Imagination

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 5 January 2016

Musim semi kini tengah mewarnai kota Seoul. Banyak orang yang berjalan santai di tengah kesibukan kota Seoul hanya untuk menikmati indahnya musim semi. Begitu pula dengan Gwen Willems. Ia kini tengah duduk di sebuah kedai kopi di salah satu sudut kota Seoul. Ia tengah memandang indahnya kota Seoul dan berharap akan ada setitik ide yang muncul di benaknya. Sudah berhari-hari ia mengitari Seoul bersama kamera yang selalu tergantung di lehernya. Sebentar lagi ia akan menggelar pameran foto-fotonya dari berbagai negara. Oleh karena itu ia harus menampilkan yang terbaik. Namun ia belum mendapat ide apa pun.

Gwen Willems adalah seorang fotografer muda dari Jerman. Ia tidak pernah merasa kesulitan menemukan ide. Namun baru kali ini ia sama sekali tidak mendapat sedikit pun ide. Waktu pergelaran pameran hanya tinggal menghitung hari. Tetapi benaknya benar-benar buntu. Berbeda dengan fotografer pada umumnya, Gwen Willems hanya memotret pemandangan. Semua koleksi fotonya adalah pemandangan-pemandangan indah dari berbagai negara. Ia mengatakan kepada semua orang bahwa ia adalah pecinta alam oleh karena itu ia sangat menyukai pemandangan. Namun semua itu hanyalah sebuah alasan. Alasan sebenarnya adalah karena ia takut memotret seseorang. Ia takut ia akan kehilangan seseorang yang ia potret. Seperti apa yang pernah terjadi padanya di masa lalu.

Seperti wanita pada umumnya, Gwen merasakan seperti apa manisnya cinta. Ia jatuh cinta pada seorang pria yang begitu menawan, Daniel Joe. Pria yang sangat menawan hingga mampu menaklukan hati seorang Gwen Willems. Mereka menghabiskan waktu bersama seakan-akan dunia hanya milik mereka berdua. Gwen selalu mengabadikan setiap momen mereka melalui foto. Ia kerap memotret Daniel. Hingga suatu hari saat ia ingin memotret Daniel, ia menemukan Daniel tengah bersama wanita lain. Ia tidak mengatakan apa pun pada Daniel. Ia berpikir bahwa akan lebih baik jika ia tidak mengatakan apa pun dan pergi selamanya dari hidup pria itu. Sejak saat itu Gwen berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan lagi memotret seseorang. Seperti wanita pada umumnya, Gwen merasakan seperti apa pahitnya cinta.

Setelah menghabiskan waktu di kedai kopi tanpa hasil, Gwen beranjak berdiri dan mulai mengitari kota Seoul. Ia memerhatikan sekelilingnya dan memotret apa pun yang ia lihat. Namun tetap saja ia merasa bahwa hasil fotonya bukanlah sesuatu yang istimewa. Ia merasa hasil fotonya kini seperti seorang turis yang tengah berjalan-jalan ke negara asing. Gwen terdiam dan memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi selama berada di Seoul.

Tujuannya adalah Sungai Han. Sungai Han merupakan salah satu tempat favorit di Seoul. Banyak sekali orang-orang yang mengunjungi Sungai Han untuk sekedar berjalan-jalan. Selain itu juga ada pasangan yang memilihnya sebagai tempat kencan. Gwen tersenyum simpul dan segera mengeluarkan kameranya. Ia mulai membidik ke arah pasangan di Sungai Han kemudian beralih ke Sungai Han. Dari kameranya ia menemukan sosok seorang pria yang tengah memandang lurus ke arah Sungai Han. Pria itu memasukkan tangannya ke saku dan menatap lurus ke arah Sungai. Gwen mengarahkan kameranya ke arah lain kemudian beranjak pulang.

Saat malam tiba, benaknya dipenuhi oleh Sungai Han. Ia penasaran terhadap sosok pria yang tengah memandang lurus ke arah Sungai Han. Entah apa yang membuatnya penasaran terhadap pria itu. Gwen merasa bahwa pria itu memiliki aura misterius yang seakan-akan menghipnotisnya. Kemudian ia memutuskan untuk kembali mengunjungi Sungai Han esok harinya agar rasa penasarannya terbalas.

Esok harinya, Gwen Willems kembali tiba di Sungai Han. Ia berdiri tepat di mana ia menemukan sosok pria kemarin. Pria itu ada di sana. Di tempat yang sama dengan baju yang sama dan tetap memandang lurus kearah Sungai Han. Gwen Willems berjalan sedikit ke arah pria itu. Entah mengapa timbul keinginan dalam dirinya untuk memotret pria tersebut. Ia mengingkari janjinya dan memotretnya. Gwen tidak melihat wajah pria itu. Ia ingin mengabadikan sosok misteriusnya. Setelah mengambil foto pria itu, rasa penasarannya terbayar sudah. Ia sedikit tersenyum mengetahui bahwa ia kini telah mampu memotret seseorang. Foto itu merupakan foto terakhir yang ia ambil di Seoul.

Sekembalinya ke Jerman, Gwen Willems menggelar pameran foto-fotonya dari seluruh dunia. Begitu banyak orang yang datang untuk melihat hasil foto dari Gwen. Namun semua orang terheran-heran dengan sebuah foto di sudut ruangan dengan nama “Mysterious Guy” yang hanyalah foto tiang penyangga di Sungai Han. Gwen Willems tidak pernah mengetahui bahwa sosok pria yang ia lihat di Sungai Han sebenarnya tidak pernah ada. Ia tidak pernah mengetahui bahwa sosok pria itu hanyalah imajinasinya.

Cerpen Karangan: Jessica Artamevia
Facebook: https://www.facebook.com/jessica.artamevia

Cerpen Imagination merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mr. B

Oleh:
11 November 2013, Tepat dimana aku bermain badminton bersama teman-temanku di depan gang yang lumayan lebar Namaku Gustia Rani Tanjung, panggil saja aku Rani. Saat sedang asyik bermain badminton

Dosa Terindah

Oleh:
Aku mengenalnya di suatu pelatihan beberapa tahun silam, awalnya aku sudah tertarik, entah apa yang aku pikirkan, seakan aku tidak menyadari statusku saat aku bertemu dengannya, ia membalas sama

I’m Not Alone

Oleh:
“Dunia. Satu kata yang membuatku kebingungan. Aku tak pernah mengerti, mengapa Tuhan menciptakan dunia? Apa hikmah yang ada jika Tuhan menciptakan dunia? Apakah Tuhan merasa kesepian sehingga Dia menciptakan

Merah Jambu di Lereng Pandan

Oleh:
Sudah dua tahun aku menjalani masa latihan kerja sebagai guru sementara di sebuah sekolah yang teletak di lereng Gunung Pandan Tepatnya di SMPN 2 Gondang, yang akrab disebut SMP

Kado Terakhir Untukmu (Part 1)

Oleh:
Dunia terang disinari mentari yang mencerahkannya bersama hembuasan angin yang menyejukan suasana namun bising motor dan mobil membuat buyar pikiran yang mencoba untuk tetap tenang. “Selamat Pagi Pak”. “Pagi”.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *