Kecantol Mak Comblang (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 18 April 2019

“Shuttt shuiiitttt”, siulan dari laki-laki tinggi 165 cm dengan berat badan 63 Kg, berambut tipis model potongan polisi yang membuatnya semakin terlihat tampan, degan seragam SMA yang dikenakan, dan lirikan mata yang menggoda wanita di seberang jalan, sambil berlari-lari kecil dan melambaikan tangan ia menyeberangi jalan mendekati sang wanita.
“Dinottt, kemari.” Didekatinya wanita yang bernama dina itu sembari berbisik, lalu disodorkannya sebuah amplop berwarna pink dari tangannya. Terlihat dina mengangguk mengambil amplop dan balik tersenyum menggoda.
“By donnn…” dina berlari meninggalkan laki-laki itu yang bernama Doni.

Sesampainya di ruang kelas dina melirik sebuah bangku yang masih kosong, siswa-siswi lainnya kelihatan begitu asyik dengan kesibukan masing-masing. Tanpa menghiraukan yang lain dina segera menuju bangku kosong itu dan memasukkan amplop pink ke dalam laci bangku itu. Dan ia pun berlari kecil menuju bangkunya yang berada 3 bangku di belakang tempat ia meletakkan amplop tersebut. Lima menit kemudian bangku kosong tersebut sudah diduduki pemiliknya. Mata dina sedikit melirik ke depan memastikan amplop itu sampai ketujuan.

Setelah jam berganti, dan bel pun berbunyi tanda jam istirahat, dan kepastian sudah didapat dari dina ia segera menuju ke kantin, dilihatnya laki-laki yang duduk di ujung kantin lalu didekatinya.
“sudah beres donat”, kata dina yang sangat suka memanggil doni dengan sebutan donat, katanya sih keseringan manggil don-don akhirnya jadi donat dehhh. mereka sudah dari SMP berteman baik.
“Ok, sippp..”
“Buruan dong es krim dan pop mie nya mana nihh, aku udah lapar” kata dina.
“Makan mulu kerjaanmu tu dinottt-dinotttt…” kemudian ia memesan kepada ibu kantin. Dan makan bersama.

Sepulang sekolah dino tidak pulang ke rumah. Ia menuju taman dekat sekolah. Dicari tempat duduk yang nyaman kemudian sambil komat-komit seperti membaca mantra. Sepertinya keringat dingin membasahi kening dan lehernya.

Hari sudah mulai gelap, doni gelisah, wajahnya merah, nampaknya ia mulai kesal. Azan magrib berkumandang, ia berjalan lesu menendang-nendangkan kaki tanpa arah. Ia berjalan menuju rumah. Sesampainya di rumah dilihatnya Bapak dan Ibunya cemas di meja makan.

“Dari mana saja kamu donn” Kata bapak doni.
“Ia nak, tidak biasanya kamu pulang magrib-magrib begini” Ibu doni turut bertanya.
“Maaf pak, buk, tadi doni ada belajar besama di rumah teman, doni mandi dulu ya buk” doni kemudian menuju ke kamar mandi. Dan setelah siap segera menyusul ke meja makan.

Keesokannya di sekolah, doni segera bergesas mencari dina. Dicarinya di ruang kelas dina, setelah berjumpa ditariknya tangan dina dan diajak keluar ruang kelas.
“Ada apa don? Gimana sukses gak kemarin?” Tanpa ada rasa bersalah dina terus sibuk bertanya pada doni.
“Heh dinott? Aku mau Tanya kemarin beneran sudah sampai amplopnya?”
“Iya sudah dong donatttt, orang aku liat sendiri kok, sesil mengambil amplop pink itu dari laci mejanya. Cuma?…”
“Cuma apa?” Tanya doni
“Cuma aku gak taulah sudah dibaca atau belum, karena amplop itu langsung dimasukkan ke tasnya.”
“Kenapa gak kamu kasih langsung aja sih, pake ditaruh di laci segala”
“Yaaahhh, kan kamu gak ngomong kalau langsung suruh kasih, yang penting kata kamu suratnya nyampe di tangan sesil?” Sambil mengaruk-garuk kepala dina kebingungan.
“Emang kenapa don? Gak percaya banget sih ama aku.”
“Iya, soalnya kemarin aku tunggu-tunggu sesil ngak nyamperin aku di taman. Aku curiga suratnya nggak kamu sampaikan ke sesil”.
“Yaelahhh donattt? Kenapa ngak ngomong sihh kalau isi suratnya cuma mau ngajak ketemuan? Kan bisa langsung aku bilang ke sesil kalau kamu mau jumpa sama dia. Mana tau kalau begini, kemungkinan sesil baca suratnya di rumah dong?”
Doni pergi dan berlalu meninggalkan dina. Tampaknya ia sangat jengkel dengan dina. Dan dina pun segera masuk ke ruang kelas. Dina memperhatikan sesil yang sudah duduk dibangkunya, dalam hatinya ia ingin menanyakan pada sesil namun ada keraguan.

Tiba-tiba ada laki-laki yang termasuk idola di sekolah itu masuk ruang kelas, namanya Varel. Terlihat varel mendekati bangku sesil dan duduk di bangku sebelah sesil, mereka tampak bercanda dengan begitu bahagia, sangat-sangat serasi yang satu ganteng dan yang satu cantik kata dina dalam hati, Tapi apa mereka itu berpacaran ya?

Disuatu hari minggu, doni sedang asyik lari pagi, dengan celana sport pendek dan kaos hitam membuatnya semakin terlihat manis. Di ujung taman ia berhenti dan senam kecil melemaskan seluruh badan. Tiba-tiba matanya terbelalak melihat sepasang muda-mudi yang sudah tidak asing baginya.
Hatinya seperti teriris, namun coba dipendam rasa itu dalam-dalam, semakin lama sepasang muda-mudi itu semakin mendekat ke arah doni.

“Hai sob…” kata varel.
“Eh, hai juga”. Sambut doni.
“Kenalin don pacarku”. Kata varel teman sekelas doni. Sesil mengulurkan tangan, dan doni pun menyambutnya.

Setelah pertemuan dengan sesil dan varel doni begitu lesu, hari-harinya tak seceria biasanya. Dan setiap hari dina selalu memberi semangat, dan menasehati doni bahwa masih banyak wanita lain yang lebih baik dari sesil.

Sepulang sekolah dina menyeberang jalan, dari arah timur tampak motor berjalan dengan kecepatan tinggi, dan dengan begitu cepat motor itu menyenggol dina hingga terjatuh pingsan. Sang pengendara melihat sistuasi yang sepi segera melarikan diri.

Malam hari dina membuka mata, ia berada di rumah sakit, Bapak dan Ibunya mencoba menahan air mata, agar kesedihannya tak terlihat oleh sang buah hati.

Keesokan hari di sekolah doni terlihat kebingungan, keluar dari ruang kelas sesil, ia kemudian menuju kantin, lalu ke perpustakaan, dirasa tak menemukan yang dicari, doni terduduk lemas di kursi yang terletak di sebelah madding. Dua orang murid sedang membaca madding dan terdengar sedang membicarakan tentang dina, doni spontan berdiri dan bertanya.
“kalian sedang bicarain dina ya? Memangnya dina ke mana?”
“Dina dirawat di rumah sakit kak”

Pulang dari sekolah dino buru-buru menuju rumah sakit. Dia pun bertanya pada perawat di mana ruang rawat inap atas nama dina.
“Assalamualaikum, doni masuk ke ruang dina dirawat.
“Wa’alaikum salam” jawab ibu dina.
“Masuk don”. Kata Ibu dina yang sudah mengenal doni, sejak SMP doni memang sering main ke rumah dina.
“Kebetulan don kamu ke sini, ibu mau minta tolong jagain dina sebentar ya, ibu mau pulang ke rumah ambil baju, takutnya Bapak dina sepulang kerja langsung kemari nggak sempat mampir rumah”.
“Baik buk, saya akan jagain dina” Kata doni.

Dipandanginya dina yang sedang tertidur pulas. Jam pun berlalu akhirnya dina bangun.
“Don? Ibuku mana?”
“Ibumu pulang sebentar din, mau ambil baju katanya”

Dina mencoba mengambil air yang berada di meja dekat tempatnya berbaring, saat dina menyentuh gelas, tangan doni pun seraya ikut memegang gelas itu, dan tangan mereka pun bersentuhan, dina terkejut, doni terlihat salah tingkah.
“Sini biar aku ambilkan” kata doni.
“Terimakasih” Kata dina.
Doni membantu dina bangun dan membantunya untuk minum.

“Kamu sudah makan din”
Dina menggelengkan kelapa. Doni dengan sigap mengambil nasi di meja kemudian menyuapi dina dengan lembut.
“Ayo makan dulu, biar cepat sembuh” kata doni. Merekapun hanyut dalam perbincangan dengan senyum yang saling membalas.
Hingga jam menunjukkan pukul 15.20 WIB, Ibu dina pun datang. Dan doni segera minta pamit pulang.

Sesampainya di rumah doni sepertinya gelisah dan tidak dapat tidur, diwajahnya terbayang-bayang saat ia menyuapi dina.
Siang hari sepulang sekolah doni membeli buah-buahan dan juga bunga berwarna pink yang dirangkai sangat cantik. Ia bergegas menuju rumah sakit. Disana ada ibu dan dina, doni segera mengucap salam dan masuk. Doni meletakkan buah-buahan yang ia bawa di atas meja. Ibu dina sepertinya sangat mengerti keadaan. Ia pamit untuk beli air minum di kantin.

“Din, ini bunga buat kamu, ‘Em,, cepat sembuh ya”, kata doni. Dina hanya mengganguk.
“Din, aku..” doni berhenti berbicara, kehihatannya dia bingung.
Tiba-tiba ibu dina masuk.
“Ada apa don” Tanya dina.
“Aaa, aku mau pulang din, Ada yang harus aku kerjain di rumah. Ya sudah aku pamit dulu ya” kata doni. Ia segera keluar ruangan setelah berpamitan dengan ibu dina.

Hari berganti hari, hingga akhirnya dina sudah bisa masuk sekolah. Pulang sekolah dina duduk di depan sekolah menunggu ibunya menjemput. Doni menghampiri dina.
“Din, gimana sudah enakkan badannya?”
“sudah don” Jawab dina.

“Din, terus terang aku sayang sama kamu”. Suasana pun menjadi hening. Dina tak berani memandang doni. Beberapa menit kemudian terdengar suara yang sudah tak asing bagi mereka.
“Ehem’hemm…” Doni dan dina serentak terkejut melihat ibunya yang sudah berada disampingnya. Barang kali sudah sedari tadi ibunya berdiri disitu pikirnya. Dina dan doni hanya bisa tersenyum malu-malu.

Cerpen Karangan: Kameliana ulfa
Blog / Facebook: Camelia Che Luking Melqueen
T.tgl: Rantau indah, 16 Nov 1992
Anak: Sulung dari 4 bersaudara

Cerpen Kecantol Mak Comblang (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Ditolak Emang Gak Enak

Oleh:
Kelas 9 sekarang, banyak hal yang terjadi padaku, mulai dari tidak mengerjakan PR, menyontek saat ulangan, dan mengerjakan PR di sekolah. Tapi itu semua itu sudah menjadi tradisi. Yang

Tak Ku Sangka

Oleh:
Ini kisah hidupku. Yang akan ku ceritakan pada dunia. Ini kisah cintaku yang ku tuliskan buat dia. Dia sahabatku. Semua dimulai semenjak masuk kelas 3 SMA. Saat aku dan

Maafkan Aku (Part 1)

Oleh:
Malam ini teman Marsha ulangtahun Vita namanya, Disana seluruh siswa SMA BANGSA MULYA hadir di pesta ulangtahun Vita, termasuk Riko anak kelas XI IPA, dia mantan Marsha setelah putus

Sahabat Segalanya

Oleh:
Kini libur panjang telah usai, murid-murid SMP 1 BYB mulai masuk sekolah sekaligus pembagian kelas bagi kelas VIII dan IX. Loli berburu informasi kelas yang ia dapatkan, begitupun murid-murid

Kursi Pojok

Oleh:
Gadis itu. Ia memperhatikan guru dengan serius di pojok belakang. Ia berbeda dari gadis pada umumnya. Tak suka bergosip maupun bergurau. Buku yang sering ia baca, aku bisa memperkirakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *