Halte

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 18 February 2021

Hujan satu persatu turun ke bumi. Pertama-tama lambat, lalu mulai terjun bebas menimpa segala sesuatu yang di bawahnya. Kata emak hujan itu 1% air, 99% persennya lagi ya air lah. Tidak ada yang namanya hujan itu 1% air dan 99% nya kenangan. Hanya manusianya saja yang terlalu diperbudak rasa cinta berlebihan, eh ya tidak juga si. Biasanya yang berkata hujan itu 1 % persen air dan 99% nya kenangan itu orang orang yang sedang patah hatinya. Ah, semesta memang senang sekali bercanda bukan?

Perkenalkan namaku Agam. Aku mahasiswa ekonomi tingkat akhir, seakhir-akhirnya. Saat mendapat julukan mahasiswa abadi, aku sih biasa saja. Tapi jika dipikir pikir lagi sih, mahasiswa abadi kan berarti selamanya menjadi mahasiswa. Sedangkan di kampusku 5 tahun kuliah belum lulus saja sudah didropout. Berarti aku bukan mahasiswa abadi ya, ah sudahlah itu tidak penting.

Setiap hari aku berangkat ke kampus dengan bus. Sengaja memang, untuk memgurangi kemacetan kota. Begini-begini aku juga peduli dengan kemacetan kota tau! Ya selain itu juga karena hemat ongkos si.

Dari rumah berjalan ke halte, menunggu bus, naik bus, sampai kampus, berjalan mencari kelas yah, beraktifitas seperti anak kuliah pada umumnya. Bosan sebenarnya si, tapi rindu juga saat libur tidak beraktifitas seperti ini.

Pagi ini seperti biasa, menunggu bus. Di halte memang tidak ada tempat duduknya. Harus berdiri sampai bus datang. Lama sekali bus datang. Sampai tanpa sadar ekor mataku menangkap sesuatu, bukan setan lho yaaa. Aduh, kok jadi deg degkan. aku melihat bidadari, alamak cantiknya. Aku cubit tanganku, aduh sakit uy. Bukan mimpi, tapi kok serasa mimpi ya melihat gadis secantik itu.

Bus datang, aku segera masuk ke dalam bus. Eh, gadis tadi juga ikut masuk bus yang sama denganku. Beberapa kali aku mencuri pandang ke arahnya. Matanya yang coklat, bibirnya pink, hidungnya mungil terlihat pas sekali. Seakan-akan tuhan sedang berbahagia saat menciptakan dia. Dia menoleh kearahku, buru buru aku memalingkan muka. Amboi gemasnya.

Ternyata dia masih di dalam bus saat aku turun. Ah bukan mahasiswa kampusku ternyata. Tidak apa apa, nanti cari tau ah. aku melangkah gontai memasuki kelas. Seakan akan memdapat suntikan energi baru pagi ini. Ah sebentar, tadi aku berangkat jam berapa ya? Aku lihat jam dinding di tembok belakang kelas. Lalu menghitung waktu yang sudah berlalu. Dalam hati aku berjanji akan berangkat pada jam yang sama lagi.

Hari ini hari selasa, masih dengan jam yang sama seperti kemarin. Tapi di halte tidak ada gadis yang kemarin. Atau hanya kebetulan saja ya aku bertemu dia di halte ini? Ah sudah paling kebetulan saja iya. Saat aku akan memasang headset ke telinga, ekor mataku menangkap sosok gadis itu lagi. Aku tengok sekali lagi, ah iya benar dia. Dia memakai kos putih dengan kardigan hitam yang menutupi kaosnya. Memakai celana kulot longgar seperti kemarin. Sederhana tapi masih tetap cantik seperti kemarin.

Bus datang, dia masuk ke dalam bus yang sama denganku lagi. Kali ini aku beranikan diri duduk di depannya agar lebih dekat. Amboi, duduk di depannya pilihan yang tidak tepat ternyata. Jantungku berdetak lebih kencang, aku tak berani menoleh ke belakang. Hanya 15 menit kemudian aku sampai ke kampus. Habis sudah waktuku di perjalanan bersama dia.

Hari selanjutnya aku duduk di samping kursinya, agar bisa melihat dia dong hehe. Sagangnya aku tidak pernah punya keberanian untuk mengajaknya kenalan. Tertangkap mencuri pandang saja sudah jantungan kok, apalagi sampai mengajak berkenalan. Tidak terbayang, pasti malu sekali.

Hari ini hari jum’at. Aku berangkat di jam yang sama. Tapi anehnya sampai bus datang dia tidak datang. Atau mungkin terlambat bangun ya? Atau jangan jangan dia tidak ke halte ini lagi ya? Banyak sekali pertanyaan yang memenuhi pikiranku. Aduhhhhh, ingin lihat gadis itu lagi. Aku keluar bus dengan kali lunglai. Tidak semangat sekali rasanya.

Hari sabtu dia juga tidak ada. Lalu hari minggu aku tunggu juga tidak ada. Padahal hari minggu aku tidak ada kelas. Tapi aku sengaja pergi ke kampus untuk melihat dia ada di halte atau tidak. Walaupun hanya melihat di halte lalu bersama di bus selama 15 menit saja rasanya sudah senang sekali.

Hari senin, aku tidak banyak berharap bisa melihat gadis itu lagi. Sampai bus datang pun dia tidak ada. Aku memasuki bus dengan lemas. Dia itu orang mana si? Mahasiswa juga atau bagaimana ya? Aku terus bertanya tanya dalam hati.

“Pak, pak tunggu”
Hei, itu gadis itu. Akhirnya aku menyimpulkan gadis itu pergi di hati senin sampai kamis. Hari jum’at sampai minggu dia tidak naik bus. Aduh senangnya bisa melihat paras cantiknya lagi. Aku beberapa kali mencuri pandang denganya. Alamak, kenapa dia menggemaskan sekali.

Sudah 6 bulan lebih aku selalu memperhatikan gadis itu yang sampai sekarang aku bahkan tidak tau namanya siapa. Menyenangkan rasanya melihat dia di hari senin sampai kamis. Lalu seolah menahan rindu di hari jum’at sampai minggu. Lalu senin kembali melihat dia lagi. Bus belum datang. Aku mencoba menoleh kearahnya, aduh kepegok sedang mencuri pandang.

“Mas mas” katanya. Aku bingung, dia bicara padaku?
“Saya mbak?” tanyaku. Aduh kok jadi deg degkan.
“Iya mas nya”
“Iya ada apa?” tanyaku senormal mungkin.
“Boleh pinjam hp nya sebentar untuk menghubungi orang rumah, ada barang yang ketinggalan. Sedangkan hp saya mati kehabisan baterai” katanya sambil menunjukkan layar hpnya yang mati. Aku menyerahkan hp ku.

Bip bip bip
Lho? Kok hp dia bunyi?
“Aduh, maaf ya mas. Saya cuma mau minta nomernya mas aja sebenarnya hehehe” katanya sambil menahan senyum. Makkkk, aduh kok buat gemas sekali gadis ini.

Cerpen Karangan: Zainatus S

Cerpen Halte merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perasaan Apa ini?

Oleh:
Perkenalkan namaku Miya anastasya, aku bersekolah di SMAN 4 Cilegon. Aku termasuk siswa yang periang. Sehari-hari aku selalu memiliki banyak cara yang membuat kelasku selalu ramai. Aku tidak tau

Catatan Masa Lalu Yang Terkubur

Oleh:
Angin barat daya berhembus pelan menyegarkan badanku yang dibanjiri keringat. Sesegar perasaanku yang telah mendapatkan apa yang kugali sedari tadi di bawah pohon akasia pinggir pagar sekolah. Matahari sudah

Mungkin Dia Bukan Untukku

Oleh:
“dyan, dyan..” panggil seseorang yang duduk di belakang bangkuku.. “iya dit. Ada apa?” “ini gimana sih caranya?” tanyanya yang terlihat bingung mengerjakan soal matematika. “hehe… Aku juga gak tau

Kutitip Hati Ini

Oleh:
Namaku Miftahul Jannah, panggilanku Mifta. Awal mula Aku mengenalnya, Dia adalah temenku sewaktu Aku masih di bangku Sekolah Dasar, dan juga satu kelas dengan Aku, Dia adalah Dion, seorang

Sebatang Cokelat

Oleh:
Saat hujan turun membasahi bumi. Aku meratapi sebatang cokelat berpita merah jambu, yang tergeletak manis disamping buku tulisku. Cokelat yang selama ini aku inginkan setiap hari. Tapi, sayangnnya cokelat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Halte”

  1. moderator says:

    Sempet kakak pikir ceritanya bakal mainstream dari awal sampai akhir, tapi ternyata ada bumbu kejutan si akhir cerita ^_^

    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *