Kado Terakhir Untukmu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Perjuangan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 19 June 2014

Dunia terang disinari mentari yang mencerahkannya bersama hembuasan angin yang menyejukan suasana namun bising motor dan mobil membuat buyar pikiran yang mencoba untuk tetap tenang.

“Selamat Pagi Pak”.
“Pagi”.
Salam dari seluruh siswa dan siswi SMK Wahidin membuatku bangun dari lamunan.

Pagi itu, saatnya ku mulai sebuah rencana yang telah aku rencanakan dari tiga bulan yang lalu. Sebuah kamera digital menjadi alat untuk membuat video kejutan yang ku buat hanya untuk Ica sebagai kado ulang tahun ke-22.
Seluruh guru di sekolah tersebut aku minta untuk memberikan ucapan untuk Orang yang aku cintai yaitu Ica. Yaa karena Ica adalah lulusan dari sekolah tersebut.

Satu persatu aku meminta ucapan dari guru untuk aku rekam sebagai kado ulang tahun Ica.
“Ibu kepala sekolah bolehkah saya meminta ucapan ulang tahun dari ibu untuk alumni sekolah ini yang tanggal 4 September genap berumur 22 tahun?”. Tanya ku.
“Abdul, kamu kesini karena Program kuliah bukan karena pacar kamu”. Jawab Ibu Kepala Sekolah.
“Jadi ibu bersedia atau tidak untuk memberikan ucapan ulang tahun untuk Ica?”.
“Tidak!”.
“Ibu kali ini aja, aku mohon. Toh ini untuk alumni sekolah ini kok”.
“Ibu bilang tidak!”

Sesaat suasana hening. Aku tak bisa memaksa Ibu Kepala Sekolah untuk memberikan ucapan ulang tahun untuk Ica walau pun aku kecewa akan jawaban dari permintaanku. Aku hanya bisa tertunduk. Tak lama kemudian Ibu Kepala Sekolah Berkata.
“Ibu itu kepala sekolah bukan artis sinetron dan ini kado yang berkesan untuk dia tapi tidak dengan Ibu. Disini tempat untuk belajar bukan tempat untuk membuat film dan kamu disini untuk mencari nilai dan menambah ilmu bukan untuk membuat kejutan buat kekasih kamu. Paham!”.
“Paham Bu”. Jawabku.

Aku pesimis dengan semua rencanaku hingga akhirnya Aku putuskan untuk mencoba meminta ucapan ulang tahun ke sahabat Ica. Yaa dia bernama Gita. Jarak rumah Gita ke kampus lumayan jauh hingga akhirnya dia tanggal di asrama yang disediakan oleh kampus untuk mahasiswanya.

Jalanan kota Cirebon sangat panas dan macet, maklum kini matahari sedang berada di puncak dunia. Suara kenalpot motor dan mobil membuat gendang telingaku hampir pecah namun waktu terus berjalan, Gita tak memiliki waktu banyak karena dia akan pulang kampung yang memaksa aku untuk menarik gas motor lebih dalam lagi.

“Lama sekali”. Sambut Gita akan kedatanganku.
“Sorry, sorry maklum motor tua jadi ga bisa ngebut.” Jawabku.
“Ahh alesan aja lu mah”.
“Okee langsung aja yaa”. Ucapku.
“Langsung apanya?”. Tanya gita kepadaku.
Yaa memang Gita belum tau rencana yang telah aku susun untuk membuat video kejutan sebagai kado ulang tahun ke-22 Ica.
“Jadi gini, bentar lagi kan Ica ulang tahun. Naaah, aku ingin bikin video ucapan ulang tahun untuk dia dari sahabat-sahabatnya termasuk kamu Gita. Gimana?”
“Okee tapi aku malu Dul”. Sambut Gita.
“Laah kok malu. Ini buat temen kamu loh, temen dari semester satu. Yaa yaaa mau yaa”. Ucapku.
“Ya udah okee tapi kamu jangan liat yaa, aku ngucapinnya di belakang”
“iyaa iyaaa, ini kameranya”. Jawabku.

Sebuah video kumpulan ucapan ulang tahun dari teman-teman Ica ku buat sebagai kado untuk orang yang ku cinta. Dari semua ucapan yang ku video ada satu teman yang bagiku sangat istimewa. Ya ucapan itu dari Kinan, Kinan adalah kekasih dari mantannya Ica. Aku tak tau apakah ucapan dari Kinan bisa menjadi kejutan untuk Ica atau malah sebaliknya. Di satu sisi Ica sendiri belum kenal dengan Kinan bahkan bertemu pun belum pernah.

Di ruang kesiswaan, di SMK tersebut aku bertemu dan berbicara dengan Kinan.
“Kinan, boleh ga aku minta ucapan ulang tahun dari kamu untuk Ica?”. Tanyaku.
Kinan pun menjawab dengan rasa penasaran dengan apa yang aku minta “Boleh”.
“Ya udah aku video yaa”
“Kok di video, ga ah aku malu”. Jawab Kinan sambil tersenyum karena malu dengan kamera yang aku bawa.
“Ayo sih Kinan, bentar aja. Ya yaa yaa”.
Kinan pun memberikan ucapan ulang tahun untuk Ica, yaa meski pun banyak yang ditake ulang.
“Ica selamat ulang tahun ke-22. Semoga panjang umur, sehat selalu, makin dewasa dan langgeng sama Abdulnya. Oya, saya pacarnya Agus salam kenal yaa. Kapan-kapan kita jalan bareng nanti kalau ketemu teraktirannya jangan lupa. Hehehe”.

Tak terasa jam istirahat telah selesai, aku bergegas kembali ke ruangan tempat ku bertugas dan ternyata di ruangan itu ada beberapa teman-teman Ica yang sedang berkumpul. Ada beberapa teman Ica yang praktik di lembaga pendidikan yang sama denganku. Tanpa berfikir panjang aku meminta ucapan ulang tahun lagi. Yaa memang aku sedang mengumpulkan ucapan-ucapan ulang tahun sebagai kado ulang tahun Ica dari teman-temannya, dari yang serius, yang santai, yang sok dewasa sampe yang absurd sekali pun aku tetap merekamnya.
“In, aku video kamu yaa.” Ucapku.
“Vi-vii-video a-aapa?” Iin menjawab dengan suara yang terbata-bata, yaa sinetron abis gitu mungkin karena dia terobsesi ingin jadi pemain sinetron dengan judul yang sama dengan namanya, Iin Yang Tertukar.
”Video ucapan ulang tahun untuk Ica.” Sambutku.
“Enggak ah malu.” Jawab Iin menggelengkan kepala sambil senyum-senyum
“Ayolah.”
“Enggak.”
“5 menit aja.” Ucapku dengan suara yang mekin keras mencoba untuk menyemangati Iin.
“Enggak.” Tegas Iin.
“3 menit.”
“Enggak.”
“2 menit.”
Akhirnya dengan muka penuh kepasrahan Iin menerima permintaanku.
“Ya udah.”
Akhirnya dengan desakan Iin mau juga dan sengaja aku buat lama berharap ucapan ulang tahunnya bisa sampai 5 menit tapi alhasil 2 menit pun kurang.

Iin memberikan ucapan ulang tahunnya berdua bersama temannya. Iin adalah seorang mahasiswi yang cerdas, pemalu dan suka banget sama sinetron apalagi sinetron Tukang Bubur Naik Haji mungkin dia suka bukan sama ceritanya tapi sama gerobak buburnya kali (naah jadi ga nyambung). Iin di kampus satu jurusan bahkan satu kelas dengan Ica jadi Ica mau pun Iin sudah kenal akrab. Sedangakan temannya hanya satu jurusan dengan Ica.

“Selamat ulang tahun Ica, semoga panjang umur, PPL-nya lancar dan langgeng sama Abdulnya. Di tunggu traktirannya di SS hehehe.” Ucap Iin yang ku rekam melalui video.

Tiga minggu yang sangat penuh rasa, dari lelah, malu, sampai menjengkelkan ini sudah hampir selesai dan tersisa satu hari lagi untuk mencari sasaran ulang tahun untuk Ica.
Aku berfikir siapa yang belum mengucapkan ucapan ulang tahun untuk Ica. Memang masih banyak teman-teman Ica yang belum ku video tapi karena keterbatasan waktu dan tenaga sehingga yang terjangkau saja yang ku minta ucapannya. Sempat terfikir ingin ku minta ucapan ulang tahun untuk Ica dari keluarganya tapi niat seperti itu urung kembali karena hal-hal tertentu yang tak memungkinkan itu terjadi.

Keesokan harinya di sekolah, aku kembali memutar otak, kira-kira siapa yang bisa ku video untuk mengucapkan ulang tahun ke-22 untuk Ica.
Di ruang kesiswaan aku kembali bertemu dengan Kinan, ku coba berdiskusi dengan Kinan tentang video yang ku buat dan kira-kira siapa lagi yang harus ku video.
“Kinan, kira-kira siapa lagi yaa yang harus ku video ucapan ulang tahun untuk Ica?.” Tanyaku kepada Kinan dengan muka pasrah.
“Ibu kepala sekolah.” Jawab Kinan dengan penuh keyakinan.
“Ibu kepala sekolah mah udah tapi beliau ga mau.”
“Pak Aan.”
“Udah tapi sama dia juga ga mau.”
“Bu Leli.”
“Ga ah saya takut.”
“Pak Arif.”
“Sama dia juga gak mau.”
“Pak Alvi.”
“Dia juga sama ga mau.” Jawab ku.
Sambil menatap langit, dengan tangan memegang kepala dan dengan tatapan kosong, aku berkata kepada Kinan, “Mungkin gak ada lagi yang bisa aku minta ucapan ulang tahun untuk Ica dari teman-temannya, guru-gurunya sewaktu Ica SMK dan orang-orang yang Ica kenal. Sekarang aku pesimis dan pasrah sajalah.” Ucapku sedikit tertahan.
“Jangan gitu dong, niat kamu udah bagus kok.” Sambut Kinan mencoba meyakinkanku.
Aku terdiam, suasana menjadi hening. Namun tak lama kemudian Kinan bersuara “Aku punya ide.” Ucap Kinan sambil mengangkat jari tangannya ke samping kepala lalu munculah lampu di samping atas kepalanya dan bersinar terang (lah sinetron banget).
Aku terkejut, ku lirik Kinan dengan curiga dan dengan penuh rasa penasaran aku berkata terbata-bata. “I-iide a-apa?”.
“Gimana kalau kamu video aku lagi tapi dengan ucapan yang beda kok.”
“Tidaaaak!!!” Jawabku kepada Kinan.

Memberikan kejutan untuk orang yang kita cintai apalagi di hari ulang tahunnya memang membutuhkan proses yang tidak mudah meski pun kita belum tau apakah kejutannya berhasil atau melah sebaliknya. Begitu pun dengan aku, aku takut kejutan di ulang tahunnya Ica, orang yang sangat aku cintai malah jadi sesuatu yang tidak aku inginkan.

Video ini memang tak semahal cincin bahkan dengan seikat mawar pun lebih mahal mawar dibandingakn dengan video ini tapi proses pembuatannya penuh dengan perjuangan dan tak bisa dibeli dengan materi karena kata teman-teman yang dibutuhkan perempuan itu perjuangannya bukan mahal tidaknya. Namun disamping pembuatan video ucapan ulangtahun ini, aku juga telah membeli boneka Teddy Bear untuk Ica. Ica memang lebih suka boneka Panda dibandingkan Teddy Bear namun aku pernah berjanji untuk membelikan boneka Teddy Bear sewaktu bertemu tak sengaja dengan Ica di salah satu pusat perbelanjaan.

Orang yang jatuh cinta tidak akan peduli dengan rasa malu yang hadapinya sebagai proses membuat orang yang kita cintai bisa tersenyum, tertawa tanpa harus merasakan seperti apa rasa malu yang kita rasakan.
“Kriiing kriiing kriiing.” Suara bel sekolah yang pertanda telah selesai jam pelajaran dan sebentar lagi para siswa dan siswi akan bergegas untuk pulang.
Tak pikir panjang aku langsung menuju kelas XII AK 2. Aku berdiri di depan para siswa dengan penuh rasa malu karena nanti pasti dibilang lebay oleh siswa ketika saya meminta ucapan ulang tahun kepada mereka.

“Kawan-kawan di kelas XII AK 2, bapak ingin meminta bantuan kepada kalian semua, boleh kan?.” Tanyaku.
“Bantuan apa pak?.”
“Jadi gini, bentar lagi pacar bapak ulang tahun. Nah, bapak ingin meminta ucapan ulang tahun dari kalian untuk pacar bapak tapi bapak video ucapan ulang tahunnya.”
“Ciyee bapak punya pacar ciyee.” Jawab seluruh siswa.
Aku memaklumi jawaban siswa seperti itu karena seumuran mereka sedang alay-alaynya.
“Gimana mau ga?.” Tanyaku.
“Okee pak tapi nanti yaa aku berkaca dulu biar tambah keren, kan nanti di video.” Ucap salah satu siswa kelas XII AK 2 yang didominasi oleh perempuan dan anehnya yang berkata seperti itu adalah Aji, dia seorang laki-laki mungkin karena lingkungan kelas dia juga jadi ikutan alay.

“Udah siap?.”
“Sekarang bapak video yaa.” Tegasku.
“Siap.” Jawab mereka serentak.
“Mulai.”
Beberapa siswa mulai menucapkan ulang tahunnya untuk Ica.
“Selamat ulang tahun teteh, semoga panjang umur dan makin tambah lengket sama pak Abdulnya.” Ucap Sandra salah satu siswi kelas AK 2.
Setelah beberapa siswa mengucapkan ulang tahunnya untuk Ica meski pun ucapannya sama semua. Tak lama kemudian seluruh siswa dalam kelas XII AK 2 menyanyikan lagu untuk Ica yang ku video.
“Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Merah kuning kelabu”
“STOOOOP!!!” Ucapku untuk menghentikan lagunya disaat mereka masih menyanyikan lagu yang tak sesuai dengan moment ulang tahun itu.
“Ini untuk ulang tahun bukan reuni anak Taman Kanak-kanak.” Tegasku
“Tapi kan dulu pacar bapak pernah masuk TK kan.” Jawab Fikri mencoba membenarkan apa yang telah mereka nyanyikan.
“Tapi kan gak harus lagu Balonku juga kan?”
“Ya udah pak kita ganti lagu.”

Seluruh siswa mengganti lagu yang mereka nyanyikan dengan lagu Selamat Ulang Tahun, dari 45 siswa yang bernyanyi kurang lebih hanya 20 siswa dan sisanya mereka tidak hafal dan hanya pelengkap penderita.
Uacapan ulang tahun dari siswa kelas XII AK 2 sudah selesai ku video, kini ku mencari target baru lagi yang bisa ku video ucapannya untuk Ica.

Ku buka pintu kelas yang berwarna abu-abu dengan perlahan dan kulihat ada mas Eko dan mas Dani sedang berjalan. Mas Eko dan mas Dani adalah staf di SMK Wahidin. Tanpa berfikir lama aku langsung menghampiri mereka.
“Mas, minta ucapan ulang tahunnya untuk Ica dong.” Ucapku kepada mas Eko.
“Boleh.”
“Ku video yaa.”
“Siap.” Sambutnya.
“Selamat ulang tahun Ica, semoga makin dewasa di usia yang ke-22 ini.” Ucapan mas Eko yang ku video.
“Ayo mas Dani juga dong.”
“Enggak ah pak, aku kan gak kenal sama Ica.” Jawab mas Dani sambil melambaikan tangan sambil berlari seperti yang sedang uji nyali di tempat yang angker yang gak sengaja ku rekam.
“Mas Eko, makasih yaa untuk ucapan ulang tahunnya.”
“Mas Dani jangan lari, tunggu aku.” Ucapku, dan aku pun ikut berlari.

Suasana lingkunga sekolah mulai ramai dan dipenuhi para siswa yang hendak pulang. Gendang telinga ini terusik oleh obrolan-obrolan antar siswa dan temannya yang sedang berjalan keluar gerbang sekolah.
Aku berjalan memasuki ruang TU dan disana ternyata ada mas Yudi yang sedang duduk sendirian di depan komputer yang menjadi teman setia dalam menyelesaikan kerjaannya. Mas Yudi adalah orang yang baik, pendiam, suka main games bola dan mas Yudi juga menjadi staf TU di SMK Wahidin.
“Mas, bentar lagi Ica ulang tahun, minta ucapan ulang tahun dong buat Ica tapi aku video.”
“Boleh, boleh.” Jawab mas Yudi.
“Tapi jangan disini mas, disini berisik oleh anak-anak yang mau pulang.” Ucapku.
“Terus dimana dong?”
“Kita cari tempat yang sepi mas agar ucapan ulang tahunnya terdengar dengan jelas ketika aku video. Ayo mas ikuti aku.”

Kita berdua berjalan mencari tempat yang sepi, hampir setiap ruangan ramai oleh siswa yang sedang bergegas untuk pulang. Aku dan mas Yudi masih menyusuri setiap ruangan dan aku temukan satu tempat yang lumayan sepi, pikirku di tempat ini suara mas Yudi akan terdengar dengan jelas.
“Disini mas, disini tempatnya tidak begitu ramai.” Ucapku.
“Disini?” tanya mas Yudi dengan wajah heran.
“Iya disini.” Tegasku dengan penuh keyakinan sambil menunjuk ke arah lantai (seperti di film-film action)
“I-iiini kan wc dul.” Jawab mas Yudi dengan suara terbata-bata dan lagi-lagi dengan tampang heran.
“Iya sih mas ini wc.”

Suasana menjadi hening. Mas Yudi diam dan aku pun ikut terdiam, mas Yudi ikut mondar-mandir aku pun ikut mondar-mandir. Kita berdua sudah seperti orang yang sedang nyasar dan tidak tau harus kemana.
“Gak apa-apa mas wc juga yang penting kan ucapannya bukan tempatnya.” Ucapku meyakinkan mas Yudi sambil menundukan kepalaku.

Mas Yudi terdiam dengan tangan menutupi permukaan wajah bagian bawahnya. Ku lihat mas Yudi lagi dan tetap masih terdiam serta mondar-mandir dengan langkah perlahan dan sesekali menganggukan kepalanya. Aku biarkan mas Yudi seperti itu karena kata orang, biasanya orang yang sedang berfikir itu sama persis dengan apa yang sedang mas Yudi lakukan sekarang dan bisa saja apa yang sedang dilakukan mas Yudi itu ternyata sedang mencari inspirasi terhadap ucapan ulang tahun yang akan di ucapkan untuk Ica.

Aku bingung kalau terlalu lama diam dan suasananya makin hening nanti takut malah salah satu di antara kita ada yang kesurupan, secara kita sedang di wc dan di film-film horor mahluk astral suka menghuni wc. Akhirnya aku pun mulai bertanya kepada mas Yudi.
“Ke-kkkenapa mas? kok di-diiiem aja.” Tanyaku sedikit tertahan.
“Gak apa-apa, ini aroma wc-nya menyengat banget.” Jawab mas Yudi sambil menutup hidungnya.
Buyaaar semuanya. Ku kira mas Yudi sedang mencari kata-kata yang bagus untuk Ica tapi ternyata mas Yudi diam itu sedang menahan terhadap bau aroma khas wc.
“Ooh kirain kenapa mas, yaa udah kita pindah ke depan aja mas.”
“Depan mana Dul?” Tanya mas Yudi yang masih menutupi hidungnya.
“Di depan wc mas.” Jawabku.

Kita berdua pindah ke depan wc, yaa lumayan disini aroma wc tidak terlalu menyengat seperti di dalam.
“Siap ya mas. Aku video nih” Tegasku.
“Selamat ulang tahun Ica, semoga panjang umur, sehat selalu, makin dewasa dan jangan lupain guru-guru serta teman-teman di SMK Wahidin dan semoga bisa sampai kakek dan nenek sama Abdulnya. Amin.” Ucapan ulang tahun dari mas Yudi untuk Ica.

Hari terakhir pengumpulan ucapan ulang tahun telah berakhir dan semua ucapan telah ku rekam melalui video. Hari-hari yang melelahkan telah ku lewati dengan harapan Ica senang dengan apa yang telah ku lakukan untuk ulang tahunnya yang ke-22 dan hasil rekaman ucapan ulang tahun yang ku video menjadi kado yang tak terlupakan.
Sesampainya di rumah aku lihat-lihat kembali semua kumpulan ucapan ulang tahun yang telah ku rekam. Satu demi satu kulihat dan ku dengarkan kata-kata yang keluar dari teman-teman Ica untuk Ica. Setelah ku perhatikan ucapan-ucapannya ternyata semua ucapan hampir sama semua “Selamat ulang tahun dan panjang umur” samapi seterusnya seperti itu semua.

Cerpen Karangan: Derif Rys Gumilar
Facebook: Derif Rys Gumilar
Derif Rys Gumilar adalah seorang anak dari tiga bersaudara. kini Ia sedang menyelesaikan pendidikan S1 di Unswagati Cirebon di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia

Cerpen Kado Terakhir Untukmu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta di Malam Tahun Baru

Oleh:
“Tahun baru dimana rin?” Tiba tiba suara terdengar dari belakang “kurang tau juga sya” Jawabku gak bersemangat “Gimana nanti malam kita jalan jalan aja kebetulan temanku nagajakin tahun Barun

Telah Usai

Oleh:
Sekitar pukul 07:15 aku pergi dari rumah menuju sekolah dengan Limosin KUNING Langgananku. (hehe.. maksud eike, angkot Chiin) Setibanya di sekolah pukul 07;30. Yaah, pas lah, nggak telat, dan

Katakan Saja Tidak Suka

Oleh:
“Aku sebenarnya… selama ini menyukaimu Ken.” Ujarku sembari menunduk menyembunyikan semburat merah di pipiku. Rasanya aku ingin mati saja sekarang, jantungku tak henti-hentinya berdetak dengan keras. Aku mendongakkan kepalaku

Kisah Cinta Pertama Ku

Oleh:
“Andai kau tahu, betapa diriku ini sangat mencintaimu dengan setulus hatiku.” Namaku Gino, aku merupakan seorang siswa kelas XII jurusan IPA di sebuah sekolah SMA Negeri di Kotaku. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *