Jaket Ungu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penantian, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 6 May 2019

Hujan sore ini cukup membuatku menggigil, kucoba menatap langit di luar belum ada tanda bahwa hujan akan berhenti. Aku kembali masuk ke dalam kamarku, membuka sedikit jendela untuk cukup buat mataku mengintip keadaan hujan di luar sambil duduk di kursi meja belajarku dengan berbalutkan selimutku yang hangat. Mataku hanya tertuju ke luar melihat hujan, tiba-tiba aku teringat dengan kejadian dulu yang tepat dengan momen sekarang ini. Hujan di sore hari, kejadian itu adalah pertemuanku dengan dia. Pertemuan itu sangatlah misterius dan mungkin dia itu juga orang yang sangat misterius. Bagiku pertemuan kami masih misterius sampai sekarang.

Aku masih sangat jelas mengingat kejadian itu, pertemuan di halte bus. Ketika itu aku masih duduk di bangku SMA kelas 2. Waktu itu sepulang sekolah saya langsung ke halte bus tanpa ngobrol dulu sama teman seperti biasanya karena melihat cuaca yang tak mendukung. Aku takut hujan datang sebelum aku tiba di halte bus. Benar saja dugaanku, hanya selang beberapa menit tiba di halte bus hujan lebat tanpa gerimis pun langsung turun membasahi permukaan bumi ini.
Seketika itu seorang cowok berlari kencang menuju halte bus seperti dikejar massa, dan langsung duduk di bangku halte bus yang tersedia. Aku tetap memilih berdiri untuk menunggu bus tiba. Lama sudah kutunggu, tapi bus tal kunjung datang sehingga membuatku lelah berdiri karena diiringi dingin yang sangat menusuk. Kuputuskan untuk duduk seperti cowok tersebut.

Cukup menggigil dengan suhu seperti ini, hujan tambah angin lembut bertiup di seluruh pori-poriku. Sesekali aku nengelus tanganku agar tercipta sedikit kehangatan tapi itu hanya bersifat sementara saja. Sekejap kulirik cowok yang duduk di sampingku, betapa hangatnya dia yang memakai jaket dan sibuk dengan hp nya tanpa merasakan dingin sedikitpun kelihatannya dan tidak menghiraukanku yang sedang dilanda kesinginan. Entah kenapa hari itu aku tidak bawa jaket yang biasaya aku bawa setiap hari.

Tiba-tiba mobil berwarna silver berhenti di depanku yang membuat aku kaget karena bunyi klakson yang nyaring di telingaku sehingga aku tambah menggigil dibuatnya. “kamu kedinginan ya?, nih gue pinjamin jaket gue sama lo” cowok yang di sampingku tadi menawarkan sambil membalutkan jaketnya di bahuku. Aku kaget dan hanya terdiam dengan perbuatannya. Belum sempat nengucapkan terima kasih ternyata dia sudah memasuki mobil silver tadi. Aku sempat melihat wajahnya karena belum menutup kaca jendela mobil yang ditumpanginya sambil melemparkan senyum manis kepadaku tapi aku hanya melihatnya tanpa membalas senyum manisnya.

Setelah dia tak lagi dapat kulihat, aku tersenyum sendiri sendiri dan langsung nemakai jaket pemberian cowok tadi. Memang jaket itu sepertinya jaket mahal, terbukti rasanya sangat hangat dan lembut dan nyaman untuk dipakai. Hujan dan angin yang datang tak lagi mampu memasuki pori poriku kerna jaket yang kupakai. jaket itu sungguh hangat, harum tambah lagi warnanya ungu yang aku suka.

Tidak berapa lama lagi akhirnya bus yang aku tunggu tunggu dari tadi datang juga dan langsung naik ke bus. selama di perjalanan menuju rumah aku hanya nengingat wajah dan senyum manis cowok yang baik tadi.

Sesampainya di rumah, hujan tak kunjung berhenti bahkan semakin deras, sehingga cukup untuk membasahiku mulai dari gerbang sampai ke teras rumah. Jaket yang aku pakai juga cukup basah dan tanpa kucuci aku langsung menggatungnya dengan hunger di jemuran dalam rumah.

Dua hari jaket itu baru bisa kering, aku langsung menyetrikanya dan melipatnya dengan rapi, kubungkus dalam plastik dan langsung memasukkannya ke dalam tas sekolahku.

Setiap hari aku membawa jaket itu ke sekolah dan sepulang sekolah aku langsung ke halte bus agar bisa bertemu dan mengembalikan jaket itu kepada pemiliknya. Setiap hari pulang sekolah aku selalu menunggunya di halte bus, ternyata dia tak pernah datang, Lama sudah aku ingin mengembalikannya, tapi aku tak kunjung bertemu dengan sosok yang nemberikannya dulu.

Setiap hari selama satu setengah tahun lamanya aku membawa jaket itu ke sekolah, sampai aku tamat SMA belum bisa nenhembalikannya dikarenakan tidak pernah bertemu lagi. Pertemuan kami hanya sekali itu saja sehingga membuatku merasa bahwa dia orang yang misterius. Itu pertama kali aku melihatnya dan itu juga terakhir kali aku melihatnya. Pertemuan yang penuh dengan misteri, mungkin dia seorang malaikat yang Tuhan titipkan untuk memberiku kehangatan waktu itu.

Karena mengingat kejadian misterius itu, aku mengambil jaket itu dari lemariku yang sudah lama kusimpan dengan rapi. Aku mencoba memakaikan jaket itu lagi, ternyata harum dan kehangatannya masih tetap sama seperti pertama kali aku memakainya dulu. Jaket warna ungu ini menjadi jaket kesayanganku, tapi aku masih berharap bisa bertemu dengannya dan mengembalikan jaket ini padanya. Aku juga ingin mrngucapkan terima kasih padanya yang belum sempat aku ucapkan.

Cerpen Karangan: Lamringkot Simatupang
Blog / Facebook: Simatupang Suanturi

Cerpen Jaket Ungu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cafe

Oleh:
Hari itu hujan. Langit begitu murung, seperti aku saat itu. Biasanya aku bakal bergumul sendiri di depan perapian, tapi hari ini berbeda. Memakai mantel hujan dan boots, aku berjalan

Gara Gara Flashdisk

Oleh:
Lagu Mimpi-nya Anggun yang berdering di handphoneku membuyarkan lamunanku. Kupencet tombol ungu di tengah-tengah tombol navigasi. Allam: Dhe, aku boleh pinjem flashdiskmu gk? Sent: bwt apa? Allam: Buat minta

Ji Chang Wook dan Penggemar Kelas Berat

Oleh:
“Yeoboseyo. Halo.” “Lisa lagi sibuk, ya?” “Biasa, lagi nyeterika tiap minggu pagi.” “Jam sepuluh ke rumahku, ya. Aku punya film Korea baru.” “Film apa? Apa judulnya?” Tut… tut… tut….

Salahkah Menanti (Part 2)

Oleh:
Setelah pameran lukisan di gedung sekolah waktu itu, gue sama dia makin akrab dan gue lihat dia agak berubah agak perhatian dikit gitu, dia udah mulai nanya-nanya gue lagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *