Kiara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 20 February 2016

Melihat senyumnya, sebuah kebahagiaan untukku. Menatap binar matanya, kesejukan tersendiri buatku. Berada di sampingnya, kenyamanan yang tak pernah ku harap berakhir, hari itu, dan sampai kapan pun. Mencintainya, anugerah terindah yang diberikan Tuhan untukku. Menjaga, menyayangi, melindunginya, adalah hal termahal dalam sejarah cerita cintaku. Bahkan merasakan helaan napasnya, hadiah termanis dan tersempurna dalam hatiku.

Mungkinkah kau rasakan itu, Pelangiku? Duduk di bawah rumah pohon dengan gitar di tanganku dan dengan suara kecilnya, sembari menikmati sisa hujan yang kurang lebih setengah jam yang lalu turun membasahi permukaan bumi. Dedaunan dan rerumputan basah kuyup, tanah yang awalnya kering mulai becek dan berair. Aku masih di sampingnya, memetik senar gitar untuk ku mainkan lagu permintaannya.

“Menatap indahnya senyuman di wajahmu, membuatku terdiam dan terpaku… mengerti akan hadirnya cinta terindah…”
Ia tersenyum lagi. Kali ini lebih manis dari dua puluh menit yang lalu kami berdiam di sini. Ku lanjutkan lagi bait demi bait lagu yang ku hafal. “Aku ingin engkau selalu… hadir dan temani aku… di setiap langkah yang meyakiniku… kau tercipta untukku… sepanjang hidupkuu…” Tepuk tangan darinya mengiringi usainya lagu yang ku nyanyikan. Aura bahagia terpancar dari wajah manisnya. Aku mencubit gemas pipinya yang chubby, lalu tentu saja, diiringi gerutu dan omelan darinya. Ya, dia. Kiara.

Kiara. Dengan wajah supermanis empat puluh lima watt yang mampu meluluhkanku dalam hitungan detik. Pipinya yang chubby seperti pear, membuatku tak henti mencubitnya ketika kami bersama. Matanya sedikit sipit, dengan bola mata agak kecokelatan. Dia memang bukan dari luar negeri, warna bola matanya diwarisi dari mamanya yang memang berdarah Indo-Jerman. Kulitnya tidak putih, kuning langsat khas Indonesia. Rambutnya lurus sebahu, namun tetap terlihat manis dengan poninya yang pendek. Mungkin cupid telah melesatkan panahnya ke hatiku, sehingga aku mengenal dan mencintai Kiara. Ya, Kiara Victoria Fanindia. Gadis cantik dan manis yang kini duduk di sampingku.

“Sampai kapan aku harus bersama dengan kamu yang nggak nyata buat semua orang?” Kiara menunduk dalam. Aku menatapnya. “Sampai kapan pun, sayang. Cuma ini yang bisa aku lakuin buat selalu ada untukmu. Aku cuma bisa kayak gini. Aku cuma bisa nemenin kamu dalam ketidaknyataan duniaku,” balasku.
Kiara memandangku. “Andai dulu kamu nggak perlu menyelamatkanku,”
“Aku tak pernah menyesal sekali pun aku menyelamatkanmu. Yang penting kamu bisa tetep hidup dan selalu bersamaku,” Kiara menatapku. Lalu memelukku. Aku membalas pelukannya. Mengecup keningnya. Mencoba meyakinkannya bahwa aku selalu ada untuknya. Walaupun dengan keterbatasanku saat ini.

“Kiara! Ngapain kamu di situ? Ayo pulang!” suara itu mengagetkanku dan Kiara. Sontak, Kiara melepaskan pelukannya dariku. Mamanya sudah menanti di depan rumah pohon. Kiara bersiap turun dari rumah pohon lewat tangga yang menggantung dari atas ke bawah. Namun sebelum sempat ia pergi, ia mengecup keningku.
“I Love You,” ujarnya pelan sambil bersiap turun lewat tangga gantung. Aku tersenyum kecil.
“Hati-hati ya,”
“Mama kan sudah bilang, nggak usah maen ke sini lagi Kiara… kok bandel sih? Nggak takut apa di sini?” omel tante Austrin ketika Kiara sudah berada di sampingnya. Kiara mengangguk paham.

“Di sini suasananya enak Ma,” ucap Kiara. Mamanya menatap bingung, namun akhirnya tanpa berkata-kata, mereka sudah berjalan meninggalkan rumah pohon yang berada di belakang rumah Kiara. Aku menatap kepergian Kiara. Sampai akhirnya Kiara menoleh dan membalas tatapanku. Ia tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya. Malam begitu dingin. Jangkrik terdengar bersahutan menambah kelam suasana malam. Kiara terdiam menunduk sembari menekuri novel yang dibacanya. Sesekali ia tertawa kecil.

“Hei manis,” ucapku dari balik jendela kamarnya yang tirainya terbuka lebar. Ia menatapku sambil tersenyum. Lalu menghampiriku.
“Hei cakep,” balasnya sambil mencubit lenganku. Aku berpura-pura merintih. Namun akhirnya tertawa kecil.
“Aku kesepian. Boleh kan aku nemenin kamu?” tanyaku disambut anggukan kepala dari Kiara. Kiara menatapku lama. Namun akhirnya mempersilahkanku untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Aku nggak tahu kenapa sampai sekarang aku belum bisa menepis semuanya,” Kiara berceloteh ketika aku sudah duduk di sampingnya. Aku mendengarnya dengan seksama. “Aku bahkan nggak bisa menyanggah kenyataan. Aku masih betah pacaran sama kamu, meskipun… rasanya sangat nggak mungkin,” ujar Kiara sambil menatapku.

“Selama tujuh hari ini aku akan selalu ada buat kamu, Kiara. Setelah itu, aku nggak akan lagi bisa nemenin kamu seperti ini,”
“Kenapa harus secepat itu?” Kiara menatapku sedih.
“Itulah jalanku, Kiara. Aku harus rela meninggalkanmu dan hidup tenang bersama mereka. Aku tahu kamu nggak akan mau, tapi ku mohon… biarkan aku pergi, cintaku akan selalu bersamamu,” Kiara menatapku lagi. Kali ini seperti ingin menangis. Namun aku cepat menghiburnya. “Tenang ya, saat ini aku masih sama kamu,” sambungku. Kiara tersenyum dalam tangisnya.

“Tapi ini sudah hari kelima, berarti dua hari lagi kita akan berpisah selamanya,” Kiara memandang sedih ke luar jendela. Berusaha menghindari tatapan mataku.
“Masih dua hari lagi kan?” aku tersenyum. Kiara mengangguk.
“Tapi dua hari itu bukan dua tahun,” balas Kiara.

Tanpa disadari Kiara, di balik pintu kamarnya, tante Austrin mendengarkan celotehan Kiara. Ia tersenyum sedih, mengingat sejak tragedi itu, Kiara jadi sering bertingkah aneh. Mamanya sering mendapatinya tengah memeluk udara, berbicara sendiri, dan menangis lalu tertawa sendiri. Mamanya khawatir. Namun ditepisnya pikiran-pikiran buruk yang melintas di benaknya. Tante Austrin yakin, Kiara akan segera melupakan semuanya.

“Kiara, antar kue ini ke Bu Ria ya,” ucap tante Austrin ketika Kiara tengah berberes di dapur.
Kiara tersenyum menghampiri mamanya. “Sekarang Ma?”
“Iya Nak. Nanti setelah kamu mengantar pesanan ini, kamu boleh main ke rumah Vinta,” ucap mamanya sambil tersenyum. Kiara mengambil sekotak besar berisi kue-kue kecil buatan mamanya. Sebelum ia siap mengantar ke rumah Bu Ria, mamanya berbisik pelan pada Kiara.

“Mama harap kamu segera melupakannya, Nak. Mama sayang sama kamu. Mama nggak mau kamu terus-terusan seperti ini,” Kiara memandang mamanya. Namun akhirnya berjalan meninggalkan mamanya tanpa berkata-kata. Dalam perjalanan ke rumah Bu Ria, Kiara terus memikirkan kata-kata mamanya. Sebuah perasaan pilu merambati hatinya. Ia tidak mampu melupakan semuanya. Melupakan tragedi yang tujuh hari lalu mampu mengoyak batinnya. Membuatnya sempat berpikir bahwa orang yang dicintainya pasti bisa selalu menemaninya dalam keadaan apa pun. Bahkan dalam keadaan seperti ini.

“Kiaraa! Awaaas!”
Kiara menoleh ke arahku, lalu ke arah kiri. Sebuah truk oranye berjalan dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Aku segera berlari menyusul Kiara. Namun terlambat, truk itu telah menghantam tubuh kurus Kiara. Kiara terpelanting dan jatuh dengan darah segar yang mengalir lewat kepala dan perutnya. Aku menangis. Aku menyesal mengapa tidak datang tepat waktu. Aku memeluknya yang terkapar kesakitan di jalan raya. Beberapa orang berdatangan. Tanpa mempedulikanku yang meraung sembari memeluk jasad Kiara.

Aku duduk di ruang tunggu UGD di salah satu rumah sakit terkenal di Semarang. Mataku sembab, menangisi tiap detik yang terus ku sesali. Aku meng-flash back kejadian tujuh hari lalu. Saat aku juga berusaha menyelamatkan Kiara dari kejaran maut. Aku masih sempat melihatnya yang menangis sambil menampa tubuhku dan melindungiku dari amukan pelajar. Aku masih bisa tersenyum memandang kesedihan Kiara. Sampai akhirnya, aku tidak bisa lagi menatap keindahannya.

Seorang wanita paruh baya berlari kecil dengan isak tangis yang memilukan. Aku menatapnya. Ia berusaha masuk ke ruang UGD. Namun hanya larangan yang ia dapatkan sebelum akhirnya ia duduk di sebelahku. Dengan tangis yang tak kunjung reda. Aku menatap wanita itu. Ia masih seperti wanita yang ku kenal dulu. Wajahnya masih cantik, tak ada sedikit pun keriput yang terlihat. Alisnya sedikit tebal, kulitnya putih, bola matanya masih kecokelatan. Melihatnya, seperti melihat bayangan Kiara di benakku.

“Tante Austrin,” panggilku pada wanita itu. Namun sepertinya suaraku dianggapnya angin lalu. Ia tak menghiraukan suaraku. Menoleh sedikit pun tidak. Namun aku sadar, tidak mungkin ia akan menoleh padaku. “Anda Ibunya Kiara?” tanya seorang lelaki berjas putih bersih. Wanita di sebelahku menoleh pada lelaki itu, sambil mengangguk berulang kali. “Mari ikut saya,” ucap lelaki itu lalu masuk ke dalam ruang UGD.
“Anak anda mengalami luka yang cukup berat. Sehingga, ia dinyatakan koma,”
“Apa dok? Koma?” tante Austrin kaget mendengar penuturan sang dokter. Dokter itu mengangguk. Ia langsung lemas, seperti kehilangan tenaga. Aku menatap sedih jasad yang tidur di depanku. Ku genggam tangannya erat. Namun tak cukup untuk membangunkan Kiara lagi. Ia masih tertidur pulas seperti bayi kecil. Aku menatap matanya yang terkatup.

Suasana siang ini semakin panas. Beberapa pelajar SMA Kartini berdatangan di gedung SMA Sudirman. Aku yang tengah berjalan beriringan bersama Kiara, kaget melihat pemandangan itu. Puluhan pelajar SMA Kartini berlarian ke arah gedung sekolahku. Aku bisa menebaknya karena seragam mereka yang sedikit berbeda dengan seragam sekolahku. Aku segera berlari memberitahu teman-teman yang tengah bersantai di depan mading dan berhamburan di sudut sekolah. Melihat begitu banyaknya pelajar yang berdatangan, mereka segera berlarian ke luar gedung sekolah dan menghadapi pelajar yang mengamuk itu dengan tangan kosong.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka menarik tangan Kiara. Aku yang saat itu tengah ikut menghabisi mereka, kaget melihat Kiara ditarik paksa oleh salah satu dari mereka. Aku segera menghampiri Kiara dan menghajar cowok yang menarik paksa tangan Kiara. Ia tidak terima. Lantas ia memukuliku dengan pentungan yang cukup besar sehingga aku tidak bisa melawan lagi. Di akhir tenagaku yang sudah melemah, aku masih bisa melihat Kiara yang membentak mereka yang sudah memukuliku. Lalu Kiara menampa tubuhku. Membasahi wajahku dengan air yang terus mengalir lewat pelupuk matanya.

“K…Kiara,” ucapku terbata. Kiara masih menangis. Aku meraih tangannya, lalu menggenggamnya erat.
“Aku akan selalu ada buat kamu. Aku sayang kamu, Kiara… aku sayang kamu,” kataku lemah. Kiara masih saja menangisiku. Sampai akhirnya, yang terlihat olehku adalah kegelapan.

Aku tersadar dari lamunanku. Namun Kiara masih tertidur pulas di sampingku. Kiara, cepat sembuh ya… kalau dua hari ini kamu belum bangun, maafkan aku kalau kamu bangun nanti, kamu nggak akan ngelihat aku lagi. Kiara, maafin aku. Maafin aku harus ninggalin kamu sayang… aku udah janji sama diriku sendiri. Aku janji akan selalu menjagamu. Membuatmu bahagia tapi aku tahu diri, aku tahu waktuku tak akan lebih lama lagi. Aku menyayangimu Kiara… ucapku dalam hati sambil mengecup kening Kiara yang masih tertidur. Lalu dengan perasaan hancur, aku berlalu meninggalkannya. Ragaku menembus pintu yang tertutup, dan mendengarkan tangis tante Austrin yang memilukan.

14 Hari Kemudian…
“Mama,” panggil Kiara pada tante Austrin yang tengah berberes di kamar inap Kiara. Mamanya menoleh sambil tersenyum. “Fikar mana?” sambung Kiara polos. Mamanya mendesah pelan.
“Fikar sudah tiada Nak. Fikar sudah tenang di sana,” Kiara menatap mamanya dengan pandangan bingung.
“Selama ini Fikar selalu di sampingku, Ma. Dia selalu ada buatku,” sanggah Kiara tak percaya. Tante Austrin memeluk Kiara.

“Selama ini kamu salah. Yang bersamamu itu bukan Fikar, tapi arwahnya. Kamu pikir Mama nggak tahu selama ini yang kamu lakukan? Di rumah pohon, kamu berbicara dan tersenyum sendiri, lalu memeluk angin, yang mungkin kamu pikir itu adalah Fikar. Lalu di kamar, Mama dengar kamu berbicara sendiri, padahal sudah jam sepuluh malam. Lalu Mama juga sering mendapatimu menangis sendiri di kamar. Sayang, Mama udah nggak sanggup lihat kamu seperti itu terus. Mama sayang sama kamu… biarkan Fikar tenang di sana, Nak…” Kiara memandang mamanya lalu menunduk dalam. Air matanya menetes. Mamanya benar, selama ini Kiara hanya berkhayal, tak ingin menyadari bahwa sebenarnya aku tidak nyata untuknya. Sama sekali tidak.

THE END

Cerpen Karangan: Igant Erisza Maudyna
Blog: igantmaudyna.blogspot.com

Cerpen Kiara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)

Oleh:
Rom dan Sam masih menodong supir bus yang malang itu. Karena ditodong, akibatnya supir itu tidak konsentrasi dalam menyetir. Seekor anjing tiba-tiba melintas mendadak. Supir bus terkejut bukan main.

Kertas Kosong

Oleh:
Sunyi yang selalu menemani malam ku beserta nyanyian jangkrik di sekelilingku. Hampa sudah terasa, pupus sudah smuanya dan kini ku hanya mengharapkan kenangan yang telah sirna itu. “Dooorrr….!” Seketika

My Hero

Oleh:
“La, pake jilbabmu kalau ingin keluar, sayang.” Ucapan Ibu yang samar terdengar dari dalam rumah. “Nanti aja, Bu. Kapan-kapan.” Melanjutkan langkahku menuju mobil xenia berwarna silver. Menyalakan mesin, dan

Masa Yang Aneh (Part 3)

Oleh:
“apa-apaan ini?” kecewa Bob. “Sial mereka..” kesal Neo. “Beruang Hitam ya.. rrr!” muak Zadam. “Mereka selalu mencari gara-gara! Aku sudah sangat muak!” “Begitu juga denganku Neo” sahut Bob. “Hm

Surat Tersimpan

Oleh:
“Entah karena terbiasa atau aku memang menyukainya, padahal dulu perasaan istimewa ini tak ada untuk dirinya” gumam dalam hati Aryan yang melamun di gerbang kampus. “Kamu melamun..?” Aryan hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *