Karena Kita (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 23 October 2014

Hatiku yang hancur!
Ketika cinta kita bergetar di hatiku!
Sekarang, ketika kita telah usai, kau hancurkan hati itu!
Ketika anda menghancurkan hati yang mencintai anda.
Itu s-s-s-s-sakit sekali!

Bagaimana aku harus hidup?
Apakah ini sekali terakhirnya kau menginggalkanku seperti ini?
Apakah kau tak tahu luka yang kau berikan padaku?
Apa kau tak memikirkan aku yang menangis?
itu s-s-s-s-sakit sekali!

aku, yang akan sendiri…

Saat itu, kenangan denganmu terkubur oleh gambar.
Kenapa kau pergi? pergi..
Meninggalkanku dalam penderitaan,
kau tak bisa dengar hatiku?
Menangis untukmu!

Jika kau bilang padaku untuk mati,
aku akan mati.
Aku butuh dirimu untuk hidup,
Aku bahkan, memberimu seluruh hatiku!

Ekspresi ruang hubungan kita,
masalah macam apa yang membuatmu begitu keras, sedih dan lemah?
Bahkan, anda lebih baik daripada seribu orang. Itu hanya sesaat.
Bahkan saat itu, perasaan hanya menjadi gambar di dalam hati, hanya dalam beberapa hari.

Itu lebih mudah daripada yang kau bayangkan.
Aku, yang tampak pada seseorang yang benar-benar kucintai, dan meninggalkan.
Lebih dari itu, cerita ini seperti gerakan pilu.
Ceritaku..

Kau yang memusnahkan semuanya dan pergi!

Sebuah lirik lagu yang kini diukir Tata di atas kertas merah pekat yang nantinya akan ia pajang di dinding kamarnya. Itu adalah terjemahan lirik lagu Heartquake – Super Junior. Itulah lagu yang mewakili perasaan hatinya saat ini. Hari ini genap tiga bulan Rangga dan Talita berpacaran. Selama itu juga Tata kembali kepada Tata yang dulu. Ia selalu mengamati gerak-gerik Rangga dari jauh.
Sebisa mungkin ia menjauh dari Rangga. Dekat dengan seseorang yang ia cintai hanya untuk mendengarkan cerita indah tentang pacarnya hanya membuat hatinya perih. Sakit!

Kau datang dan jantungku berdegup kencang,
Kau buat ku terbang melayang…

“halo?”
“halo, Ta? Kamu di rumah. Sekarang kamu bisa nggak ke rumah ku. Bareng sama Airin.”
“lho? Kenapa? Ada apa?” Tata setengah panik.
“enggak apa-apa. Tapi tolong cepat ya. Aku tunggu, ok? Bye!”

Tata segera menelpon Airin dan mengajaknya ke rumah Rangga. Sesampainya disana, Tata dan Airin terkejut. Banyak koper-koper besar diruang tamu. Dua mobil yang sepertinya milik pribadi ini sudah siap untuk menampung koper-koper besar itu.
“Tata.. Airin.. sini keatas” Rangga berteriak dari balkon rumahnya dilantai dua. Tata dan Airin pun segera masuk kedalam rumah. Mereka bersalaman dengan kedua orang tua Rangga, lalu segera menaiki tangga menuju balkon atas.

“kamu mau kemana sih? Kok kayaknya semua udah beres gini?” Tanya Airin.
“gue mau liburan donk, sekaligus pulang kampung gitu. Ke Bandung. Makanya aku mau pamitan sama kalian berdua” jawab Rangga penuh semangat.
“berapa lama?” Tata langsung menanggapinya.
“libur sekolah kita kan cuma dua minggu. Ya berarti mulain hari ini sampai satu hari sebelum masuk sekolah dong”
“oh gitu. Jangan lupa oleh-olehnya ya?” jawab Airin santai.

Satu kekecewaan di hati Tata. Ia tak sanggup untuk berada jauh dari Rangga. Dengan hubungan Rangga dan Talita saja sudah membuat sebuah beneteng kecil di antara Tata dan Rangga. Apalagi harus berpisah dengan Rangga untuk seminggu lebih. Tidak melihat wajahnya? Berpisah sementara darinya? Nggak sanggup.

“hei, udah selesai mandinya?” Rangga melambaikan tanggan ke arah orang yang berada di belakang Tata dan Airin. Refleks Tata dan Airin segera menoleh ke belakang.
Talita???!!!
“Talliiitaaa…???” serempak Tata dan Airin kaget melihat kehadiran Talita di rumah Rangga.
“iya kak, aku ikut liburan sama keluarganya kak Rangga” jawab Talita polos.
“kok bisa?” Tata masih heran.

“bisa dong” Rangga segera menengahi. “Talita kan tinggal disini sama Ommanya. Ya orangtuanya ada di Bandung. Ternyata dia juga Orang Bandung lho.” Rangga tampak sangat senang.
Rangga pergi bersama Talita? Melewati perjalanan bersama. Berlibur bersama? Apakah semua ini belum cukup berat untuk menimpaku? Tuhan.. apa maksud semua ini??!!

Kembali menunggu. Tampaknya hidup Tata hanya untuk menunggu cinta Rangga. Hari ini tepat seminggu Rangga berada di Bandung. Namun hari ini Tata merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia membuka akun Facebooknya, dan membaca status yang baru saja ditulis Rangga.

Aku begitu menyukaimu. Begitu juga yang ku tau perasaan mu padaku.
Mungkin karena rasa itu juga aku rela melepaskanmu bahagia bersamanya.

Will.Allways.Love.You
RanggaSaputra&TalitaCantika

Apa maksud dari status itu. Berkali-kali Tata menghubungi ponsel Rangga, namun tidak ada jawaban. Sms pun sudah tak terhitung jumlahnya. Begitu juga Airin yang mendengar berita itu dari Tata langsung menghubungi Rangga. Namun, hal yang sama juga terjadi. Tidak ada kabar.

Hari ini hari pertama masuk sekolah. Tidak seperti biasa, jam 06;25 Tata sudah bersiap-siap pergi ke sekolah. Ia memaksa ayahnya untuk mengantarnya ke sekolah sekarang juga. Ia sudah tidak sabar melihat Rangga dan bertanya tentang status facebook itu.

Sesampanya di kelas.

Benar dugaan Tata. Rangga belum datang.
Ya iya lah, lo kata dia satpam sekolah, buka pintu gerbang dari jam enam.

Kelas masih sepi. Hanya Tata seorang di dalam kelas.
Menit demi menit Tata menunggu. Satu persatu siswa datang. Namun Rangga belum muncul juga. Bahkan Airin yang biasanya datang terlambat pun sudah datang saat ini.

06;57. Rangga muncul dan langsung duduk di mejanya. Meja Tata dan Rangga hanya terpisah oleh satu meja. Rangga juga duduk lebih depan daripada Tata. Tata dan Airin yang melihat Rangga pun sontak menegerutkan dahi. Rangga datang dengan langkah gontai, rambut yang sedikit berantakan dan wajah yang terlihat sedikit pucat.
Airin dan Tata ingin menghampirinya. Namun, ibu wali kelas telah masuk ke dalam kelas, Tata dan Airin pun mengurungkan niatnya.

Bel istirahat berbunyi. Kelas kosong kecuali Tata, Airin dan Rangga yang hendak keluar kelas. Airin dengan gaya khas tomboynya segera mencegat Rangga di depan pintu kelas.
Stooppp…

“ada apa sih?” tanya Rangga dengan ekspresi malasnya.
“aku mau tanya sama kamu” jawab Airin sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“tanya apa?”
“mana oleh-olehnya?” Airin tersenyum cengegesan dan menadahkan tangan kanannya di hadapan Rangga.

Rangga tersenyum. “iya, iya. Aku nggak bakal lupa kok” Rangga berbalik dan meraih tas di mejanya.
Tata yang menyaksikan hal itu hanya terdiam. Airin ini begok atau apa sih. Yang ditunggu beritanya eh dia malah oleh-olehnya. Sarapp..
“ini buat kamu, dan ini buat Tata” Rangga menatap Tata di tempat duduknya.

“samperin gih, aku mau ke kantin dulu. Daaa..”
Rangga segera menuruti nasihat Airin. Airin keluar kelas dan Rangga duduk di samping Tata.
“eeiiitttss…” tiba-tiba kepala Airin muncul di balik pintu. “aku belum bilang makasih ya? Terimakasih ya oleh-olehnya”
“iya, sama-sama” jawab Rangga. Airin pun menghilang. Kayak hantu aja?.
“nih buat kamu” Rangga menyodorkan sebuah kotak ukuran sedang yang dilapisi kertas warna merah muda.
“makasih ya” Tata hanya menatap kotak itu. Tidak berani menatap mata Rangga yang tenang.

“kok kamu diem?”
“aku yang seharusnya nanya.” Jawab Tata yang kini memberanikan diri melihat Rangga.
“aku? Aku kenapa?”
“apa maksud status Facebook kamu? Dan kenapa kamu nggak ngasih kabar sama aku selama kamu di bandung? Kamu juga nggak angkat telfon aku? Nggak ngebales sms aku juga!” jawab Tata yang terlihat kesal.
Rangga menghela nafas panjang. Tampaknya sesuatu yang besar telah menyesakkan nafasnya.

“aku putus sama Talita”
Apa??? Putus?

Sebuah senyum mengembang di hati Tata. Dan sekali lagi hanya Tata yang dapat melihat itu.
“putus? Kenapa?”
“ternyata dia udah dijodohin oleh orangtuanya sejak kecil. Saat di Bandung dia juga ngenalin aku sama cowok itu. Aku suruh dia milih aku dan cowok itu. Ternyata dia milih cowok itu” Rangga terlihat sangat sedih.
“oh gitu. Sabar ya. Mungkin dia memang bukan jodoh kamu. Dia juga berhak memilih.”

“iya, kamu bener, Ta.”
“ya udah. Jangan sedih dong. Senyumnya mana?” Tata berusaha menghibur Rangga. Lebih tepatnya dirinya yang sudah terhibur karena ia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Rangga harus tau perasaannya.
“iya, iya. Aku nggak sedih. Oiiya, siang ini kamu mau ikut aku nggak? Aku mau beli buku. Baru keluar loh katanya.”
“iya, aku mau”

Buku yang dibeli Rangga ternyata sudah didapatkannya. Namun aneh, Rangga langsung meminta kasir untuk membungkusnya dengan kertas kado berwarna merah muda yang cantik, dengan pita berbentuk hati. Setelah membeli buku itu, Rangga bermaksud untuk mengajak Tata ke danau.

Suasana jalan yang tidak begitu padat membuat Rangga menyetir mobil dengan kecepatan yang diatas standar. Entah apa yang ia pikirkan, ia hanya ingin sampai ke danau lebih cepat. Berkali-kali Tata memperingatkan namun Rangga hanya tersenyum dan menurunkan kecepatan. Namun selang beberapa menit ia menaikkan lagi laju kecepatannya.

Tiba-tiba dari arah tikungan yang berlawanan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan yang menggila. Rangga langsung membanting setir berharap dapat menghindari tabrakan, namun mobil itu mengambil arah yang salah dan masuk dalam jalur mobil Rangga. Kedua bunyi rem mobil pun berbunyi dengan suara hantaman bagian depan mobil.

Cciiiiittt!!! Bbbrraaakkk!!!

Darah merah segar mengalir dari kepala Rangga dan Tata.

“ma, Rangga dimana?” Tata yang baru beberapa detik sadar dari komanya segera menanyakan Rangga.
“ia baik-baik saja sayang. Malah keadaan kamu yang menghawatirkan. Koma tiga hari yang kamu lalui membuat ayah membencinya dan tidak mengizinkan kamu bertemu dia.”

“apa? Kenapa, ma? Rangga nggak salah, ma. Kami kecelakan karena sebuah mobi” Tata berusaha memberontak dan bangkit dari ranjangnya.
“tenang sayang. Mama tau Rangga orang yang baik. Sejak pertama kamu masuk rumah sakit dia yang selalu menjaga kamu. Walau dari luar jendela. Ia selalu sembunyi dari ayah. Setiap pulang sekolah ia selalu menjenguk kesini dan membelikan makanan untuk mama. Sekarang saja mama yakin dia sedang membelikan mama makanan.”

Tata hanya terdiam mendengar penjelasan mamanya.
Tiba-tiba pintu ruangan diketuk. Seorang lelaki berbaju putih datang. Tampak begitu tampan. Namun tampaknya bukan seorang dokter. Karena lelaki itu datang bukan membawa stetoskop melainkan sebuah kantong plastik. Ia juga tidak memakai celana putih, melainkan celana hitam panjang. Bukan memakai sepasang sepatu bersih melainkan sepatu kets ala anak muda jaman sekarang.
Rangga.

“eh, Tata. Kamu sudah sadar?” Rangga langsung mempercepat langkahnya menuju pinggir ranjang Tata.
“Rangga. Kamu baik-baik aja?” tanya Tata sambil tersenyum.
“iya aku baik-baik aja kok. Cuma satu malam masuk rumah sakit, besoknya aku udah sekolah. Oiya kemarin Airin kesini, tapi kamu belum sadar.”

“kamu bawa apa?”
“oiya.. aku sampai lupa. Ini makanan buat mama kamu. Papa kamu kan kesini hanya sehabis pulang kerja. Jadi kasihan mama kamu kalo nggak ada makanan.. hhehe.. ini tante” Rangga menyerahkan bungkusan itu pada mama Tata.
“makasih ya, Rangga. Oiya, Tante mau ke depan sebentar ya. Mau ngelapor dokter dulu kalo kamu udah sadar.”
“iya, ma”

Saat mama Tata keluar, tiba-tiba Rangga menggenggam tangan Tata.
“ta, aku minta maaf ya. Aku yang buat kamu jadi kayak gini”
Tata yang terkejut dengan genggaman tangan Rangga hanya mampu tersenyum. “iya, lain kali kalo bawa mobil jangan ngebut-ngebut lagi.
“iya. Oiya, ini buat kamu” Rangga mengeluarkan sebuah kado berbalut warna merah muda dari balik jaket putihnya.
“ini? Bukannya buku kemarin yang kamu beli?”
“iya. Untuk kamu. Kayaknya aku nggak sempat membacanya.”
“kenapa?” Tata heran.
“maklum orang ganteng kan biasanya sibuk, nggak sempat baca buku .. hehe..”
“huuu… dasar!!” Tata mencubit lengan Rangga.
“Ta, aku mau jujur.”
“jujur apa?”

“jujur, dari awal aku ketemu kamu, aku suka sama kamu. Aku mengagumi kamu. Sama kayak kagumnya fans sama idolanya” Rangga tampak serius. Tata yang terkejut hanya mengerutkan dahi dan berusaha menghayati pengakuan jujur Rangga.

“saking fansnya aku sama kamu, aku sampe-sampe nggak berani ngomong sama kamu. Di mata aku kamu itu wanita yang sempurna. Kamu cantik, idola semua cowok. Kamu cerdas, anak kebanggaan guru-guru. Kamu ramah, disukai semua orang. Kamu dan aku itu bagaikan langit dan bumi. Rasanya jauh banget aku bisa deket sama kamu. Makanya saat kamu mau jadi sahabat aku, aku dengan bangganya memperkenalkan kamu ke semua orang”

Tata mulai tersenyum. Tata sangat menyukai pengakuan Rangga.
“awalnya aku mulai berfikir untuk jadi pacar kamu, tapi karena aku selalu mengagumi kesempurnaan kamu, aku sampai nggak berani berangan-angan untuk menjadi pacar kamu.”

“kamu salah. Aku suka sama kamu lebih dari kamu suka sama aku. Kamu fikir awal kita bertemu itu saat SMA? Kita itu udah sekelas waktu kelas 3 SMP. Kamu nggak inget aku itu murid pindahan. Dulu aku pakai kacamata. Sekarang sih udah pakai soflens. Aku suka kamu dari awal aku liat kamu. Tapi aku bingung kenapa kamu nggak tertarik sedikitpun dengan aku” jawab Tata.

“beneran?”
“iya” Tata tersenyum puas.
“entah kenapa aku selalu berfikir bahwa kita nggak akan bersatu. Tapi kali ini aku yakin aku bisa milikin kamu, Ta.” Rangga tersenyum. Ia mencium tangan Tata. Saat itu juga nafas nya mulai terengah-engah. Seperti sesuatu yang berat telah menutupi dadanya.
“Rangga… Rangga kamu kenapa??..” Tata yang panik melihat Rangga yang sudah bernafas langsung bangkit dari ranjangnya dan mengangkat kepala Rangga yang tertunduk.

“Ta, ada satu hal yang ingin aku sampaikan” Rangga mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat pasi.

“apa? Rangga kamu kenapa? Kamu sakit?” Tata panik.
“dari kecil aku mengidap kelainan jantung. Semua terlihat baik-baik saja karena pengobatan yang dilakukan setiap hari oleh kedua orangtuaku.” Nafas Rangga mulai terputus-putus.
Rangga menggenggam erat tangan tata.

“sejak kecelakaan itu, semua pengobatan yang kulakukan terhenti. Karena benturan setir yang keras telah menghantam dadaku. Memar dalam yang kurasakan terasa sampai jantung. Semua pengobatan yang kulakukan sia-sia.”

“Rangga… kamu pasti sembuh. Kamu tunggu disini. Aku akan panggilkan dokter”. Ia mencabut semua selang yang terbasang di tangannya. Tata segera beranjak dari ranjangnya untuk pergi. Namun rangga menahan tanggan Tata. Ia memeluknya dalan dekapan hangat yang mungkin terakhir kali dirasakannya.

“kamu jaga diri kamu baik-baik, Ta”

“nggak!!! Aku nggak akan biarkan kamu sakit!! Aku sudah menunggu terlalu lama, Ngga.” Air mata Tata mulai membanjiri pipinya.

“lepasin, Rangga!!! Aku bakal berjuang sekuat tenaga buat kamu. Kamu harus sembuh” Tata sekuat tenaga melepaskan tubuhnya dari pelukan Rangga.

“nggak, Ta. Kita memang harus seperti ini” jawab Rangga lemah.

“nggaaaakkk!!! Nggak!!” isak tangis Tata tak membuat Rangga melepaskan pelukannya.

“kamu nggak tau berapa lama aku nunggu kamu, Rangga!!! Kamu Nggak tau!!! Aku nggak akan ngebiarin kamu pergi, ngga. Nggaaak akan!!! Lepasiin!!!”

Pelukan itu lepas. Tata segera meraih pegangan pintu dan saat itu juga tubuh Rangga jatuh, menghantam besi di pinggir ranjang. Tubuh yang kokoh itu tampak seperti bangunan yang roboh saat ini.

Tata yang kaget melihat rapuhnya tubuh Rangga segera membuka lebar pintu dan berteriak sekuat tenaganya memanggil dokter. Ia berteriak sambil berlari ke arah Rangga.

Ia mendekap tubuh Rangga yang mulai dingin dan wajah yang pucat. Rangga hanya meraih kado merah muda tadi dan menunjukkannya pada Tata. Rangga tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Tata. Ia mencium lembut pipi Tata.

“ta, aku sayang kamu. Tapi sayang, kita tidak bisa bersama. Karena kita…”

“Rangga… Rangggaaaaaa…” Tata menjerit. Rangga terkulai di pelukan Tata. Dokter dan suster berserta beberapa keluarga pasien yang mendengar teriakan Tata segera masuk ke ruangan Tata. Mama Tata pun terkejut dengan keramaian dalam ruang anaknya.

“Tuhaann…!!! Jangan ambil Rangga!! Tolong berikan waktu aku bersamanya, Tuhan!!” teriakan Tata mulai keras dan menggila.

Dokter segera mengangkat tubuh Rangga. Memisahkannya dengan Tata. Mamanya segera memeluk erat Tata.

“Rangga.. jangan pergi. Jangan tinggalin aku” suara Tata mulai parau, derai air mata tak mampu berhenti seakan menyiratkan sebuah kegelapan datang. Tubuhnya lunglai dan jatuh dalam pelukan sang mama.

“Rin, pulang yuk. Dah sore.” Tata segera bangkit. Ia mencium batu nisan yang terukir nama RANGGA SAPUTRA. Hari ini genap hari keempat puluh Rangga meninggal dunia.

“tadi disuruh pulang susah banget, sekarang kok sadar sendiri?” Airin merasa bosan menunggu Tata mengobrol dengan batu nisan Rangga.
“iya dong. Aku liat tangan kamu mulai merah-merah digigitin nyamuk. Aku jadi nggak tega. Hhihi..” canda Tata.

“bagus deh kamu nyadar juga akhirnya.”
Sejenak Tata terdiam memandangi makan Rangga. Guratan kesedihan masih jelas terlihat di raut wajahnya. Airin segera merangkul Tata.
“aku sayang dia, Rin. Dia juga gitu. Tapi tuhan menginginkan yang lain. Kita nggak bisa bersama. Karena kita…” Tata menghela nafas panjangnya.

“karena kita.. tidak ditakdirkan untuk bersama” Tata tersenyum perih. Waktu yang lama untuknya menunggu Rangga. Hanya untuk mengetahui bahwa tuhan tidak menjodohkan mereka.

Tata meraih buku yang ada di samping nisan Rangga. Buku terakhir pemberian Rangga. ‘Kita Bisa Bersama di Surga’. Sebuah judul cantik menghiasi buku itu.
Tata dan Airin pun pergi meninggalkan makam.

Cerpen Karangan: Nesti Sintiana Islami
Blog: nestisintianaislami.blogspot.com
Facebook: Nesti Sintiana

Nama: Nesti Sintiana Islami
Saat ini sedang menempuh pendidikan di Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang.
Marupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Pernah sangat menyukai Pencak silat dan sempat beralih menjadi ketua dari Kelompok Ilmiah Remaja SMA.
Orangnya, gak unik, gak resek, gak rewel, gak bawel, gak sempurna, dan bla bla bla.. ^_^

twitter : @nestisintia
facebook : Nesti Sintiana
blog : nestisintianaislami.blogspot.com

Cerpen Karena Kita (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisi Sedih Untuk Thara

Oleh:
Sore itu, angin tak seperti biasanya, ia berhembus dengan sangat tenang. Sore itu seorang wanita berpakian serba hitam berjalan menuju sebuah pemakaman umum. Dia berjalan menyusuri setiap petak tanah

Bukan Sekedar Sebuah Titipan

Oleh:
Apa hari sudah pagi? Aku mengusap wajahku sejenak dan melihat cahaya fajar mengintip dari balik sela-sela tirai jendela kamarku. Benar, sudah pagi ternyata. Tapi siapa peduli? toh ini hari

Secret Admirer

Oleh:
Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, gak ada yang istimewa dalam hidup gue. Setiap hari cuma bangun, mandi, sekolah, pulang sekolah, gitu aja terus sampe kiamat. Ngebosenin banget kan? “Nungky,

Cinta Pertama Dan Terakhir

Oleh:
Hari itu. Kak Ray membawaku ke sebuah tempat. Mataku ditutup menggunakan slayer hitam. Dengan sangat perlahan Kak Ray menuntunku. Ray prasetya. Dia adalah seorang lelaki yang saat ini berumur

Ayunda Mengejar Cinta (Part 1)

Oleh:
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi, aku terbangun dari tidur pulasku, alarm yang ku pasang malam tadi sudah sangat sukses membuatku terbangun dari mimpi yang menurutku sangat indah untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *