Hujan dan Rindu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 7 October 2018

Seperti biasanya, hujan membasahi pelataran kampung kami sehabis isya, menyirami tanaman kurang lebih setengah jam lamanya. Lalu langit kembali menyalakan ratusan lampion-lampion kecil yang menerbang sejauh mata memandang.

Hujan ini adalah hujan ketujuh dibulan juni. Hujan yang menurutku paling bisa memunculkan rindu. Hujan yang mengingatkan pada seorang wanita yang kucintai. Setengah dari hujan di luar sebenarnya adalah kenangan yang membekas. Tetes airnya adalah hujaman kerinduan yang pernah kami ciptakan tempo dulu.

Dua tahun yang lalu, malam ini adalah malam minggu. Waktu sakral bagi siapa saja yang mengaku pasangan. Kafe, restoran, alun-alun, pasar malam selalu ramai dipenuhi orang-orang yang bergandeng tangan. Termasuk aku bersama Inef, temanku yang kucintai. Malam itu merupakan malam pertama kali kami jalan berdua. Malam istimewa pokoknya. Malam penumpahan kerinduan setelah tujuh bulan lamanya mengenal tapi belum berani nyaliku ini untuk mengungkapkan.

Sebetulnya tak ada tujuan ke mana kami pergi. Aku dengan motorku membawa Inef menyusuri jalanan kota. Melihat apa yang bisa dilihat. Termasuk melihat orang-orang berlarian menepi. Yang kusadari bahwa itu adalah gerimis yang semakin lama semakin deras. Tanganku memutar gas kencang, tanpa mengindahkan ritme yang ada. Tangan Inef meyelinap ke dalam saku kanan kiri jaketku. Tanda bahwa ia seperti mengisyaratkan kedinginan. Sengaja aku tidak memberhentikan laju motor untuk sekedar berteduh. Aku perkenalkan pada ia bahwa hujan itu menyenangkan. Agar aku, ia, dan hujan suatu saat menceritakan momen ini dan menjadi alasan untuk dirindukan.

“Nam, kenapa tak berhenti. Hujan deras ini.” Ucapnya tepat di telingaku. Waktu itu aku basah kuyup, pun kekasihku. Tapi inilah caraku agar pertemuan ini suatu saat bakal dirindukan.
“Tidak apa-apa Inef, sesekali memang kita musti hujan-hujanan. Agar kita paham makna yang tersembunyi dalam hujan.”
“Maksudnya”
“Suatu saat kau paham sendiri.”

Di tengah perjalanan, di suatu jalan yang sepi dan sunyi. Tiba-tiba motor yang melaju kencang itu tanpa kompromi memberhentikan dirinya sendiri.

“Kenapa nam?” Inef heran.
“Sepertinya bocor”
“Sudah hujan, tambah bocor. Kasihan betul kita ini. Padahal ini kali pertama kita jalan berdua. Tapi sudahlah, meratap juga tidak akan memperbaiki keadaan. Ya sudah nam, kita dorong sama-sama.”

Barangkali inilah yang disebut kesialan. Jalanan yang gelap, hujan beserta petir, dan ban bocor. Tapi barangkali juga inilah yang dinamakan cinta. Percakapan malam itu antara aku dan dia sewaktu mendorong motor. Seperti merumuskan kalau apapun yang berupa penderitaan, selama menghadapinya dengan cinta. Bukan lagi bernama derita.

“Inef… dunia seperti milik kita ya”
“Lho.. kok bisa”
“Hujan malam ini, motor bocor ini, membuatku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan. Aku beruntung sekali malam ini. Sepertinya kau memang ditakdirkan untuk berlama-lama denganku. Dunia memang seperti milik kita” ucapku sambil terus mendorong.
“Iya Nam, hujan malam ini mengajarkanku bahwa bahagia itu sederhana. Selama kita mampu melakukannya dengan cinta dan dengan orang yang tercinta.”

“Apakah kamu bahagia sekarang.”
“Bahagia, memangnya kenapa”
“Kalau kamu bahagia. Berarti aku memang orang tercinta bagimu. Iya kan.”
“Heh.. kata siapa. Ngarang kamu nam.” pura-puranya tidak mengaku.
“Aku memang ngarang. Tapi coba tanya dirimu sendiri. Pasti membenarkan. Hehe”
“Lho.. kok kamu tau Nam. Kok pinter sih menebak isi hatiku. Aku tau ini, pasti kamu sudah berpengalaman kan. Tidak diragukan lagi.”
“Siapa bilang sudah berpengalaman. Sekalipun tak pernah yang namanya Anam itu pacaran. Kecuali kalau kamu mau.”
“Maksudmu…?”
“Oh tidak tidak, maksudku kita sudah sampai di tempat tambal ban” pintarku mengalihkan perhatian.
“Alhamdulillah.. tidak kerasa ya.” Inef bersyukur

“Aneh ya.. tidak kerasa. Padahal dari tadi aku pake perasaan lho nef.”
“Maksudmu lagi..”
“Maksudku, malam ini dingin ya.”
“Hehehe… dingin saja ya. Tidak ada yang lain?”
“Sebenarnya ada sih. Tapi bukan sekarang. Tidak sabar ya?”
“Iya aku tidak sabar nam. Tidak sabar pingin pulang. Dingin banget ini.”
“Ya sudah… pulang. Prosesi tambal ban selesai.”
“Tapi.. bukan berarti semuanya selesai kan”
“Haha… kode ini. Sudah sudah. Kita pulang.. hehe.”

Itulah kisah aku, Inef, dan hujan tempo dulu.
Alasan kenapa aku selalu merindukan hujan. Barangkali Inef juga. Karena sejatinya, setengah dari hujan adalah air, selebihnya kenangan. Dan aku, inef, serta hujan adalah sebuah kesatuan yang pas dengan komposisi yang tepat. Sebuah isyarat akan cinta sebenarnya.

Selesai

Cerpen Karangan: Anam Sy
Blog: anampecinta.blogspot.com
Anam sy. Pekalongan. Salam kreativitas

Cerpen Hujan dan Rindu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sentuhanmu

Oleh:
Bau semerbak dari parfumnya yang sangat kusukai dulu sekarang tak ada lagi. Ia sudah berubah. Bukan hanya sikap dan penampilannya, merk parfumnya pun sudah berubah. Entah apa dan siapa

Syair Cinta Ulang Tahun Pramuka

Oleh:
Deru gegap gempita Indah dalam gemerlap api unggun yang menyala Naungan rembulan menggugah ambisi nyata Dalam dekapan malam ulang tahun Pramuka Aku tak kuasa menatap dan terus menatapmu membuang

Bahagiaku Terhalau Kata Walau

Oleh:
Pintu kelas berdecit, pertanda ada seseorang yang datang membuka pintu. Aku merasa lega, akhirnya aku tidak sendirian lagi di dalam kelas dengan suasana yang mencekam. Aku berangkat terlalu pagi,

My Girl Nina

Oleh:
Nina namanya, seorang gadis berwajah oriental yang selalu membuatku terpana melihatnya. Dia sering memanggilku “Rio” sambil tersenyum. Aku memang baru mengenalnya, tapi dia begitu istimewa, sampai aku tidak bisa

MoccaChino, Hujan

Oleh:
Hari ini… hari dimana jam pelajaran di sekolah lebih sedikit dari biasanya, hari terakhir dalam satu minggunya. Orang normal menyebutnya hari sabtu, sementara anak anak sekolah menyebutnya “hari kesenangan”.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *