanku. Ia temanku yang di malam pesta pertama menyapaku. Hingga malam keenam pesta topeng pria itu masih terus mendekatinya, aku tak banyak berkomentar padanya, aku hanya menjadi penonton di bangku sambil menikmati orange juice. Ku lihat pria itu melangkah ke luar meninggalkan pesta saat time untuk berdansa telah tiba, ku ikuti langkahnya. Kakinya berhenti melangkah ketika melihat bangku kosong di taman seberang gedung pesta.

Ia duduk sambil menangis dan melepas wig-nya, menelungkupkan kepalanya dengan kaki naik ke kursi, rembutnya pun terurai menutupi tangan tempat berpangku kepalanya, dialah gadis itu gadis yang berjalan-jalan di otakku. Gadis yang meninggalkan pesta dulu, gadis yang datang ke bazarku. Ku hampiri sosok yang tengah menangis itu, nampaknya kali ini ia tak menghiraukan kehadiranku di sampingnya. Tangisannya semakin keras dan aku duduk menjadi pendengar setianya hingga akhirnya ia berhenti menangis, menoleh ke arahku lalu memperbaiki posisi duduknya.

“Wig-ku.. ah biarlah masa bodoh,” ucapnya masih sedikit menitikkan air mata.
Aku pun tersenyum, “Kau cukup tampan menjadi seorang pria,” ucapku mencoba menghiburnya.
“Apa aku terlihat sangat buruk hingga aku selalu tersisihkan?”
“Kau cantik, bahkan sangat cantik, tanpa kau sadari,”
“Benarkah?”
“Tentu, maka dari itu jangan tangisi dia, buktikan kalau kau bisa tanpa dia,”
“Kau benar, tapi harus bagaimana?”
“Besok malam, adalah hari terakhir pesta topeng, datanglah sebagai dirimu sendiri.” aku pun bangkit dari dudukku dan meninggalkannya.

Dan benar, di malam yang ketujuhku gadis itu datang, ia nampak sangat cantik, dan semua mata kembali tertuju padanya terpesona akan kecantikannya. Dengan gaun berwarna merah marun ia menghampiriku, menatapku dengan tatapan yang sedikit malu-malu. Ku kenakan topengku dan ku ulurkan tanganku, mengajaknya berdansa, ia tersipu malu lalu mengenakan topengnya dan meraih tanganku. Dunia terasa hanya ada aku dan dia di sini. Iya kawan kau benar, ini cinta. Dan kau tahu kawan, aku selalu lupa menanyakan namanya setiap kali sudah terlanjur bertatap muka dengannya. Dalam pikirku yang paling penting hanya ada satu, aku mencintainya.

Cerpen Karangan: Nabilah
Facebook: Bila Cahyanur Asidiq

Cerpen Gadis Di Malam Pesta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Embun Fajar

Oleh:
Saat libur sekolah tiba. aku biasanya menghabiskan liburan di rumah ompung. Aku rajin shalat berjamaah di mushalla ujung kampung. Dulu bangunannya masih belum selesai, lantainya juga masih semen kasar.

Motivator Muda

Oleh:
Bismillah.. Tahu nggak? Seorang lelaki yang memiliki pemikiran sederhana. Namun dari kesederhanaan pola pikirnya lah yang membuatnya bermutu. Tahu nggak? Sosoknya membuat banyak wanita mengaguminya, mungkin juga menyukainya. Tahu

Sampai Ujung Penantianku

Oleh:
Perjalananku terkesan rumit, kebanyakan orang selalu memanggilku si ratu bahagia. Sebab aku tidak pernah bersedih, akan tetapi sebenarnya mereka selalu salah disetiap senyumanku terselip luka yang terasa perih. Aku

Cowok Biasa

Oleh:
Gue Raga, cowok biasa. Satu sekolah cuma kenal gue sebagai kapten futsal SMA Garuda. Selebihnya gue siswa. Di kelas gue cuma bisa raih peringkat tiga. Untuk jadi yang pertama

Terjebak Nostalgia

Oleh:
Malam itu, teman lamaku Andre mengundangku di acara ulang tahun adiknya yang berumur 15 tahun. Andre mengundang teman dekatnya termasuk aku dan dia. Ya, aku bertemu dengannya. Entah sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *