Karena Sepeda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 7 May 2015

“Ini bukunya, Mbak. Dan kembalinya lagi lima ribu. Terima kasih telah mampir di toko kami. Semoga harimu menyenangkan.” Ujar petugas kasir ramah sambil tersenyum lebar. Malah sangat lebar hingga membuat ngeri setiap orang yang melihatnya.
Dina hanya menanggapi dengan sebuah anggukan lalu melenggang pergi menuju pintu keluar toko buku “R&R” yang merupakan singkatan dari “Read and Remember”. Sebenarnya Dina risih jika diperlakukan seperti tadi. Kalau bukan karena toko buku ini memberi diskon 20% untuk setiap pembelian buku, mungkin Dina tidak akan menginjakan kakinya disini. Mengingat senyuman si petugas kasir tadi yang lebih mirip senyuman tokoh antagonis di sinetron striping kesayangan Mamanya, dari pada senyum ramah yang diberikan seorang pelayan kepada pelanggannya.

Sampainya di luar, Dina merasakan rintik hujan membasahi kepalanya. Dilihatnya awan yang berwarna hitam pekat, tanda bahwa tak lama lagi hujan deras akan mengguyur. Tanpa berpikir panjang, Dina berlari menerobos hujan menuju pelataran parkir. Namun… Braaak!! Tiba-tiba Dina mendengar suara benturan yang keras. Refleks ia menoleh ke samping kanannya dan mendapati seorang laki-laki kecil terjatuh bersama sepedanya di tengah jalan raya. Sementara di pinggir jalan terdapat gadis kecil yang berteriak ketakutan melihat temannya terjatuh.

Déjà vu. Untuk sekian detik, Dina hanya bisa mematung menyaksikan semua ini. Pandangannya kosong. Nafasnya tercekat. Tangannya gemetar memegang kantong plastik yang berisikan beberapa novel yang ia beli tadi. Dan kemudian… Braaak!! Bunyi sepeda terjatuh kembali terdengar. Namun kali ini sumber suara berasal dari belakang Dina. Selanjutnya Dina merasakan seorang menyenggol bahunya dengan keras. Dina hampir mengaduh kesakitan ketika seorang cowok menghentikan larinya dan menoleh kepadanya. Dina sudah siap mendengar permohonan maaf dari cowok tersebut. Tapi dugaannya salah begitu melihat sepasang mata tajam menatapnya dengan sinis. Tunggu, rasanya Dina pernah bertemu orang ini sebelumnya. Tapi dimana?

“Ngapain lo bengong? Mending bantuin gue nyelametin tuh anak.” Ujarnya cepat lalu berlari ke jalan raya.
Dina melongo. Otaknya belum merespon perkataan orang tersebut sepenuhnya. Namun kakinya sepertinya sudah memahami. Beberapa detik kemudian Dina mendapati dirinya menuntun sebuah sepeda kecil yang stang depannya penyok, ditemani gadis kecil yang juga menuntun sepeda pink-nya. Sementara laki-laki di depannya memapah anak kecil yang terjatuh tadi. Kaki anak tersebut keseleo karena terjatuh dari sepedanya.

Ternyata anak kecil tadi hendak menyebrang namun nge-rem mendadak karena ada seekor anjing menyebrang dengan seenaknya juga. Praktis karena jalan licin, anak tersebut jadi terpental dari sepedanya. Untung jalanan ini tergolong sepi karena bukan merupakan jalan utama, jadi tak ada motor atau mobil yang menabrak anak kecil tadi mengingat anak tersebut jatuh tepat di tengah jalan. Tapi yang tak habis dipikir Dina, kemana semua orang sampai tak ada yang menolong anak kecil tersebut —selain mereka berdua? Kenyataan bahwa gerimis telah berubah menjadi hujan deras merupakan jawaban yang paling masuk akal yang Dina temui.
“Taruh sepedanya disitu. Terus lo boleh pergi.” Tiba-tiba laki-laki itu menoleh ke belakang.
“A.. Apa?” Dina bertanya bego.
“Gue bilang taruh sepedanya di samping pohon itu.” Laki-laki itu menunjuk sebuah pohon besar yang di samping kirinya terdapat sebuah bangku taman memanjang. “Terus lo boleh pergi sekarang. Biar gue yang ngurus anak kecil ini. Lagian hari udah malem, kasian orangtua lo nyariin.”
Dina kemudian melihat sekeliling dan kemudian menyadari matahari baru saja terbenam di ufuk barat. Lampu-lampu di jalan mulai menyala.
“Oh…” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Dina. Dengan hati-hati ditaruhnya sepeda itu persis di samping bangku kemudian Dina berbalik pergi. Ia tak merasa perlu pamitan kepada ketiga orang yang baru ditemuinya kali ini.
“Tunggu…” Laki-laki itu kembali memanggilnya. Mau tak mau Dina kembali menoleh ke belakang. Dina benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran orang ini. Tadi menyuruhnya pulang, tapi sekarang malah menahannya. Dasar plin plan!
“Sebelum lo pergi, mending beliin gue alkohol sama es batu buat kaki Gilang gih.” Oh.. Jadi nama anak kecil itu Gilang toh. Dina lalu melirik Gilang yang sedang duduk di bangku taman ditemani dengan gadis kecil tadi. Pasti sakit rasanya.
“Kalo nggak dapet es batu, air mineral dingin juga nggak apa-apa. Dan hampir aja gue lupa, inget beli kapas.” Lalu laki-laki itu memberikan Dina selembar lima puluh ribuan.
Dina memandang kesal terhadap laki-laki di depannya ini karena merasa dijadikan budak. “Hey, gue tau apa yang harus gue beli. Gue nggak setolol itu kali!!” Sahut Dina sambil memasang wajah mengejek, kemudian pergi mencari supermarket yang ternyata berada di samping toko buku “R&R”. Tak dihiraukannya hujan yang semakin deras mengguyur dirinya dan novel yang tadi dibelinya.

Matahari bersinar dengan terik hingga membuat semua peserta MOS nyaris mati terpapar sinar matahari. Tak terkecuali Dina yang juga nyaris kegosongan karena sudah dari setengah jam yang lalu dirinya —dan murid yang lain— dijemur seakan mereka semua kepiting rebus. Dilihatnya jam yang sudah menunjukan pukul satu siang. Dina kembali merutuki dirinya bersekolah di SMA Chandeza, sekolah swasta yang terkenal dengan pelatihan militernya! Harusnya ia meminta Mamanya untuk menyekolahkannya di SMA Kartika yang merupakan sekolah khusus putri.

“Perhatian semuanya. Karena besok merupakan hari terakhir kalian MOS, jadi kami dari OSIS meminta kalian masing-masing untuk membawa sepeda. Kita akan bersepeda mengelilingi kota untuk kampanye bebas polusi.” Kak Fanda yang merupakan OSIS pembimbing di kelompok Dina mulai menjelaskan tentang kegiatan tersebut.

Sepeda? Keliling kota? Mati gue.. Dina berujar dalam hati. Sejak kecil Dina tidak bisa bersepeda. Percuma baginyanya jika berlatih sekarang —walaupun itu seharian penuh— toh besok ia tidak bisa bersepeda dengan lancar. “Kak, kalo nebeng naik sepeda sama temen… Boleh nggak?” Dina tiba-tiba berteriak dari barisan belakang.
Kak Fanda yang berada di barisan depan buru-buru mencari sumber suara yang tiba-tiba menyela argumennya. Senyum sinisnya mengembang ketika mendapati sumber suara berasal dari seorang perempuan berkulit putih, bertubuh tinggi, serta berambut ikal sebahu. Bayangan anak manja langsung terlintas di benaknya.
“Ya nggak boleh lah. Kan tadi saya udah jelasin panjang lebar. Kamu tuli ya?” Kak Fanda mulai menatap Dina dengan pandangan menghina. Semua murid yang berada di kelompok Dina mulai menahan nafas. Reputasi Kak Fanda yang merupakan OSIS terjudes di SMA Chandeza sukses menciutkan nyali semua murid. “Atau Jangan-jangan kamu nggak bisa naik sepeda? Makanya.. Waktu kecil, minta orang lain buat ngajarin kamu naik sepeda. Biar nggak ngerepotin orang kayak sekarang.” Tawa Kak Fanda mulai terdengar.
Dina hanya bisa menunduk ketika mendengar tawa Kak Fanda. Hatinya terluka mendengar dua kalimat terakhir, yang mungkin bagi orang lain terdengar biasa saja. Tapi bagi Dina, kalimat itu adalah pukulan telak untuk dirinya. Bersepeda hanya mengingatkannya pada kenangan yang selama ini mati-matian dikuburnya. Kenangan terhadap seseorang yang hingga kini Dina tak ketahui keberadaannya.

“Ya bagus, Din! Kayuh terus sepedanya, nanti hitungan ketiga aku lepas ya. Kamu pasti bisa, kan udah kelas II.. Siap ya. Satu… Dua… Ti…”
“Jangan!!!” Teriak Dina. Namun terlambat, karena detik itu juga Yoyo melepaskan pegangannya terhadap sepeda Dina. Dina yang tidak siap mulai panik ketika menyadari dirinya bersepeda tanpa bantuan Yoyo di belakangnya. Tanpa berpikir panjang buru-buru ia mengerem. Tapi sayangnya Dina menggunakan rem depan. Dan bisa ditebak, ia terpental dari sepeda mungilnya. Ya, lagi-lagi Dina terjatuh dari sepeda untuk sekian kalinya.

Hal yang kemudian terjadi adalah Yoyo menggendong Dina, sementara Dina menangis sesenggukan karena lututnya berdarah. Pemandangan ini memang sudah sering terjadi. Yoyo yang merupakan teman sekelas Dina di SD Dharma Santhi, sudah berjanji mengajari Dina bersepeda hingga lancar. Namun sampai saat ini, Dina belum menunjukan perubahan yang berarti. Kalau bukan karena Yoyo menyukai sikap manis Dina yang mau berteman dengan siapa saja, termasuk dirinya, mungkin Yoyo akan menyerah begitu saja. Di sekolah hanya segelintir orang yang mau berteman dengan Yoyo karena tubuh Yoyo yang besar seperti badut dan sifat nakal Yoyo yang sering membuat semua orang kesal.

Beberapa hari kemudian, Yoyo sudah siap mengajar Dina bersepeda. Namun kali ini Yoyo juga membawa sepedanya. Tujuannya agar tidak ada alasan untuk Dina meminta Yoyo memegang sadel sepedanya lagi dari belakang. Sehingga Dina bisa mandiri bersepeda. Dan benar saja, Dina akhirnya bisa bersepeda tanpa bantuan Yoyo. Memang sih kayuh sepedanya masih belum sempurna, tapi itu sudah cukup membuat Yoyo senang bukan kepalang. Merasa kerja kerasnya selama ini tidaklah sia-sia.

“Yo, aku bisa naik sepeda. Akhirnya aku bisa!!!” Dina berteriak senang. Yoyo hanya bisa tersenyum melihat kelakuan temannya ini. Tapi sedetik kemudian senyumnya memudar ketika menyadari sepeda Dina mulai oleng ke kanan menuju lalu lintas kendaraan yang lumayan padat karena merupakan jam pulang kerja. Buru-buru Yoyo menyalip Dina berniat memperingati agar gadis itu kembali ke pinggir jalan. Namun Yoyo tidak memperhatikan keadaan sekitar ketika menyalip. Hingga apa yang ditakutinya selama ini pun terjadi. Sebuah motor berkecepatan tinggi menyerempet bahu kanan Yoyo. Yoyo yang tak mampu menjaga keseimbangan merasakan dirinya terpelanting bersama sepedanya. Kepalanya terbentur ke aspal. Cairan merah mengalir dari kupingnya. Dan Yoyo merasa dunianya gelap seketika.
Dina yang melihat kejadian itu buru-buru mengerem lalu melompat dari sepedanya. Dilihatnya Yoyo yang tak sadarkan diri. Saat itu juga Dina merasa pandangannya kabur oleh air mata. Ketika ia sadar bahwa semua orang membopong Yoyo ke sebuah mobil, saat itu juga ia sadar bahwa mulai hari ini semua akan berbeda. Mulai hari ini ia membenci sesuatu yang bernama sepeda…

Dina menatap sekeliling. Sudah beberapa menit yang lalu Kepala sekolah SMA Chandeza memotong pita, tanda bahwa kampanye bebas polusi telah dimulai. Jumlah peserta MOS pun kian menipis di halaman depan sekolah ini. Kebanyakan telah berangkat bersama dengan kelompoknya. Kelompok Dina pun sudah berangkat sejak tadi. Tapi Dina berhasil mengulur waktu dengan berpura-pura buang air kecil dan bernjanji akan segera menyusul. Kini ia sedang mencari-cari alasan agar tidak bersepeda hari ini. Tanpa sadar Dina merutuki dirinya sendiri, Andaikan ia bisa bersepeda…
“Kamu cewek yang lagi bengong! Ngapain kamu masih disini? Buruan kamu berangkat, temen-temen kamu udah jalan dari tadi.” Tiba-tiba sebuah suara menyadarkan Dina. Buru-buru ia menoleh. Tatapan sangar Kak Fanda yang berada tepat di depan wajahnya seketika membuatnya nyaris membatu. Sadar bahwa petaka akan menghampirinya.
“Wah, wah, wah. Kamu cewek manja yang nggak bisa naik sepeda kemarin kan? Kenapa masih disini? Nggak ada temen buat ditebengin ya?” Kak Fanda terlihat senang sambil tersenyum licik. “Karena kamu nggak mau naik sepeda, mending kamu jalan kaki aja keliling kotanya. Kan lumayan olahraga..”
“Tapi kak…” Suara Dina tertahan ketika sudut matanya menangkap sosok laki-laki jangkung yang sedang menghampiri dirinya dan Kak Fanda. Untuk persekian detik pandangan mereka bertemu. Tunggu.. Itu kan cowok yang waktu ini ditemuinya usai membeli novel di toko buku R&R seminggu yang lalu? Jadi dia sekolah disini juga?
“Kak, sepeda saya ban belakangnya kempes. Nggak mungkin kan saya tetep naikin sepeda kempes? Mending saya tetep disini nungguin yang lain selesai keliling kota. Boleh kan?” Tanya cowok itu cuek sambil menatap Dina sekilas.
Dina hanya bisa ternganga mendengar perkataan laki-laki tersebut. Dalam hati ia tak habis pikir dengan cowok ini. Memang sih tampangnya lumayan (Oke, sebenernya lebih dari lumayan). Tapi bukan berarti dirinya bisa bertindak seenaknya. Awas kalo dihukum Kak Fanda. Biar tau rasa dia.
“Boleh kok.” Jawab Kak Fanda dengan tatapan memuja. Seketika Dina memandang ngeri Kak Fanda. Ya ampuuun… Yang benar saja. Kak Fanda yang terkenal suka marah-marah, malah bersikap manis terhadap cowok ini. Setelah mendapat persetujuan, laki-laki itu malah pergi begitu saja.
“Tunggu, Tiyo!” Tiba-tiba Kak Fanda mengejar anak yang bernama Tiyo itu, tanpa mempedulikan Dina yang jengkel dengan sikap pilih kasih sang OSIS yang ternyata genit. “Tiyo Prasetya, berhenti kamuuu!! Atau nggak, kamu saya hukum!” Teriak Kak Fanda keras hingga membuat Tiyo berbalik menatap si pemilik suara.
Tiyo Prasetya? Sejenak Dina merasa dirinya menegang. Tiyo.. Tiyo..
“Yoyo…?” Dina bergumam pelan seolah berkata pada dirinya sendiri. Tubuhnya lemas hingga ia sendiri dapat merasakan genggamannya terlepas dari sepeda. Detik berikutnya Dina merasakan kakinya lemas luar biasa. Satu-satunya tumpuannya kali ini adalah pagar sekolah yang tepat berada di sisi kanannya. Dipegangnya besi tua tersebut dengan erat
Sementara Tiyo hanya bisa terpaku ketika nama kecilnya disebut. Pikirannya berputar ke delapan tahun yang lalu. Ketika dirinya harus meninggalkan seseorang demi memulihkan pendengarannya usai kecelakaan. Seseorang yang selalu memanggilnya dengan sebutan Yoyo. Seseorang itu adalah Dina Francessa. Cinta pertamanya.

Dina melirik Yoyo yang sedang asyik dengan buku tebal yang bersampul “Strategi Lulus SNMPTN”. Sementara dirinya sedang mengutak-atik laptopnya mencari info tentang perguruan tinggi yang bagus. Tak terasa tiga tahun telah terlewatkan. Sedikit lagi, ia dan Yoyo akan lulus dari bangku SMA. Rasanya baru kemarin ia bertemu dengan Yoyo untuk pertama kalinya usai berbelanja di toko buku R&R. Sejak kejadian MOS tiga tahun yang lalu, Yoyo dan Dina menjadi pasangan yang terpisahkan. Dina selalu ke sekolah bersama Yoyo, belajar bersama Yoyo, bahkan terkadang bolos bersama Yoyo. Pokoknya segala sesuatu yang dilakukan Dina harus bersama Yoyo, seolah ingin menggantikan waktu yang terbuang saat mereka tak bertemu beberapa tahun yang lalu.
Tapi kali ini, mau tak mau Dina harus berpikir bahwa cepat atau lambat mereka akan berpisah. Mereka tak mungkin mengambil jurusan yang sama saat kuliah nanti. Mengingat ketertarikan mereka berdua sangat bertolak belakang. Yoyo di teknik sementara Dina di sastra.
“Yo, lo nggak kepikiran buat kuliah di luar kota?” Tanya Dina tiba-tiba. Sebenarnya pertanyaan ini sudah tergiang di kepalanya sejak lama. Hanya saja ia takut untuk mendengarkan jawaban dari Yoyo. Bagaimana pun juga kemampuan Yoyo sangatlah diatas rata-rata, sehingga peluang Yoyo kuliah di luar kota terbuka lebar.
“Tumben lo nanya..” Yoyo menutup buku tebalnya. “Emang kalo gue kuliah di luar kota kenapa?” Tanyanya sambil menatap Dina dengan serius. “Tapi seru juga kalo gue kuliah di luar kota.”
“Eng.. aanu.. Enggak kenapa-napa sih. Gue cuma iseng nanya. Hehe.. Bagus deh kalo lo udah punya planning buat kuliah di luar.” Dina tersenyum sambil berusaha menutupi ketakutan yang selama ini dialaminya.
“Gue nggak bilang bakal kuliah di luar.”
“Eh?”
“Gue bakal tetep disini. Nggak mungkin gue ninggalin orang yang gue sayangin untuk kedua kalinya.” Seketika wajah serius Yoyo berubah menjadi seringai jahil.
“Gue serius Yoyo!!!” Dina merutuk kesal.
“Gue juga serius. Gimana bisa gue ninggalin lo, kalo sampai sekarang lo belum bisa naik sepeda. Padahal janji gue waktu kecil, harus ngajarin lo sampai bisa.” Yoyo bergumam sambil menerawang masa kecilnya itu.
Mendengar pernyaataan Yoyo, seketika Dina tersenyum lebar. Lega karena Yoyo tak akan meninggalkannya.
“Nah gitu dong, Din. Kalo senyum lo tambah manis.” Ujar Yoyo sambil mengacak-acak rambut Dina. Tapi detik berikutnya Yoyo segera kabur dari hadapan Dina. Karena ia tau bahwa Dina benci jika rambut ikalnya dirusak.
“Iuuuh.. Gombalnya masih aja nggak ketulungan!! Aduuuh, lo apain rambut guee? Yoyo jangan lari!!!” Teriak Dina kesal sambil berusaha mengejar Yoyo yang sudah menghilang entah kemana.

Sebenarnya alasan Dina sampai sekarang tidak bisa bersepeda bukan karena kebenciannya kepada sepeda. Melainkan karena kini telah ada Yoyo, sosok yang siap kapan saja jika Dina butuh tumpangan sepeda. Mungkin dulu ia memang membenci sesuatu yang bernama sepeda. Tapi setelah Yoyo kembali, rasa benci itu berubah menjadi rasa bersyukur. Bersyukur karena tanpa ia sadari sepedalah yang mempertemukannya kembali dengan Yoyo.
Biarlah ia tak bisa bersepeda. Selama ada Yoyo di sisinya, baginya itu sudah cukup.

Cerpen Karangan: Rai Inamas Leoni
Blog: raiinamas.blogspot.com
Facebook: Rai Inamas Leoni

Cerpen Karena Sepeda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepercik Senyum Sejuta Luka

Oleh:
Jogja belum bangun. Sayup-sayup dari celah jendela hembusan nafas masih terdengar. Detak jantung masih berdenting. Tangan itu masih berdenyut. Perlahan aku membuka mata. Sama seperti kemarin. Aku masih melihat

The Relationship

Oleh:
Perkenalkan namaku Revita Febrianty, teman-temanku biasanya memanggilku Rere. Aku adalah siswa kelas XI dari SMAN 1 Kotabaru. Aku memiliki dua orang sahabat, yaitu Lala, Dina dan Eky. Merekalah teman-teman

Maaf

Oleh:
– Maya – “maaf” ujarnya dengan raut wajah yang sangat bersalah. Aku menatap wajahnya. Ada apa dengan mereka berdua? Bukankah tadi pagi mereka saling tertawa. Ada apa dengan Ika

Dira

Oleh:
Andira Permata Sari, teman Mira yang kurang mampu, akan tetapi, Andira anak yang baik dan pintar. Suatu hari “Semuanya turun ke lapangan, untuk latihan upacara.” ujar Kak Novi, ketua

Akhir Persahabatan

Oleh:
Pagi itu, suasana sangat Indah sekali. Kuawali hari-hariku dengan senyum lebar dan mengharapkan sebuah mimpi yang belum tercapai. Andai saja, aku bisa mengulang masa-masa Indah bersama sahabat yang dulu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *