Hujan dan Kamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 9 October 2017

Hujan kembali datang pagi ini. Menambah rasa dingin yang menusuk kulit, membuat orang malas untuk bangkit dari lelap. Ah, tidak perlu heran. Ini Desember, bulan yang tepat bagi hujan untuk datang setiap hari. Seperti kenangan, selalu memaksa untuk diingat tiap kali tetes air hujan jatuh.

Arran merapatkan jaketnya yang dirasa sama sekali tidak menghangatkan tubuhnya. Ia masih bisa merasakan dingin mencoba masuk. Ah, andai jaket kesayangannya tidak ia tinggalkan di rumah Galang. Hari ini, ia akan mengambilnya.

Bus yang dinaiki sepertinya berjalan sangat lambat. Entah waktu malas untuk berjalan, atau memang bus menghindari untuk melewati kubangan yang muncul setelah hujan.

Beruntung, dalam sepuluh menit kemudian, bus berhenti di halte terdekat. Arran turun dan membenahi penampilannya yang berantakan. Rumah Galang hanya selisih dua blok dari halte. Arran hanya tinggal berjalan kaki. Mungkin itu ide yang cukup bagus, seraya mencium petrichor dan hitung-hitung berolahraga.

Rumah Galang sudah nampak dari kejauhan. Pagar rumahnya dibiarkan terbuka lebar. Bisa dipastikan Galang sedang ada di rumah. Mungkin masih bermalas-malasan sembari bermain konsol.

Arran mengetuk pintu rumah Galang. Anehnya, suasana di dalam rumah Galang sedang ramai. Bahkan tidak terdengar suara efek dari game yang dimainkan Galang seperti biasanya. Tak lama, pintu dibuka oleh seseorang yang pastinya bukan Galang.

Arran cukup terkejut untuk sesaat. Seseorang yang sangat dikenalnya. Seseorang yang mampu membuat jantungnya berdebar tiap kali memperhatikannya. Mereka tidak pernah sedekat ini. Tidak pernah.

“Kinar?” ucap Arran spontan. Kinar tersenyum manis. Senyum yang dinantikan Arran tiap kali sedang memperhatikan Kinar. Anggap saja, Kinar adalah orang yang sangat dikagumi oleh Arran. Membuat Arran tidak bisa tidur karena memikirkan Kinar tiap malam.
“Ayo masuk. Galang di dalam.” Kinar membuka pintu lebih lebar. Arran segera masuk ke dalam rumah Galang. Di dalam sudah ada Galang, Evan, dan Mira.

“Eh, Arran! Ada apa ke sini?” tanya Galang yang sedang berbincang dengan Evan. Ia meletakkan gelasnya yang berisi es jeruk.
Arran terdiam sebentar.
“Jaketku ketinggalan.” ujar Arran sambil tersenyum tipis. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tidak ada tanda-tanda jaket tebalnya yang berwarna biru itu.

Galang tampak memikirkan sesuatu dan tersentak.
“Ah, aku letakkan di belakang pintu.” Galang menjentikkan telunjuknya ke arah Kinar yang berada di dekat pintu. “Kinar, tolong ambilkan untuk Arran, ya.”

Galang melirik kecil ke arah Arran dengan nada menggoda. Hanya Galang satu-satunya orang yang mengerti perasaan Arran. Rona muka Arran menjadi campur aduk.

Kinar tersenyum kecil dan meraih jaket yang disampirkan di belakang pintu. Ia menggenggamnya dan menyerahkannya kepada Arran dengan senyum masih tertera di wajahnya yang manis.
Sangat terlihat bahwa Arran sangat gugup. Tentu saja, ini adalah pertama kalinya ia dan Kinar melakukan kontak mata. Selama mengagumi Kinar, Arran hanya dapat memperhatikan dari jauh. Ia hanya bisa ikut tersenyum saat Kinar tertawa manis, meskipun tawa itu bukan karenanya.

“Ah, makasih.” ucap Arran pendek. Padaha sudah banyak akta terngiang di kepalanya untuk diucapkan pada gadis di hadapannya.

Suasana kembali hening di dalam ruang tamu. Sesaat kemudian, keheningan pecah oleh hujan yang kembali menghantam bumi. Rintik hujannya tampak damai, meskipun rela jatuh berkali-kali.

Semuanya saling memandang satu sama lain. Hujan membuat orang susah untuk bergerak ke mana-mana. Meskipun halte dekat dengan rumah Galang, malas rasanya untuk melangkah ke luar.

“Hujan lagi.” desah Galang sebal. Ia melirik Evan, Mira, Arran, dan Kinar bergantian. “Kalian pulang sekarang?”
Evan melirik yang lain. Ia meraih tasnya dan memakai hoodie jaketnya.
“Gue pulang, ya, Lang.” ucap Evan seraya meraih kunci motornya. Mira yang melihat Evan, segera mengambil tasnya.
“Gue nebeng, Van!” Mira membuntuti Evan yang sudah keluar dari rumah Galang. Tidak usah mengkhawatirkan mereka berdua. Mereka seperti perangko dan amplop yang tidak bisa dipisahkan.

Kini tinggal Arran dan Kinar yang tersisa. Arran tahu bahwa rumah Kinar searah dengannya dan hanya berjarak satu blok. Tiap Minggu pagi, Arran selalu menyempatkan untuk lari pagi dan melewati rumah Kinar. Berharap si empunya rumah keluar untuk menyapanya dan memberi senyum.

“Kinar gimana? Pulang bareng Arran?” tanya Galang. Entah itu untuk menggoda atau benar-benar menawari Kinar.
Kinar tersadar dari lamunannya dan memandangi Arran.
“Boleh, Ran? Kamu naik bus, kan?” Kinar memastikan. Sepertinya Kinar tidak pernah tahu bahwa setiap Kinar pulang dari kampus, Arran selalu bersamanya. Di bus, Arran selalu berada di jarak aman, selisih dua kursi dengan Kinar untuk bisa mengamatinya dengan nyaman.
Arran mengangguk, mencoba untuk tetap berwajah datar.
“Ya, udah. Ayo,” ajak Kinar. Mata Arran membulat. Ia kaget dengan ajakan Kinar. Namun, Kinar sudah meraih tasnya di atas sofa dan pamit pada Galang. Mau tak mau, ia juga harus pulang bersama Kinar.

Payung berwarna hitam milik Galang sudah berada di genggaman Arran. Tubuhnya yang tinggi menjadi pelindung untuk Kinar dari hujan. Ini yang menjadi impiannya sejak dulu; melindungi orang yang ia kagumi.

Di bawah hujan, mereka diam membisu. Sesekali air hujan mengenai pakaian mereka. Sehingga mereka harus lebih merapatkan jarak agar tidak terkena air hujan.
Tidak sengaja, lengan Arran mengenai bahu ringkih Kinar. Mereka menjadi semakin canggung dan Arran memberi jarak di antara mereka.

“Ran,” ucap Kinar. Meskipun hilang ditelan hujan, suaranya masih dapat didengar oleh Arran. “Kamu udah punya pacar, kan, ya?”
Arran menoleh. Ia menahan tawanya.
“Emang siapa yang mau sama aku?” Tinggal beberapa langkah lagi sampai di halte. Ada bus yang nampaknya baru datang. Mereka berdua mempercepat langkah.
Kinar diam sejenak. Ia menyibak rambutnya dan diselipkan ke telinganya. Beberapa helai berjatuhan, menambah kesan manis di wajahnya yang polos.
“Aku kira udah punya. Kamu, kan, lumayan famous.” Perkataan Kinar membuat Arran tertawa. Tapi, Arran berusaha untuk mengontrol tawanya di hadapan Kinar.

Mereka berdua secara bergantian masuk ke dalam bus. Arran menutup payung dan masuk ke dalam bus. Ia duduk di samping Kinar yang sedang bersandar di kursi bus.
Dalam sepuluh menit, bus sudah penuh. Sopir menjalankan bus dengan pelan, seperti saat mengantar Arran tadi pagi. Arran melirik ke arah Kinar yang sedang memandangi jendela.

“Kinar,” panggil Arran refleks. Kinar yang sedang melamun tidak merespons panggilannya. “Ehm, Kinar.”
Dengan kaget, Kinar menoleh ke arah Arran. Ia tersenyum dan meminta maaf karena tidak mendengar panggilan Arran.
“Apa, Ran?”
“Kamu udah punya pacar?” tanya Arran. Menurutnya itu pertanyaan yang wajar, sebagai balasan dari pertanyaan yang sebelumnya dilontarkan oleh Kinar.
Kinar tersenyum kecil di balik rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Arran tentu tidak melihat itu.
“Emang kenapa?” tanya Kinar, membuat Arran kebingungan. Hujan di luar masih deras. Rasa dingin kembali menyelimuti.
“Aku cuma nanya!” Arran cepat-cepat menimpali. Semburat merah di pipinya makin kentara.

“Nggak punya, Ran.” Jawaban Kinar membuat hati Arran lega. Ia menjadi siap untuk menunggu lebih lama lagi. “Tapi, aku lagi suka sama seseorang, sih.”
Arran yang di dalam hatinya sudah merasa sangat bahagia, kembali mendung seperti suasana pagi hari ini. Pupus sudah harapannya untuk mencoba menjadi bagian dari hari-hari Kinar.
“Mau curhat?” Arran menawari. Siapa tahu, meski tidak bisa menjadi seseorang yang membuat Kinar tertawa, tapi ia bisa menjadi tempat Kinar untuk berbagi kisah.
“Nggak usah. Tapi, makasih, lho.” Kinar tersenyum. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela. Hujan masih turun dengan deras. Tidak ada tanda-tanda untuk berhenti jatuh, meskipun ia tahu bahwa rasanya sakit.

Arran menghela nafas. Ini tidak akan pernah selesai. Perjuangannya untuk tetap bertahan dalam mengagumi Kinar. Tidak akan pernah selesai. Rasanya, belum cukup hari ini ia menghabiskan waktu bersama Kinar. Wajahnya yang manis tetap membayangi.
Arran tahu, bahwa ia tak akan bisa mendapatkan tempat di hati Kinar. Namun, ia tetap bertahan. Seperti hujan.

Kinar menoleh sebentar ke arah Arran yang sedang bersandar sambil memejamkan mata. Sebersit senyuman kembali menghias wajahnya.
Arran tak pernah tahu. Bahwa senyumannya dinantikan oleh Kinar. Arran juga tidak tahu bahwa Kinar selalu memperhatikan Arran saat Arran sedang tidak memperhatikannya.
Kinar tidak pernah menceritakan kepada siapapun tentang Arran. Pendapatnya tentang sosok Arran mungkin akan menimbulkan cecaran negatif dari teman-temannya. Namun, Kinar akan tetap mengagumi Arran bagaimanapun caranya.

Keduanya saling mengagumi, namun tak pernah tahu. Keduanya saling tersakiti, namun tetap bertahan. Seperti hujan yang tetap jatuh berkali-kali meskipun tahu bahwa rasanya sakit. Arran dan Kinar akan selalu diam dengan perasaan yang menyertai mereka.

Cerpen Karangan: Aurania
Blog: whitepain.wordpress.com

Cerpen Hujan dan Kamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dimanapun Engkau

Oleh:
Zega bagi Cindy Aku tidak tahu bagaimana kesan pertamaku mendengar pengakuanmu, namun aku percaya semua orang bukan hanya aku, pasti senang bila mengenalmu. Walaupun dalam diam aku menyimpan kesal

Permaisuri Hati Fahrie

Oleh:
Mata Fahrie menatap buliran-buliran rintik hujan dibalik kaca jendela ruang bersalin tempat istrinya Farida dirawat setelah baru saja melahirkan 2 jam yang lalu. Samar-samar dia teringat sesuatu. Dia berusaha

Summer In Birmingham

Oleh:
Aku menatap malas bangunan tua itu, 3 bulan ini aku harus selalu mengunjunginya. Ini trimester pertamaku di birmingham. Ya, sebenarnya bukanlah bangunan itu atau musim panasnya yang bermasalah, tapi

Kenapa Harus Kamu? (Part 1)

Oleh:
Siang itu, kami dari ekskul sekolah, ikut berpartisipasi untuk menyaksikan festival dance tingkat kabupaten yang tengah digelar di gedung kesenian daerah. itu dikarenakan sekolah kami juga mengikuti ajang yang

Seperti Bintang

Oleh:
Dira tersenyum kagum saat melihat Ares berhasil memasukan bola ke dalam ring. Dira begitu memperhatikan permainan basket Ares sampai dia tidak sadar bahwa Alin sudah berada di sampingnya. “Asyik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *