Kamu, Aku, Kampus, Kala Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 12 January 2021

Sore itu, kulihat kamu disana.
Kulihat kamu duduk menungguku di depan air mancur yang hanya menyala hingga pukul empat sore itu. Air mancur masih menyala, pertanda waktu belum beranjak ke pukul empat.

Aku memacu langkahku menuju kamu. Aku tergopoh-gopoh berjalan dengan membawa laptop berukuran maha besar ini dari gedung departemen. Tas yang kusampirkan di bahuku yang berayun-ayun ini berisi catatan-catatan dari pertemuan dengan dosen pembimbing sang maha guru. Pertemuanku dengan sang maha guru baru saja berakhir. Tiga jam saja aku dibimbing beliau. Satu demi satu argumenku diputar balik olehnya. Sang maha guru sungguh tertarik dengan ide yang kurangkai untuk karya akhir ini. Namun ketertarikannya tak sebesar ketertarikanku untuk menyapamu hari ini. Sungguh aku ingin pertemuan itu berakhir segera karena aku tak sabar menggegam tanganmu yang kurus, namun hangat.

Meski aku mengayun langkahku besar-besar, namun tak juga sampai menujumu secepat keinginanku untuk melihatmu. Beberapa minggu terakhir, aku sudah lama tak duduk berdua denganmu, mendengar uraian kata yang terjalin untuk menyampaikan kisahmu. Kita sibuk mengurai pikiran dan tenaga untuk menyelesaikan tugas utama kita, kuliah. Kamu dan aku sepakat bahwa karya akhir ini akan menjadi puncak pencapaian kita, bahkan orangtua kita. Maka aku dan kamu bertekad bahwa enam purnama kedepan tak boleh disia-siakan. Aku dan kamu pun berniat untuk berjalan kedepan, fokus menyelesaikan amanat itu. Akibatnya, kisah kita pun terjalin seperti sinyal HP di pegunungan, kadang ada, dan kadang tiada.

Sambil terengah-engah, aku pun teringat setahun lalu. Kamu duduk di sebelahku di sebuah kelas yang membuka mata kita berdua. Kala itu adalah hari pertama semester ke enam. Dan di hari itu, aku mulai mengenalmu. Kamu adalah kawan satu angkatan. Kita berdua memasuki menara gading ini berdua pada saat yang sama hampir lima tahun silam. Tapi entah kenapa, aku tak pernah mengenalmu. Aku tak pernah tahu betapa menariknya dirimu. Aku tak pernah tabu keindahan batin dan pikiranmu, hingga hari itu, ketika kamu duduk di sebelahku, kala itu.

Teringat percakapan kala itu ketika aku memutuskan untuk duduk di bangku kosong di sebelahmu. Kamu tersenyum dan menyapaku “Hai… eh ngambil kuliah ini juga ya?”. Mukaku berkenyit, otakku berputar mencari memori yang memberi tahu siapa namamu, “eh iya Ray. Kok ambil kuliah ini juga? Kan elu konsentrasi internasional?”. Kamu pun tersenyum, “hehe… katanya kuliah ini nilainya baik. Gue perlu nilai A satu lagi biar IPK gue mendingan…”. Aku lantas berpikir bahwa kamu norak sekaligus strategis untuk meningkatkan IPK, meski aku harus mengakui bahwa strategimu termasuk yang sangat standar.

Dosen pun masuk dan menyapa mereka yang bertebaran di kelas. Ia adalah salah satu maha guru di fakultas yang terkenal mencetak ekonom besar di negeri ini. Fakultas ini disebut membawa aliran neoliberal karena mempercayai kebebasan pasar untuk menciptakan kesejahteraan. Mungkin, sang maha guru yang akan memulai kuliah tersebut adalah salah satu yang mempercayai aliran tersebut. Ia pun memulai kuliah dengan mengajukan pertanyaan mendasar yang sangat mengganggu lubuk hati paling dalam seorang mahasiswa “mengapa anda mengambil mata kuliah ini? tahu nggak apa isinya?”. Lantas aku pun tersenyum simpul sambil menyikut kamu. Kamu menutup muka sambil tertawa. Rupanya, reaksi senyum simpul dan tertawa tersebut diikuti oleh hampir seluruh isi kelas. Modus kamu menjadi modus hampir separuh kelas ini.

Lantas, sang dosen dengan bijak mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah pikiran kritis mahasiswa, setidaknya pikiran kamu dan aku. Sang maha guru kemudian mulai menunjukkan sisi manusia mata kuliah tersebut. Tak pernah kusangka bahwa kuliah ini memberi sisi humanis dari fakultas yang maha sombong ini. Aku pun tertarik dan mulai mencoret-coret kicauan dosen yang sungguh mengundang banyak pertanyaan. Aku pun tak sempat memperhatikanmu.

Di akhir kuliah, aku pun membolak-balik catatan kuliah yang totalnya cukup tebal, 10 halaman! Sangat tebal dibanding catatan kuliah lain. Aku pun menutup catatan dan kemudian beranjak dari kursi kampus yang sempit dan terhubung satu sama lain ini. Aku lihat kamu membuka laptop dan browsing keywords yang diberikan oleh dosen. Aku pun tertarik melihatnya. “Udah mulai nyari jurnal, nih. Dosennya keren ya?”. Kamu hanya mengangguk, “Kayaknya menarik. Motif perkawinan dilihat dari sisi ekonomi. Faktor apa yang bikin kita milih pasangan ya? duit kah? status kah?” Pikiranku pun mulai berputar. Lantas kuutarakan pemikiran-pemikiranku yang mungkin masih sangat dangkal. Entah kenapa, kamu pun menyambutnya dengan pertanyaan lain yang makin membuat diskusi itu hangat. Entah kenapa, aku ingin menguliti pikiranmu lebih banyak. Aku ingin mengenal dirimu lebih dari pemikiran yang kau lontarkan tentang kuliah hari itu.

Sejak hari itu, di setiap pertemuan, aku dan kamu tak pernah tak berdiskusi panjang. Lama kelamaan diskusi itu merambah ke topik lain. Makan siang pun obrolan itu berlanjut. Tak hanya soal kuliah, tapi juga filosofi hidup, ketuhanan, dan rasa es yang terkenal mengusung nama hantu-hantu yang terkenal di Indonesia. Dari rasa tongseng ayam kantin yang awalnya enak hingga saat ini jadi hambar, hingga membuat hipotesis mengapa personil JKT48 harus mengecat rambutnya warna merah marun.

Lama kelamaan, ketika seharusnya aku memandang pikiranmu, aku juga melihat lekuk wajahmu. Kamu kurus, kulitmu kusam, seperti tak terurus. Sorot matamu tak tajam tapi penuh perhatian. Mereka terbingkai kaca mata dengan frame tebal murah nan meriah yang kau beli di gang pinggiran kampus menara gading ini. Rambutmu legam dan tebal, namun sepertinya kamu perlu segera merapihkan rambutmu ke barber shop. Hidungmu cukup mancung untuk ukuran manusia Indonesia, meski terlihat penuh komedo.

“Hoi… kok bengong sih…” Kamu pun tampaknya terganggu dengan aku yang tak memperhatikan kata-katamu. Aku pun terkesiap, malu, dan nyengir. Aku merasakan aliran darah memenuhi pipiku. “Kamu cantik.” Aku terkesiap lagi, kali ini kaget. Aku merasakan mataku membulat dan ingin keluar dari kelopak. “Ngomong apa?” Aku bertanya ingin memastikan bahwa yang aku dengar adalah memang yang ingin aku dengar. “eh sorry…you know, kalau perempuan pipinya merona itu memang cantik. Tadi gue lihat pipi elu merona. Kepanasan ya? hahaha…” kamu pun bekelakar, aku pun terpana. Dalam hati, aku setengah berharap bahwa kamu memang memujiku, tapi aku juga setengah hati berharap bahwa kata-katamu itu tidak benar.

Satu semester pun berlalu. Bumi di bagian utara menemui musim panas, sementara bumi bagian selatan sedang bertarung dengan dingin. Di untaian permata khatulistiwa ini, panas dan dingin bukan masalah karena pada bulan Juni ini, kepala mahasiswa harus panas dan dingin untuk menghadapi ujian akhir. Dan hari itu adalah hari selasa. Hari dimana aku dan kamu harus mengumpulkan paper mata kuliah yang mendekatkan aku dan kamu. Tak seharusnya aku dan kamu bertemu hari ini, tapi entah kenapa, kamu dan aku berjalan mengumpulkan paper tersebut ke kantor sang dosen pada saat yang sama.

Ketika menuju pintu keluar kantor itu, diskusi antara kamu dan aku tentang harapan keberhasilan semester ini pun terangkai. Ketika tiba di luar gedung itu, kamu tiba-tiba terdiam dan menunduk. Meski dalam hati aku berharap bahwa kamu akan mengajak meneruskan percakapan kita, tapi aku sudah bersiap diri melambaikan tangan untuk berpisah. Namun apa yang kamu ucapkan, membuat degup jantungku bergerak lebih cepat, “Kita nonton yuk?”. Meski dalam hati aku melonjak kegirangan, aku berusaha sok cool. “Nonton apa? emang ada yang bagus?”. “Ada Imitation Game. Reviewnya keren.” jawabmu. Tanpa pikir panjang pun aku mengiyakan. Terlihat gurat senyum di wajahmu. Biarpun kamu kurus, kalau diurus, kamu bisa terlihat lebih tampan, batinku.

Sore itu, aku ingat, aku juga tergopoh-gopoh seperti sore ini. Aku berjalan secepat kilat setengah berlari menuju stasiun mungil yang terletak di pinggir kampus menara gading. Terlihat kamu berdiri di depan loket tiket. Senyummu mengembang saat melihatku. “Hai. Udah siap?” tanyamu. Tumben kamu melontarkan pertanyaan seperti itu. “Sudah dong. Yuk!” jawabku.

Di dalam kereta menuju tengah kota, tiba-tiba aku merasakan kejanggalan. Kamu tiba-tiba tak banyak bicara. Kemana saja ide topik diskusi yang bermacam-macam itu. Ketika aku sulut percakapan tentang sebuah tips yang sungguh mendiskriminasi kaum perempuan yang ditayangkan di lini kini commuter line, kamu pun hanya tersenyum dan berkomentar “lucu ya…”

Sesampai di tengah kota Jakarta yang padat di sore hari itu, kami pun mencari taksi menuju mall yang sungguh mentereng di metropolitan ini. Tak kusangka kamu yang terlihat begitu sederhana memilih tempat yang seperti ini. Tapi kamu masih terlihat lebih diam dibanding biasanya.

Kamu dan aku pun terduduk di kursi bioskop besar itu. Lengkap dengan popcorn dan minuman yang kamu beli dengan uangmu sendiri. “Gue yang traktir ya.” katamu. Lampu pun dipadamkan dan film mulai diputar. Sepanjang film itu berlangsung, kamu pun diam. Hanya sesekali aku mengajakmu bicara berkomentar tentang bagaimana pintarnya Ben Cumberbatch berakting. Kamu hanya tertawa kecil. Sungguh aneh, pikirku.

Sepulang dari mall pun, di dalam kereta, kamu terdiam. Lantas aku bertanya, “tumben banget elu diam saja. Sakit gigi atau kenapa?”. Kamu melihatku dan tersenyum, lalu menunduk malu. “Ih aneh banget sih.” “Nanti elu akan tahu” jawabmu. “Gue antar sampai apartemen ya, Ri?” tanyamu. “Oke, tapi gak boleh masuk ya… nanti si Imami marah-marah kalau ada cowok masuk apartemen kita hehe…” kataku setengah bercanda.

Dan sampailah kamu dan aku di depan apartemen itu. Aku tak melihat gejala kamu beranjak pergi. Dalam hati aku pun merasa senang bila kamu menemani hingga malam larut. “Boleh mampir nggak? Imami ada kan di rumah? Gue mau nanya sesuatu ke elu” tanyamu sambil menipiskan bibir. “Well, as long as you don’t do something bad, boleh mampir. Imami ada di gym kayaknya.” jawabku.

Aku pun mempersilahkan kamu masuk ke apartemenku. Ruangan apartemen ini tersekat menjadi empat bagian, ruang tamu yang bercampur dengan dapur, kamar mandi, kamarku dan kamar Imami. Imami tak ada di rumah. Gadis campuran Jepang yang kuliah di jurusan sastra jawa itu gemar berolahraga kala malam hari. Imami seorang gym junkie. Ia bisa pulang lewat tengah malam hanya karena ia senang berlama-lama di gym atau kolam renang.

Aku nyalakan lampu dan kamu kutawari secangkir teh panas. Dari kulkas kuambil semangkuk edamame yang kurebus kemarin. Di bean bag itu pun kamu tertunduk. Dan mulailah pembicaraan yang tak akan pernah kulupa sepanjang hidupku.

“Gini, Ri. Gue mau kasih ini ke elu.” kamu mengeluarkan secarik kertas. Disitu tertulis kalimat yang tersusun pendek-pendek. Ini puisi, pikirku. “Baca ya” katamu.

-the poem-

And I am sorry, for keeping you in my heart.

Kalimat terakhir dalam puisi itu membuatku terdiam. Jantungku kembali berdegup kencang. Lidahku kelu. Belum sempat aku menarik nafas, kamu meraih tanganku. Kamu letakkan tanganku didadamu. Kamu berucap “coba rasakan ini.” “Kenapa?” tanyaku sembari menahan degup jantungku sendiri. “Elu… eh kamu… ada disini…” katamu sambil menunduk. “Gue… eh aku… udah lama… merasa bahwa kamu ada disini…” Aku hanya menatapnya. “Aku… entah apa… tapi I feel different when you are near me…” katamu lirih. “Kalau kita lagi diskusi, aku nggak mau semuanya berakhir dengan cepat. Tapi bukan karena diskusinya panas, tapi karena aku gak mau cepat-cepat pulang.” “Aku ingin sama kamu terus..” lanjutmu sambil menumpuk tanganmu yang lain diatas tanganku di dadamu. “I think I’m in love with you… sorry for being so direct…” katamu sambil menipiskan bentuk bibirmu.

Aku hanya terpana.

“say something… jangan bengong…” katamu sambil memberiku senyum yang selalu menutup setiap malamku.

“ehm… well… kamu tahu… eh… nggak tahu ya…” aku tak tahu kata-kata apa yang harus dirangkai. Kamu pun melepaskan tanganku. “Ya gak apa apa deh… kalau kamu cuma mau berteman, it’s fine.” Aku pun menggeleng… di dalam kepalaku aku sudah berteriak-teriak “tentu tidak! aku mau memelukmu sekarang dan berkata I am in to you too… give me a fucking hug and kiss, idiot!”

Gayung bersambut. Kamu mendekatkan tubuhmu yang kurus kepadaku, merentang lebar lenganmu yang panjang, dan mendekapkannya kepadaku. Kepalaku bersandar di dada kamu. I can feel your heart. I think I know what you’ve said before. I am in your heart. I can feel it. Aku tak perlu mengucapkan apapun. Kamu pun sepertinya sudah tahu apa maksudku.

Hari hari pun berlalu. Kamu dan aku selalu bergandeng tangan. Di kereta, di bus, di perpustakaan, di gang pinggir kampus depan apartemenku. Malam terlampaui masih dengan diskusi yang kadang hanya berujung khayalan hanya ditambahi bumbu kasmaran yang membuai.

Dan sore itu, aku masih tergopoh-gopoh menujumu. Tiga purnama hampir kita tak duduk berdekatan. Aku merindu. Ketika aku makin mendekat, kamu pun beranjak dari dudukmu. Kamu pun menyapaku dengan sapaan khas “Hai. Sudah siap?”. Aku jawab “Sudah dong. Tapi kita mau kemana?” Kamu pun tersenyum lebar.

Cerpen Karangan: Langit Biru

Cerpen Kamu, Aku, Kampus, Kala Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Jam

Oleh:
Kalau orang yang sedang sakit hati pasti sangat membenci yang namanya cinta, tapi beda tahu sama yang namanya orang lagi jatuh cinta, enggak ada bosan-bosannya dia ngomong masalah cinta,

My Love is Eternal

Oleh:
Aku menyesap hangatnya susu coklat di gelas putihku sambil menatap lekat-lekat setiap gerakan dan tindakan laki-laki di depanku. kutegaskan lagi, setiap gerakan dan tindakan. tidak terkecuali wajahnya yang terlihat

Mosaik

Oleh:
Diam-diam, Che merobek selembar kertas dari buku Matematikanya. Diraihnya pensil kayu yang sedari tadi tergeletak diam di atas meja. Pensil itu di putar-putar di sela-sela jarinya. Seperti ada jiwa

Akhir Kisah

Oleh:
Aku sekarang hanya bisa memperhatikan dia. Dulu kita sedekat nadi, namun sekarang sejauh langit dan bumi. Dia hanyalah objek nyata yang tak bisa kugenggam. Semakin ingin kugenggam, semakin menjauh.

Melody (Part 1)

Oleh:
Angin berhembus dengan santainya dan menghampiriku di dalam ruang musik ini. Aku menghirup nafas dalam dalam menikmati angin ini. Aku duduk di depan piano usangku. “Aku suka piano” gumamku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *