Karena Kita (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 23 October 2014

Kau datang dan jantungku berdegup kencang,
Kau buat ku terbang melayang…

Alunan nada ponsel Tata berbunyi nyaring, menandakan seseorang di seberang sana sedang menunggu untuk sebuah keperluan.

“halo..”
“halo, Tata. Kamu lagi apa? Kamu nggak lagi sibuk kan? Aku mau nunjukin sesuatu nih sama kamu. Tapi rahasia. Makanya aku mau ngajak kamu ke suatu tempat sekarang, bisa kan? Bisa ya? Bisa donk.. hheheh…”
“ya ampun nih anak.. kalo ngomong mbok ya pakek spasi toh.. ngomong seenak jidat kamu aja.. emang mau ngapain?.”
“kan aku udah bilang tadi ‘rahasia’. Pokoknya sore ini aku tunggu kamu di pinggir danau. Jangan telat yach bebh… daaa…” klik. Airin segera memutuskan komunikasi.
“hemh.. dasar! Ngajak kok kayak maksa sih” Tata terdiam bingung dibuatnya.

Danau buatan yang jernih airnya. Sinar matahari yang mulai sayup-sayup terasa sangat pas dengan semilir angin yang bertiup pelan. Tata duduk di bangku taman pinggir danau sambil mengamati sekitar, mencari Airin.

“hei..” Airin datang tiba-tiba dan menepuk punggung Tata.
“eh.. Rin, ngagetin aja” jawab Tata sambil mengusap dadanya yang mungkin masih syok atas kehadiran Airin.
“hehe.. maaf deh.. udah lama nunggu?”
“nggak kok. Aku baru datang. Kamu mau nunjukin apa?” tanya Tata langsung.
“duuiilee.. yang penasaran.. hehe.. aku nggak mau ngomongnya, mending kamu liat aja sekarang.. yuukk…” Airin segera memegang tangan Tata dan mengajaknya ke sisi lain danau.

Tiba-tiba Airin segera mencengkram tangan Tata dan mengajaknya bersembunyi di belakang sebuah pohon besar di pinggir danau. Di depan pohon terlihat seorang laki-laki memakai jaket hitam sedang duduk berdua dengan seorang perempuan memakai baju merah muda.

“apaan sih, Rin. Nggak baik lho ngeliatin orang pacaran” Tata segera melepaskan tangan Airin dari tangannya.
“iih.. brisik deh. Apa kamu nggak liat tuh cowok siapa?”

“ya mana bisa diliat lah bego, wong yang kita liat aja Cuma badannya dari belakang” gerutu Tata yang mulai nggak betah dengan tingkah laku Airin.
“cowok itu Rangga!!”

Jegerr…

“Rangga??” Tata terdiam sejenak. Dengan segera ia melangkah matu selangkah lebih depan dari pada Airin.
“eh jangan majuan gitu, entar ketahuan kan malu” Airin menarik Tata mundur.
“kalo cowok itu Rangga, berarti yang cewek Tiara donk?” mata Tata tetap fokus pada kedua objek di depannya.
“ya iyalah. Menurut informasi yang aku denger, Rangga ama Tiara mau putus sore ini” jelas Airin.
“wah kamu denger dari mana? kalo emang bener gitu sih aku amini seribu kali deh biar cepet kejadian” Tata tampak semangat mendengar informasi dari Airin. Jika benar Rangga putus dengan Tiara, maka akan ada peluang besar baginya untuk mendapatkan Rangga. Cowok keren incarannya sejak empat tahun lalu.

“iidih.. ngarep banget kamu. Eh eh.. liat deh, Ta. Tiara nangis tuh” bisik Airini.
“iya iya.. mungkin udah putus nih. Emang kenapa mereka putus?”
“Tiara ketahuan selingkuh. Dia pacaran dengan anak kuliahan”
“ou.. bodoh banget ya si Tiara, udah dapet pacar seganteng Rangga kok masih cari yang lain”

Tata Andira Lavina. Cewek manis, cantik, tinggi, putih bersih, cerdas dan ramah. Idaman setiap pria deh. Tapi semua itu nggak berarti karena ia nggak bisa mendapatkan cowok yang sangat dia kagumi. Rangga Saputra. Anggota basket paling ganteng (menurut versinya) dan jago main drum. Meski Rangga bukanlah cowok paling tampan di sekolah, dan bukan juga yang populer, namun Tata merasa seluruh tipe cowok impiannya ada pada diri Rangga. Namun ia nggak berani untuk medekati Rangga. Apa lagi untuk berbicara dengannya.

Hal itu lah yang membuat ia belum pernah pacaran dan menolak semua cowok yang menyukainya sejak SMP hingga kelas 3 SMA ini. Hanya untuk menunggu Rangga menyatakan cinta padanya. Entah alasan apa yang membuat Rangga nggak melirik kecantikan Tata. Rangga selalu cuek di hadapan semua wanita.

Tata selalu memperhatikan setiap gerak-gerik Rangga. Terkadang dengan kelakuannya yang bisa dikategorikan ‘konyol’. Seperti selalu membeli makanan atau minuman yang sama seperti yang dibeli Rangga, selalu membeli merek buku tulis yang sama dengan Rangga, mencari tau merek parfum yang digunakan Rangga. Dan membeli parfum tersebut tanpa memakainya sedikitpun.
Satu lagi. Tata senang duduk di kursi yang baru beberapa detik ditinggalkan Rangga. Sarrapp nggak tuh. Gila.

“untuk hasil ulangan semester lima ini, nilai tertinggi kembali diraih oleh Tata Andira Lavina” ucap kepala sekolah di tengah lapangan, di hadapan seluruh pelajar SMA Bakti Bangsa.
Semua siswa dan siswi bertepuk tangan untuk sang juara bertahan. Tata. Tata memang nggak pernah meninggalkan tangga nomor satunya di sekolah ini

Usai pengumuman singkat yang disampaikan setelah upacara itu berakhir, semua siswa/siswi kembali masuk ke kelas. Begitu juga dengan Tata. Sampai di dalam kelas, semua temannya memberikan ucapan selamat kepadanya. Terkecuali Rangga. Tata terus memperhatikan Rangga. Saat ini Rangga hanya duduk diam tanpa melihat apapun. Tampaknya ia sedang melamun.

“heh.. yang diliatin melamun, yang ngeliatin juga melamun” Airin menegur teman sebangkunya ini.
“kayaknya dia sedih deh putus ama Tiara” Tata sambil terus memperhatikan Rangga.
“au ah.. aku bosan dengerin kamu ngomongin tentang Rangga terus. Eh, aku mau ke toilet nih. Mau nemenin nggak?”
“ogah.”

“rin, aku mau ngembaliin buku perpustakaan nih. Mau nemenin nggak?” tawar Tata pada Airin saat bel istirahat berbunyi.
“ogah” jawab Airin singkat.
“huh.. ceritanya bales dendam nih” jawab Tata sambil mencolek lengan Airin.
“nggak kok. Aku laper, ta. Aku ke kantin aja ya. Kamu mau nitip makanan nggak?”
“kayaknya nggak deh. Aku nggak laper. Ya udah, aku duluan ya”
“ok”.

Tata keluar kelas dengan membawa empat buah buku tebal pinjamannya dari perpustakaan. Berat? Iya. Banget malah. Sesampainya di depan pintu perpustakaan, Tata merasa sepatu kirinya ada yang mengganjal, tiba-tiba dari arah yang berlawanan, ada yang menabraknya dengan keras. Semua buku yang dibawanya terjatuh ke lantai. Si penabrak pun kaget. Tampaknya si penabrak baru saja melamun sampai-sampai menabrak orang.
Tata juga tak kalah kagetnya. Empat buku yang tebalnya setara dengan kamus tiga bahasa itu terjun bebas di atas telapak kakinya.

“aauuuu…” teriak Tata.
“ya ampun.. maaf, maaf. Aku nggak sengaja” si penabrak langsung memunggut buku-buku yang terjatuh. Reflek Tata mengambil satu buku yang jatuh tepat di atas kakinya, dan bisa dipastikan buku itu adalah buku terberat di antara tiga buku yang lainnya. Tata mengambil satu buku itu dan menghantamkannya berkali-kali di atas kepala si penambrak.

“auu… aduh.. ampun ampun…” si penabrak itu langsung berdiri di hadapan Tata.
Ternyata si penabrak itu Rangga.
“Rangga. Aduh maaf ya” Tata langsung salah tingkah dengan kelakuannya.
“ehm.. nggak apa-apa kok. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku nggak sengaja nabrak kamu. Sekarang kita masuk aja dulu ya. Biar aku obatin kaki kamu. Aku tau itu pasti sakit” jelas Rangga sambil mengusap kepalanya yang baru saja dihantam buku tebal dengan tiga rasa yang serasi. Pedas, pedih dan pahit.

Tata tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya diam dan menuruti ajakan Rangga untuk langsung masuk ke dalam perpustakaan. Rangga yang membawakan ketiga buku yang masih di lantai. Tata langsung berdiri di depan meja penjaga perpustakaan untuk mengembalikan buku, sedangkan Rangga pergi ke UKS mencari minyak angin.

Selang satu menit Rangga sudah kembali membawa minyak angin dan segera menghampiri Tata yang duduk di sudut ruangan, dekat jendela. Tanpa berbicara apapun Rangga segera melepas sepatu dan kaos kaki Tata. Dengan perlahan ia mengoleskan minyak angin pada kaki Tata, dan mengurutnya. Tata hanya diam. Gugup, malu, dek-dekan, semuanya deh.

Sudah. Kok sudah? Cepet banget? Itu pasti pikiran Tata. Rangga sudah selesai dengan tanggung jawabnya.
“sekali lagi aku minta maaf ya, aku bener-bener nggak sengaja”
“iya nggak apa-apa kok. Aku juga minta maaf udah mukul kamu. Itu pasti sakit” jawab Tata dengan sedikit gugup. Maklum, ini pertama kalinya ia berbicara hanya berdua dengan Rangga. Biasanya ia berbicara dengan Rangga hanya untuk urusan OSIS atau urusan tugas kelompok.

“nggak kok. Oiya, selamat ya.” Rangga menyodorkan tangan kanannya di hadapan Tata.
“selamat?”
“iya, kamu kan peraih nilai tertinggi”
Tata menjabat tangan Rangga. Saat ini serasa bunga sakura sedang berguguran di sudut ruang perpustakan. Hanya Tata seorang yang dapat melihat bunga-bunga sakura yang berterbangan tersebut. Serasa hatinya pun ikut berbunga. “iya, terimakasih” jawabnya singkat sambil menyembunyikan wajah merahnya. “kalo aku boleh tau, kamu tadi melamun ya?” Tata nggak sengaja menanyakan hal itu. Mungkin karena terlalu gugup.

“hemh.. kok kamu tau?”
“iya, karna.. karna nggak biasanya kamu nabrak orang” jawab menyembunyikan kegugupannya.
“ou, Iya. Aku tadi lagi mikirin sesuatu” Rangga menjawab pelan sambil menundukkan kepala.
“mikirin sesuatu? Kamu sedih ya?”
Rangga hanya diam.
“kalo kamu nggak keberatan, aku bisa dengerin curhat kamu kok” tawar Tata bak seorang pahlawan. Tapi dalam hatinya genderang cinta terus berdebar.

“beneran? Kamu serius mau denger curhatan ku?” Rangga refleks tersenyum dan menatap Tata.
Tata terdiam. Bukan karena pertanyaan Rangga. Melainkan karena senyum Rangga untuknya.
“hei” Rangga menjentikkan jarinya di hadapan Tata. Tampaknya Tata melamun.

“eh iya. Iya iya bener kok. Aku mau. Mau banget” jawab Tata gugup dan kaget.
“mau? Mau apa hayooo” Rangga menyipitkan kedua matanya.
“ehm.. mau.. mau dengerin curhatan kamu lah” jawaban cepat dan tangkas.
“yups… memang siswi yang cerdas. Hhehe..”
“apaan sih”
“nggak apa-apa. Hemh.. ok ok, sekarang kita jadi sahabat ya..” Rangga tersenyum tulus.
Sahabat? Aku jadi sahabatnya? Pikir Tata ini semua salah.
“yah si dia melamun lagi” Rangga mendekatkan wajahnya sedikit lebih dekat ke arah wajah Tata.

“eh.. mau ngapain kamu??!!!” Tata refleks menjauhkan kepalanya.
“iya mau nyadarin kamu. Kamu itu cantik. Cantik banget malah. Kok hobinya melamun. Hhee.. udah dulu ya. Aku harus ke ruang pak Arman sekarang” Rangga bangkit dari tempat duduknya.
“oh. Ok” jawab singkat Tata.

“nomor ponsel kamu?” Rangga mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Tata.
Tata langsung mengambilnya dan memasukkan nomor ponselnya.
“ok, makasih ya. Aku duluan ya”
“iya”

Sejak percakapan Tata dan Rangga dua bulan yang lalu di perpustakaan, kini mereka menjadi teman yang sangat akrab. Bahkan semua teman di sekolah menganggap mereka berpacaran. Namun, setiap kali orang bertanya, maka Rangga dengan bangga hati memperkenalkan Tata sebagai sahabat baiknya.

Suatu hal yang sebenarnya bukan keinginan Tata. Tata menginginkan yang lebih dari sekedar persahabatan. Namun jika ia bandingkan keadaannya dari sebelum ia dekat dengan Rangga dan dengan keadaan sekarang ini, ia tentu akan memilihi keadaan saat ini.
Setiap hari Rangga mengantar – jemput Tata pulang dan pergi sekolah, Rangga juga selalu bersama Tata dan Airin saat istirahat. Setiap minggu mereka selalu pergi berdua. Bioskop, toko musik, restoran, perpustakaan, bahkan dinner pun sudah mereka lalui berdua. Rangga juga mulai terbiasa untuk datang ke rumah Tata hanya untuk bercerita atau sekedar bertemu saja. Hal itu membuat Tata semakin menyukai hubungan ini. Ia sangat berharap Rangga akan menjadi pacarnya. Nggak ada lagi rasa canggung antara Tata dan Rangga. Bahkan akhir-akhir ini mereka terlalu dekat.

“Tata. Kamu sore ini ada kerjaan nggak?”
“ya enggak lah. Aku kan masih SMA, mana ada kerjaan” jawab Tata di telepon.
“duh, maksud aku kamu ada kegiatan nggak sore ini”
“hhehe.. iya aku tau kok. Cuma becanda. Aku nggak ada kerjaan. Emang kenapa?”
“aku mau cerita hal penting sama kamu. Tapi di danau aja ya. Sore ini. Bisa kan?” pinta Rangga.
“wah cerita apaan sih. Kok kayaknya penting banget. Ok deh aku bisa.”
“ok aku tunggu.”

Sesampainya di danau, Tata mencari Rangga di setiap kursi taman, ternyata Rangga sudah duduk menunggu di kursi yang sama saat ia memutuskan Tiara dulu.
“hei. Udah lama nunggu ya?” Tata segera duduk di samping Rangga.
“hei.. enggak kok. Baru berapa menit. Kamu tadi sama siapa kesini?”
“aku tadi diantar Tiara. Karena tadi dia main ke rumah aku, ya dia yang nganterin aku kesini sekalian dia pulang” jelas Tata sambil diam-diam mengamatai wajah tampan Rangga.

“oh gitu” Rangga tersenyum manis. Senyumnya seakan bersinar karena cahaya matahari sore yang menerpa wajahnya. Sejenak mereka hanya diam, menikmati hembusan angin sore yang lembut membelai rambut mereka.
“tadi katanya mau cerita, cerita sekarang dong” Tata membuka percakapan.
“hemh.. aku terlalu gugup untuk cerita, Ta” Rangga menatap lurus ke arah danau.
“ya kalau gugup, ceritanya pelan-pelan aja. Dibawa santai. Kalau kamunya gugup terus kapan mau cerita”
“ok. Tapi kamu janji ya, jangan kasih tau siapa-siapa” Rangga memutar posisi duduknya menghadap ke arah Tata.
“iya aku janji” Tata tersenyum.

“sekarang aku lagi suka sama seseorang” suara Rangga terdengar pelan namun mampu membuat jantung Tata berhenti.
“se..seseorang?? s..ssiapa??” tanpa terasa suara Tata bergetar. Entah gugup atau terkejut, suaranya mendadak terbata-bata.
“aku malu. Dia cewek yang manis, baik, rajin dan pintar. Sudah sekitar dua minggu yang lalu aku selalu mengamatinya” jawab Rangga dengan mata yang berbinar-binar.

Mengamatinya? Apakah dia jauh? Jika jauh itu tandanya cewek itu bukan aku? Pikiran Tata semakin kacau.
“tuh kan kamu melamun lagi”
“eh, enggak enggak. Emm… kalo boleh tau cewek itu siapa?”
“jangan kasih tau siapa-siapa ya. Namanya Talita, cewek kelas sebelas ipa tiga. Adik kelas kita”

Bagaikan petir di siang hari, terlalu cerah sampai-sampai tak terlihat. Itulah suasana hati Tata. Petir itu menyambar hatinya. Namun tak dapat dilihat oleh siapapun.
“aku sudah berkenalan dengannya sejak dua minggu yang lalu. Aku juga sudah terbiasa datang ke rumahnya hanya untuk mengajaknya pergi atau sekedar mengobrol. Rencananya besok aku mau nyatain perasaanku padanya” jelas Rangga yang kini sudah memutar posisi duduknya kembali seperti semula. Menghadap ke arah Danau.
Tata hanya terdiam. Matanya serasa panas.

Apakah aku harus menunggu kamu untuk kedua kalinya Rangga? Apakah kamu tidak terlalu peka untuk tau perasaanku saat ini? Aku lelah selalu berharap dan menunggu kamu.
Apakah disini udara sudah terlalu pengap. Serasa semua angin itu pergi menjauh. Kemana cahaya matahari yang tadi menerpa wajahnya? Semua gelap.
“ta.. Tata.. kamu pingsan?? Taataa…”

Cerpen Karangan: Nesti Sintiana Islami
Blog: nestisintianaislami.blogspot.com
Facebook: Nesti Sintiana

Nama: Nesti Sintiana Islami
Saat ini sedang menempuh pendidikan di Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang.
Marupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Pernah sangat menyukai Pencak silat dan sempat beralih menjadi ketua dari Kelompok Ilmiah Remaja SMA.
Orangnya, gak unik, gak resek, gak rewel, gak bawel, gak sempurna, dan bla bla bla.. ^_^

twitter : @nestisintia
facebook : Nesti Sintiana
blog : nestisintianaislami.blogspot.com

Cerpen Karena Kita (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Segi Empat

Oleh:
Suhu kotaku yang sejuk di pagi hari membuatku beranggapan lebih baik jadi cacing di kasur daripada harus menggerakan gayung berisi air. Namun kewajiban berkata lain sebagai seorang siswa sekolah

Senyuman Yang Menyakitkan

Oleh:
“Lihat! Mereka bertiga!” Tunjukku yang sedang berada di lantai dua sekolahku. “Kalo sudah lihat terus ngapain?” Jawab polos temanku dengan Eyww ingus cap one nya tepat berada di terowongan

My Diary Love Story

Oleh:
Perkenalkan nama lengkapku Muhammad Husein Albana. Aku adalah salah satu siswa di sebuah sekolah yang cukup popular di Jakarta Selatan yaitu SMKN 6 JAKARTA atau yang sering disebut PRODJOST.

Tara

Oleh:
Setahun yang lalu… Hari pertama masuk sekolah setelah MOS di SMAN 21… Pelajaran fisika. Seorang guru muda masuk ke sebuah kelas. “Selamat pagi anak-anak. Baiklah sebelum kita mulai pelajaran

Bukan Harapan Palsu (Part 1)

Oleh:
“Tersenyum mungkin hanya topeng belaka. menangis mungkin hanya luapan emosi saja. tapi perasaan ini membuatku tersenyum dan menangis. apa perasaan itu hanya topeng? atau apa perasaan itu hanya luapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Karena Kita (Part 1)”

  1. ayu restia says:

    cerpennya bgus… rsanya pngen blajar jga ngebuat cerpen sebagus itu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *