Kok

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 1 July 2018

Daun itu melayang, tak tau harus berhenti di mana hanya berharap angin menempatkan di tempat yang baik. Hari berlalu dan itu sangat terasa bagiku. Hidup itu sangat tak bisa diperkirakan, ada saat-saatnya senang ada juga saat-saatnya suram. Satu-satunya yang ingin aku tinggalkan, ya hanya satu, kenanganku dengan para pengkhianat.

Hari pertama masuk sekolah, aku tahu bahwa aku satu-satunya orang dari sekolahku yang masuk ke sekolah elit ini. Seperti biasa aku pastinya tak punya teman walaupun aku sangat mudah bergaul, tapi itu tak bisa membuatku mudah percaya dengan orang dengan secepat mungkin.

“hai, namaku kia, kulihat kita sekelas, yok bareng denganku” basa-basinya kia padaku, kusambut dengan senyuman palsu.
“aku aksel, salam kenal, tapi maaf aku harus kekantor guru karena ada yang mesti kuurus kia” jawabku senetral mungkin.
“oke ga apa, nanti nyusul ya!” jawab kia dan ia pun berlalu.

Aku sudah menyadari bahwa feelingku tentang kia gak baik, ya aku sangat ngerasa bahwa kia orang yang suka memanfaatkan orang lain, intinya aku tidak mau jatuh ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya.

Hal yang membuatku sangat tidak tenang berada di kelas baru adalah seorang yang terlihat dingin itu, entah kenapa dia hanya menunjukkan ekspresi dingin mencekam itu hanya padaku.
Hasil yang tidak kusadari, aku sebangku dengan kia dan si mata racun itu berada tepat sebelahku.
“oh tuhan cobaan apa yang kau limpahkan kali ini padaku, padalah aku berusaha ingin lepas dari kutukan yang telah menimpaku dulu” aku hanya mengumpat dalam hati.

Seharian aku meresa tertekan, mungkin hanya aku seorang yang tertekan karena yang lain kulihat mereka sepertinya menikmatinya pada masanya.
“aksel!, liat ga tadi narsel keren banget, udah baik, pintar, ganteng lagi, aah luar biasa beruntung sekelas dengannya, tadi dia meminjamkanku penanya!” terlihat kalau kia sangat menyukai aksel.
“ah, dia biasa aja kali kia” aku yang ga peduli sebenarnya.
“ih gimana sih aksel, aku tau emang kalau kamu juga pintar tapi kan dia itu udah kayak pangeran” kia yang semakin menjadi.
“iya-iya, dah jangan ganggu, aku lagi baca ni” jawabku cuek dan kulihat kia hanya cemberut ceritanya tak ditanggapi olehku.

Semakin hari samakin ramai para fans gilanya si raja mata racun itu, entah kakak kelas bahkan abang-abang kelas juga ada menyukainya. Kali ini aku harap aku gak akan pernah terlibat dengannya.

Akhir pekan, sabtu yang cerah malah membuatku makin tak semangat hari dimana para pencinta kebebasan itu merasa merdeka, hari khusus buat kesehatan, senam dan olahraga. Aku hanya melihat di jejeran penonton dan hanya makan saat jam istirahat, kesimpulannya aku tak suka olahraga.

“wahhhh liat narsel main, ganteng ya” kia yang berada di sebelahku tak berhenti memuji narsel.
“apa yang bagus coba, sama aja kok dia kayak yang lain” aku hanya berkata dalam hati takutnya kia tersinggung.
Makin siang aku semakin ngerasa pusing, aku lupa kalau aku tak ada makan sama sekali, terpaksa aku harus izin ke uks.
“kia, aku mau uks ya, kepalaku pusing” nadaku terdengar aneh.
“hah, kau pucat sekali sel, aku temani ya” kia terlihat panik.
“ga apa kia, aku masih bisa sendiri, tolong bilang wali kelas ya aku pergi uks” jawabku langsung berlalu ninggalin kia.

“kak seto aku istirahat di sini ya?” tanyaku pada kak seto salah satu osis bagian kesehatan.
“eh, dek aksel kenapa?, sini sini, kamu pucat banget” kak seto langsung memberiku obat dan membaringkanku di tempat tidur uks.
“kamu baring aja dulu, kakak mau ambil air dulu ya” kak seto pergi dan aku hanya bisa terbaring lemah.

Beberapa menit aku terpejam meja di sampingku terdapat roti ukuran besar dan sepucuk surat di atasnya.
“makanlah” hanya kalimat itu yang terpampang di surat itu.
“ah pasti kia, aku rasa aku udah terlalu berburuk sangka selama ini padanya” aku agak menyesali perbuatanku.

Besoknya kia langsung menghampiriku, kali ini aku tak berusaha berbohong lagi, aku akan melupakan masa laluku yang suram itu, tapi aku harap aku bisa mencobanya untuk sementara karena menghilangkan trauma itu tidaklah mudah.

“kia” panggilku dengan suara kecil.
“ya sel, ada apa?” kia tersenyum.
“maaf kalau selama ini aku agak jahat padamu, padahal kau satu-satunya yang mau akrab denganku, aku udah terlalu curiga dan berburuk sangka padamu” aku berusaha ngomong jujur ketika istirahat.
“ga kok sel, aku udah tau kamu hanya trauma kan?” kia membuatku terkejut.
“kamu tau dari mana, aku kan belum cerita apa-apa padamu” aku kaget setengah mati.
“aku Cuma nebak sih, tapi tanggapanmu malah seperti itu berarti emang benar ya” kia yang tadinya serius seketika bercanda membuat tanganku gatal.
“tuing” tanganku memangkong kepala kia.
“aduh sakit neng, kuat amat” kia meringis mengusap kepalanya.
“itu Cuma sebagian, tapi makasih rotinya” jawabku memalingkan muka.
“emmm, roti?, tapi aku ga ada kasi kamu roti sel” aku melihat wajah kia terlihat bingung.
“hah! Kupikir kamu yang antar roti ke uks, apa mungkin kak seto ya, abis dia bilang mau ambil air mungkin sekaligus makanan juga” pikirku.
“mmm mungkin juga sel, siapa tau juga kan kak seto langsung sekalian” kia terlihat biasa.

Hari berlalu tapi selalu saja ada yang mengganjal, dimana aku sering sekali mendapat keberuntungan, entah itu makanan, barang, atau jasa, dan semua dilakukan disaat yang tepat.

Pelajaran Bu Nitta dimulai dengan mengajak anak-anak di kelas masuk keruang perpustakaan. Aku senang, pelajaran paling kusukai pelajaran tentang geografi, pada dasarnya yang kusukai karena hanya masuk ruang perpusnya saja. Terlihat ada yang bergerombol membacanya, aku pasti jelas sendiri di pinggir jendela sedangkan kia sibuk mencari kesana kemari buku ensiklopedia binatang, dia suka dengan binatang. Hal paling aku anehkan narsel tiba-tiba duduk di depanku.

“apa-apaan ni anak, kenapa disekian banyak kursi dia memilih di sini?” aku yang kesal dan hanya bisa berkata dalam hati.
Aku udah gak sanggup, karena canggung aku pun berusaha ingin pindah.

“srekkkk,” bunyi gesekan kursiku, aku sial ternyata meja sampingku memiliki paku sehingga tidak sengaja saat aku menggeser kursi pergelangan tanganku tertekan paku cukup dalam.
“ahhm” aku menjerit tertahan karna aku takut orang akan fokus melihatku, tapi sejujurnya aku malu jika ada yang melihatku seceroboh ini apalagi kulihat narsel…
“tanganmu” kata narsel pelan dan langsung menyuruhku duduk.
Kulihat dia panik, tapi berusaha tenang, untungnya narsel gak membuat orang lain melihat, syukurnya juga kursi kami tidak terlalu kelihatan karena tertutup oleh lemari-lemari buku itu.
“segitu tidak sukanya aku berada di dekatmu?” Tanya narsel yang tak lepas mengobatiku, aku heran tu anak di kotak pensilnya alat-alat p3k semua.
Aku terkejut, sesosok narsel bertanya hal yang tak pernah kusadari.

“aku Cuma ingin sendirian aja kok” jawabku tanpa memandangnya, asli ini benar-benar canggung buatku.
“iya aku tau, kau tak bisa dekat langsung dengan orang lain, aku tau kau punya trauma, aku tau bahwa kau juga mengangapku aneh dan hampir memusuhi adikku, Kia” jawabannya yang terakhir membuatku seketika tidak bisa berkata apa-apa.
“aku juga heran, dari sekian banyak wanita aku hanya bisa menyukaimu, mengagumimu, entah itu sejak kapan, yang pasti aku tak ingin melihatmu terluka.” Narsel yang selama ini terlihat sangat dingin, berubah drastis.
“jangan membuatku terlalu khawatir, atau kau akan mendapat hal lain di luar ini” seketika tanganku diciumnya setelah ia selesai mengobatiku.

“cie-cie, suit-suit” kudengar anak sekelas menyorakiku, ternyata mereka merencanakan ini semua tanpa sepengetahuanku. Kulihat kia hanya mengedipkan matanya. Dia hanya berpura-pura menyukai narsel supaya rencana berjalan dengan lancar. Aku rasa wajahku hanya memerah karna malu, dan terakhir kulihat Bu Nitta hanya menggeleng-geleng kepalanya.
“awas kau narsel, aku akan membalasmu” aku hanya senyum malu.

Cerpen Karangan: Mastaria Averita M
Blog / Facebook: mastaria averita
mahasiswa 19 tahun jurusan pgsd, lahir 08 agustus 1997, hobby main musik.

Cerpen Kok merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tuan Pengganggu dan Nyonya Terganggu

Oleh:
Alunan musik terdengar begitu menggelegar di kelas 11 IPA 4. Bagaimana tidak, gelombang suara bass menggema memenuhi ruangan kelas berukuran 7×9 meter itu. Lagu itu bersumber dari handphone milik

Kabut Pulau Tanpa Nama

Oleh:
Hari ini rencana anak-anak untuk menyeberang ke pulau kecil tanpa nama itu batal total. Dengan sangat terpaksa mereka tidak jadi pergi ke sana, pasalnya air laut sedang pasang. Dan

Dia Kembali Bukan Untukkku

Oleh:
Pagi yang sangat cerah, aku memandangi seluruhnya gedung sekolahku saat ini masih sangat sepi, wajar saja aku memang datang lebih awal dari biasanya. Perlahan aku melangkahkan kakiku menuju kelas

Bas (Part 3)

Oleh:
Vas bunga yang biasanya ada di meja belajarku menghilang.. Aku baru pulang dari kampus dan saat meletekkan tas di mejaku ku tak melihat vas bungaku ditempatnya lagi. Padahal baru

F For Farah

Oleh:
Aku senang membiarkan diriku terbuai dalam lamunan. Bagiku itu sangat mengasyikkan, sekaligus membuat diriku sibuk daripada berbuat sesuatu yang tidak jelas. Kali ini aku kembali melamun, sambil menatap melalui

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *